Tampilkan postingan dengan label Abidah El Khalieqy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abidah El Khalieqy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Maret 2011

Perjuangan Seorang Perempuan

Mustafa Ismail
http://www.korantempo.com/

Cerita menjadi eksotik karena berlangsung di dunia pesantren.

Ini persoalan perempuan. Perempuan Berkalung Sorban bercerita tentang Annisa (Revalina S. Temat) yang berjuang untuk keluar dari “ketertutupan” pesantren, tempat ia dilahirkan. Annisa adalah anak Kiai Hanan (Joshua Pandelaky), pimpinan Pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur, yang konservatif.

Kiai Hanan berprinsip: perempuan tidak berhak menjadi pemimpin. Maka, ketika Annisa kecil terpilih sebagai ketua kelas di pesantren itu, pengajarnya lebih memilih menunjuk anak laki-laki yang mendapat perolehan suara di urutan kedua. Begitu pula ketika Annisa ingin melanjutkan kuliah di Yogyakarta, sang ayah juga melarang.

Bahkan, lebih jauh, Annisa mesti menuruti kehendak sang ayah untuk menikah dengan Samsudin (Reza Rahadian), seorang anak kiai di Pesantren Salaf, pesanteren terbesar di provinsi itu. Kenyataannya, sampai di sini, Annisa tidak dapat menolak. Ia justru makin terpuruk dalam rutinitas hidup dan perilaku suami yang menyebalkan.

Namun, ia terus berusaha keluar dari sana. Lalu, pada puncak kekalutannya, Khudori (Oka Antara) pulang dari sekolahnya di Kairo. Lelaki ini ialah paman Annisa dari pihak ibu, yang cukup dekat dan dicintai Annisa. Kehadiran Khudori menjadi titik penting yang membalikkan fakta hidup Annisa.

Film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu diangkat dari novel karya Abidah El Khalieqy. Abidah (kelahiran Jombang, 1 Maret 1965) dikenal sebagai sastrawan produktif. Mantan santri ini menulis puisi, cerpen, dan novel. Novelnya Geni Jora memenangkan juara dua sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2003. Perempuan Berkalung Sorban adalah novelnya yang terbit pada 2000.

Mengambil latar sekaligus persoalan di dunia pesantren, Perempuan Berkalung Sorban dengan telak mengkritik hegemoni laki-laki. Ia sekaligus mengoreksi pemahaman sempit sebagian penafsir agama bahwa perempuan tidak berhak menjadi subyek yang merdeka, mandiri, dan harus terus dituntun oleh laki-laki.

Sebetulnya, persoalan hegemoni laki-laki dan kekerasan terhadap perempuan bukanlah tema baru. Persoalan serupa kerap dihadirkan, baik di layar lebar maupun layar kaca. Bedanya, sinetron-sinetron itu lebih banyak menyajikan hegemoni tanpa ampun dan perempuan betul-betul berada di pihak yang lemah. Perempuan dikesankan sebagai makhluk lemah yang terpaksa menerima apa pun terhadapnya.

Begitu pula cerita perjodohan: sebetulnya ini mengulang klise Siti Nurbaya. Tapi, itu menjadi eksotik karena kejadian itu berlangsung di dunia pesantren. Ini sesuatu yang jarang diangkat ke dalam dunia kisah maupun layar sinema. Ditambah lagi perempuan tersebut adalah sosok yang tidak pernah menyerah pada keadaan yang menekannya.

Tokoh dalam film ini memang mewakili generasi perempuan cerdas, kritis, dan punya impian besar. Sikap semacam ini bukan tanpa dilema. Ia dihadapkan pada persoalan antara memperjuangkan keterbukaan, semangat untuk maju, dan cap membangkang pada agama–meskipun sebetulnya yang didobrak adalah tafsir agama, bukan agama itu sendiri.

Dari sisi ide, film ini bisa menghadirkan narasi yang cukup lugas meskipun dalam beberapa hal ada yang terasa berlebih karena “mengatakan” sesuatu secara berpanjang-panjang. Misalnya, adegan pelemparan Annisa dan Khudori yang dituduh berzina sebetulnya bisa dipadatkan. Klimaks juga terjadi lebih dari satu kali.

Alhasil, hal tersebut membuat film ini menjadi begitu panjang: lebih dari dua jam. Untungnya, kemampuan akting para pemain dan gambar-gambar yang ditampilkan lumayan membuat mata tidak sampai terpejam.

Perempuan Berkalung Sorban
Jenis Film: Drama
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis naskah: Hanung Bramantyo, Ginatri S. Noor
Novel: Abidah El Khalieqy
Pemain: Revalina S. Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, Ida Leman
Produksi: Starvision

Rabu, 13 Oktober 2010

Puasa dan Kearifan Perempuan

Abidah El Khalieqy *
http://m.kompas.com/

Puasa Ramadhan merupakan kewajiban—ibadah mahdloh—bagi orang-orang beriman, khususnya kaum Muslim. Akan tetapi, esensi ibadah puasa bukan hanya sekadar ritus penahanan diri dari nafsu makan, minum, seks, dan sebagainya. Namun, dalam puasa juga termaktub ibadah-ibadah lain yang bersifat kultural, ghoiru mahdloh, yang dianjurkan syariat Islam untuk meraih kemuliaan dan kesempurnaan kemanusiaan kita.

Dimensi budaya dari puasa ini bisa dikatakan relatif baru karena sedikit sekali disinggung oleh ceramah, karya tulis, dan buku-buku yang berkait dengan puasa Ramadhan. Dengan dimensi ini, setiap Muslim sebenarnya dituntut tidak hanya memperbaiki dan meningkatkan ketakwaannya dalam ruang domestik (hablumminallah), tetapi juga mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya dalam mewujudkan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, dan keindahan di ruang publik (hablumminannas). Kesalehan individual dan kesalehan sosial adalah dua sisi dari koin iman yang sama.

Dimensi keimanan dapat termanifestasi melalui peningkatan spiritualitas, sedangkan nilai-nilai kebudayaan mesti menampak di ranah moralitas. Melalui refleksi demikian, setiap Muslim diharapkan mampu memetik hikmah puasa Ramadhan sebagai wahana pencerahan diri secara intelektual ataupun spiritual. Bukan hanya dalam hubungan sesama Muslim, melainkan juga dengan umat beragama lain. Dengan itu, ibadah seperti puasa ini akan juga meninggalkan jejak religius dalam hidup keseharian kita secara seutuhnya.

Pintu-pintu kebijaksanaan

Jihad akbar yang menjadi upaya utama manusia, terutama pada bulan puasa, sesungguhnya juga sebuah ”jihad” untuk meraih kearifan, kebijaksanaan, dan keutamaan dalam menjalani kehidupan bersama di muka bumi yang pongah ini. Sebuah ”jihad sosial” yang dapat pula dijadikan ”stasiun pemberangkatan” bagi setiap Muslim untuk mendefinisikan ulang kredo-kredo teologikal yang selama ini kurang berfungsi dalam ranah sosial. Puasa semestinya memberikan peluang terjadinya metamorfosis spiritual yang berdampak terhadap hidup yang lebih dinamis dan progresif; yang mampu meraih esensi dan mengolah fungsi kulturalnya sesuai dengan kebutuhan zaman.

Maka, lewat niat dan praksis puasa semacam itu, Ramadhan semestinya jauh dari kecenderungan yang selebratif. Di mana agama hanya dijadikan sarana bagi orang-orang ternama untuk menampakkan kemuliaan diri mereka melalui layar televisi dan media massa lain. Ibadah terpuruk hanya menjadi pelayan bagi nafsu dan kepentingan pribadi atau kelompok, bahkan sekadar kepentingan industrial. Di titik akhir ini, puasa Ramadhan sungguh akan terjebak dalam semacam perbudakan kultur konsumtif yang cenderung hedonistis. Satu kultur yang justru ditentang habis oleh puasa itu sendiri.

Nilai-nilai keperempuanan

Bagaimana semua itu kemudian berkait dengan persoalan dan eksistensi kaum perempuan? Secara formal, jawaban sebenarnya jelas karena dalam syariat Islam, tidak ada perbedaan apa pun bagi laki-laki dan perempuan untuk melaksanakan puasa. Akan tetapi, secara kultural, pertanyaan di atas dapat menjadi renungan. Sebab, dalam kenyataannya, pada bulan suci yang dimuliakan itu, kaum perempuan selalu mendapat halangan dalam menjalankan ibadahnya. Daur menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui merupakan fakta biologis yang menyebabkan perempuan tidak sepenuhnya dapat melaksanakan puasa sepanjang bulan.

Oleh karena itu, jika tak memahami maksud dan tujuan syariat Islam serta fikih-fikih yang berkenaan dengan perempuan pada bulan puasa, bisa jadi akan timbul dugaan bahwa Islam kurang ramah terhadap spiritualitas perempuan. Namun, sebaliknya, jika halangan-halangan puasa tersebut direnungkan secara lebih mendalam, sungguh, bulan Ramadhan merupakan anugerah bagi kaum hawa untuk meraih kearifan dan kebijaksanaan Ilahiah. Suatu kenyataan spiritual yang secara spesifik tak mungkin dialami oleh kaum laki-laki.

Di bidang sosial-budaya, ”hambatan” perempuan di atas sungguh akan menjadi sebuah kearifan ketika waktu dan tenaga yang didapatkannya dipergunakan untuk melakukan berbagai aktivitas sosial, dalam sebuah intensi yang juga bernilai spiritual. Dengan demikian, ibadah tidak hanya memproduksi makna dan kenyamanan spiritual sebagaimana diamanatkan oleh syariat, tetapi juga memberikan makna dan manfaat sosial bagi manusia lain.

Di titik itu, sesungguhnya perempuan memperoleh kesempatan sangat berharga dalam memuliakan agama, diri, dan memuliakan manusia pada umumnya, lebih dari mereka yang menyebut dirinya lelaki. Inilah anugerah yang tak dapat disembunyikan, yang dapat berbuah nyata. Sesungguhnya, Dia Yang Maha Pencipta, telah menciptakan perempuan dalam kelebihan-kelebihan yang banyak perempuan justru kurang menyadari. Dan, kaum lelaki tak cukup bekerja sama dengannya. Sebagian malah memanipulasi atau menyanderanya.

Apabila ideal-ideal di atas dapat terjadi, kita dapat memafhumi dengan segera, agama Islam dan ritus-ritus sucinya adalah sumbangan terbesar bagi berkembangnya tradisi serta kebudayaan sebuah masyarakat. Masyarakat apa dan di mana saja. Islam yang sesungguhnya rahmatan lil alamin. Rahmat untuk mencapai kesejahteraan dunia dan kedamaian akhirat.

ABIDAH EL KHALIEQY Penyair dan Novelis, Tinggal di Yogyakarta

Minggu, 22 Agustus 2010

“Saya Cinta Kiai dan Pesantren”

Abidah El Khalieqy
Pewawancara: Muhammad Syaifullah
http://www.korantempo.com/

Abidah El Khalieqy tidak hanya dikenal sebagai penyair, tapi juga novelis yang produktif. Lima novel telah ditulisnya, selain buku kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Salah satu novelnya, Geni Jora, memenangi Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. Perempuan kelahiran Jombang, 1 Maret 1965, yang mulai menulis sejak usia 12 tahun ini pernah memperoleh penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1998). Tahun lalu ia menerima Ikapi dan Balai Bahasa Award.

Melalui karya-karyanya, istri penyair Hamdy Salad ini menyuarakan persoalan perempuan. “Dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah,” ujar ibu tiga anak ini.

Namanya melambung setelah novelnya, Perempuan Berkalung Sorban (2001), diangkat ke layar lebar oleh sutradara Hanung Bramantyo. Apalagi setelah film tersebut menuai kontroversi. Beberapa adegan di film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) dianggap melecehkan pesantren dan kiai.

“Mana yang melecehkan? Ini adalah kritik bagi kiai dan pesantren yang kami cintai,” kata perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Putri Modern Persis, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, ini.

Di kediamannya, kawasan Maguwoharjo, Yogyakarta, Abidah menerima wartawan Tempo Muhammad Syaifullah untuk sebuah wawancara, Rabu lalu. Berikut ini petikannya.

Bagaimana proses kreatif Perempuan Berkalung Sorban?

Pada awalnya ini ide YKF (Yayasan Kesejahteraan Fatayat), LSM milik Nahdlatul Ulama Yogyakarta, untuk membuat suatu novel tentang pemberdayaan perempuan. Maka dirancang novel Perempuan Berkalung Sorban ini dan saya sebagai penulisnya.

Tujuan menulis PBS?

Novel ini untuk mensosialisasi hak-hak reproduksi perempuan yang sudah diratifikasi oleh PBB. Jadi saya ketika itu diminta mengadakan riset tentang hak-hak reproduksi perempuan selama hampir dua tahun. Riset lapangan untuk memberi setting tempat dan yang fisik-fisik selama tiga bulan, di Kaliangkrik, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Di satu kampung ada banyak pesantren salaf. Lokasinya di pegunungan. Saya juga menemukan orang-orang yang naik kuda.

Sesudahnya, mengikuti seminar-seminar yang dilakukan oleh YKF selama hampir dua tahun, kemudian saya menulis selama sembilan bulan. Karena kontraknya hanya satu tahun, dua tahun saya lakukan di luar kontrak.

YKF dan Ford Foundation yang membiayai proyek ini. Saya mau bekerja sama dengan Ford Foundation karena saya sebagai sastrawan dalam menulis, apa isinya, saya memiliki otoritas pribadi. Mereka tidak boleh ikut campur tangan. Sebetulnya semua isi dan teknik penulisan murni dari saya sebagai sastrawan. Ini memang sifatnya pesanan soal reproduksi perempuan. Tetapi kenapa saya mau–yang sebagai sastrawan memiliki independensi–karena yang diinginkan mereka adalah yang selama ini tema-tema yang menjadi sorotan saya. Kebetulan misi dan sorotannya sama.

Apa yang Anda sampaikan dalam PBS?

Saya ingin perempuan memiliki kemandirian, perempuan harus menguasai ilmu. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjawab nasib perempuan. Derajat ditentukan dengan ilmu.

Kenapa memilih tema feminisme?

Awal-awal saya kuliah, saya aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan kemudian saya tidak tertarik masalah politik. Ketika itu, isu tentang feminisme yang ditulis dalam novel seperti Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi dibahas di mana-mana. Saya juga mulai tertarik untuk membahas persoalan perempuan.

Dan dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah. Memang harus dicari akar permasalahannya dan disuarakan sekeras-kerasnya. Artinya, harus ada revolusi pemikiran bahwa ini adalah sesuatu yang sangat mendesak. Selama ini soal perempuan memang sudah banyak ditulis, soal penderitaan mereka dan keterpinggiran mereka. Tetapi bagaimana solusi ke depan untuk menyikapi kondisi seperti ini kan belum ditulis.

Bagaimana Anda menanggapi kontroversi PBS?

Ini lucu dan ironi. Kenapa? Yang dikontroversikan mereka itu, ya, itu yang dikritik dalam film dan buku (novel). Anehnya, para pengkritik tidak mau nonton. Mereka tidak tahu sebetulnya dialog itu sebuah dialog (dalam novel dan film).

Misalnya adegan oleh para pelakon protagonis dan antagonisnya. Dalam film tersebut ada antagonisnya yang selalu menjawab. Contohnya, dalam Islam perempuan tidak boleh naik kuda. Menurut (dalam dialog) Annisa, perempuan boleh naik kuda. Zaman Nabi saja perempuan boleh naik kuda. Jadi dalam film itu adalah dialog antagonis dan protagonis. Mungkin yang mengkontroversikan tidak menyimak dialog yang katakan Annisa (tokoh protagonis dalam film PBS yang diperankan Revalina S. Temat).

Dalam PBS, yang mengatakan perempuan tidak boleh bepergian kecuali ditemani muhrimnya, meskipun untuk belajar, itu dikatakan oleh Kiai Hanan, yang menjadi oknum kiai yang antagonis. Ini pribadi, seorang manusia yang mengatakan, meskipun kiai, dia adalah manusia biasa. Meskipun dia kiai, bisa juga menjadi oknum.

Untuk memahami PBS dengan teori dekonstruksi, bahwa sesuatu yang baik itu tidak hanya bisa dimunculkan oleh tokoh protagonis, tapi antagonis pun bisa. Kalau yang disampaikan Kiai Ali Mustafa (KH Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal), mestinya yang diucapkan kiai itu harus yang baik-baik. Kalau itu, semua orang juga sudah tahu. Tapi dalam film itu ada kiai yang seperti itu. Ini yang kita kritik dalam film PBS. Ini kan juga kritik untuk kiai yang seperti itu.

Kalau berani mengkritik dan berkukuh tidak mau menonton, kan (dia) tidak tahu. Dalam teori seni, ada teori dekonstruksi. Kalau saya dikatakan melecehkan pesantren, di mana letak melecehkannya? Tokoh utamanya kembali ke pesantren kan, untuk memperbaiki pesantrennya.

Apakah film ini melecehkan Islam?

Tidak. Ini tidak melecehkan Islam. Justru film dan novel PBS mengkritik para kiai dan kitab kuning, khusus untuk hadis-hadis misoginis, hadis-hadis yang berkarakter menyudutkan perempuan. Di beberapa pesantren salaf, masih ada buku-buku yang diajarkan, seperti Kitab Uqudullujain fi uqudizzujain. Seakan-akan kitab-kitab seperti Riyadlussholihin, yang kesahihannya sudah dijamin, malah dikesampingkan, meskipun juga diajarkan dengan porsi sedikit. Yang akan kita kritik, ya, itu. Kenapa mengkritik para kiai dan kitab kuning? Karena saya cinta mereka, mosok saya bisa membiarkan ini berlanjut turun-temurun dari abad ke abad. Pesantren adalah satu institusi tempat pola pikir dari zaman ini dibentuk. Karena pesantren merupakan agen perubahan untuk zaman ini. Kalau mereka melakukan seperti itu, mereka bisa menciptakan pola pikir yang keliru dari zaman ke zaman. Novel PBS menawarkan upaya reinterpretasi Al-Quran dan rekonstruksi fikih.

Maksudnya?

Bahwa fikih kita yang diajarkan di pesantren sudah kedaluwarsa. Fiqih merupakan hukum-hukum yang menjawab tantangan zaman dari para ulama. Dan zaman ini selalu berubah. Tetapi fiqih kita dari zaman tabiuttabiin sampai sekarang tidak berubah. Itu yang perlu direkonstruksi.

Kenapa sampai sekarang perempuan masih tertindas? Karena ada referensinya, ketika para ulama mengartikan “arrijalu qowwamuna alannisa”. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Benarkah kata qowwamuna di sini berarti pemimpin? Ternyata para tokoh feminis Muslimat, baik dari Pakistan, Maroko, maupun Saudi, melakukan penelitian dan terbukti kata-kata itu dalam kamus kuno bukan berarti pemimpin. Artinya adalah pembimbing atau mitra sejajar.

Yang dipakai oleh orang Arab sendiri dari kata qoum, yang berarti pembimbing, teman sharing, mitra sejajar. Tapi selama ini para ulama, terutama yang menafsirkan Al-Quran, masih mengartikannya sebagai pemimpin. Itu sudah dari abad ke abad. Ini jadi landasan bagi para laki-laki menganggap dirinya sebagai pemimpin. Maka perempuan menjadi kelas dua, konco wingking (teman di belakang). Pola pikir ini membentuk pola pikir zaman dan ini membentuk kebudayaan.

Adakah adegan yang tak ada di novel tapi ada di film?

Ada beberapa: pembakaran buku, adegan rajam. Kalau dialog dalam bahasa Arab, untuk keperluan penggambaran pesantren biar lebih hidup.

Bagaimana kalau film dan novel ditarik dari peredaran?

Sebelum di-launching, film PBS kan sudah lulus sensor melalui LSF (Lembaga Sensor Film), sedangkan di LSF kan juga ada unsur dari MUI, ya, para kiai. Dan itu tidak disensor.

Apa ada permintaan novel PBS ditarik?

Tidak. Banyak yang menganggap dilarang. Malah sudah 13 ribu eksemplar dibagikan. Sekarang dicetak lagi. Dalam tiga minggu sudah lebih dari 50 ribu kopi terjual. Tapi royalti belum dibicarakan, sampai sekarang belum ada.

Apa pengaruh pesantren dan pendidikan Anda di Universitas Islam Negeri dalam tulisan?

Pemikiran dari pesantren yang saya serap, saya berawal dari pesantren dan kuliah di UIN (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Mungkin saya kesulitan menulis PBS jika tidak didasari dua institusi itu. Basis pesantren memudahkan saya mengetahui karakter pesantren.

Bagi Anda, lebih sulit mana, menulis novel atau puisi?

Menulis novel lebih bebas mengekspresikan ide. Menulis puisi itu mewah; memerlukan energi yang luar biasa. Butuh kesiapan, intensif dengan refleksi. Lebih berat menulis puisi. Dari sekian gagasan harus dikristalkan dengan beberapa kata. Tetapi banyak yang mengkritik novel saya puitis.

BIODATA
Nama: Abidah El Khalieqy
Lahir: Jombang, 1 Maret 1965
Pendidikan: Fakultas Syariah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1990
Pekerjaan: Penulis (sastrawan)
Status: Menikah (suami Hamdy Salad, dengan tiga anak)

Karya:
* Ibuku Laut Berkobar (puisi, 1997)
* Menari di Atas Guntingv (cerita pendek, 2001)
* Perempuan Berkalung Sorban (novel, 2001)
* Atas Singgasana (novel, 2002)
* Geni Jora (novel, 2004)
* Mahabbah Rindu (novel, 2007)
* Nirzona (novel, 2008)
* Mikraj Odyssey (cerita pendek, 2009)

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez