Johan Wahyudi
Kompas, 28 Maret 2010
PEMIKIRAN Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari atau lebih akrab dipanggil Kiai Hasyim merupakan representasi dari kondisi dialogis agama dengan tradisi dan budaya. Islam bukan hanya berkutat pada kesalehan ritualistik semata, tetapi lebih jauh sebagai sarana pemecah jalan buntu berbagai anomi sosial.
Sosok kiai asal Jombang dan peletak dasar Nahdlatul Ulama ini merupakan ulama yang mempunyai diskursus perjuangan yang interdisipliner. Baginya, ulama bukan hanya menjadi ”penjaga malam” umat lewat ajaran yang berkutat pada halal-haram, seperti kebanyakan ulama zaman sekarang. Menurut dia, ulama adalah mereka yang mampu menyintesiskan perjuangannya pada konteks sosial. Ulama bukan hanya memimpin umat, tetapi juga memberdayakan dan memberikan pencerahan kepada umat.
Kompas, 28 Maret 2010
PEMIKIRAN Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari atau lebih akrab dipanggil Kiai Hasyim merupakan representasi dari kondisi dialogis agama dengan tradisi dan budaya. Islam bukan hanya berkutat pada kesalehan ritualistik semata, tetapi lebih jauh sebagai sarana pemecah jalan buntu berbagai anomi sosial.
Sosok kiai asal Jombang dan peletak dasar Nahdlatul Ulama ini merupakan ulama yang mempunyai diskursus perjuangan yang interdisipliner. Baginya, ulama bukan hanya menjadi ”penjaga malam” umat lewat ajaran yang berkutat pada halal-haram, seperti kebanyakan ulama zaman sekarang. Menurut dia, ulama adalah mereka yang mampu menyintesiskan perjuangannya pada konteks sosial. Ulama bukan hanya memimpin umat, tetapi juga memberdayakan dan memberikan pencerahan kepada umat.