Minggu, 22 Agustus 2010

Mistik Pesantren dalam Puisi dan Cerpen

Bagian terakhir dari dua tulisan
Binhad Nurrohmat
http://www.infoanda.com/Republika

Kisah-kisah mistik dalam dunia pesantren menjadi bagian yang dominan dan menarik dalam cerpen-cerpen Gus Mus. Kisah-kisah dalam cerpen Gus Mus penuh kejutan surealistik dengan cara bercerita Gus Mus datar-datar saja. Tanpa teknik bercerita yang canggih. Misalnya, cerpen Gus Jakfar.

Cerpen Gus Jakfar mengisahkan putra almarhum Kiai Saleh bernama Jakfar yang dipercaya punya kemampuan mistik atau supranatural. Jakfar bisa melihat pikiran atau yang akan terjadi pada diri seseorang (ilmu kasyaf). Dalam mimpinya, Jakfar bertemu almarhum ayahnya yang berpesan agar Jakfar menemui Kiai Tawakkal. Jakfar memenuhi pesan ayahnya itu.

Penampilan Kiai Tawakkal alim, tapi dengan ilmu kasyaf-nya Jakfar melihat tulisan Ahli Neraka di kening kiai itu. Dalam sebuah pengintaian Jakfar memergoki kiai itu mampir ke warung yang bersuasana mesum dan kiai itu menangkap basah pengintaian Jakfar. Tapi, dalam sebuah perbincangan dengan Kiai Tawakkal yang mampu berjalan di atas itu, Jakfar mendapatkan pencerahan spiritual tentang ilmu kasyaf yang sering dipraktikkannya. Jakfar sadar dan tak lagi mempraktikkannya.

Kisah-kisah mistik yang lain dari dunia pesantren juga muncul dalam cerpen-cerpen Gus Mus yang lain, misalnya cerpen Kang Kasanun yang menceritakan tokoh Kasanun yang punya ilmu yang membuatnya bisa tak tampak oleh penglihatan orang lain, cerpen Ndara Mat Amit yang berkisah tentang orang yang bisa melihat kehadiran Nabi Muhammad dan kiai yang menyembunyikan kelebihan ilmunya agar tak terlihat di mata orang atau penguasa (ilmu mastur), maupun cerpen Mbah Sidiq yang bercerita tentang tokoh Mbah Sidiq yang dipercaya dalam waktu yang sama berada di beberapa tempat yang berbeda, sehingga ketika tubuhnya ada di Jawa, saat itu juga dia bisa shalat Jumat di Mekkah.

Realitas-realitas mistik dalam cerpen-cerpen Gus Mus itu bisa diambil langsung dari kisah-kisah yang akrab dalam pengetahuan kolektif masyarakat pesantren. Penggambaran realitas-realitas mistik dalam cerpen-cerpen itu pun mengambil pola yang persis seperti yang sangat lazim dikenal dalam masyarakat pesantren. Cerpen-cerpen itu tak ubahnya transkripsi realitas yang sering dilisankan masyarakat pesantren dan direproduksi dalam tulisan berbentuk cerpen.

Realitas-realitas mistik dalam cerpen itu hidup sebagai bagian tak terpisahkan dalam masyarakat pesantren. Cerpen-cerpen itu berperan sebagai dokumenter pesantren yang bersumberkan dari pengetahuan tradisi kolektif masyarakat pesantren melalui pendekatan antropologis, yaitu menggambarkan perilaku para tokoh cerita yang alim dan juga memiliki kemampuan mistik, punya ilmu kesaktian atau ilmu supranatural. Tokoh-tokoh cerita Gus Mus itu merupakan para santri “priyayi”, yaitu para kiai pesantren dan para putranya.

Selain Gus Mus, ada sejumlah cerpen yang ditulis para pengarang muda yang berlatar kultur dan tradisi pesantren yang memiliki kecenderungan yang mirip dengan cerpen-cerpen Gus Mus. Misalnya, cerpen-cerpen yang dihimpun dalam buku Antologi Cerpen Pesantren Ludah Surga (2006). Cerpen-cerpen dalam Ludah Surga secara spesifik menjadikan kehidupan masyarakat pesantren sebagai bahan penciptaan. Melalui cerpen-cerpen dalam buku ini terungkap gambaran dunia santri dan pesantren dalam konteks masa kini dan juga kecenderungan mistiknya.

Misalnya, cerpen NON GOEs-Gus karya Ahmad Musthofa Haroen. Cerpen berlatar kehidupan pesantren ini mengisahkan putra Kiai Abdul Mukhattit yang bernama Ahmad Lazim Mukhattit (Gus Kotot).

Sebagai calon pewaris pesantren, sejak lulus SD Gus Kotot dikirim ke pesantren di luar desa untuk belajar sampai dia lulus SMA. Selama di pesantren, Gus Kotot badung dan malas belajar, tapi karena dia putra kiai besar, pengasuh pesantrennya membiarkannya. Selepas SMA Gus Kotot tinggal di kos dan menjadi makin liar. Dia bahkan mendirikan grup musik dan jauh dari kehidupan agamis.

Tapi setelah ayahnya wafat, secara tiba-tiba Gus Kotot yang biasanya berpenampilan sebagai anak band, berganti kostum sebagaimana para kiai dan secara ajaib dia punya kemampuan keilmuan selayaknya kiai. Dan, Gus Kotot menggantikan peran ayahnya sebagai kiai pesantren.

Dalam buku antologi cerpen itu juga ada cerpen berjudul Ludah Surga karya Moh. Nur Ali Muslim. Cerpen ini yang juga berlatar kehidupan pesantren menceritakan seorang bernama Jhony.

Jhony adalah pecandu narkoba yang setamat SMA ingin sembuh dan masuk pesantren di Lasem asuhan Kiai Bakhrun Al Hanif. Kiai ini tahu Jhony pecandu narkoba. Untuk terapi, Kiai Bakhrun mempekerjakan Jhony sebagai penjaga sawah. Ketika kiai Bakhrun akan menunaikan haji, Jhony memesan minyak za’faron yang dijual oleh pedagang bernama Harits Ibnu Ash di sebelah selatan Masjid Nabawi.

Kiai Bakhrun bertemu pedagang itu dan pedagang itu tahu kiai itu dari Lasem. Pedagang itu bercerita bahwa dia punya teman bernama Jhony santri pesantren asuhan Kiai Bakhrun, Jhony adalah temannya yang selalu shalat lima waktu di Masjid Nabawi, dan Jhony adalah putra ulama besar di Sumatera. Kiai Bakhrun jadi mengerti kenapa selama di pesantren teman-teman Jhony tak pernah melihat Jhony mendirikan shalat.

Dalam perjalanan pulang haji, Kiai Haji Bakhrun bermimpi bertengkar dengan Jhony. Jhony menagih minyak za’faron yang dipesannya. Tapi kiai Bakhrun malah meludahi Jhony. Jhony pun bermimpi yang sama.

Setiba di Lasem, Kiai Haji Bakhrun memergoki Jhony yang mau kabur dari pesantren dan kiai itu menanyai Jhony tentang siapa dirinya sesungguhnya. Jhony tak mengaku. Kiai Haji Bakhrun marah dan meludahi mulut Jhony.

Dua tahun kemudian, Jhony dikenal sebagai ulama besar di Sumatera dengan menyandang nama Farits Zaini Mubarok Al Khanif. Watak dan kealiman Farits Zaini Mubarok Al Khanif alias Jhony setara dengan gurunya, yaitu Kiai Haji Bakhrun Al Khanif.

Seperti ciri cerpen-cerpen Gus Mus, dua cerpen itu juga menjadi -meminjam sinyalemen kritikus Faruk — dokumentasi dunia pesantren yang bersumber dari pengetahuan kolektif masyarakat pesantren melalui pendekatan antropologis, yaitu menggambarkan perilaku para tokoh santri priyayi (putra-putra kiai) yang memiliki kemampuan mistik atau supranatural.

Kecenderungan mistik dalam cerpen-cerpen yang menggali bahan penciptaan dari kultur dan tradisi pesantren itu memukau atau mengejutkan masih sebatas dilantari oleh realitas yang ditampilkannya bukan realitas yang lazim dalam kenyataan umum, sehingga cerpen-cerpen itu menjadi dongeng atau mitos kehidupan pesantren yang terasa ‘antik’ dan magis. Realitas-realitas semacam itu akan mengalami penjenuhan karena pengulangan-pengulangan.

Kehidupan pesantren yang masih pinggiran dalam bahan cerita percerpenan Indonesia itu kemungkinan besar akan kehilangan pukau bila tak menggali realitas-realitas yang lain dunia pesantren yang masih tersembunyi atau mengembangkan kemungkinan-kemungkinan teknik bercerita yang bisa menghadirkan kehidupan pesantren melalui cara yang berbeda, sehingga cerpen-cerpen itu bukan hanya menyuguhkan mutu dokumentasi, tapi juga memberikan mutu kesusastraan.

*) Penyair, mantan sastri Krapyak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez