Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juni 2021

LEBIH JAUH DENGAN DOKTOR IGNAS KLEDEN

Ignas Kleden
Pewawancara: St Sularto
 
DOKTOR Ignas Kleden (46) berlatar belakang ilmu filsafat, tetapi kegiatan sehari-hari terutama di bidang sosial, politik dan kebudayaan. Tahun 1982 memperoleh gelar MA ilmu filsafat dari Universitas Munchen. Awal tahun 1995 memperoleh gelar doktor sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman. Disertasinya menggugat studi-studi Clifford Geertz (69) tentang Indonesia secara keseluruhan.

Senin, 26 Maret 2012

Wawancara Imam Khomeini: Islam Anti Kediktatoran

(Sumber: Shahifeh-e Nur, jld. 5, hlm. 519-522)
[Terjemahan wawancara dinukil dari Kantor Berita Shabestan]
http://abna.ir/

Jika Anda melihat pemerintahan Islam, Anda akan temukan bahwa kediktatoran sama sekali tidak memiliki tempat dalam Islam.

Imam Khomeini: Islam Anti Kediktatoran

Selasa, 11 Oktober 2011

Acep Zamzam Noor: Pesantren Rusak karena Politik

Pewawancara: EH Ismail
Republika 12 Juli 2007

Akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 28 Juni, sejumlah tokoh muda dari pesantren-pesantren yang ada di Jawa Tengah dan sekitarnya berkumpul di Gedung KNPI, Jakarta. Mereka menghadiri undangan Kantata Research Indonesia (KRI) yang menggelar seminar nasional bertema Mempertajam Kapasitas Pesantren sebagai Agen Pengelola Konflik. Seminar dilanjutkan dengan pelatihan Manajemen dan Resolusi Konflik Berbasis Pondok Pesantren untuk mengeksplorasi lebih jauh gagasan di atas.

Rabu, 02 Maret 2011

Dr Afif Muhammad MA: ‘Pelajari Filsafat harus Kuat Akidahnya’

Reni Susanti
http://www.republika.co.id/

Tidak ada ilmu yang tidak berguna, semuanya saling melengkapi. Walaupun harus diakui pertentangan atau kontroversi dalam suatu disiplin ilmu kerap terjadi. Tak terkecuali adalah filsafat. Apalagi filsafat adalah ilmu yang mengedepankan rasio, akal, pikiran, sehingga masalah yang tidak terlihat bisa diperdebatkan di dunia filsafat. Belum lagi ditambah filsafat adalah ilmu yang membicarakan tentang manusia, agama, tuhan,liberalisme, atheisme, marxisme, dan komunisme, yang terkadang bertentangan dengan Islam.

”Orang yang belajar filsafat haruslah orang pintar yang mempunyai akidah yang kuat, sehingga bisa membantu memaslahatkan umat,” ujar Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, DR Afif Muhammad MA.

Melihat penting dan sensitivnya ilmu filsafat, sudah barang tentu pengajaran atau metode yang diberikan harus sesuai dengan yang diharapkan. Karena sedikit saja bergeser, keimanan adalah taruhannya. Kepada wartawan Republika, , dosen di berbagai perguruan tinggi ini menuturkan seluk beluk filsafat termasuk metodenya. Berikut ini petikannya:

Ada yang ‘melarikan’ kasus yang terjadi di UIN Sunan Gunung Djati sebagai praktik pendangkalan akidah yang dilakukan lembaga pendidikan agama. bagaimana komentar Anda?

Kalau kata ‘praktik’, itu merupakan sesuatu yang diprogram dan direncanakan. Dan kalau yang dimaksud dalam pengertian itu, saya jamin tidak akan ada praktik pendangkalan akidah dalam kasus ini. Kalaupun perguruan tinggi itu mempunyai pemikiran yang macam-macam, kami kira untuk dunia akademik itu wajar. Karena kami bukan hanya memahami tapi mendorong orang untuk berpikir kritis. Begitupun dengan pemikiran mahasiswa yang bermacam-macam, dan saya kira itu juga wajar, karena mereka datang dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda.

Sejauh mana batas ilmiah pencarian ketuhanan?

Tentu akan ada batasan. Misalnya kita tidak boleh terlalu berpegang pada kesimpulan akal tanpa bimbingan wahyu. Banyak hal yang tidaak dapat dipecahkan oleh filsafat. Contohnya ketika kita sudah tidak bisa menjawab suatu persoalan, maka kita akan kembali pada wahyu. Namun akal dan wahyu pun berbeda.

Ketika kita berfilsafat maka pada kesimpulan pertama yang muncul adalah tuhan ada atau tiada. Dan apabila buktinya sama-sama kuat maka perlu didialogkan. Kalaupun dalam dialog itu menemukan kebuntuan karena ada keseimbangan antara akal dan wahyu, maka kita harus menggunakan hati nurani kita dengan bantuan agama. Namun untuk masalah ketuhanan sendiri, cara pandang masyarakat awam dan dunia akademik berbeda. Masyarakat awam diberi informasi, didongengi, dan didakwahi. Kalau dunia akademik diajak membuktikan dan bersifat kritis agar imannya semakin kuat.

Sampai batas mana kebenaran agama bisa dibantah atau didebat, bila memang perbedaan pendapat itu rahmah?

Alquran mengatakan jika kalian masih ragu-ragu terhadap ayat yang diturunkan kepada hambaku Muhammad ini, maka coba buat ayat seperti itu perkataan itu memperlihatkan bahwa Alquran menantang. Namun redaksi kata itu jangan hanya diartikan untuk membuat ayat serupa dengan nilai sastra yang sama pula. Tetapi kita harus memikirkan isinya pula. Sebenarnya ini menunjukan bahwa ketika Anda beriman, keimanan itu harus diuji terus menerus jangan disembunyikan ataupun dibentengi. Karena itu dapat mengakibatkan benteng keimanan yang kita anggap kuat pada awalnya ketika dihantam oleh filsafat akan membuat kalah. Inilah yang sering terjadi, kita selalu membentengi keimanan dengan tidak boleh ini dan itu, namun ketika kita bertemu dengan filsafat dan dibenturnya, kita tidak berdaya. Yang namanya filsafat itu terus menggelinding. Kalau kita tidak proaktif kita akan diserang terus.

Kalau boleh tahu, apa alasan itu juga yang membuat mahasiswa Bapak berbuat demikian?

Salah satunya itu. Namun perkataan itu berawal dari kekesalan mereka atas kebobrokan kondisi kita. Hingga kini, koruptor lepas namun penjahat kecil terus ditangkapi. Dengan pemikiran mereka yang masih muda dan belajar filsafat tanpa akidah yang kuat, yang keluar adalah hal itu. Permasalahannya ada pada bahasa yang digunakannya. Kalau saja kemarahan itu bisa mereka cover dalam bahasa yang lebih santun dan bermoral, maka persoalan ini tidak akan terjadi. Bagi saya sendiri, setelah mendengar ucapan itu, saya merasa marah. Kenapa dia menggunakan kata seperti itu ketika dia kesal.

Pendongkelan dan pendangkalan akidah kini makin kasat mata dan terang-terangan dilakukan di dalam masyarakat. Apa yang bisa kita lakukan?

Apabila pendangkalan akidah yang dimaksud akan mengarah pada atheis atau komunis, saya balik bertanya kenapa kita takut pada faham-faham itu? Kalau kita takut pada atheis atau pada suatu hal, maka ada sesuatu yang tidak beres. Ketidak beresan ini, bergantung pada diri kita sendiri. Kita tidak perlu takut pada komunis, toh komunis, di negerinya sendiri seperti Rusia, dan RRC, hancur kok. Alasannya karena mereka tidak punya pesantren, majlis ulama, IAIN, FUUI, dan masjid. Tapi kalau ini terjadi di Indonesia, saya hanya ingin tersenyum. Kenapa mesti takut? padahal kita mempunyai ribuan masjid, kiai, pesantren, kenapa takut? Dengan kekuatan ini, saya yakin atheis ataupun komunis tidak akan berhasil tumbuh. Namun atheis bisa muncul jika terjadi kesenjangan sosial. Seharusnya kita membuktikan bahwa atheis itu salah. Namun bagaimana kita bisa membuktikan kalau kita sendiri tidak mengenal atheis dan komunis, tanpa mempelajarinya.

Apa yang bisa dilakukan umat Islam untuk membentengi diri dari arus ghazwul fikr (perang pemikiran) yang makin deras?

Jawabannya sederhana, yakni harus ada yang belajar filsafat. Tidak usah semuanya, hanya orang-orang pintar yang akidahnya sudah benar, untuk menghadapi filsafat yang luar biasa. Karena filsafat membicarakan tentang tuhan, keadilan, kalau kita mau hancurkan mereka tidak akan bisa kalau hanya dilarang harus ada orang yang dapat membuktikan bahwa itu tidak benar. Kita harus bisa membuktikannya jangan hanya melalui pelarangan saja.

Benarkah metode dakwah yang dikembangkan selama ini kurang mengena?

Metode dakwah tidak bisa hanya dengan kata-kata harus ada pemecahannya. Seperti kasus keluar Islam karena mi instan. Apa yang sebenrnya terjadi? yang terjadi adalah kenapa kita tidak memberi mi instan. Seharusnya dakwah mampu menjaga umat tetap senang dalam Islam. Bukan hanya ngomong kamu salah. Kalau mereka pindah agama itu kesalahan kita, karena dakwah kita hanya omong. Dakwah mereka sudah menggunakan lambang ekonomi. Kesimpulannya, metode dakwah, dan pembelajaran Islam, tidak akan punya kemampuan untuk mengatasi kesulitan hidup, membuat orang amanah, kerja keras. Karena isinya hanya doktrin-doktrin eskatalogis, tentang malikat dengan lainnya. Harusnya ada penguatan di dalam diri umat. Jangan jadikan dakwah sebatas dongeng tentang malaikat. Namun sudah waktunya mengurus dakwah dengan cara liberal. Saya tidak setuju, tapi saya bisa maklum.

Lalu apa yang bisa dilakukan terkait kondisi ini?

Ada dua cara. Pertama, selektivitas, dan yang kedua, proses pembelajaran. Selektifitas telah diusulkan untuk lebih ketat, contohnya untuk tafsir hadis, seharusnya mahasiswa yang masuk telah menguasai Al quran. Proses pembelajaran mereka yang lebih penting dari seleksi. Di situ komitmen dosen juga dilihat. Saya harus mengakui, kurikulum harus dievaluasi, karena hal yang menyangkut akidah dan akhlak sangat kurang. Tapi itu tidak terjadi di IAIN saja, tetapi juga terjadi di SMA. Mata kuliah dasar, komponen fakultas, dan 40 persen komponen lokal yang bisa diubah. Disitulah kita bermain. Kurikulum harus dikembangkan, jangan hanya menerima.

D. Zawawi Imron, Dari Madura Menemukan Indonesia

Ilham Khoiri
oase.kompas.com
 
D. Zawawi Imron, penyair asal Madura, Jawa Timur, itu sudah lama mengembangkan puisi modern yang bertolak dari khazanah budaya tradisional Pulau Garam itu. Tak hanya memperkaya ekspresi seni sastra modern Indonesia, karya-karyanya yang memuliakan kemanusiaan juga diapresiasi dunia internasional.

Rabu, 13 Oktober 2010

Danarto, “Haji Itu Perlu Dorongan Spiritual Yang Kuat”

Wawancara ini juga dimuat dalam Majalah MataAir edisi 18 “Banyak Jalan Menuju Makkah”
http://www.gusmus.net/

Siapa yang tidak kenal Danarto. Budayawan gaek dan penulis buku “Orang Jawa Naik Haji” ini dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Kali ini, Danarto akan mengisahkan pengalamannya berhaji serta berbagai pendapat dan ungkapannya tentang fenomena unik ibadah haji kepada anda.

Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar. Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958—1961, ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan seni lukis.

Danarto aktif mengamati dan menulis tentang sufisme. Sedari belia, Danarto sudah punya pengalaman menulis cerita pendek, melukis, menyair, menyutradarai teater dan menjadi penata artistik. Kumpulan cerpennya, Godlob (1975) sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Abracadabra oleh Harry Aveling, pengamat sastra Indonesia dari Australia. Beberapa cerpennya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Belanda. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan hadiah sastra pada tahun 1982, Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama tahun 1982. Burton Raffel, pengamat sastra dari Amerika, sampai-sampai mengomentarinya dalam The Asian Wall Street Journal, 28 Februari 1980.

Mantan anggota inti Sanggarbambu ini pernah menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta selama 11 tahun dan wartawan majalah Zaman selama 6 tahun. Pada tahun 1983, ia menunaikan ibadah haji dan menghasilkan sebuah laporan perjalanan yang kemudian diterbitkan PT Pustaka Grafiti Pers, Jakarta dengan judul “Orang Jawa Naik Haji”. Danarto juga pernah bergabung dengan teater Sardono yang tampil di Eropa Barat dan Asia tahun 1974. Di samping berpameran “Kanvas Kosong” (1973), ia juga berpameran puisi konkret (1978).

MataAir mewancarainya seputar pengalaman haji dalam sebuah pertemuan sore hari di Mal Pondok Indah. Berikut wawancara selengkapnya.

Masyarakat kita kok kayaknya hasrat berhaji tidak pernah luntur. Bagaimana menurut Anda?

Semangat untuk berhaji masyarakat kita memang tidak ada kendornya, karena keimanan yang tinggi. Setiap jamaah calon haji maupun yang sudah berhaji merasakan bahwa untuk menunaikan ibadah haji membutuhkan suatu dorongan spiritual yang kuat, dan dorongan spiritual itu selalu dipunyai oleh para jemaah calon haji.

