Aguk Irawan MN *
Jurnal Kalimah, LESBUMI NU, I/Nov/2007
Di setiap erotisme selalu ada penyimpangan!
– Adonis
Hampir dua tahun yang lalu Marshall Clark (2005), peneliti sastra Indonesia
di School of Asian Languages and Studies, University of Tasmania, dalam
Konferensi Jurnal Antropologi di Universitas Indonesia menyebut puisi-puisi
Binhad dalam Kuda Ranjang sebagai ‘puisi metropolitan’.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Binhad Nurrohmat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Binhad Nurrohmat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 25 Februari 2021
Rabu, 12 Februari 2020
DE-GUSDURISASI DAN KOLOR KEKUASAAN
Binhad Nurrohmat
Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah klise yang awam: Gus Dur sohor sebagai figur publik yang lucu, jenaka, dan bisa membuat kawan dan lawan terbahak gembira. Bill Clinton dari negeri kapitalis utama dan Fidel Castro dari negeri komunis kawakan telah berhasil dibuatnya terpingkal. Juga jamaah pengajian di desa-desa terpencil yang mimbarnya beratap kain terpal.
Jumat, 13 September 2019
Minggu, 08 September 2019
Kamis, 09 Februari 2012
Terpikat Rumi 8 Abad…
Binhad Nurrohmat
http://www.korantempo.com/
Dan bila Dia menutup semua jalan dan celah di hadapanmu – Dia akan menunjuk satu setapak rahasia yang tak seorang pun tahu! (Jalaluddin Rumi, Diwan-Syamsi-Tabriz, 765)
Juru bicara terpenting dan tersohor dari Barat mengenai mistikus-penyair Jalaluddin Rumi, Annemarie Schimmel, pernah menulis: “Tidakkah aneh, mistikus abad ke-13 dari Balkh, yang bekerja di Anatolia dan terpukau kekuatan cinta mistis yang nyaris tak mungkin dibayangkan, bisa relevan dengan manusia modern abad ke-20?” Bagi Schimmel, Rumi telah mencurahkan banyak petunjuk untuk kehidupan kita melalui pancaran filosofis puisinya.
http://www.korantempo.com/
Dan bila Dia menutup semua jalan dan celah di hadapanmu – Dia akan menunjuk satu setapak rahasia yang tak seorang pun tahu! (Jalaluddin Rumi, Diwan-Syamsi-Tabriz, 765)
Juru bicara terpenting dan tersohor dari Barat mengenai mistikus-penyair Jalaluddin Rumi, Annemarie Schimmel, pernah menulis: “Tidakkah aneh, mistikus abad ke-13 dari Balkh, yang bekerja di Anatolia dan terpukau kekuatan cinta mistis yang nyaris tak mungkin dibayangkan, bisa relevan dengan manusia modern abad ke-20?” Bagi Schimmel, Rumi telah mencurahkan banyak petunjuk untuk kehidupan kita melalui pancaran filosofis puisinya.
Rabu, 13 Oktober 2010
Massa Penyair dan Fanatisme Memalukan
Binhad Nurrohmat
http://www.kr.co.id/
BILA DISENSUS, penembus rekor tertinggi jumlah penulis sastra kita selama ini adalah penyair. Makhluk ini sangat populer, “sakral”, sarat legenda serta mitos dalam dunia penulisan sastra kita selama ini, dibandingkan makhluk lain bernama novelis maupun kritikus. Dua penulis sastra yang terakhir ini jumlahnya minim, bisa dikata hanya sehitungan jari tangan kita. Penyair juga dianggap representasi paling umum kesusastraan kita serta juru bicara kebudayaan kita.
Hampir setiap kota provinsi di Indonesia memiliki penyair yang dianggap sebagai wakil dari basis geografis-administratifnya masing-masing. Bahkan ada predikat personal-geografis yang dilekatkan pada identitas seorang penyair didasarkan pada tempat domisilinya, misal Afrizal Malna Penyair Jakarta, Acep Zamzam Noor Penyair Bandung, Amien Wangsitalaja Penyair Yogyakarta, Warih Wisatsana Penyair Bali, Isbedy Stiawan ZS Penyair Lampung dan masih banyak lagi.
Selain itu, saking banyaknya jumlah serta interaksi yang kuat antar penyair, mereka mendirikan komunitas atau forum di daerahnya masing-masing, yang sebagian besar anggota dan ketua serta pendirinya adalah penyair juga. Di Bandung ada Forum Sastra Bandung (FSB), di Jakarta ada Komunitas Utan Kayu (KUK) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI), di Bali ada Sanggar Minum Kopi (SMK). Menurut sebuah penelitian, ada lebih dari 50 komunitas di sekitar Jabotabek. Kecenderungan mengelompok seperti ini tak ditemukan pada kelompok penulis sastra yang lain.
Ada sejumlah asumsi mengenai kecenderungan itu. Pertama, untuk menciptakan komunikasi kreatif yang lebih intens melalui acara atau agenda pertemuan. Kedua, manifestasi ketakpercayaan atau ketakmampuan untuk ’sendirian’ mengolah potensi kreatif, sehingga membutuhkan kelompok atau komunitas untuk mengukuhkan eksistensi. Maka ada gejala seolah komunitas-komunitas itu menjelma sebagai ‘blok-blok’ kelompok sastrawan tertentu yang menunjukkan adanya upaya saling bersaing satu dengan yang lain dan memiliki ‘massa fanatik’ masing-masing.
Fenomena kepenyairan kita belum juga surut, setidaknya dari segi jumlah personal dan produksi teks puisi. Hampir setiap penyair kita pernah mempublikasikan/mengirimkan puisi ke media massa (yang memiliki rubrik puisi) dan memiliki antologi puisi tunggal maupun kolektif dalam bentuk manuskrip maupun buku. Juga sudah lama ada media yang mengkhususkan diri memuat puisi seperti Jurnal Puisi. Situs-situs sastra kita seperti Cybersastra.net dan Bumimanusia.or.id juga lebih banyak diserbu puisi. Penghargaan sastra Anugerah Sastra Chairil Anwar, Lontar Award, Khatulistiwa Literary Award, Rancage (dan masih banyak lagi) maupun penghargaan sastra dari mancanegara seperti SEA Write Awards (Thailand), Hadiah A Teeuw (Belanda), maupun Hadiah Yayasan Wertheim (Belanda) lebih banyak yang disabet penyair ketimbang kelompok penulis sastra yang lain. Gambaran-gambaran demikian barangkali yang telah ikut memberikan sebuah pembesaran citra kepenyairan kita tampak kuat, mapan dan legitimated dalam dunia penulisan sastra kita sampai detik ini.
Massa Penyair
NAMUN pembesaran citra itu tak selalu persis dengan kondisi obyektif kualitas mayoritas kepenyairan kita. Ada semacam pars prototo dalam dunia kepenyairan kita saat ini. Prestasi kepenyairan yang diraih oleh hanya minoritas penyair, seakan telah membuat mayoritas penyair juga terangkat citranya, tersanjung. Kemudian dari sikap gede rasa ini muncul nuansa semangat massa yang luar biasa besarnya, kadang dihiasi histeria dan terciptalah semacam “massa penyair” –istilah yang semoga saya pakai sementara saja. Massa ini berada di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Bali dan Lampung, Tangerang dan daerah-daerah lainnya dan sekarang masih aktif bekerja memproduksi teks puisi yang melimpah jumlahnya.
Rekor jumlah penyair kita mungkin sebuah ‘prestasi’ tersendiri secara sosiologis dan fenomena menarik di mata para pengkaji cultural studies. Tapi prestasi jumlah itu tampaknya sangat jelas tak seimbang dengan jumlah upaya eksplorasi yang lebih jauh. Sebagaimana karakter massa, puisi penyair kita saat ini cenderung seragam tema dan pengucapannya. Penyair kita seperti bekerja dalam sebuah rumah berdinding cermin, sehingga yang berada di dalamnya satu sama lain saling berpantulan bayangannya, melakukan pesta besar interteks.
Penyair kita saat ini lebih banyak mempertebal garis capaian-capaian lama yang sudah digaritkan para pendahulunya ketimbang melakukan eksplorasi inovatif dan hanya berputar-putar dalam labirin capaian-capaian lama itu dan tak kunjung mampu menembus batas garis atau menemukan lorong keluar dari dinding-dinding labirin usang yang mengurungnya itu. Barangkali tuduhan demikian ini sudah klise, berulang-ulang. Tapi justru itu menjadi sebuah petunjuk bahwa kepenyairan kita memang belum berubah dan tak beranjak dari titik-titik itu juga.
Dari kondisi demikian, sampai-sampai ada ungkapan pesimis-retoris dari lingkungan penyair muda seperti Jamal D Rahman, “Jika para penyair terdahulu telah hampir menghabiskan eksplorasi dalam pengucapan, apalagi yang bisa tersisa untuk kami?”. Pesimisme ini sebuah representasi wajar dari dalam lingkungan penyair kita yang sadar diri dan sekaligus gelisah dengan kemacetan mobilitas estetik dalam perpuisian kita saat ini. Pesimisme ini dengan sangat menggebu dan panjang lebar dinilai esais Nirwan Dewanto sebagai adanya perasaan dibebani oleh sejarah sastra nasional. Menurut esais ini, ada yang patut dipertimbangkan dari ungkapan ini, antara lain, bahwa dia (Jamal D Rahman-pen) sedang menyempitkan dunia dan menutup mata pada sumber dari segala zaman yang sebenarnya bisa dia pilih secara merdeka, tetapi ternyata tidak pada ‘para penyair terdahulu’ (…) sehingga dia tak pernah siap menjelajahi kemungkinan yang begitu kaya dalam khazanah puisi yang sesungguhnya (…) ibarat sebuah bidang lukisan sudah terisi barik dan jejak para pendahulu, sehingga baginya hanya tersisa sebuah pojok kosong yang kecil saja, di mana ia hanya bisa melanjutkan bentuk-bentuk yang sudah (terlanjur) ada.
Saya kira dalam konteks ini Jamal D Rahman dengan ungkapan pesimistik itu hanya ingin jujur memberikan sebuah representasi obyektif kondisi kepenyairan kita saat ini. Dan tanggapan kritis Nirwan Dewanto itu suatu upaya terobosan untuk memberikan solusi yang kemungkinan bisa menjawab dan memecahkan pesimisme penyair Jamal D Rahman itu. Representasi jujur-obyektif Jamal D Rahman tentang kepenyairan kita dan dialektika-kritis sebagaimana yang ditawarkan Nirwan Dewanto, adalah contoh persentuhan dua pendapat yang aktif dan produktif. Tanpa harus berpolemik panjang berbusa-busa sebagaimana tradisi polemik kita selama ini tentang dunia sastra kita yang cenderung tanpa hasil cuatan solusi atau dialektika yang signifikan dan hanya menjadi tumpukan wacana yang beku, tak fungsional, nihil. Dua pendapat itu merupakan wujud keprihatinan mendalam terhadap dinamika kepenyairan kita saat ini. Banyakkah makhluk sejenis ini yang masih mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menyumbangkan pemikirannya bagi perkembangan puisi kita?
Adanya sinisme, olok-olok intelektual ataupun sekadar anekdot yang nyata-nyata ditujukan pada hasil kerja kepenyairan kita saat ini, kerap muncul dengan nada vulgar dan menggugat (melalui forum diskusi maupun tulisan di media massa) itu saya kira sangat wajar, bahkan ‘menguntungkan’ dan di baliknya mungkin justru mengeram niat baik untuk bersikap kritis dan obyektif pada kondisi kepenyairan kita saat ini. Menurut saya, sikap sumbang itu bukan suatu nonsense belaka. Sikap itu mesti diterima dan dimaknai sebagai representasi yang memiliki akar-akar kausalitas obyektif yang bisa dirunut pijakan paradigma dan nilai kebenarannya. Dengan pemahaman lain, sikap sumbang itu menjadi semacam warning signifikan bagi kepenyairan kita saat ini. Semua itu representasi kerja kritik dalam versi lain.
Kenapa Jadi Massa
KESERAGAMAN dan kemacetan mobilitas estetik puisi penyair kita saat ini disinyalir, salah satunya, karena adanya bias berlebihan dari semaraknya puisi kita di media massa jurnalisme sastra. Terutama koran. Koran-koran penting (di Jakarta) yang memiliki rubrik puisi konon selalu kebanjiran serbuan kiriman naskah puisi para penyair yang berdomisili di Jakarta maupun daerah. Kondisi demikian seringkali merepotkan pihak redaksi untuk melakukan pemilihan terhadap unggunan naskah yang menumpuk di mejanya. Hal ini memaksa redaktur untuk harus memilih dengan kriteria-kriteria tertentu yang mungkin bersifat subyektif, sebab tidak adanya konvensi yang jelas dan pasti tentang puisi (yang baik). ‘Subyektif’ di sini lebih tepatnya sebagai sebuah pilihan yang sesuai dengan selera redaktur, yang kadang tak bisa dipaparkan secara rinci dan jelas. Akibatnya, muncul identifikasi terhadap sebuah corak atau warna puisi yang dimuat media jurnalisme sastra tertentu yang diidentikkan dengan pilihan selera redakturnya. Contoh, pada tahun 70 dan 80-an koran Berita Buana ketika masih memiliki rubrik puisi yang diredakturi Abdul Hadi WM yang identik dengan puisi sufistik, atau majalah Aktuil yang diredakturi Remy Silado dengan puisi mBeling. Kecenderungan identifikasi demikian ini berlangsung juga pada media jurnalisme sastra saat ini, meskipun agak tak mudah untuk merumuskan dan memetakannya secara tepat-menyeluruh.
Sementara itu penyair kita sudah kadung mempertaruhkan dan menggantungkan media ekspresi puisinya melalui media jurnalisme sastra (khususnya koran) dengan semacam ‘histeria publikatif’. Hal ini membuat penyair kita terpaksa (sadar atau di luar sadar) kompromi dalam kerja kreatifnya, menyesuaikan diri dengan corak puisi media jurnalisme sastra yang diharapkan bisa memuat puisinya. Kondisi demikian membuat puisi yang dimuat media dijadikan sebagai konvensi puisi. Salah kaprah ini pun seakan-akan menjadi kesadaran umum penyair kita tentang hakikat kerja kreatif, terutama puisi. Tapi justru pola kerja demikian membuat keseragaman penulisan puisi penyair kita ’selamat’ dan menemukan wilayah atau medium dan memberi ruang yang bisa menampung ekspresinya yang dipercayai dapat memberikan legitimasi kepenyairan, terutama media jurnalisme sastra yang dinilai memiliki citra istimewa. Akibat ketergantungan berlebihan ini, membuat penyair kita menjadi kehilangan kepribadian, mampat eksplorasi kreatifnya yang radikal-alternatif dan sekadar menjadi massa pengikut mainstream puisi tertentu, mungkin, dengan kadar fanatisme yang memalukan.
Gambaran di atas menunjukkan sebuah disorientasi eksistensial penyair kita yang lebih banyak melebarkan ruang legitimasi melalui media jurnalisme sastra dan menciutkan ruang untuk eksistensialisasi individu penyair lewat nilai sastra itu sendiri. Puisi dijadikan jalan pintas yang pragmatis dan efektif untuk mencari sumber pemasok ke dalam ruang eksistensi yang belum penuh dengan cara simbolik hadir menemui publik pembaca yang seluas-luasnya. Sehingga seorang penyair merasa sudah berhasil bila puisinya dimuat media jurnalisme sastra dan merasa gagal bila tak ada satu media pun yang memuatnya.
Penyair kita tanpa sadar justru lebih banyak ‘belajar’ menulis puisi secara sekilas dari puisi yang dimuat media jurnalisme sastra itu dan sangat jarang membaca, belajar dan melakukan pembandingan khazanah puisi dari literatur (buku) penyair lain (terutama puisi dunia) yang sebenanrya layak untuk dijadikan bahan untuk belajar karena khazanahnya yang begitu beragam dan luas. Puisi koran kemudian menjadi mainstream yang luas dan kuat yang diam-diam ‘melemaskan’ gairah idealisme kerja kreatif yang difference atau alternatif. Kelemasan ini berlangsung massal dan hanya segelintir penyair yang berani dan mampu mengambil jalan lain dan bekerja keras melepaskan diri dari kelemasan massal itu, lalu belajar dan berpaling pada literatur lain yang lebih memungkinkannya mendapatkan keluasan wawasan puitika.
Jam Kerja Laborat
PENYAIR KITA sangat jarang yang memiliki disiplin dan metoda kerja kreatif, atau katakanlah ‘jam kerja’, yang diterapkan secara ketat. Misal, dalam sehari berapa jamkah penyair kita menggeluti puisi, bertarung dengan bahasa, bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan artistik di ‘laboratorium’ kerjanya? Tradisi menulis puisi penyair kita masih bersifat sambil lalu dan lebih mengandalkan keterampilan bakat alam belaka sebagaimana cara kerja seniman tradisional. Payahnya disiplin dan metoda kerja membuat penyair kita terperosok ke dalam kepicikan-kepicikan pada mainstream penulisan yang tidak berkembang dan konservatif, sehingga terpencil dari perkembangan puisi (yang sesungguhnya) jauh di luar sana.
Selain itu, dimensi intelektual penyair kita jarang diasah dengan bahan-bahan wacana sastra dan kebudayaan secara luas, sehingga kesadaran intelektualnya tidak dinamis, bahkan merosot ditandai dengan minimnya pemikiran sastra dari penyair kita. Efek dari kemerosotan dan ketidakdinamisan intelektual ini adalah kekurangmampuan (kemalasan?) untuk mengambil saripati kazanah sastra dan wacana yang ada untuk keperluan memperkaya agenda kerja kreatifnya. Sehingga kritik-kritik puisi yang ada saat ini pun menjadi tidak operasional, karena penyair kita tidak memiliki kepekaan intelektual.
Massa penyair ini kemudian menjadi sekadar para pecandu bahasa yang letih tapi terus saja keras kepala bekerja dengan cara memunguti bias-bias dan remah-remah puisi mainstream yang ada dan tak ada usaha untuk mencoba menembus khazanah puitika yang lebih luas yang masih mungkin dirambahinya. Sebab bagi penyair kita, produktivitas terlanjur jadi ukuran penting. Maka, sebagaimana yang pernah saya ungkapkan, biografi kerja (track record) kepenyairan kerap menjadi kebanggaan dan seringkali direkayasa dengan pembubuhan-pembubuhan biografi kepenyairan yang tak jujur (’Dusta Biografis’ Kepenyairan Indonesia, Republika Minggu, 2 Desember 2001).
Kemana massa penyair kita saat ini akan menempuh arah perkembangannya? Energi budaya yang fantastik itu masih menggeliat-geliat, asyik sendiri dan hiruk-pikuk di tempat di tengah gemuruh percepatan perkembangan ilmu, teknologi maupun cabang-cabang seni lain yang berada di sekitarnya. Betapa luar biasa perkembangan prosa kita dengan sejumlah capaian, masterpiece dan tokoh sastrawannya yang mumpuni dan diakui dunia internasional. Penyair kita sekarang harus menengok serta mempertimbangkan gemuruh di sekitarnya itu untuk menggenjot dan mereformasi hasil kerja kreatifnya seoptimal mungkin, atau hanya akan jadi kerak kebudayaan nasional yang tersisih di negeri sendiri (apalagi bagi standar seni kosmopolit). Percayalah, bila tidak ada perubahan fundamental terhadap pola kerja dan wawasan intelektual yang meluas melampaui batasan-batasan lokal dan nasional, penyair kita kian terpuruk dan menjadi sehimpun massa yang hanya ribut-ribut dengan persoalan-persoalan usang dan klise itu melulu.
* Binhad Nurrohmat, penyair dan kurator Indonesia Literature Watch.
http://www.kr.co.id/
BILA DISENSUS, penembus rekor tertinggi jumlah penulis sastra kita selama ini adalah penyair. Makhluk ini sangat populer, “sakral”, sarat legenda serta mitos dalam dunia penulisan sastra kita selama ini, dibandingkan makhluk lain bernama novelis maupun kritikus. Dua penulis sastra yang terakhir ini jumlahnya minim, bisa dikata hanya sehitungan jari tangan kita. Penyair juga dianggap representasi paling umum kesusastraan kita serta juru bicara kebudayaan kita.
Hampir setiap kota provinsi di Indonesia memiliki penyair yang dianggap sebagai wakil dari basis geografis-administratifnya masing-masing. Bahkan ada predikat personal-geografis yang dilekatkan pada identitas seorang penyair didasarkan pada tempat domisilinya, misal Afrizal Malna Penyair Jakarta, Acep Zamzam Noor Penyair Bandung, Amien Wangsitalaja Penyair Yogyakarta, Warih Wisatsana Penyair Bali, Isbedy Stiawan ZS Penyair Lampung dan masih banyak lagi.
Selain itu, saking banyaknya jumlah serta interaksi yang kuat antar penyair, mereka mendirikan komunitas atau forum di daerahnya masing-masing, yang sebagian besar anggota dan ketua serta pendirinya adalah penyair juga. Di Bandung ada Forum Sastra Bandung (FSB), di Jakarta ada Komunitas Utan Kayu (KUK) dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI), di Bali ada Sanggar Minum Kopi (SMK). Menurut sebuah penelitian, ada lebih dari 50 komunitas di sekitar Jabotabek. Kecenderungan mengelompok seperti ini tak ditemukan pada kelompok penulis sastra yang lain.
Ada sejumlah asumsi mengenai kecenderungan itu. Pertama, untuk menciptakan komunikasi kreatif yang lebih intens melalui acara atau agenda pertemuan. Kedua, manifestasi ketakpercayaan atau ketakmampuan untuk ’sendirian’ mengolah potensi kreatif, sehingga membutuhkan kelompok atau komunitas untuk mengukuhkan eksistensi. Maka ada gejala seolah komunitas-komunitas itu menjelma sebagai ‘blok-blok’ kelompok sastrawan tertentu yang menunjukkan adanya upaya saling bersaing satu dengan yang lain dan memiliki ‘massa fanatik’ masing-masing.
Fenomena kepenyairan kita belum juga surut, setidaknya dari segi jumlah personal dan produksi teks puisi. Hampir setiap penyair kita pernah mempublikasikan/mengirimkan puisi ke media massa (yang memiliki rubrik puisi) dan memiliki antologi puisi tunggal maupun kolektif dalam bentuk manuskrip maupun buku. Juga sudah lama ada media yang mengkhususkan diri memuat puisi seperti Jurnal Puisi. Situs-situs sastra kita seperti Cybersastra.net dan Bumimanusia.or.id juga lebih banyak diserbu puisi. Penghargaan sastra Anugerah Sastra Chairil Anwar, Lontar Award, Khatulistiwa Literary Award, Rancage (dan masih banyak lagi) maupun penghargaan sastra dari mancanegara seperti SEA Write Awards (Thailand), Hadiah A Teeuw (Belanda), maupun Hadiah Yayasan Wertheim (Belanda) lebih banyak yang disabet penyair ketimbang kelompok penulis sastra yang lain. Gambaran-gambaran demikian barangkali yang telah ikut memberikan sebuah pembesaran citra kepenyairan kita tampak kuat, mapan dan legitimated dalam dunia penulisan sastra kita sampai detik ini.
Massa Penyair
NAMUN pembesaran citra itu tak selalu persis dengan kondisi obyektif kualitas mayoritas kepenyairan kita. Ada semacam pars prototo dalam dunia kepenyairan kita saat ini. Prestasi kepenyairan yang diraih oleh hanya minoritas penyair, seakan telah membuat mayoritas penyair juga terangkat citranya, tersanjung. Kemudian dari sikap gede rasa ini muncul nuansa semangat massa yang luar biasa besarnya, kadang dihiasi histeria dan terciptalah semacam “massa penyair” –istilah yang semoga saya pakai sementara saja. Massa ini berada di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Bali dan Lampung, Tangerang dan daerah-daerah lainnya dan sekarang masih aktif bekerja memproduksi teks puisi yang melimpah jumlahnya.
Rekor jumlah penyair kita mungkin sebuah ‘prestasi’ tersendiri secara sosiologis dan fenomena menarik di mata para pengkaji cultural studies. Tapi prestasi jumlah itu tampaknya sangat jelas tak seimbang dengan jumlah upaya eksplorasi yang lebih jauh. Sebagaimana karakter massa, puisi penyair kita saat ini cenderung seragam tema dan pengucapannya. Penyair kita seperti bekerja dalam sebuah rumah berdinding cermin, sehingga yang berada di dalamnya satu sama lain saling berpantulan bayangannya, melakukan pesta besar interteks.
Penyair kita saat ini lebih banyak mempertebal garis capaian-capaian lama yang sudah digaritkan para pendahulunya ketimbang melakukan eksplorasi inovatif dan hanya berputar-putar dalam labirin capaian-capaian lama itu dan tak kunjung mampu menembus batas garis atau menemukan lorong keluar dari dinding-dinding labirin usang yang mengurungnya itu. Barangkali tuduhan demikian ini sudah klise, berulang-ulang. Tapi justru itu menjadi sebuah petunjuk bahwa kepenyairan kita memang belum berubah dan tak beranjak dari titik-titik itu juga.
Dari kondisi demikian, sampai-sampai ada ungkapan pesimis-retoris dari lingkungan penyair muda seperti Jamal D Rahman, “Jika para penyair terdahulu telah hampir menghabiskan eksplorasi dalam pengucapan, apalagi yang bisa tersisa untuk kami?”. Pesimisme ini sebuah representasi wajar dari dalam lingkungan penyair kita yang sadar diri dan sekaligus gelisah dengan kemacetan mobilitas estetik dalam perpuisian kita saat ini. Pesimisme ini dengan sangat menggebu dan panjang lebar dinilai esais Nirwan Dewanto sebagai adanya perasaan dibebani oleh sejarah sastra nasional. Menurut esais ini, ada yang patut dipertimbangkan dari ungkapan ini, antara lain, bahwa dia (Jamal D Rahman-pen) sedang menyempitkan dunia dan menutup mata pada sumber dari segala zaman yang sebenarnya bisa dia pilih secara merdeka, tetapi ternyata tidak pada ‘para penyair terdahulu’ (…) sehingga dia tak pernah siap menjelajahi kemungkinan yang begitu kaya dalam khazanah puisi yang sesungguhnya (…) ibarat sebuah bidang lukisan sudah terisi barik dan jejak para pendahulu, sehingga baginya hanya tersisa sebuah pojok kosong yang kecil saja, di mana ia hanya bisa melanjutkan bentuk-bentuk yang sudah (terlanjur) ada.
Saya kira dalam konteks ini Jamal D Rahman dengan ungkapan pesimistik itu hanya ingin jujur memberikan sebuah representasi obyektif kondisi kepenyairan kita saat ini. Dan tanggapan kritis Nirwan Dewanto itu suatu upaya terobosan untuk memberikan solusi yang kemungkinan bisa menjawab dan memecahkan pesimisme penyair Jamal D Rahman itu. Representasi jujur-obyektif Jamal D Rahman tentang kepenyairan kita dan dialektika-kritis sebagaimana yang ditawarkan Nirwan Dewanto, adalah contoh persentuhan dua pendapat yang aktif dan produktif. Tanpa harus berpolemik panjang berbusa-busa sebagaimana tradisi polemik kita selama ini tentang dunia sastra kita yang cenderung tanpa hasil cuatan solusi atau dialektika yang signifikan dan hanya menjadi tumpukan wacana yang beku, tak fungsional, nihil. Dua pendapat itu merupakan wujud keprihatinan mendalam terhadap dinamika kepenyairan kita saat ini. Banyakkah makhluk sejenis ini yang masih mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menyumbangkan pemikirannya bagi perkembangan puisi kita?
Adanya sinisme, olok-olok intelektual ataupun sekadar anekdot yang nyata-nyata ditujukan pada hasil kerja kepenyairan kita saat ini, kerap muncul dengan nada vulgar dan menggugat (melalui forum diskusi maupun tulisan di media massa) itu saya kira sangat wajar, bahkan ‘menguntungkan’ dan di baliknya mungkin justru mengeram niat baik untuk bersikap kritis dan obyektif pada kondisi kepenyairan kita saat ini. Menurut saya, sikap sumbang itu bukan suatu nonsense belaka. Sikap itu mesti diterima dan dimaknai sebagai representasi yang memiliki akar-akar kausalitas obyektif yang bisa dirunut pijakan paradigma dan nilai kebenarannya. Dengan pemahaman lain, sikap sumbang itu menjadi semacam warning signifikan bagi kepenyairan kita saat ini. Semua itu representasi kerja kritik dalam versi lain.
Kenapa Jadi Massa
KESERAGAMAN dan kemacetan mobilitas estetik puisi penyair kita saat ini disinyalir, salah satunya, karena adanya bias berlebihan dari semaraknya puisi kita di media massa jurnalisme sastra. Terutama koran. Koran-koran penting (di Jakarta) yang memiliki rubrik puisi konon selalu kebanjiran serbuan kiriman naskah puisi para penyair yang berdomisili di Jakarta maupun daerah. Kondisi demikian seringkali merepotkan pihak redaksi untuk melakukan pemilihan terhadap unggunan naskah yang menumpuk di mejanya. Hal ini memaksa redaktur untuk harus memilih dengan kriteria-kriteria tertentu yang mungkin bersifat subyektif, sebab tidak adanya konvensi yang jelas dan pasti tentang puisi (yang baik). ‘Subyektif’ di sini lebih tepatnya sebagai sebuah pilihan yang sesuai dengan selera redaktur, yang kadang tak bisa dipaparkan secara rinci dan jelas. Akibatnya, muncul identifikasi terhadap sebuah corak atau warna puisi yang dimuat media jurnalisme sastra tertentu yang diidentikkan dengan pilihan selera redakturnya. Contoh, pada tahun 70 dan 80-an koran Berita Buana ketika masih memiliki rubrik puisi yang diredakturi Abdul Hadi WM yang identik dengan puisi sufistik, atau majalah Aktuil yang diredakturi Remy Silado dengan puisi mBeling. Kecenderungan identifikasi demikian ini berlangsung juga pada media jurnalisme sastra saat ini, meskipun agak tak mudah untuk merumuskan dan memetakannya secara tepat-menyeluruh.
Sementara itu penyair kita sudah kadung mempertaruhkan dan menggantungkan media ekspresi puisinya melalui media jurnalisme sastra (khususnya koran) dengan semacam ‘histeria publikatif’. Hal ini membuat penyair kita terpaksa (sadar atau di luar sadar) kompromi dalam kerja kreatifnya, menyesuaikan diri dengan corak puisi media jurnalisme sastra yang diharapkan bisa memuat puisinya. Kondisi demikian membuat puisi yang dimuat media dijadikan sebagai konvensi puisi. Salah kaprah ini pun seakan-akan menjadi kesadaran umum penyair kita tentang hakikat kerja kreatif, terutama puisi. Tapi justru pola kerja demikian membuat keseragaman penulisan puisi penyair kita ’selamat’ dan menemukan wilayah atau medium dan memberi ruang yang bisa menampung ekspresinya yang dipercayai dapat memberikan legitimasi kepenyairan, terutama media jurnalisme sastra yang dinilai memiliki citra istimewa. Akibat ketergantungan berlebihan ini, membuat penyair kita menjadi kehilangan kepribadian, mampat eksplorasi kreatifnya yang radikal-alternatif dan sekadar menjadi massa pengikut mainstream puisi tertentu, mungkin, dengan kadar fanatisme yang memalukan.
Gambaran di atas menunjukkan sebuah disorientasi eksistensial penyair kita yang lebih banyak melebarkan ruang legitimasi melalui media jurnalisme sastra dan menciutkan ruang untuk eksistensialisasi individu penyair lewat nilai sastra itu sendiri. Puisi dijadikan jalan pintas yang pragmatis dan efektif untuk mencari sumber pemasok ke dalam ruang eksistensi yang belum penuh dengan cara simbolik hadir menemui publik pembaca yang seluas-luasnya. Sehingga seorang penyair merasa sudah berhasil bila puisinya dimuat media jurnalisme sastra dan merasa gagal bila tak ada satu media pun yang memuatnya.
Penyair kita tanpa sadar justru lebih banyak ‘belajar’ menulis puisi secara sekilas dari puisi yang dimuat media jurnalisme sastra itu dan sangat jarang membaca, belajar dan melakukan pembandingan khazanah puisi dari literatur (buku) penyair lain (terutama puisi dunia) yang sebenanrya layak untuk dijadikan bahan untuk belajar karena khazanahnya yang begitu beragam dan luas. Puisi koran kemudian menjadi mainstream yang luas dan kuat yang diam-diam ‘melemaskan’ gairah idealisme kerja kreatif yang difference atau alternatif. Kelemasan ini berlangsung massal dan hanya segelintir penyair yang berani dan mampu mengambil jalan lain dan bekerja keras melepaskan diri dari kelemasan massal itu, lalu belajar dan berpaling pada literatur lain yang lebih memungkinkannya mendapatkan keluasan wawasan puitika.
Jam Kerja Laborat
PENYAIR KITA sangat jarang yang memiliki disiplin dan metoda kerja kreatif, atau katakanlah ‘jam kerja’, yang diterapkan secara ketat. Misal, dalam sehari berapa jamkah penyair kita menggeluti puisi, bertarung dengan bahasa, bermain-main dengan kemungkinan-kemungkinan artistik di ‘laboratorium’ kerjanya? Tradisi menulis puisi penyair kita masih bersifat sambil lalu dan lebih mengandalkan keterampilan bakat alam belaka sebagaimana cara kerja seniman tradisional. Payahnya disiplin dan metoda kerja membuat penyair kita terperosok ke dalam kepicikan-kepicikan pada mainstream penulisan yang tidak berkembang dan konservatif, sehingga terpencil dari perkembangan puisi (yang sesungguhnya) jauh di luar sana.
Selain itu, dimensi intelektual penyair kita jarang diasah dengan bahan-bahan wacana sastra dan kebudayaan secara luas, sehingga kesadaran intelektualnya tidak dinamis, bahkan merosot ditandai dengan minimnya pemikiran sastra dari penyair kita. Efek dari kemerosotan dan ketidakdinamisan intelektual ini adalah kekurangmampuan (kemalasan?) untuk mengambil saripati kazanah sastra dan wacana yang ada untuk keperluan memperkaya agenda kerja kreatifnya. Sehingga kritik-kritik puisi yang ada saat ini pun menjadi tidak operasional, karena penyair kita tidak memiliki kepekaan intelektual.
Massa penyair ini kemudian menjadi sekadar para pecandu bahasa yang letih tapi terus saja keras kepala bekerja dengan cara memunguti bias-bias dan remah-remah puisi mainstream yang ada dan tak ada usaha untuk mencoba menembus khazanah puitika yang lebih luas yang masih mungkin dirambahinya. Sebab bagi penyair kita, produktivitas terlanjur jadi ukuran penting. Maka, sebagaimana yang pernah saya ungkapkan, biografi kerja (track record) kepenyairan kerap menjadi kebanggaan dan seringkali direkayasa dengan pembubuhan-pembubuhan biografi kepenyairan yang tak jujur (’Dusta Biografis’ Kepenyairan Indonesia, Republika Minggu, 2 Desember 2001).
Kemana massa penyair kita saat ini akan menempuh arah perkembangannya? Energi budaya yang fantastik itu masih menggeliat-geliat, asyik sendiri dan hiruk-pikuk di tempat di tengah gemuruh percepatan perkembangan ilmu, teknologi maupun cabang-cabang seni lain yang berada di sekitarnya. Betapa luar biasa perkembangan prosa kita dengan sejumlah capaian, masterpiece dan tokoh sastrawannya yang mumpuni dan diakui dunia internasional. Penyair kita sekarang harus menengok serta mempertimbangkan gemuruh di sekitarnya itu untuk menggenjot dan mereformasi hasil kerja kreatifnya seoptimal mungkin, atau hanya akan jadi kerak kebudayaan nasional yang tersisih di negeri sendiri (apalagi bagi standar seni kosmopolit). Percayalah, bila tidak ada perubahan fundamental terhadap pola kerja dan wawasan intelektual yang meluas melampaui batasan-batasan lokal dan nasional, penyair kita kian terpuruk dan menjadi sehimpun massa yang hanya ribut-ribut dengan persoalan-persoalan usang dan klise itu melulu.
* Binhad Nurrohmat, penyair dan kurator Indonesia Literature Watch.
Minggu, 22 Agustus 2010
Gincu Merah Sastra Pesantren
Binhad Nurrohmat
http://www.suarakarya-online.com/
Banyak pihak yang “ringan kata” menyebut istilah “Sastra Pesantren” tanpa menjelaskannya - seperti menyebut istilah baku. Bahkan ada yang cerewet mengabarkan adanya genre sastra pesantren, kanon sastra pesantren, ledakan sastra pesantren, maupun industri sastra pesantren seakan-akan sastra pesantren sudah menjadi tradisi yang kukuh dan dahsyat kiprahnya. Padahal istilah sastra pesantren pun belum pernah jelas pengertiannya secara kesusastraan, tapi kadung dirayakan sebagai istilah eksotis yang seolah sudah beres secara terminologis.
Munculnya istilah sastra pesantren masih sebatas mempropagandakan “identitas kesastrawanan” mereka yang dianggap sebagai pengarang sastra pesantren. Propaganda itu tak menyuguhkan hasil kajian yang becus membuktikan adanya unsur “kualitas sastra” ataupun adanya kecenderungan “bentuk sastra” dari apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu. Sehingga, istilah sastra pesantren menjadi klaim yang mirip gincu merah mencolok mata yang dioleskan berlebihan dan semena-mena ke sejumlah karya sastra.
Propaganda itu upaya “politik identitas” untuk mengobarkan adanya genre atau kanon sastra pesantren dengan menihilkan unsur-unsur kesusastraan yang mendasar. Apakah perbedaan sastra Indonesia pada umumnya dengan apa yang disebut sebagai sastra pesantren selain sebatas kecenderungan perbedaan temanya? Ingat, tema bukanlah ukuran mutu atau pembentuk genre sastra.
Pada jamaknya, istilah sastra pesantren dipakai secara latah untuk menyebut karya sastra bertema keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan. Sastra pesantren selama ini diidentifikasi sebagai karya sastra yang berurusan dengan nilai keislaman, karya sastra para pengarang yang punya pengalaman kehidupan pesantren atau masih trah kiai pesantren, dan karya sastra yang mencerminkan kehidupan santri dan pesantren. Identifikasi itu berisi unsur-unsur non-sastra.
Kelatahan identifikasi itu menjauhkan apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu dari unsur-unsur kesusastraan yang sesungguhnya. Maka tak aneh bila yang disebut sebagai sastra pesantren adalah karya pengarang berbahasa Indonesia yang bermuatan tema keislaman, kesantrian, atau kepesantrenan; maupun pengarang yang punya hubungan sejarah atau silsilah dengan pesantren. Penyair X dijuluki sebagai pengarang sastra pesantren karena statusnya sebagai kiai atau anak kiai pemilik pesantren yang menulis puisi sufistik dan juga karena pengarang Y pernah belajar di pesantren maka novelnya yang berlatar kehidupan pesantren disebut sebagai sastra pesantren.
Identifikasi pada apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu sebatas berurusan dengan aktualisasi tema atau latar belakang pengarangnya yang berhubungan dengan keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan; dan bukan berdasarkan unsur-unsur atau kecenderungan “bentuk” kesusastraan yang khas dimiliki oleh apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu.
Istilah sastra pesantren mengemuka dalam isu kesusastraan mutakhir dan sekaligus terjebak ke dalam jurang kekacauan termonologis yang bermasalah secara diskursif dan literer. Apakah keterjebakan itu bakal membuat para propagandis dan pengarang sastra pesantren berjibaku merumuskan dan menciptakan sastra pesantren dengan melek unsur-unsur kesusastraan yang sesungguhnya, bukan sekadar menekankan unsur tema atau latar belakang pengarangnya?
Ludah Surga
Ada buku berjudul Antologi Cerpen Pesantren: Ludah Surga (2006) yang berisi cerpen para santri muda yang bertema kehidupan santri dan pesantren. Gagasan cerita dalam buku ini banyak yang unik, misalnya urusan mistik atau keajaiban supranatural dan fenomena perkembangan dunia santri dan pesantren terkini yang belum banyak diketahui umum. Sejumlah cerpen dalam buku ini mengingatkan pada cerpen-cerpen A. Mustofa Bisri dalam buku Lukisan Kaligrafi (2003).
Struktur cerpen-cerpen dalam Ludah Surga itu seperti kecenderungan umum struktur cerpen Indonesia, bahkan banyak yang tertinggal jauh dari perkembangannya sastra mutakhir. Kritikus Faruk tak keliru menyatakan sastra pesantren memberikan “kualitas” dokumentasi dunia santri dan pesantren yang tersembunyi (novel Mairil, misalnya), tapi belum memberikan kualitas sastra.
Karya sastra bertema kehidupan santri dan pesantren masih cenderung menampilkan dunia pesantren sebagai latar, tanpa deskripsi yang rinci dan hidup, dan menjelmakan nilai keislaman secara formalistik serupa khotbah. Selain itu, juga cenderung minim realitas kejiwaan dan teknik berceritanya konvensionil. Akibatnya, dunia santri dan pesantren dalam karya sastra hadir tak utuh dan tanpa gema. Karya sastra yang mengolah dunia santri dan pesantren cenderung memukau karena urusan tabu yang diangkatnya, misalnya seksualitas di pesantren. Kecenderungan-kecenderungan itu merupakan masalah yang menuntut upaya kesusastraan yang serius.
Sebenarnya modal besar para pengarang yang punya ikatan dengan pesantren adalah kekayaaan tradisi pesantren yang belum banyak muncul dalam realitas yang tertulis. Dengan modal itu, para pengarang itu berpotensi sebagai “lidah” pertama yang menyuarakan khazanah dunia santri dan pesantren. Tapi bila mengandalkan kekayaan tradisi sebagai bahan penciptaan tanpa menyelenggarakan upaya kesusastraan yang sesungguhnya, para pengarang itu hanya menghasilkan risalah sosial, antropologi, atau tasawuf dunia santri dan pesantren yang tak berkutik menghadapi risalah penelitian para sosiolog, antropolog, dan peneliti mistik Islam yang menekuni urusan dunia yang serupa.
Upaya kesusastraan itu bisa dipelajari dari khazanah sastra Indonesia maupun sastra dunia yang menggumuli realitas atau tema tertentu dengan tetap meninggikan mutu sastra. Bukan untuk meniru, melainkan untuk mengambil atau mengembangkan metodenya maupun mencari pijakan untuk “menemukan” ilham metode sastra yang anyar. Bukankah para pemikir besar Muslim awal juga mengembangkan sejumlah warisan budaya Yunani kuno?
Dengan upaya kesusastraan yang mendasar atau yang sesungguhnya, karya sastra bertema dunia santri dan pesantren bisa tegak berdiri penuh harga diri di mimbar besar kesusastraan. Para pengarang yang mengolah kehidupan santri dan pesantren itu sebaiknya memikirkan mutu sastra di kesunyian kamar kerjanya dan belajar mengucapkan selamat tinggal pada tetek-bengek bingar propaganda yang sekadar hendak merebut lebel sastra pesantren belaka itu. ***
*) Penyair, pernah belajar di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta
http://www.suarakarya-online.com/
Banyak pihak yang “ringan kata” menyebut istilah “Sastra Pesantren” tanpa menjelaskannya - seperti menyebut istilah baku. Bahkan ada yang cerewet mengabarkan adanya genre sastra pesantren, kanon sastra pesantren, ledakan sastra pesantren, maupun industri sastra pesantren seakan-akan sastra pesantren sudah menjadi tradisi yang kukuh dan dahsyat kiprahnya. Padahal istilah sastra pesantren pun belum pernah jelas pengertiannya secara kesusastraan, tapi kadung dirayakan sebagai istilah eksotis yang seolah sudah beres secara terminologis.
Munculnya istilah sastra pesantren masih sebatas mempropagandakan “identitas kesastrawanan” mereka yang dianggap sebagai pengarang sastra pesantren. Propaganda itu tak menyuguhkan hasil kajian yang becus membuktikan adanya unsur “kualitas sastra” ataupun adanya kecenderungan “bentuk sastra” dari apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu. Sehingga, istilah sastra pesantren menjadi klaim yang mirip gincu merah mencolok mata yang dioleskan berlebihan dan semena-mena ke sejumlah karya sastra.
Propaganda itu upaya “politik identitas” untuk mengobarkan adanya genre atau kanon sastra pesantren dengan menihilkan unsur-unsur kesusastraan yang mendasar. Apakah perbedaan sastra Indonesia pada umumnya dengan apa yang disebut sebagai sastra pesantren selain sebatas kecenderungan perbedaan temanya? Ingat, tema bukanlah ukuran mutu atau pembentuk genre sastra.
Pada jamaknya, istilah sastra pesantren dipakai secara latah untuk menyebut karya sastra bertema keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan. Sastra pesantren selama ini diidentifikasi sebagai karya sastra yang berurusan dengan nilai keislaman, karya sastra para pengarang yang punya pengalaman kehidupan pesantren atau masih trah kiai pesantren, dan karya sastra yang mencerminkan kehidupan santri dan pesantren. Identifikasi itu berisi unsur-unsur non-sastra.
Kelatahan identifikasi itu menjauhkan apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu dari unsur-unsur kesusastraan yang sesungguhnya. Maka tak aneh bila yang disebut sebagai sastra pesantren adalah karya pengarang berbahasa Indonesia yang bermuatan tema keislaman, kesantrian, atau kepesantrenan; maupun pengarang yang punya hubungan sejarah atau silsilah dengan pesantren. Penyair X dijuluki sebagai pengarang sastra pesantren karena statusnya sebagai kiai atau anak kiai pemilik pesantren yang menulis puisi sufistik dan juga karena pengarang Y pernah belajar di pesantren maka novelnya yang berlatar kehidupan pesantren disebut sebagai sastra pesantren.
Identifikasi pada apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu sebatas berurusan dengan aktualisasi tema atau latar belakang pengarangnya yang berhubungan dengan keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan; dan bukan berdasarkan unsur-unsur atau kecenderungan “bentuk” kesusastraan yang khas dimiliki oleh apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu.
Istilah sastra pesantren mengemuka dalam isu kesusastraan mutakhir dan sekaligus terjebak ke dalam jurang kekacauan termonologis yang bermasalah secara diskursif dan literer. Apakah keterjebakan itu bakal membuat para propagandis dan pengarang sastra pesantren berjibaku merumuskan dan menciptakan sastra pesantren dengan melek unsur-unsur kesusastraan yang sesungguhnya, bukan sekadar menekankan unsur tema atau latar belakang pengarangnya?
Ludah Surga
Ada buku berjudul Antologi Cerpen Pesantren: Ludah Surga (2006) yang berisi cerpen para santri muda yang bertema kehidupan santri dan pesantren. Gagasan cerita dalam buku ini banyak yang unik, misalnya urusan mistik atau keajaiban supranatural dan fenomena perkembangan dunia santri dan pesantren terkini yang belum banyak diketahui umum. Sejumlah cerpen dalam buku ini mengingatkan pada cerpen-cerpen A. Mustofa Bisri dalam buku Lukisan Kaligrafi (2003).
Struktur cerpen-cerpen dalam Ludah Surga itu seperti kecenderungan umum struktur cerpen Indonesia, bahkan banyak yang tertinggal jauh dari perkembangannya sastra mutakhir. Kritikus Faruk tak keliru menyatakan sastra pesantren memberikan “kualitas” dokumentasi dunia santri dan pesantren yang tersembunyi (novel Mairil, misalnya), tapi belum memberikan kualitas sastra.
Karya sastra bertema kehidupan santri dan pesantren masih cenderung menampilkan dunia pesantren sebagai latar, tanpa deskripsi yang rinci dan hidup, dan menjelmakan nilai keislaman secara formalistik serupa khotbah. Selain itu, juga cenderung minim realitas kejiwaan dan teknik berceritanya konvensionil. Akibatnya, dunia santri dan pesantren dalam karya sastra hadir tak utuh dan tanpa gema. Karya sastra yang mengolah dunia santri dan pesantren cenderung memukau karena urusan tabu yang diangkatnya, misalnya seksualitas di pesantren. Kecenderungan-kecenderungan itu merupakan masalah yang menuntut upaya kesusastraan yang serius.
Sebenarnya modal besar para pengarang yang punya ikatan dengan pesantren adalah kekayaaan tradisi pesantren yang belum banyak muncul dalam realitas yang tertulis. Dengan modal itu, para pengarang itu berpotensi sebagai “lidah” pertama yang menyuarakan khazanah dunia santri dan pesantren. Tapi bila mengandalkan kekayaan tradisi sebagai bahan penciptaan tanpa menyelenggarakan upaya kesusastraan yang sesungguhnya, para pengarang itu hanya menghasilkan risalah sosial, antropologi, atau tasawuf dunia santri dan pesantren yang tak berkutik menghadapi risalah penelitian para sosiolog, antropolog, dan peneliti mistik Islam yang menekuni urusan dunia yang serupa.
Upaya kesusastraan itu bisa dipelajari dari khazanah sastra Indonesia maupun sastra dunia yang menggumuli realitas atau tema tertentu dengan tetap meninggikan mutu sastra. Bukan untuk meniru, melainkan untuk mengambil atau mengembangkan metodenya maupun mencari pijakan untuk “menemukan” ilham metode sastra yang anyar. Bukankah para pemikir besar Muslim awal juga mengembangkan sejumlah warisan budaya Yunani kuno?
Dengan upaya kesusastraan yang mendasar atau yang sesungguhnya, karya sastra bertema dunia santri dan pesantren bisa tegak berdiri penuh harga diri di mimbar besar kesusastraan. Para pengarang yang mengolah kehidupan santri dan pesantren itu sebaiknya memikirkan mutu sastra di kesunyian kamar kerjanya dan belajar mengucapkan selamat tinggal pada tetek-bengek bingar propaganda yang sekadar hendak merebut lebel sastra pesantren belaka itu. ***
*) Penyair, pernah belajar di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta
Mistik Pesantren dalam Puisi dan Cerpen
Bagian pertama dari dua tulisan
Binhad Nurrohmat
http://www.infoanda.com/Republika
Keberadaan pesantren selama ratusan tahun di negeri ini telah menjadikannya sebagai satuan ranah subkultur dengan corak tradisi yang khas dan hidup di antara kultur-kultur yang lain. Pesantren mempertahankan dan mengembangkan keberadaannya dalam jangka waktu panjang dengan mentransformasi secara eklektik kondisi masyarakat sekitarnya tanpa melenyapkan jati dirinya.
Kultur dan tradisi pesantren dalam kehidupan nyata sehari-hari mendasarkan diri pada hadits dan Alquran, kitab kuning (fiqih klasik), dan mewarisi sebagian watak kultur dan tradisi lokal (mistik, misalnya) tempat pesantren berada. Dalam sejarahnya, kultur dan tradisi pesantren menghargai kultur dan tradisi lokal secara halus dan kreatif sehingga terhindar dari konflik.
Kiprah Wali Sembilan yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa menjadi model eklektik kultur dan tradisi pesantren. Tradisi sastra yang diciptakan para penyebar Islam awal di Nusantara itu memakai Bahasa Jawa, bukan bahasa primer sumber ajaran Islam, yaitu Bahasa Arab.
Tembang dan syair berbahasa Jawa kreasi sastra para wali itu hidup hingga kini di surau, langgar, dan masjid di berbagai pelosok (khususnya) tanah Jawa. Strategi kebudayaan eklektik para wali itu menjadi prestasi legendaris dalam sejarah kebudayaan Islam di negeri ini dan menjadi watak kultur dan tradisi pesantren hingga kini.
Tradisi sastra itu lumrah terselenggara karena masyarakat pesantren punya tradisi baca yang kuat atau kental tradisi literaturnya. Pesantren, sejak awal hingga kini, menjadikan kitab-kitab klasik (bahasa Arab, filsafat, fiqih, logika, dan ilmu-ilmu lainnya) sebagai sumber ilmu dan pengetahuan yang menjaga tiang-tiang utama eksistensinya.
Dalam perkembangannya, pesantren juga mengadopsi model pendidikan sekolah yang mengajarkan ilmu dan pengetahuan yang telah mengalami perkembangan pesat dalam peradaban masyarakat Barat (bahasa Inggris dan ilmu-ilmu lainnya).
Banyak intelektual dan budayawan Muslim terpenting di negeri ini adalah pribadi yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren. Mereka memiliki kemampuan kosmopolit yang menggali atau mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dari sumber-sumber asli berbahasa Arab maupun berbahasa Inggris. Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Najib, dan Nurcholish Madjid merupakan sedikit contoh tokoh intelektual dan budayawan terkemuka yang memiliki basis kultur dan tradisi pesantren itu.
Sebagai satuan ranah subkultur yang khas, maka corak maupun pernik sosial, antropologis, maupun religiusitas dunia pesantren menyata dalam keseharian masyarakatnya dan muncul dalam karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang yang tumbuh dalam ranah subkultur itu.
Setelah Jamil Suherman yang pada dekade 1970-an menulis cerpen-cerpen yang digali dari kehidupan kultur dan tradisi pesantren, pada dekade 2000-an hingga sekarang muncul cerpen-cerpen yang menjadikan kehidupan pesantren sebagai sumber penciptaan karya sastra secara spesifik dan dengan kecenderungan perspektif mistik Islam (Sufisme).
Kecenderungan itu memiliki perspektif yang senafas dengan puisi-puisi yang ditulis para penyair Indonesia (dekade 1980-an hingga sekarang) yang punya kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren. D Zawawi Imron, Emha Ainun Najib, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Kuswaidi Syafii, Mathori A Elwa, Amien Wangsitalaja, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Abidah el Khaliqy, Ulfatin Ch adalah para penyair yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren yang puisinya punya kecenderungan mistik Islam. Nama-nama itu merupakan garda depan puisi mistik Islam Indonesia yang berlatarkan kultur dan tradisi pesantren.
Puisi berperspektif mistik Islam tak hanya ditulis penyair yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren. Banyak penyair Muslim di negeri ini yang tanpa pengalaman hidup dalam kultur dan tradisi pesantren juga menulis puisi bernafaskan mistik Islam yang menonjol, misalnya Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, Abdul Wahid BS, Isbedy Stiawan ZS, Edy A Effendi, dan Sutardji Calzoum Bachri. Nama-nama ini merupakan garda depan puisi mistik Islam di negeri ini. Kemusliman membuat kepekaan mistik Islam mereka sekuat penyair Muslim yang memiliki kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren.
Gejala mistik Islam menjadi kecenderungan yang kuat dalam perpuisian penyair Indonesia — yang punya kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren atau tidak — hingga hari ini dan menjadi gelombang utama yang kuat dalam perpuisian Indonesia pada dekade 1980-an dan berlanjut hingga kini meski tak lagi menjadi gelombang utama.
Kultur agamis masyarakat di negeri ini, setidaknya lingkungan tempat asal bertumbuhnya para penyair itu, membuat puisi mistik Islam itu memiliki latar yang kukuh untuk tetap terus bisa bertahan. Gelombang sekularitas tak mampu menggerus habis arus mistik Islam itu, justru membuat puisi mistik Islam punya tantangan untuk bertahan, dengan sebuah kecenderungan: mistik Islam dalam puisi Indonesia bukan menjadi wilayah yang ‘tenang’ seperti mistik Islam dalam puisi tradisional, melainkan mengalami ‘ketegangan’ yang luka dan perih karena serangan sekularitas dari berbagai arah.
Begitulah gambaran puisi mistik Islam Indonesia yang muncul sebagai gelombang utama di suatu masa dan menghadapi tantangan sekularitas tanpa pernah takluk.
Bagaimana dengan perkembangan cerpen di negeri ini? Bersamaan dengan munculnya cerpen-cerpen agamis yang menyeruak dari komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang menggali sumber penciptaan dari kehidupan agamis kaum Muslim, kini cerpen-cerpen agamis yang perspektif mistik Islam bermunculan dan menjadikan kehidupan pesantren sebagai bahan penciptaan secara spesifik.
Para pengarang cerpen yang menjadikan kehidupan pesantren sebagai bahan penciptaan secara spesifik dan dengan perspektif mistik Islam itu adalah mereka yang memiliki kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren. Dengan kata lain, cerpen yang menyuarakan dunia pesantren ditulis oleh orang dari dunia pesantren. Gejala ini terjadi karena pengarang yang memiliki pengalaman hidup secara dekat dengan dunia pesantren yang cenderung lebih punya penguasaan bahan dan penghayatan yang kuat tentang dunia pesantren.
KHA Mustofa Bisri (Gus Mus) menulis dan memublikasikan sejumlah cerpen pada awal dekade 2000-an yang dikumpulkan dalam buku Lukisan Kaligrafi (2003). Cerpen-cerpen dalam buku ini terilhami kisah-kisah yang khas dalam kultur dan tradisi pesantren.
Gus Mus merupakan contoh pengarang yang juga ‘orang dalam’ dunia pesantren. Gus Mus lahir dan tubuh di dalam dunia pesantren. Ayah dan kakeknya adalah kiai pengasuh pesantren yang berpengaruh dan mendidik banyak santri. Kini Gus Mus pun menjadi kiai pengasuh pesantren dan mendidik banyak santri.
*) Penyair, mantan santri Krapyak
Binhad Nurrohmat
http://www.infoanda.com/Republika
Keberadaan pesantren selama ratusan tahun di negeri ini telah menjadikannya sebagai satuan ranah subkultur dengan corak tradisi yang khas dan hidup di antara kultur-kultur yang lain. Pesantren mempertahankan dan mengembangkan keberadaannya dalam jangka waktu panjang dengan mentransformasi secara eklektik kondisi masyarakat sekitarnya tanpa melenyapkan jati dirinya.
Kultur dan tradisi pesantren dalam kehidupan nyata sehari-hari mendasarkan diri pada hadits dan Alquran, kitab kuning (fiqih klasik), dan mewarisi sebagian watak kultur dan tradisi lokal (mistik, misalnya) tempat pesantren berada. Dalam sejarahnya, kultur dan tradisi pesantren menghargai kultur dan tradisi lokal secara halus dan kreatif sehingga terhindar dari konflik.
Kiprah Wali Sembilan yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa menjadi model eklektik kultur dan tradisi pesantren. Tradisi sastra yang diciptakan para penyebar Islam awal di Nusantara itu memakai Bahasa Jawa, bukan bahasa primer sumber ajaran Islam, yaitu Bahasa Arab.
Tembang dan syair berbahasa Jawa kreasi sastra para wali itu hidup hingga kini di surau, langgar, dan masjid di berbagai pelosok (khususnya) tanah Jawa. Strategi kebudayaan eklektik para wali itu menjadi prestasi legendaris dalam sejarah kebudayaan Islam di negeri ini dan menjadi watak kultur dan tradisi pesantren hingga kini.
Tradisi sastra itu lumrah terselenggara karena masyarakat pesantren punya tradisi baca yang kuat atau kental tradisi literaturnya. Pesantren, sejak awal hingga kini, menjadikan kitab-kitab klasik (bahasa Arab, filsafat, fiqih, logika, dan ilmu-ilmu lainnya) sebagai sumber ilmu dan pengetahuan yang menjaga tiang-tiang utama eksistensinya.
Dalam perkembangannya, pesantren juga mengadopsi model pendidikan sekolah yang mengajarkan ilmu dan pengetahuan yang telah mengalami perkembangan pesat dalam peradaban masyarakat Barat (bahasa Inggris dan ilmu-ilmu lainnya).
Banyak intelektual dan budayawan Muslim terpenting di negeri ini adalah pribadi yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren. Mereka memiliki kemampuan kosmopolit yang menggali atau mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dari sumber-sumber asli berbahasa Arab maupun berbahasa Inggris. Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Najib, dan Nurcholish Madjid merupakan sedikit contoh tokoh intelektual dan budayawan terkemuka yang memiliki basis kultur dan tradisi pesantren itu.
Sebagai satuan ranah subkultur yang khas, maka corak maupun pernik sosial, antropologis, maupun religiusitas dunia pesantren menyata dalam keseharian masyarakatnya dan muncul dalam karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang yang tumbuh dalam ranah subkultur itu.
Setelah Jamil Suherman yang pada dekade 1970-an menulis cerpen-cerpen yang digali dari kehidupan kultur dan tradisi pesantren, pada dekade 2000-an hingga sekarang muncul cerpen-cerpen yang menjadikan kehidupan pesantren sebagai sumber penciptaan karya sastra secara spesifik dan dengan kecenderungan perspektif mistik Islam (Sufisme).
Kecenderungan itu memiliki perspektif yang senafas dengan puisi-puisi yang ditulis para penyair Indonesia (dekade 1980-an hingga sekarang) yang punya kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren. D Zawawi Imron, Emha Ainun Najib, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Kuswaidi Syafii, Mathori A Elwa, Amien Wangsitalaja, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Abidah el Khaliqy, Ulfatin Ch adalah para penyair yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren yang puisinya punya kecenderungan mistik Islam. Nama-nama itu merupakan garda depan puisi mistik Islam Indonesia yang berlatarkan kultur dan tradisi pesantren.
Puisi berperspektif mistik Islam tak hanya ditulis penyair yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren. Banyak penyair Muslim di negeri ini yang tanpa pengalaman hidup dalam kultur dan tradisi pesantren juga menulis puisi bernafaskan mistik Islam yang menonjol, misalnya Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, Abdul Wahid BS, Isbedy Stiawan ZS, Edy A Effendi, dan Sutardji Calzoum Bachri. Nama-nama ini merupakan garda depan puisi mistik Islam di negeri ini. Kemusliman membuat kepekaan mistik Islam mereka sekuat penyair Muslim yang memiliki kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren.
Gejala mistik Islam menjadi kecenderungan yang kuat dalam perpuisian penyair Indonesia — yang punya kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren atau tidak — hingga hari ini dan menjadi gelombang utama yang kuat dalam perpuisian Indonesia pada dekade 1980-an dan berlanjut hingga kini meski tak lagi menjadi gelombang utama.
Kultur agamis masyarakat di negeri ini, setidaknya lingkungan tempat asal bertumbuhnya para penyair itu, membuat puisi mistik Islam itu memiliki latar yang kukuh untuk tetap terus bisa bertahan. Gelombang sekularitas tak mampu menggerus habis arus mistik Islam itu, justru membuat puisi mistik Islam punya tantangan untuk bertahan, dengan sebuah kecenderungan: mistik Islam dalam puisi Indonesia bukan menjadi wilayah yang ‘tenang’ seperti mistik Islam dalam puisi tradisional, melainkan mengalami ‘ketegangan’ yang luka dan perih karena serangan sekularitas dari berbagai arah.
Begitulah gambaran puisi mistik Islam Indonesia yang muncul sebagai gelombang utama di suatu masa dan menghadapi tantangan sekularitas tanpa pernah takluk.
Bagaimana dengan perkembangan cerpen di negeri ini? Bersamaan dengan munculnya cerpen-cerpen agamis yang menyeruak dari komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang menggali sumber penciptaan dari kehidupan agamis kaum Muslim, kini cerpen-cerpen agamis yang perspektif mistik Islam bermunculan dan menjadikan kehidupan pesantren sebagai bahan penciptaan secara spesifik.
Para pengarang cerpen yang menjadikan kehidupan pesantren sebagai bahan penciptaan secara spesifik dan dengan perspektif mistik Islam itu adalah mereka yang memiliki kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren. Dengan kata lain, cerpen yang menyuarakan dunia pesantren ditulis oleh orang dari dunia pesantren. Gejala ini terjadi karena pengarang yang memiliki pengalaman hidup secara dekat dengan dunia pesantren yang cenderung lebih punya penguasaan bahan dan penghayatan yang kuat tentang dunia pesantren.
KHA Mustofa Bisri (Gus Mus) menulis dan memublikasikan sejumlah cerpen pada awal dekade 2000-an yang dikumpulkan dalam buku Lukisan Kaligrafi (2003). Cerpen-cerpen dalam buku ini terilhami kisah-kisah yang khas dalam kultur dan tradisi pesantren.
Gus Mus merupakan contoh pengarang yang juga ‘orang dalam’ dunia pesantren. Gus Mus lahir dan tubuh di dalam dunia pesantren. Ayah dan kakeknya adalah kiai pengasuh pesantren yang berpengaruh dan mendidik banyak santri. Kini Gus Mus pun menjadi kiai pengasuh pesantren dan mendidik banyak santri.
*) Penyair, mantan santri Krapyak
Mistik Pesantren dalam Puisi dan Cerpen
Bagian terakhir dari dua tulisan
Binhad Nurrohmat
http://www.infoanda.com/Republika
Kisah-kisah mistik dalam dunia pesantren menjadi bagian yang dominan dan menarik dalam cerpen-cerpen Gus Mus. Kisah-kisah dalam cerpen Gus Mus penuh kejutan surealistik dengan cara bercerita Gus Mus datar-datar saja. Tanpa teknik bercerita yang canggih. Misalnya, cerpen Gus Jakfar.
Cerpen Gus Jakfar mengisahkan putra almarhum Kiai Saleh bernama Jakfar yang dipercaya punya kemampuan mistik atau supranatural. Jakfar bisa melihat pikiran atau yang akan terjadi pada diri seseorang (ilmu kasyaf). Dalam mimpinya, Jakfar bertemu almarhum ayahnya yang berpesan agar Jakfar menemui Kiai Tawakkal. Jakfar memenuhi pesan ayahnya itu.
Penampilan Kiai Tawakkal alim, tapi dengan ilmu kasyaf-nya Jakfar melihat tulisan Ahli Neraka di kening kiai itu. Dalam sebuah pengintaian Jakfar memergoki kiai itu mampir ke warung yang bersuasana mesum dan kiai itu menangkap basah pengintaian Jakfar. Tapi, dalam sebuah perbincangan dengan Kiai Tawakkal yang mampu berjalan di atas itu, Jakfar mendapatkan pencerahan spiritual tentang ilmu kasyaf yang sering dipraktikkannya. Jakfar sadar dan tak lagi mempraktikkannya.
Kisah-kisah mistik yang lain dari dunia pesantren juga muncul dalam cerpen-cerpen Gus Mus yang lain, misalnya cerpen Kang Kasanun yang menceritakan tokoh Kasanun yang punya ilmu yang membuatnya bisa tak tampak oleh penglihatan orang lain, cerpen Ndara Mat Amit yang berkisah tentang orang yang bisa melihat kehadiran Nabi Muhammad dan kiai yang menyembunyikan kelebihan ilmunya agar tak terlihat di mata orang atau penguasa (ilmu mastur), maupun cerpen Mbah Sidiq yang bercerita tentang tokoh Mbah Sidiq yang dipercaya dalam waktu yang sama berada di beberapa tempat yang berbeda, sehingga ketika tubuhnya ada di Jawa, saat itu juga dia bisa shalat Jumat di Mekkah.
Realitas-realitas mistik dalam cerpen-cerpen Gus Mus itu bisa diambil langsung dari kisah-kisah yang akrab dalam pengetahuan kolektif masyarakat pesantren. Penggambaran realitas-realitas mistik dalam cerpen-cerpen itu pun mengambil pola yang persis seperti yang sangat lazim dikenal dalam masyarakat pesantren. Cerpen-cerpen itu tak ubahnya transkripsi realitas yang sering dilisankan masyarakat pesantren dan direproduksi dalam tulisan berbentuk cerpen.
Realitas-realitas mistik dalam cerpen itu hidup sebagai bagian tak terpisahkan dalam masyarakat pesantren. Cerpen-cerpen itu berperan sebagai dokumenter pesantren yang bersumberkan dari pengetahuan tradisi kolektif masyarakat pesantren melalui pendekatan antropologis, yaitu menggambarkan perilaku para tokoh cerita yang alim dan juga memiliki kemampuan mistik, punya ilmu kesaktian atau ilmu supranatural. Tokoh-tokoh cerita Gus Mus itu merupakan para santri “priyayi”, yaitu para kiai pesantren dan para putranya.
Selain Gus Mus, ada sejumlah cerpen yang ditulis para pengarang muda yang berlatar kultur dan tradisi pesantren yang memiliki kecenderungan yang mirip dengan cerpen-cerpen Gus Mus. Misalnya, cerpen-cerpen yang dihimpun dalam buku Antologi Cerpen Pesantren Ludah Surga (2006). Cerpen-cerpen dalam Ludah Surga secara spesifik menjadikan kehidupan masyarakat pesantren sebagai bahan penciptaan. Melalui cerpen-cerpen dalam buku ini terungkap gambaran dunia santri dan pesantren dalam konteks masa kini dan juga kecenderungan mistiknya.
Misalnya, cerpen NON GOEs-Gus karya Ahmad Musthofa Haroen. Cerpen berlatar kehidupan pesantren ini mengisahkan putra Kiai Abdul Mukhattit yang bernama Ahmad Lazim Mukhattit (Gus Kotot).
Sebagai calon pewaris pesantren, sejak lulus SD Gus Kotot dikirim ke pesantren di luar desa untuk belajar sampai dia lulus SMA. Selama di pesantren, Gus Kotot badung dan malas belajar, tapi karena dia putra kiai besar, pengasuh pesantrennya membiarkannya. Selepas SMA Gus Kotot tinggal di kos dan menjadi makin liar. Dia bahkan mendirikan grup musik dan jauh dari kehidupan agamis.
Tapi setelah ayahnya wafat, secara tiba-tiba Gus Kotot yang biasanya berpenampilan sebagai anak band, berganti kostum sebagaimana para kiai dan secara ajaib dia punya kemampuan keilmuan selayaknya kiai. Dan, Gus Kotot menggantikan peran ayahnya sebagai kiai pesantren.
Dalam buku antologi cerpen itu juga ada cerpen berjudul Ludah Surga karya Moh. Nur Ali Muslim. Cerpen ini yang juga berlatar kehidupan pesantren menceritakan seorang bernama Jhony.
Jhony adalah pecandu narkoba yang setamat SMA ingin sembuh dan masuk pesantren di Lasem asuhan Kiai Bakhrun Al Hanif. Kiai ini tahu Jhony pecandu narkoba. Untuk terapi, Kiai Bakhrun mempekerjakan Jhony sebagai penjaga sawah. Ketika kiai Bakhrun akan menunaikan haji, Jhony memesan minyak za’faron yang dijual oleh pedagang bernama Harits Ibnu Ash di sebelah selatan Masjid Nabawi.
Kiai Bakhrun bertemu pedagang itu dan pedagang itu tahu kiai itu dari Lasem. Pedagang itu bercerita bahwa dia punya teman bernama Jhony santri pesantren asuhan Kiai Bakhrun, Jhony adalah temannya yang selalu shalat lima waktu di Masjid Nabawi, dan Jhony adalah putra ulama besar di Sumatera. Kiai Bakhrun jadi mengerti kenapa selama di pesantren teman-teman Jhony tak pernah melihat Jhony mendirikan shalat.
Dalam perjalanan pulang haji, Kiai Haji Bakhrun bermimpi bertengkar dengan Jhony. Jhony menagih minyak za’faron yang dipesannya. Tapi kiai Bakhrun malah meludahi Jhony. Jhony pun bermimpi yang sama.
Setiba di Lasem, Kiai Haji Bakhrun memergoki Jhony yang mau kabur dari pesantren dan kiai itu menanyai Jhony tentang siapa dirinya sesungguhnya. Jhony tak mengaku. Kiai Haji Bakhrun marah dan meludahi mulut Jhony.
Dua tahun kemudian, Jhony dikenal sebagai ulama besar di Sumatera dengan menyandang nama Farits Zaini Mubarok Al Khanif. Watak dan kealiman Farits Zaini Mubarok Al Khanif alias Jhony setara dengan gurunya, yaitu Kiai Haji Bakhrun Al Khanif.
Seperti ciri cerpen-cerpen Gus Mus, dua cerpen itu juga menjadi -meminjam sinyalemen kritikus Faruk — dokumentasi dunia pesantren yang bersumber dari pengetahuan kolektif masyarakat pesantren melalui pendekatan antropologis, yaitu menggambarkan perilaku para tokoh santri priyayi (putra-putra kiai) yang memiliki kemampuan mistik atau supranatural.
Kecenderungan mistik dalam cerpen-cerpen yang menggali bahan penciptaan dari kultur dan tradisi pesantren itu memukau atau mengejutkan masih sebatas dilantari oleh realitas yang ditampilkannya bukan realitas yang lazim dalam kenyataan umum, sehingga cerpen-cerpen itu menjadi dongeng atau mitos kehidupan pesantren yang terasa ‘antik’ dan magis. Realitas-realitas semacam itu akan mengalami penjenuhan karena pengulangan-pengulangan.
Kehidupan pesantren yang masih pinggiran dalam bahan cerita percerpenan Indonesia itu kemungkinan besar akan kehilangan pukau bila tak menggali realitas-realitas yang lain dunia pesantren yang masih tersembunyi atau mengembangkan kemungkinan-kemungkinan teknik bercerita yang bisa menghadirkan kehidupan pesantren melalui cara yang berbeda, sehingga cerpen-cerpen itu bukan hanya menyuguhkan mutu dokumentasi, tapi juga memberikan mutu kesusastraan.
*) Penyair, mantan sastri Krapyak
Binhad Nurrohmat
http://www.infoanda.com/Republika
Kisah-kisah mistik dalam dunia pesantren menjadi bagian yang dominan dan menarik dalam cerpen-cerpen Gus Mus. Kisah-kisah dalam cerpen Gus Mus penuh kejutan surealistik dengan cara bercerita Gus Mus datar-datar saja. Tanpa teknik bercerita yang canggih. Misalnya, cerpen Gus Jakfar.
Cerpen Gus Jakfar mengisahkan putra almarhum Kiai Saleh bernama Jakfar yang dipercaya punya kemampuan mistik atau supranatural. Jakfar bisa melihat pikiran atau yang akan terjadi pada diri seseorang (ilmu kasyaf). Dalam mimpinya, Jakfar bertemu almarhum ayahnya yang berpesan agar Jakfar menemui Kiai Tawakkal. Jakfar memenuhi pesan ayahnya itu.
Penampilan Kiai Tawakkal alim, tapi dengan ilmu kasyaf-nya Jakfar melihat tulisan Ahli Neraka di kening kiai itu. Dalam sebuah pengintaian Jakfar memergoki kiai itu mampir ke warung yang bersuasana mesum dan kiai itu menangkap basah pengintaian Jakfar. Tapi, dalam sebuah perbincangan dengan Kiai Tawakkal yang mampu berjalan di atas itu, Jakfar mendapatkan pencerahan spiritual tentang ilmu kasyaf yang sering dipraktikkannya. Jakfar sadar dan tak lagi mempraktikkannya.
Kisah-kisah mistik yang lain dari dunia pesantren juga muncul dalam cerpen-cerpen Gus Mus yang lain, misalnya cerpen Kang Kasanun yang menceritakan tokoh Kasanun yang punya ilmu yang membuatnya bisa tak tampak oleh penglihatan orang lain, cerpen Ndara Mat Amit yang berkisah tentang orang yang bisa melihat kehadiran Nabi Muhammad dan kiai yang menyembunyikan kelebihan ilmunya agar tak terlihat di mata orang atau penguasa (ilmu mastur), maupun cerpen Mbah Sidiq yang bercerita tentang tokoh Mbah Sidiq yang dipercaya dalam waktu yang sama berada di beberapa tempat yang berbeda, sehingga ketika tubuhnya ada di Jawa, saat itu juga dia bisa shalat Jumat di Mekkah.
Realitas-realitas mistik dalam cerpen-cerpen Gus Mus itu bisa diambil langsung dari kisah-kisah yang akrab dalam pengetahuan kolektif masyarakat pesantren. Penggambaran realitas-realitas mistik dalam cerpen-cerpen itu pun mengambil pola yang persis seperti yang sangat lazim dikenal dalam masyarakat pesantren. Cerpen-cerpen itu tak ubahnya transkripsi realitas yang sering dilisankan masyarakat pesantren dan direproduksi dalam tulisan berbentuk cerpen.
Realitas-realitas mistik dalam cerpen itu hidup sebagai bagian tak terpisahkan dalam masyarakat pesantren. Cerpen-cerpen itu berperan sebagai dokumenter pesantren yang bersumberkan dari pengetahuan tradisi kolektif masyarakat pesantren melalui pendekatan antropologis, yaitu menggambarkan perilaku para tokoh cerita yang alim dan juga memiliki kemampuan mistik, punya ilmu kesaktian atau ilmu supranatural. Tokoh-tokoh cerita Gus Mus itu merupakan para santri “priyayi”, yaitu para kiai pesantren dan para putranya.
Selain Gus Mus, ada sejumlah cerpen yang ditulis para pengarang muda yang berlatar kultur dan tradisi pesantren yang memiliki kecenderungan yang mirip dengan cerpen-cerpen Gus Mus. Misalnya, cerpen-cerpen yang dihimpun dalam buku Antologi Cerpen Pesantren Ludah Surga (2006). Cerpen-cerpen dalam Ludah Surga secara spesifik menjadikan kehidupan masyarakat pesantren sebagai bahan penciptaan. Melalui cerpen-cerpen dalam buku ini terungkap gambaran dunia santri dan pesantren dalam konteks masa kini dan juga kecenderungan mistiknya.
Misalnya, cerpen NON GOEs-Gus karya Ahmad Musthofa Haroen. Cerpen berlatar kehidupan pesantren ini mengisahkan putra Kiai Abdul Mukhattit yang bernama Ahmad Lazim Mukhattit (Gus Kotot).
Sebagai calon pewaris pesantren, sejak lulus SD Gus Kotot dikirim ke pesantren di luar desa untuk belajar sampai dia lulus SMA. Selama di pesantren, Gus Kotot badung dan malas belajar, tapi karena dia putra kiai besar, pengasuh pesantrennya membiarkannya. Selepas SMA Gus Kotot tinggal di kos dan menjadi makin liar. Dia bahkan mendirikan grup musik dan jauh dari kehidupan agamis.
Tapi setelah ayahnya wafat, secara tiba-tiba Gus Kotot yang biasanya berpenampilan sebagai anak band, berganti kostum sebagaimana para kiai dan secara ajaib dia punya kemampuan keilmuan selayaknya kiai. Dan, Gus Kotot menggantikan peran ayahnya sebagai kiai pesantren.
Dalam buku antologi cerpen itu juga ada cerpen berjudul Ludah Surga karya Moh. Nur Ali Muslim. Cerpen ini yang juga berlatar kehidupan pesantren menceritakan seorang bernama Jhony.
Jhony adalah pecandu narkoba yang setamat SMA ingin sembuh dan masuk pesantren di Lasem asuhan Kiai Bakhrun Al Hanif. Kiai ini tahu Jhony pecandu narkoba. Untuk terapi, Kiai Bakhrun mempekerjakan Jhony sebagai penjaga sawah. Ketika kiai Bakhrun akan menunaikan haji, Jhony memesan minyak za’faron yang dijual oleh pedagang bernama Harits Ibnu Ash di sebelah selatan Masjid Nabawi.
Kiai Bakhrun bertemu pedagang itu dan pedagang itu tahu kiai itu dari Lasem. Pedagang itu bercerita bahwa dia punya teman bernama Jhony santri pesantren asuhan Kiai Bakhrun, Jhony adalah temannya yang selalu shalat lima waktu di Masjid Nabawi, dan Jhony adalah putra ulama besar di Sumatera. Kiai Bakhrun jadi mengerti kenapa selama di pesantren teman-teman Jhony tak pernah melihat Jhony mendirikan shalat.
Dalam perjalanan pulang haji, Kiai Haji Bakhrun bermimpi bertengkar dengan Jhony. Jhony menagih minyak za’faron yang dipesannya. Tapi kiai Bakhrun malah meludahi Jhony. Jhony pun bermimpi yang sama.
Setiba di Lasem, Kiai Haji Bakhrun memergoki Jhony yang mau kabur dari pesantren dan kiai itu menanyai Jhony tentang siapa dirinya sesungguhnya. Jhony tak mengaku. Kiai Haji Bakhrun marah dan meludahi mulut Jhony.
Dua tahun kemudian, Jhony dikenal sebagai ulama besar di Sumatera dengan menyandang nama Farits Zaini Mubarok Al Khanif. Watak dan kealiman Farits Zaini Mubarok Al Khanif alias Jhony setara dengan gurunya, yaitu Kiai Haji Bakhrun Al Khanif.
Seperti ciri cerpen-cerpen Gus Mus, dua cerpen itu juga menjadi -meminjam sinyalemen kritikus Faruk — dokumentasi dunia pesantren yang bersumber dari pengetahuan kolektif masyarakat pesantren melalui pendekatan antropologis, yaitu menggambarkan perilaku para tokoh santri priyayi (putra-putra kiai) yang memiliki kemampuan mistik atau supranatural.
Kecenderungan mistik dalam cerpen-cerpen yang menggali bahan penciptaan dari kultur dan tradisi pesantren itu memukau atau mengejutkan masih sebatas dilantari oleh realitas yang ditampilkannya bukan realitas yang lazim dalam kenyataan umum, sehingga cerpen-cerpen itu menjadi dongeng atau mitos kehidupan pesantren yang terasa ‘antik’ dan magis. Realitas-realitas semacam itu akan mengalami penjenuhan karena pengulangan-pengulangan.
Kehidupan pesantren yang masih pinggiran dalam bahan cerita percerpenan Indonesia itu kemungkinan besar akan kehilangan pukau bila tak menggali realitas-realitas yang lain dunia pesantren yang masih tersembunyi atau mengembangkan kemungkinan-kemungkinan teknik bercerita yang bisa menghadirkan kehidupan pesantren melalui cara yang berbeda, sehingga cerpen-cerpen itu bukan hanya menyuguhkan mutu dokumentasi, tapi juga memberikan mutu kesusastraan.
*) Penyair, mantan sastri Krapyak
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
A Khoirul Anam
A. Khoirul Anam
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abd. Basid
Abdul Aziz
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar
Abdul Hadi W.M.
Abdul Rauf Singkil
Abdul Rosyid
Abdul Salam HS
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Alawi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abu Nawas
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Ach. Tirmidzi Munahwan
Achmad Faesol
Adam Chiefni
Adhitya Ramadhan
Adi Mawardi
Adian Husaini
Aditya Ardi N
Ady Amar
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afrizal Malna
Afrizal Qosim
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus Buchori
Agus Fahri Husein
Agus Fathuddin Yusuf
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahmad Anshori
Ahmad Badrus Sholihin
Ahmad Baso
Ahmad Fatoni
Ahmad Hadidul Fahmi
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rohim
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Sahal
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alang Khoiruddin
Alang Khoirudin
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Aliansyah
Allamah Syaikh Dalhar
Alvi Puspita
AM Adhy Trisnanto
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Amin Hasan
Aminullah HA Noor
Amir Hamzah
Ammar Machmud
Andri Awan
Anindita S Thayf
Aning Ayu Kusuma
Anjar Nugroho
Anjrah Lelono Broto
Antari Setyowati
Anwar Nuris
Arafat Nur
Ariany Isnamurti
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arif Hidayat
Arif Saifudin Yudistira
Arifin Hakim
Arman AZ
Arwan
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Juanda
Asep S. Bahri
Asep Sambodja
Asep Yayat
Asif Trisnani
Aswab Mahasin
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Azizah Hefni
Azwar Nazir
B Kunto Wibisono
Babe Derwan
Badrut Tamam Gaffas
Bale Aksara
Bandung Mawardi
Bastian Zulyeno
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benny Benke
Berita
Berita Duka
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budiawan Dwi Santoso
Buku Kritik Sastra
Candra Adikara Irawan
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cawapres Jokowi
Cerpen
Chairil Anwar
Chairul Abhsar
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
CNN Indonesia
Cucuk Espe
Cut Nanda A.
D Zawawi Imron
D. Dudu AR
Dahta Gautama
Damanhuri Zuhri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Danuji Ahmad
Dati Wahyuni
Dea Anugrah
Dea Ayu Ragilia
Dede Kurniawan
Dedik Priyanto
Den Rasyidi
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Detti Febrina
Dewi Kartika
Dian Sukarno
Dian Wahyu Kusuma
Didi Purwadi
Dien Makmur
Din Saja
Djasepudin
Djauharul Bar
Djoko Pitono
Djoko Saryono
DM Ningsih
Doddy Hidayatullah
Donny Syofyan
Dr Afif Muhammad MA
Dr. Simuh
Dr. Yunasril Ali
Dudi Rustandi
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dyah Ratna Meta Novia
E Tryar Dianto
Ecep Heryadi
Edeng Syamsul Ma’arif
Edy A Effendi
Edy Susanto
EH Ismail
Eka Budianta
Ekky Malaky
Eko Israhayu
Ellie R. Noer
Emha Ainun Nadjib
Esai
Esha Tegar Putra
Evi Melyati
Fachry Ali
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faizal Af
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fazabinal Alim
Festival Literasi Nusantara
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Fuad Mardhatillah UY Tiba
Furqon Lapoa
Fuska Sani Evani
Geger Riyanto
Ghufron
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
Gus Muwaffiq
Gusriyono
Gusti Grehenson
H Marjohan
H. Usep Romli H.M.
Habibullah
Hadi Napster
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hamka
Hammam Fathulloh
Hamzah Fansuri
Hamzah Sahal
Hamzah Tualeka Zn
Hanibal W.Y. Wijayanta
Hanum Fitriah
Haris del Hakim
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B. Kori’un
Hasan Basri Marwah
Hasnan Bachtiar
Hasyim Asy’ari
Helmy Prasetya
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Heri Listianto
Heri Ruslan
Herry Lamongan
Herry Nurdi
Heru Kurniawan
Hilmi Abedillah
Hotnida Novita Sary
Hudan Hidayat
Husein Muhammad
I Nyoman Suaka
Ibn ‘Arabi (1165-1240)
Ibn Rusyd
Ibnu Sina
Ibnu Wahyudi
Idayati
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Yusardi
Imadi Daimah Ermasuri
Imam Hamidi Antassalam
Imam Khomeini
Imam Nawawi
Imam Nur Suharno
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Nasri
Imron Tohari
Indonesia O’Galelano
Indra Kurniawan
Indra Tjahyadi
Inung As
Irma Safitri
Isbedy Stiawan Z.S.
Istiyah
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
J Sumardianta
Jadid Al Farisy
Jalaluddin
Jalaluddin Rakhmat
Jamal Ma’mur Asmani
Jamaluddin Mohammad
Javed Paul Syatha
Jaya Suprana
Jember Gemar Membaca
Jo Batara Surya
Johan Wahyudi
John Halmahera
Joko Pinurbo
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K. Muhamad Hakiki
K.H. A. Azis Masyhuri
K.H. Anwar Manshur
K.H. M. Najib Muhammad
K.H. Ma'ruf Amin
Kabar Pesantren
Kafiyatun Hasya
Kanjeng Tok
Kasnadi
Kazzaini Ks
KH Abdul Ghofur
KH. Irfan Hielmy
Khansa Arifah Adila
Khoirul Anwar
Khoirur Rizal Umami
Khoshshol Fairuz
Kiai Muzajjad
Kiki Mikail
Kitab Dalailul Khoirot
Kodirun
Komunitas Deo Gratias
Koskow
Kritik Sastra
Kurniawan
Kurtubi
Kuswaidi Syafi’ie
Kyai Maimun Zubair
Lan Fang
Larung Sastra
Leila S. Chudori
Linda S Priyatna
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP
Lukman Asya
Lukman Santoso Az
M Arif Rohman Hakim
M Hari Atmoko
M Ismail
M Thobroni
M. Adnan Amal
M. Al Mustafad
M. Arwan Hamidi
M. Bashori Muchsin
M. Faizi
M. Hadi Bashori
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Mustafied
M. Nurdin
M. Yoesoef
M. Yunis
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
M.S. Nugroho
M.Si
M’Shoe
Mahamuda
Mahdi Idris
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahrus eL-Mawa
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mansur Muhammad
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marjohan
Marsudi Fitro Wibowo
Martin van Bruinessen
Marzuki Wahid
Marzuzak SY
Masduri
Mashuri
Masjid Kordoba
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni el-Moezany
Matroni Muserang
Mbah Dalhar
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Miftahul Ulum
Mila Novita
Mochtar Lubis
Moh. Ghufron Cholid
Mohamad Salim Aljufri
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Yamin
Muh. Khamdan
Muhajir Arrosyid
Muhammad Abdullah
Muhammad Affan Adzim
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Ali Fakih AR
Muhammad Amin
Muhammad Anta Kusuma
Muhammad Ghannoe
Muhammad Idrus Djoge
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Kosim
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Mukhlisin
Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Subhan
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yasir
Muhammad Yuanda Zara
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyiddin
Mujtahid
Muktamar Sastra
Mulyadi SA
Munawar A. Djalil
Munawir Aziz
Musa Ismail
Musa Zainuddin
Muslim
Mustafa Ismail
Mustami’ tanpa Nama
Mustofa W Hasyim
Musyafak
Myrna Ratna
N. Mursidi
Nasaruddin Umar
Nashih Nashrullah
Naskah Teater
Nasruli Chusna
Nasrullah Thaleb
Nelson Alwi
Nevatuhella
Ngarto Februana
Nidia Zuraya
Ninuk Mardiana Pambudy
Nita Zakiyah
Nizar Qabbani
Nova Burhanuddin
Noval Jubbek
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nur Fauzan Ahmad
Nur Wahid
Nurcholish
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Orasi Budaya
Pangeran Diponegoro
Parimono V / 40 Plandi Jombang
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
Pesantren Tebuireng
Pidato
Politik
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang
PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pramoedya Ananta Toer
Prof. Dr. Nur Syam
Profil Ma'ruf Amin
Prosa
Puisi
Puji Hartanto
Puji Santosa
Pungkit Wijaya
Purwanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
PUstaka puJAngga
Putera Maunaba
Putu Fajar Arcana
R. Ng. Ronggowarsito
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rakhmat Nur Hakim
Ramadhan Alyafi
Rameli Agam
Rasanrasan Boengaketji
Ratnaislamiati
Raudal Tanjung Banua
Reni Susanti
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Retno HY
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar
Rinto Andriono
Risa Umami
Riyadhus Shalihin
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rohman Abdullah
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifuddin Syadiri
Saifudin
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Salahuddin Wahid
Salamet Wahedi
Salman Faris
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sandiaga Uno
Sanggar Pasir
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra Pesantren
Sastrawan Pujangga Baru
Satmoko Budi Santoso
Satriwan
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra Boenga Ketjil
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siswanto
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slavoj Zizek
Snouck Hugronje
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sufyan al Jawi
Sugiarta Sriwibawa
Sulaiman Djaya
Sundari
Sungatno
Sunu Wasono
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susringah
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardi
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaiful Amin
Syaifullah Amin
Syarif Hidayat Santoso
Syeikh Abdul Maalik
Syeikh Muhammad Nawawi
Syekh Abdurrahman Shiddiq
Syekh Sulaiman al Jazuli
Syi'ir
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Tiar Anwar Bachtiar
Tjahjono Widijanto
Tok Pulau Manis
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tu-ngang Iskandar
Turita Indah Setyani
Umar Fauzi Ballah
Uniawati
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usep Romli H.M.
Usman Arrumy
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W.S. Rendra
Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
Wahyu Aji
Walid Syaikhun
Wan Mohd. Shaghir Abdullah
Warung Boengaketjil
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Welly Adi Tirta
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Fei Hung
Y Alpriyanti
Yanti Mulatsih
Yanuar Widodo
Yanuar Yachya
Yayuk Widiati
Yeni Ratnaningsih
Yohanes Sehandi
Yopi Setia Umbara
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudi Latif
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Zaenal Abidin Riam
Zainal Arifin Thoha
Zainuddin Sugendal
Zakki Amali
Zehan Zareez