Anda pernah menulis buku Orang Jawa Naik Haji. Apa Anda memang ingin mengungkap sesuatu yang unik dari ibadah haji?

Buku Orang Jawa Naik Haji yang saya tulis itu judulnya itu bukan dari saya, tapi dari ide Gunawan Muhammad. Judul itu membuat buku itu laku. Sebenarnya, tidak ada sesuatu yang istimewa dalam pergi haji bagi masyarakat manapun. Tetapi, ketika orang Jawa dicantumkan dalam judul buku itu, orang jadi kepingin baca. Memang ada karakter Jawa dalam buku itu yang berbeda dengan suku-suku lain. Misalnya, saya bisa berhaji apa adanya, secara santai dan kemampuan pasrah yang mutlak..

Konon, seperti Sultan Hamengkubono IX tidak mau berhaji. Apa lantaran ada kepercayaan dalam budaya Jawa yang memandang sinis haji?

Mungkin tidak hanya bagi Sri Sultan Hamengkubono IX, orang kayak Emha Ainun Najib juga tidak mau berhaji. Barangkali begini. Bagi Sri Sultan, berhaji itu merupakan satu kemewahan, sehingga bertentangan dengan sifat-sifat kerakyatan Sultan. Sedang, bagi Emha, barangkali berhaji itu akan menimbulkan kedudukan status sosial yang rancu. Artinya, orang tidak bisa begitu saja dipandang sebagai saudara, apalagi kemudian dengan embel-embel haji, orang jadi punya pamrih yang mendalam.

Dalam haji, bagaimana menyelaraskan ritual dzahir dengan yang spiritual?

Pergi haji itu pertama-tama adalah iman, kemudian kepasrahan serta harapan akan dicapainya suatu kondisi spiritual yang bisa memuaskan. Ketika saya pergi haji, saya tidak mendapatkan suatu sambutan yang ramah. Saya selalu mendapatkan kesukaran dan kendala. Meskipun demikian, karena kepasrahan yang tinggi, kendala itu saya anggap ringan saja.

Maksud kendala dan kesulitan itu apa?

Artinya, kedudukan pembimbing itu tidak ada artinya apa-apa di Tanah Suci. Setiap jamaah punya problematika sendiri-sendiri. Berdasarkan watak dari jamaah itu sendiri, dan dari sini setiap jamaah mendapatkan pengalamannya sendiri-sendiri. Ada saja orang yang enggak mau berhaji lantaran takut dikerjain di Tanah Suci misalnya.

Ada kejadian unik?

Iya memang terjadi. Misalnya gini. Saya pernah terjebak kemacetan 14 jam di dalam bus, tanpa makanan dan minuman. Itu kan sesuatu yang mustahil. Tetapi, saya alami juga itu, karena ada kondisi yang memungkinkan kejadian itu menimpa tiap jamaah.

Jamaah lain juga merasakan. Banyak orang-orang tua yang lapar dan haus. Sementara, ada bayi yang tidur nyaman, tidak terganggu apa-apa. Jadi, betul-betul Tanah Suci itu beroperasi terhadap kejiwaan orang–perorang.

Calon haji harus mempersiapakan segala sesuatunya termasuk kehidupan rohani dan tindakan sehari-harinya. Ucapan, perilaku dan pikiran-pikirannya akan menentukan sepak terjang berhaji di Tanah Suci. Pendeknya, ada dua fakta, ada jamaah yang mendapat kesukaran berjam-jam dan ada jamaah yang tidak mendapatkan halangan apapun. Padahal, harinya sama, tempatnya sama dan ritualnya sama.

Ada yang sadar bahwa peristiwa itu imbas dari kehidupan rohaninya. Tetapi, ada yang tidak sadar bahwa kejadian itu betul-betul kesukaran yang bersifat fisikal semata, karena kecerobohan dari panitia haji.

Saya pergi haji itu tahun 1983. Kala itu, satu kamar yang luasnya sepuluh meter persegi bisa dihuni 50 jamaah dengan satu kamar mandi. Wah, sengsara betul tahun-tahun itu. Di atas tikar tempat tidur ada jemuran. Makanya, bukan tidak mungkin waktu tidur mukanya ketetesan air jemuran. Juga, antrian yang panjang dikamar mandi. Betul-betul ada kebodohan di sana. Ada jiwa yang mampat di sana yang mungkin bagi Emha pasti enggak bisa diterima sebagai ketololan.

Bagaimana saat Anda melihat Ka’bah?

Pertamakali, saya menatap Ka’bah saya merasa kaget sekali, ternyata Ka’bah begitu agung dan mempengaruhi kegiatan sehari-hari saya dalam melaksanakan rukun-rukun haji.

Bagaimana dengan haji eksekutif?

Haji eksekutif itu kan haji yang memenuhi standar sebagai pegawai negeri sipil atau suatu kedudukan dalam pemerintahan, sehingga mereka menganggap hal itu sebagai suatu tugas yang dibebankan oleh negara kepadanya. Dan jika tugas itu sudah terlaksana dengan baik, maka ya sudah cukup.

Pergi haji itu kan juga bermotivasi adanya kerinduan spiritual?

Ya bisa saja. Yah, rindu akan kekayaan spiritual yang bisa didapat dari pengalaman menunaikan ibadah haji. Sehingga, banyak orang kaya raya mau bersusah payah berhaji. Memang haji bisa dilakukan secara gampang. Misalnya, haji itu kan hanya satu syarat, yaitu wukuf di Arafah. Jadi, begitu mendarat di bandara Jeddah kita bisa langsung ke Arafah untuk wukuf dari pagi sampai sore. Sesudah itu, ya sudah haji. Walaupun tidak mengikuti rukun-rukun yang lain, misalnya lempar jumrah dan sebagainya.

Apa yang paling berat saat wukuf di Arafah?

Yang berat itu wukuf di Arafah dan juga melempar jumrah di Mina, karena harus melempar jumrah berkali-kali ditengah dua setengah juta umat Islam.

Dulu, haji bisa menjadi wahana meningkatkan semangat Pan Islamisme.

Dulu, saya kira bisa. Tetapi, sekarang tidak, karena masing-masing negara memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Misalnya, Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia yang sangat condong ke Barat. Kurang memperhatikan kepentingan-kepentingan rakyat Palestina misalnya. Mungkin, karena posisi Indonesia sekarang serba susah atau serba salah karena berpihak ke Barat. Tapi, kalau tidak berpihak pada Barat, bangsa ini mungkin tidak bisa berlangsung kehidupannya.

Pada saat menjalankan haji kira-kira pada momen ritual apa Anda merasakan kenikmatan spiritual?

Momen yang paling memuaskan secara spiritual bahwa saya bisa berhasil sampai ke Tanah Suci dengan uang tabungan yang diangsur sedikit demi sedikit. Ketika sampai di Tanah Suci, saya merasa bahwa ini suatu berkah yang sungguh di luar kemampuan saya sebenarnya.

Pandangan Anda tentang orang yang berhaji berkali-kali?

Mereka mungkin mendapatkan kepuasan spiritual dari ibadah haji. Walaupun, harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk berhaji lagi. Ada janji kedudukan spriritual yang bisa didapat dari Tanah Suci itu. Seandainya itu merupakan bentuk riya’ atau sekedar hanya untuk gengsi, rasanya tidak mungkin dilaksanakan berkali-kali, karena akan bosan.

Kayaknya ada yang suda berhaji, tetapi kelakuannya tidak berubah?

Saya kira banyak. Pulang haji kelakuannya tidak berubah. Misalnya, tetap saja melakukan kejahatan. Tetapi, itu ya memang sesuatu yang terjadi secara lumrah. Mengingat bahwa bagi sebagian orang mungkin pergi haji merupakan suatu bentuk pencapaian cita-cita yang bersifat material-finansial. Sehingga, bagi dia tidak perlu ada perubahan atau jaminan spiritual yang bisa di dapat dari pergi haji itu.

Menurut Anda berhaji yang ideal itu bagaimana?

Berhaji yang ideal itu adalah yang dilandasi keimanan, keihklasan dan harapan. untuk mendapatkan kekuatan atau kekayaan spiritual.

Meningkatnya jumlah orang berhaji apa bisa jadi petunjuk bahwa spiritualitas masyarakat kita juga meningkat?

Bisa saja. Meningkatnya jumlah jamah haji itu menandakan juga meningkatnya kekayaan spiritual yang didapat dari Tanah Suci.

Haji diposisikan sebagai rukun Islam yang terakhir. Apakah ini berarti sebagai puncak pencapaian spiritual?

Iya. Haji merupakan gong di rukun Islam. Kalau ada yang tidak butuh pergi haji, barangkali mereka yang berpikiran hal itu menjadi sesuatu yang sangat memeras tenaga dan biaya.

Pesan-pesan Anda untuk mereka yang mau berhaji?

Yang paling penting adalah kehidupan sehari-hari harus ditata betul sebelum keberangkatan. Misalnya, cara berfikir, cara ngomong, cara bertindak sehari-hari yang itu akan mempengaruhi kelangsungan atau kelancaran berhaji di sana. Yah, ada istilah menjadi Muslim yang kaffah.. Sebenarnya, sampai kepada wudhu yang benar, berpakaian yang benar, hubungan antar sesama yang baik, itu semua akan sangat mempengaruhi kelancaran haji kita. (mz)

Sumber: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis⊂=6&id=900

Jumat, 01 Oktober 2010

SEBELUM JADI PENULIS, JADILAH PEMBACA YANG RAKUS

Petikan diskusi Ahmad Tohari dengan para murid SMU Pelita Harapan
 
ruangbaca.com
 
CAHAYA pagi masih melumuri lapangan basket SMU Pelita Harapan, Karawaci. Dua tim pelajar sedang baku serang untuk membukukan kemenangan. Tak jauh dari lapangan, terlindung dari sinar mentari yang hangat, sepetak ruang yang tersambung dengan kantin siswa disulap menjadi tempat pameran di mana ratusan buku terhampar. Sebuah spanduk terpampang: “Bulan Bahasa 2006”. Ruangbaca mendekati gerai penerbit yang menjual trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dalam kemasan baru. “Sudah habis terjual, pak,” jawab si penjaga gerai.

Senin, 27 September 2010

Sastra Islam versus Penyempitan Ilmu Islam

http://gusdurian.net/
Majalah Horison, 7/1984

Wawancara Abdurrahman Wahid, sang kiai dari Ciganjur, dengan Hardi, wartawan Majalah Horison. Tulisan ini masih sangat relevan bagi kita, untuk mengkaji gugus pemikiran Gus Dur. Terutama dalam hal dialektika antara Islam sebagai sebuah agama, dengan Islam sebagai sebuah hasil kebudaayaan. Dengan membaca ini, –meski dalam pandangan saya materi wawancara lebih bisa diperdalam,– setidaknya ada pintu masuk bagi kita untuk mempelajari setiap perca pemikiran sang cucu Hadlratusy-Syaikh Hasyim Asy’arie tersebut. (Saiful Amien Sholihin)

Minggu, 22 Agustus 2010

Abdul Hadi W. M., Seni Itu Kendaraan Naik

Abdul Hadi W.M., Kurniawan / Wawancara
http://www.ruangbaca.com/

Kesenian, bagi kaum sufi, adalah representasi simbolik dari pengalaman kerohaniannya. Demikian pandangan Abdul Hadi W. M. (Wiji Muthari), sastrawan kelahiran Sumenep, Madura pada 24 Juni 1946. Dia mulai menekuni sastra sufi sejak kuliah di Fakultas Sastra dan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Bahkan, saat meraih gelar Ph.D di Universiti Sains Malaysia dia menulis disertasi yang diterbitkan sebagai Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri

Sebagai sastrawan, dia menulis sajak-sajak ketuhanan. Salah satu yang terkenal seperti “Tuhan, Kita Begitu Dekat”: Tuhan,/Kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu/… Tuhan,/Kita begitu dekat/Seperti kain dengan kapas/aku kapas dalam kainmu.

Dia juga menulis banyak buku tentang sastra sufi dan kebudayaan Islam, di antaranya Rumi, Sufi dan Penyair, Sastra Sufi, Sebuah Antologi, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, dan Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya.

Untuk mengetahui seberapa jauh Rumi mempengaruhi sastra dan kebudayaan Indonesia, wartawan Tempo Kurniawan dan fotografer Dimas Adityo menemui Abdul Hadi di ruang kerjanya di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pada Senin, 13 Agustus lalu. Berikut ini petikannya.

Pak Abdul Hadi, sejak kapan dunia kesastraan Indonesia dipengaruhi oleh karya sastra Jalaluddin Rumi?

Dalam sejarah kesasatraan Melayu, pengaruh sastra sufi Rumi telah muncul sejak abad ke-15. Salah seorang tokoh yang banyak mendapatkan pengaruh, artinya berinteraksi dengan pemikiran Rumi, itu adalah Sunan Bonang, satu dari para wali yang menyebarkan agama Islam di Nusantara.

Apakah wali-wali lain tidak?

Masalahnya warisan teks yang tersedia sejauh ini baru dari Sunan Bonang. Sedangkan teks dari para wali lain tak ada atau sukar mencarinya. Dalam buku saya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, saya telah menguraikan tentang Sunan Bonang, hubungannya dengan Rumi, gagasan cinta Rumi dan lainnya.

Bagaimana awal perjumpaannya dengan Rumi?

Pada akhir abad ke-15 Sunan Bonang pergi ke Samudera Pasai melalui Malaka bersama Sunan Giri. Dia belajar pada guru yang namanya Syekh Bari. Ini dia abadikan dalam bukunya Pitutur Seh Bari, yang kemudian diterjemahkan dan disunting oleh GWJ Drewes sebagai The Admonition of Seh Bari pada 1967. Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan di situ dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali dan Rumi.

Salah satu pengaruh Rumi yang paling jelas terahdap Sunan Bonang adalah, pertama, ajaran cinta. Kemudian, menerjemahkan asketisme itu dengan kesalehan sosial, di mana aktivitas sosial sangat diutamakan sebagai padanan dari zikir. Lalu, estetika. Pemikiran Rumi tentang seni sangat berpengaruh terhadap Sunan Bonang.

Bisa Anda uraikan konsep seni bagi Rumi?

Rumi berpikir bahwa karya sastra atau seni itu simbolisasi, representasi simbolik dari ide dan pengalaman kerohanian. Pengalaman kerohanian yang paling tinggi adalah tafakur, semacam kontemplasi untuk mencapai kesatuan mistik dengan Tuhan.

Karena sebagai simbol, karya seni itu seakan sebagai jalan naik atau kendaraan naik dari pengalaman empiris ke pengalaman kerohanian.

Konsep ini, contohnya, terlihat dalam komposisi gamelan yang dibuat Sunan Bonang, Gending Dharma, yang berpengaruh terhadap gamelan Jawa kini. Konsepnya konsentrik. Nada-nada, semua bunyi gamelan itu, membawa suasana terpusat ke alam transenden.

Apa bedanya dengan gamelan lain?

Gamelan Sunan Bonang agak berbeda, misalnya, dengan gamelan Hindu. Gamelan jaman Hindu itu digunakan untuk drama, pemujaan kepada dewa-dewa, sehingga eksotik sifatnya, seperti pada gamelan Bali. Gamelan Sunan Bonang bersifat konsentrik. Kedua jenis gamelan ini membawa perubahan pada gamelan Jawa, yang merupakan campuran dari estetika sufi dan estetika tantriisme Hindu.

Adakah bentuk modern dari gamelan Sunan Bonang ini?

Itu gending Kebo Giro (yang biasa mengiringi prosesi perkawinan adat Jawa). Gending itu sangat kontemplatif sekali. Juga tembang Lir-ilir, lir-ilir (yang konon ciptaan Sunan Kalijaga). [Abdul Hadi sejenak menembangkannya: Lir-ilir, lir-ilir/tandure wus sumilir/Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar....] Nah, itu kan jaman Sunan Bonang dan Kalijaga.

Bagaimana dengan sastranya?

Pengaruh Rumi dan ajaran tasawuf paling banyak ditemukan dalam teks-teks suluk karya Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati. Keduanya adalah yang paling terpelajar dalam hal sastra sufi di antara para wali. Di Jawa suluk adalah karangan bercorak tasawuf yang disampaikan dalam bentuk tembang. Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal adalah Suluk Wujil.

Dari mana saja sumber ajaran tasawuf mereka?

Setidak-tidaknya ada lima tokoh tasawuf yang populer di Nusantara pada abad-abad itu. Yang pertama, Imam Ghazali, lewat ajaran etikanya. Kedua, falsafah metafisik tentang wujud dari Ibn Arabi. Kemudian, Abdul Karim al-Jili tentang ajaran insan kamil. Tapi, dari segi seni atau sastra, yang banyak memberikan pengaruh adalah Fariduddin Attar dan Jalaluddin Rumi. Ini terbukti dari banyaknya terjemahan dari karya-karya penyair Persia seperti Attar dan Rumi.

Jejak mereka juga tampak dari pemakaian simbol burung, yang banyak dipakai dalam motif seni ukir. Itu kan bermula dari karya Attar yang disadur ke dalam bahasa Melayu menjadi, Hikayat Burung Pingai, yang kemudian dipopulerkan lagi oleh Hamzah Fansuri dengan sajak-sajaknya tentang burung. Di situ burung menjadi simbol jiwa manusia yang merindukan Tuhan. Burung sebagai simbol itu terutama burung simugh atau pingai atau phoenix.

Kalau jejak Rumi?

Bagian pertama dari Matsnawi karya Rumi, “Muqadimah”, itu berisi lagu seruling bambu yang terpisah dari asal-usulnya. Nah, hikayat-hikayat Pasai kemudian mengambilnya, bahwa asal-usul atau nenek moyang mereka berasal dari pokok bambu. Ini muncul juga dalam cerita dongeng di tanah Batak.

Dari lagu serulingnya Rumi ini pula lahir istilah “buluh perindu”. Di situ seruling, serunai, atau saluang menjadi peralatan paling penting dalam kesenian dan kebudayaan. Sebelumnya, alat musik semacam ini tak dipakai, misalkan dalam gamelan Hindu.

Bagi Hamzah Fansuri, apakah dia mendapat pengaruh juga dari Rumi?

Ya, tapi tidak langsung karena abadnya sudah berbeda. Tetapi jelas bahwa dari segi estetik karya-karya Fansuri banyak dipengaruhi, terutama, oleh Fariduddin Attar. Paling jelas dari Attar, tapi itu dekat sekali dengan Rumi, karena Attar itu sambungannya dengan Rumi. Sedangkan dari pemikiran filsafatnya, baru Fansuri dipengaruhi Ibnu Arabi.

Apa hubungan Attar dan Rumi?

Attar itu guru spiritualnya Rumi, pendahulunya Rumi. Rumi melanjutkannya. Ini merupakan tradisi para sufi, karena mereka tak berpretensi sebagai pembaharu seperti penyair modern sekarang. Yang penting bagi dia (sufi), karyanya merupakan pengalaman pribadi, yang dialaminya dan dihayatinya. Cukup itu saja sudah orisinal bagi mereka. Apakah hal itu sudah dikatakan sebelumnya atau tidak, itu bukan soal bagi mereka. Sekarang saja kita orang rewel tentang orisinalitas semacam ini, kan?

Seperti cerita rakyat, misalnya. Mereka (para sufi) lontarkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan sifat karya sastra sebagai bentuk simbolik. Sehingga mereka memakai cerita rakyat yang sudah berkembang, seperti kisah Laila Majnun dan sebagainya. Juga kisah-kisah binatang, sejarah, dan ada juga yang diambil dari Al-Quran. Cuma dia olah dengan cara dia sendiri. Jadi, bukan soal temanya yang penting. Tema itu bisa sama saja. Justru dengan mengolahnya menjadi baru, dia memberi dimensi-dimensi baru, dimensi estetik, pengalaman, dan sosial pada cerita lama itu.

Bagaimana dengan karya sastra Indonesia modern, seperti Amir Hamzah dan sesudahnya?

Ya, jelas sekali pengaruhnya. Namun, sebelum Amir Hamzah, yang ada pengaruh Ruminya adalah pada Sanusi Pane. Sedangkan Amir jelas sekali terpengaruh secara langsung maupun tidak. Amir kan pernah menerjemahkan Rumi dalam Setanggi Timur. Dan, Rumi sangat dikenal pada masa itu oleh penyair-penyair romantik Indonesia. Sedangkan puisi Rumi itu memang sesuai dengan jiwa romantik. Kalau dalam sastra kontermporer tinggal lihat saja pengaruhnya pada, misalnya, Danarto dan Sutardji Calzoum Bachri.

Bagaimana Anda menilai keterpengaruhan itu?

Saya melihat dari dua hal saja. Pertama, estetik, bahwa karya sastra itu simbol, idealisasi dari realitas yang dialami penyair, jadi bukan langsung diambil dari realitas. Pengalaman diolah oleh imajinasi, lalu dijadikan simbol untuk menceritakan sesuatu yang lain, baik pengalaman kehidupan maupun kritik sosial.

Hal ini lain dengan karya sastra yang coraknya imitasi, peniruan terhadap realitas, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Di sini pengalaman diidealisasi dengan kerangka historis, pertentangan kelas, dan sebagainya.

Nah, sastra sufi itu betul-betul simbol. Di dalam tradisi Timur, termasuk dalam tradisi Islam, seni murni itu demikian, bersifat simbolik. Dia disebut seni murni karena karya itu tidak punya kepentingan politik, tidak ada kepentingan duniawi. Dia semata-mata kerohanian, spiritualitas.

Ini lain dengan corak yang kedua, seni dinamik. Seni ini mempersoalkan masalah sosial, keduniaan. Hanya saja, tradisi Barat tak mengenal seni murni, karena sudah sekuler. Sedangkan dalam tradisi Timur, mulai dari jaman Jawa Hindu, seni murni sudah digarap, tapi seni sosial juga digarap.

Kala itu pengarang bisa kedua-duanya. Tapi, kalau dia mengarang seni murni, pasti simbolik. Karena, yang abstrak, yakni pengalaman spiritual, itu tak bisa ditiru. Jadi dia harus disimbolkan dengan hal-hal yang kongkret. Misalkan pada pepatah “tak ada rotan akar pun jadi”. Nah, yang dibicarakan kan bukan rotan, bukan pula akar yang kongkret, kan?

Dari segi bentuk, apakah sastra sufi lebih cenderung memilih puisi ketimbang prosa?

Puisi atau prosa-puisi. Karena prosa itu kan baru berkembang kemudian setelah orang lebih banyak dekat pada pemikiran diskursif. Bahasa diskursif itu tidak dapat mewadahi hal ini, kecuali distilisasikan, gayanya jadi puitik. La Divina Comedia karya Dante itu kan simbolik.

Hal ini berbeda dengan novel modern. Novel modern itu setelah realisme. Baik realisme maupun romantisme di dunia modern itu merupakan reaksi terhadap saintisme, pemikiran yang selalu mengandalkan akal. Romantisme mengedepankan kebebasan individual dengan imajinasi, sedangkan realisme dengan menceritakan yang buruk-buruk dalam masyarakat.

Apakah realisme itu mempengaruhi sastra Indonesia?

Setelah Sanusi Pane, kita didominasi oleh aliran-aliran dari Barat itu, seolah-olah aliran dari Timur itu sudah kuno. Nah, yang Timur ini baru diangkat kembali pada 1970-an oleh Kuntowijoyo, Danarto, Fudoli Zaini. Yang diangkat itu estetikanya, jadi tidak mesti sama karyanya dengan mereka (aliran dari Timur). Kebaruan mereka jutru karena mereka bisa mengelola sesuatu yang berbeda dengan sastra klasik dan dengan sastra pada zamannya.

Dalam novel-novel sebelum Danarto kan nggak mungkin awan, bekicot, kodok, jadi tokoh novel. Tapi, dalam Mahabharata, dongeng-dongeng, hal itu ada. Danarto justru mengangkatnya lagi, tapi dengan cara yang baru, konteks baru, relevansi baru. Bahkan ayat-ayat Al-Quran dijadikan tokohnya.

[Di salah satu artikelnya Abdul Hadi menyebut sejumlah karya bercorak sufistik dan sosial-keagamaan seperti karya Kuntowijoyo (novel Khotbah di atas Bukit, antologi puisi Suluk Awang Uwung dan kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga), Danarto (kumpulan cerpen Adam Makrifat dan Berhala serta novel Asmaraloka), dan M. Fudoli Zaini (kumpulan cerpen Arafah dan Batu-batu Setan)]

Apakah generasi berikutnya Anda masih melihat pengaruhnya?

Dalam prosa memang jarang sekali, tapi dalam puisi banyak sekali pengaruh gerakan sufistik ini. Tapi, suatu gerakan itu kan tidak selalu harus berkembang terus. Dia kadang harus mengendap dulu, lalu suatu ketika muncul lagi.

Kalau Sutardji?

Ya, dia memang terpukau (pada sastra sufi) setelah kebuntuan pengalaman nihilismenya itu. Misalnya lewat sajak Orangnya Tuhan karya Rumi. Sajak itu jelas berpengaruh pada Sutardji sejak awal masa kepenyairannya. Jadi, pengaruhnya sudah ada waktu itu tapi dia belum bisa mencernanya, kecuali pada masa akhir kepenyairannya.

Dalam acara di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu saya telah menyampaikan bahwa Sutardji itu melalui tiga fase. Pertama, sajak mantera. Saya analisa di situ dia dipengaruhi samanisme, tapi samanisme itu juga sebetulnya mistik. Kedua, nihilis, gayanya kok seperti Nietszche. Kemudian, ke sufi.

Selanjutnya, bagaimana perkembangan sastra sufi?

Memang sejak munculnya Angkatan 45 sampai awal 1960-an, pengaruh sufi itu surut karena hingar bingar realisme, realisme sosial, eksistensialisme, dan segala macam. Tapi kok berbenih lagi pada karya pasca-1966, pada 1970-an pada karya Danarto dan lainnya. Jadi ini tampak sebagai reaksi terhadap realisme, entah realisme formal atau sosial, dalam penulisan sastra dari segi estetik, ditambah lagi kecintaan mereka (para sastrawan) yang mendapat ilham dari tradisi.

Tapi kan pada Chairil punya sajak “Doa”, Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling?

Ya, itu kan remang-remang. Nafas keagamaan memang muncul pada karya-karya tahun 1950-an itu, seperti pada Taufik Ismail, AA Navis, dan lainnya. Tapi, di situ agama pada level legalistik-formal, dalam pengertian dengan adat, dengan pergaulan, tingkah laku masyarakat, ahlak. Sedangkan agama sebagai penghayatan spiritual baru muncul pasca-1966.

Apakah ada konteks sosial tertentu yang mendorong mereka demikian?

Saya tidak tahu mereka. Tapi, dari segi saya, pada waktu itu mulai populer lagi kecenderungan untuk melihat dan membaca karya-karya Asia. Salah satunya buku yang dibaca adalah The Treasure of Asian Litterature (1956). [Abdul Hadi mengambil buku itu dari rak di belakangnya dan memperlihatkan isinya]. Isinya nukilan-nukilan karya berbagai pengaran Asia, tapi penting bagi orang yang belajar sastra. Saya membelinya tahun 1970-an.

Buku ini populer setelah tahun 1966, dibaca oleh penyair-penyair Yogyakarta waktu itu. Di buku itu ada karya Rumi, ada Rubaiyat Omar Khayam. Jadi, mereka bersentuhan dengan ini. Kami yang masih muda-muda waktu, itu, masih 20-an tahun usianya, melihat bahwa ternyata sastra Timur itu kaya, bukan hanya karya sastra Barat. Banyak lagi buku-buku semacam ini yang populer.

Sutardji kan membaca Orangnya Tuhan (The Man of God) karya Rumi kan di situ. Bahkan mereka menerjemahkannya. Sapardi, misalnya, menerjemahkan Shakuntala. Saya sendiri menerjemahkan Rubaiyat Omar Khayam.

Bagaimana dengan latar belakang para sastrawan itu?

Ini memang kebetulan. Kuntowijoyo ini kan mahasiswa jurusan sejarah, yang pasti mempelajari kebudayaan dan kesusasteraan Indonesia. Danarto juga memang lahir dari keluarga kebatinan dan menyukai tasawuf. Fudoli Zaini juga begitu, lahir dari keluarga pesantren, orang Nahdlatul Ulama tulen yang banyak mempelajari tasawufnya Al-Gazali dan lainnya, apalagi ditambah dengan mempelajari sastra Arab di Kairo, Mesir. Kemudian Sutardji sendiri dari tradisi sastra Melayunya pasti membawa itu. Kalau saya kan memang dari studi sastra Melayu.

Seberapa besar peluang sastra sufi untuk muncul saat ini?

Sulit juga bicara soal peluang, karena peluang itu kini ditentukan oleh publikasi dan pasar. Pasar memilih yang mana? Tapi, sebagai aktivitas dia tetap ada. Dipublikasikan atau tidak ia tetap berlangsung dalam kajian-kajian tasawuf yang banyak terdapat di Jakarta.

Banyak sekali kelompok kajian tasawuf di Jakarta, sukar dihitung dan bermacam-macam jenisnya. Ada yang sifatnya cuma majelis zikir saja, ada yang juga mengkaji masalah-masalah sastra sufi ini, bahkan ada yang khusus mengkaji Rumi, seperti kelompok Pusaka Hati yang akan mementaskan “Semalam Rumi” di Gedung Kesenian Jakarta pada 30 Agustus nanti.

“Saya Cinta Kiai dan Pesantren”

Abidah El Khalieqy
Pewawancara: Muhammad Syaifullah
http://www.korantempo.com/

Abidah El Khalieqy tidak hanya dikenal sebagai penyair, tapi juga novelis yang produktif. Lima novel telah ditulisnya, selain buku kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Salah satu novelnya, Geni Jora, memenangi Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. Perempuan kelahiran Jombang, 1 Maret 1965, yang mulai menulis sejak usia 12 tahun ini pernah memperoleh penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1998). Tahun lalu ia menerima Ikapi dan Balai Bahasa Award.

Melalui karya-karyanya, istri penyair Hamdy Salad ini menyuarakan persoalan perempuan. “Dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah,” ujar ibu tiga anak ini.

Namanya melambung setelah novelnya, Perempuan Berkalung Sorban (2001), diangkat ke layar lebar oleh sutradara Hanung Bramantyo. Apalagi setelah film tersebut menuai kontroversi. Beberapa adegan di film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) dianggap melecehkan pesantren dan kiai.

“Mana yang melecehkan? Ini adalah kritik bagi kiai dan pesantren yang kami cintai,” kata perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Putri Modern Persis, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, ini.

Di kediamannya, kawasan Maguwoharjo, Yogyakarta, Abidah menerima wartawan Tempo Muhammad Syaifullah untuk sebuah wawancara, Rabu lalu. Berikut ini petikannya.

Bagaimana proses kreatif Perempuan Berkalung Sorban?

Pada awalnya ini ide YKF (Yayasan Kesejahteraan Fatayat), LSM milik Nahdlatul Ulama Yogyakarta, untuk membuat suatu novel tentang pemberdayaan perempuan. Maka dirancang novel Perempuan Berkalung Sorban ini dan saya sebagai penulisnya.

Tujuan menulis PBS?

Novel ini untuk mensosialisasi hak-hak reproduksi perempuan yang sudah diratifikasi oleh PBB. Jadi saya ketika itu diminta mengadakan riset tentang hak-hak reproduksi perempuan selama hampir dua tahun. Riset lapangan untuk memberi setting tempat dan yang fisik-fisik selama tiga bulan, di Kaliangkrik, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Di satu kampung ada banyak pesantren salaf. Lokasinya di pegunungan. Saya juga menemukan orang-orang yang naik kuda.

Sesudahnya, mengikuti seminar-seminar yang dilakukan oleh YKF selama hampir dua tahun, kemudian saya menulis selama sembilan bulan. Karena kontraknya hanya satu tahun, dua tahun saya lakukan di luar kontrak.

YKF dan Ford Foundation yang membiayai proyek ini. Saya mau bekerja sama dengan Ford Foundation karena saya sebagai sastrawan dalam menulis, apa isinya, saya memiliki otoritas pribadi. Mereka tidak boleh ikut campur tangan. Sebetulnya semua isi dan teknik penulisan murni dari saya sebagai sastrawan. Ini memang sifatnya pesanan soal reproduksi perempuan. Tetapi kenapa saya mau–yang sebagai sastrawan memiliki independensi–karena yang diinginkan mereka adalah yang selama ini tema-tema yang menjadi sorotan saya. Kebetulan misi dan sorotannya sama.

Apa yang Anda sampaikan dalam PBS?

Saya ingin perempuan memiliki kemandirian, perempuan harus menguasai ilmu. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjawab nasib perempuan. Derajat ditentukan dengan ilmu.

Kenapa memilih tema feminisme?

Awal-awal saya kuliah, saya aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan kemudian saya tidak tertarik masalah politik. Ketika itu, isu tentang feminisme yang ditulis dalam novel seperti Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi dibahas di mana-mana. Saya juga mulai tertarik untuk membahas persoalan perempuan.

Dan dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah. Memang harus dicari akar permasalahannya dan disuarakan sekeras-kerasnya. Artinya, harus ada revolusi pemikiran bahwa ini adalah sesuatu yang sangat mendesak. Selama ini soal perempuan memang sudah banyak ditulis, soal penderitaan mereka dan keterpinggiran mereka. Tetapi bagaimana solusi ke depan untuk menyikapi kondisi seperti ini kan belum ditulis.

Bagaimana Anda menanggapi kontroversi PBS?

Ini lucu dan ironi. Kenapa? Yang dikontroversikan mereka itu, ya, itu yang dikritik dalam film dan buku (novel). Anehnya, para pengkritik tidak mau nonton. Mereka tidak tahu sebetulnya dialog itu sebuah dialog (dalam novel dan film).

Misalnya adegan oleh para pelakon protagonis dan antagonisnya. Dalam film tersebut ada antagonisnya yang selalu menjawab. Contohnya, dalam Islam perempuan tidak boleh naik kuda. Menurut (dalam dialog) Annisa, perempuan boleh naik kuda. Zaman Nabi saja perempuan boleh naik kuda. Jadi dalam film itu adalah dialog antagonis dan protagonis. Mungkin yang mengkontroversikan tidak menyimak dialog yang katakan Annisa (tokoh protagonis dalam film PBS yang diperankan Revalina S. Temat).

Dalam PBS, yang mengatakan perempuan tidak boleh bepergian kecuali ditemani muhrimnya, meskipun untuk belajar, itu dikatakan oleh Kiai Hanan, yang menjadi oknum kiai yang antagonis. Ini pribadi, seorang manusia yang mengatakan, meskipun kiai, dia adalah manusia biasa. Meskipun dia kiai, bisa juga menjadi oknum.

Untuk memahami PBS dengan teori dekonstruksi, bahwa sesuatu yang baik itu tidak hanya bisa dimunculkan oleh tokoh protagonis, tapi antagonis pun bisa. Kalau yang disampaikan Kiai Ali Mustafa (KH Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal), mestinya yang diucapkan kiai itu harus yang baik-baik. Kalau itu, semua orang juga sudah tahu. Tapi dalam film itu ada kiai yang seperti itu. Ini yang kita kritik dalam film PBS. Ini kan juga kritik untuk kiai yang seperti itu.

Kalau berani mengkritik dan berkukuh tidak mau menonton, kan (dia) tidak tahu. Dalam teori seni, ada teori dekonstruksi. Kalau saya dikatakan melecehkan pesantren, di mana letak melecehkannya? Tokoh utamanya kembali ke pesantren kan, untuk memperbaiki pesantrennya.

Apakah film ini melecehkan Islam?

Tidak. Ini tidak melecehkan Islam. Justru film dan novel PBS mengkritik para kiai dan kitab kuning, khusus untuk hadis-hadis misoginis, hadis-hadis yang berkarakter menyudutkan perempuan. Di beberapa pesantren salaf, masih ada buku-buku yang diajarkan, seperti Kitab Uqudullujain fi uqudizzujain. Seakan-akan kitab-kitab seperti Riyadlussholihin, yang kesahihannya sudah dijamin, malah dikesampingkan, meskipun juga diajarkan dengan porsi sedikit. Yang akan kita kritik, ya, itu. Kenapa mengkritik para kiai dan kitab kuning? Karena saya cinta mereka, mosok saya bisa membiarkan ini berlanjut turun-temurun dari abad ke abad. Pesantren adalah satu institusi tempat pola pikir dari zaman ini dibentuk. Karena pesantren merupakan agen perubahan untuk zaman ini. Kalau mereka melakukan seperti itu, mereka bisa menciptakan pola pikir yang keliru dari zaman ke zaman. Novel PBS menawarkan upaya reinterpretasi Al-Quran dan rekonstruksi fikih.

Maksudnya?

Bahwa fikih kita yang diajarkan di pesantren sudah kedaluwarsa. Fiqih merupakan hukum-hukum yang menjawab tantangan zaman dari para ulama. Dan zaman ini selalu berubah. Tetapi fiqih kita dari zaman tabiuttabiin sampai sekarang tidak berubah. Itu yang perlu direkonstruksi.

Kenapa sampai sekarang perempuan masih tertindas? Karena ada referensinya, ketika para ulama mengartikan “arrijalu qowwamuna alannisa”. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Benarkah kata qowwamuna di sini berarti pemimpin? Ternyata para tokoh feminis Muslimat, baik dari Pakistan, Maroko, maupun Saudi, melakukan penelitian dan terbukti kata-kata itu dalam kamus kuno bukan berarti pemimpin. Artinya adalah pembimbing atau mitra sejajar.

Yang dipakai oleh orang Arab sendiri dari kata qoum, yang berarti pembimbing, teman sharing, mitra sejajar. Tapi selama ini para ulama, terutama yang menafsirkan Al-Quran, masih mengartikannya sebagai pemimpin. Itu sudah dari abad ke abad. Ini jadi landasan bagi para laki-laki menganggap dirinya sebagai pemimpin. Maka perempuan menjadi kelas dua, konco wingking (teman di belakang). Pola pikir ini membentuk pola pikir zaman dan ini membentuk kebudayaan.

Adakah adegan yang tak ada di novel tapi ada di film?

Ada beberapa: pembakaran buku, adegan rajam. Kalau dialog dalam bahasa Arab, untuk keperluan penggambaran pesantren biar lebih hidup.

Bagaimana kalau film dan novel ditarik dari peredaran?

Sebelum di-launching, film PBS kan sudah lulus sensor melalui LSF (Lembaga Sensor Film), sedangkan di LSF kan juga ada unsur dari MUI, ya, para kiai. Dan itu tidak disensor.

Apa ada permintaan novel PBS ditarik?

Tidak. Banyak yang menganggap dilarang. Malah sudah 13 ribu eksemplar dibagikan. Sekarang dicetak lagi. Dalam tiga minggu sudah lebih dari 50 ribu kopi terjual. Tapi royalti belum dibicarakan, sampai sekarang belum ada.

Apa pengaruh pesantren dan pendidikan Anda di Universitas Islam Negeri dalam tulisan?

Pemikiran dari pesantren yang saya serap, saya berawal dari pesantren dan kuliah di UIN (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Mungkin saya kesulitan menulis PBS jika tidak didasari dua institusi itu. Basis pesantren memudahkan saya mengetahui karakter pesantren.

Bagi Anda, lebih sulit mana, menulis novel atau puisi?

Menulis novel lebih bebas mengekspresikan ide. Menulis puisi itu mewah; memerlukan energi yang luar biasa. Butuh kesiapan, intensif dengan refleksi. Lebih berat menulis puisi. Dari sekian gagasan harus dikristalkan dengan beberapa kata. Tetapi banyak yang mengkritik novel saya puitis.

BIODATA
Nama: Abidah El Khalieqy
Lahir: Jombang, 1 Maret 1965
Pendidikan: Fakultas Syariah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1990
Pekerjaan: Penulis (sastrawan)
Status: Menikah (suami Hamdy Salad, dengan tiga anak)

Karya:
* Ibuku Laut Berkobar (puisi, 1997)
* Menari di Atas Guntingv (cerita pendek, 2001)
* Perempuan Berkalung Sorban (novel, 2001)
* Atas Singgasana (novel, 2002)
* Geni Jora (novel, 2004)
* Mahabbah Rindu (novel, 2007)
* Nirzona (novel, 2008)
* Mikraj Odyssey (cerita pendek, 2009)

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez