Ignas Kleden
Pewawancara: St Sularto
DOKTOR Ignas Kleden (46) berlatar belakang ilmu filsafat, tetapi kegiatan
sehari-hari terutama di bidang sosial, politik dan kebudayaan. Tahun 1982
memperoleh gelar MA ilmu filsafat dari Universitas Munchen. Awal tahun 1995
memperoleh gelar doktor sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman.
Disertasinya menggugat studi-studi Clifford Geertz (69) tentang Indonesia
secara keseluruhan.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 Juni 2021
Selasa, 16 Maret 2021
Senin, 26 Maret 2012
Wawancara Imam Khomeini: Islam Anti Kediktatoran
(Sumber: Shahifeh-e Nur, jld. 5, hlm. 519-522)
[Terjemahan wawancara dinukil dari Kantor Berita Shabestan]
http://abna.ir/
Jika Anda melihat pemerintahan Islam, Anda akan temukan bahwa kediktatoran sama sekali tidak memiliki tempat dalam Islam.
Imam Khomeini: Islam Anti Kediktatoran
[Terjemahan wawancara dinukil dari Kantor Berita Shabestan]
http://abna.ir/
Jika Anda melihat pemerintahan Islam, Anda akan temukan bahwa kediktatoran sama sekali tidak memiliki tempat dalam Islam.
Imam Khomeini: Islam Anti Kediktatoran
Selasa, 11 Oktober 2011
Acep Zamzam Noor: Pesantren Rusak karena Politik
Pewawancara: EH Ismail
Republika 12 Juli 2007
Akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 28 Juni, sejumlah tokoh muda dari pesantren-pesantren yang ada di Jawa Tengah dan sekitarnya berkumpul di Gedung KNPI, Jakarta. Mereka menghadiri undangan Kantata Research Indonesia (KRI) yang menggelar seminar nasional bertema Mempertajam Kapasitas Pesantren sebagai Agen Pengelola Konflik. Seminar dilanjutkan dengan pelatihan Manajemen dan Resolusi Konflik Berbasis Pondok Pesantren untuk mengeksplorasi lebih jauh gagasan di atas.
Republika 12 Juli 2007
Akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 28 Juni, sejumlah tokoh muda dari pesantren-pesantren yang ada di Jawa Tengah dan sekitarnya berkumpul di Gedung KNPI, Jakarta. Mereka menghadiri undangan Kantata Research Indonesia (KRI) yang menggelar seminar nasional bertema Mempertajam Kapasitas Pesantren sebagai Agen Pengelola Konflik. Seminar dilanjutkan dengan pelatihan Manajemen dan Resolusi Konflik Berbasis Pondok Pesantren untuk mengeksplorasi lebih jauh gagasan di atas.
Rabu, 02 Maret 2011
Dr Afif Muhammad MA: ‘Pelajari Filsafat harus Kuat Akidahnya’
Reni Susanti
http://www.republika.co.id/
Tidak ada ilmu yang tidak berguna, semuanya saling melengkapi. Walaupun harus diakui pertentangan atau kontroversi dalam suatu disiplin ilmu kerap terjadi. Tak terkecuali adalah filsafat. Apalagi filsafat adalah ilmu yang mengedepankan rasio, akal, pikiran, sehingga masalah yang tidak terlihat bisa diperdebatkan di dunia filsafat. Belum lagi ditambah filsafat adalah ilmu yang membicarakan tentang manusia, agama, tuhan,liberalisme, atheisme, marxisme, dan komunisme, yang terkadang bertentangan dengan Islam.
”Orang yang belajar filsafat haruslah orang pintar yang mempunyai akidah yang kuat, sehingga bisa membantu memaslahatkan umat,” ujar Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, DR Afif Muhammad MA.
Melihat penting dan sensitivnya ilmu filsafat, sudah barang tentu pengajaran atau metode yang diberikan harus sesuai dengan yang diharapkan. Karena sedikit saja bergeser, keimanan adalah taruhannya. Kepada wartawan Republika, , dosen di berbagai perguruan tinggi ini menuturkan seluk beluk filsafat termasuk metodenya. Berikut ini petikannya:
Ada yang ‘melarikan’ kasus yang terjadi di UIN Sunan Gunung Djati sebagai praktik pendangkalan akidah yang dilakukan lembaga pendidikan agama. bagaimana komentar Anda?
Kalau kata ‘praktik’, itu merupakan sesuatu yang diprogram dan direncanakan. Dan kalau yang dimaksud dalam pengertian itu, saya jamin tidak akan ada praktik pendangkalan akidah dalam kasus ini. Kalaupun perguruan tinggi itu mempunyai pemikiran yang macam-macam, kami kira untuk dunia akademik itu wajar. Karena kami bukan hanya memahami tapi mendorong orang untuk berpikir kritis. Begitupun dengan pemikiran mahasiswa yang bermacam-macam, dan saya kira itu juga wajar, karena mereka datang dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda.
Sejauh mana batas ilmiah pencarian ketuhanan?
Tentu akan ada batasan. Misalnya kita tidak boleh terlalu berpegang pada kesimpulan akal tanpa bimbingan wahyu. Banyak hal yang tidaak dapat dipecahkan oleh filsafat. Contohnya ketika kita sudah tidak bisa menjawab suatu persoalan, maka kita akan kembali pada wahyu. Namun akal dan wahyu pun berbeda.
Ketika kita berfilsafat maka pada kesimpulan pertama yang muncul adalah tuhan ada atau tiada. Dan apabila buktinya sama-sama kuat maka perlu didialogkan. Kalaupun dalam dialog itu menemukan kebuntuan karena ada keseimbangan antara akal dan wahyu, maka kita harus menggunakan hati nurani kita dengan bantuan agama. Namun untuk masalah ketuhanan sendiri, cara pandang masyarakat awam dan dunia akademik berbeda. Masyarakat awam diberi informasi, didongengi, dan didakwahi. Kalau dunia akademik diajak membuktikan dan bersifat kritis agar imannya semakin kuat.
Sampai batas mana kebenaran agama bisa dibantah atau didebat, bila memang perbedaan pendapat itu rahmah?
Alquran mengatakan jika kalian masih ragu-ragu terhadap ayat yang diturunkan kepada hambaku Muhammad ini, maka coba buat ayat seperti itu perkataan itu memperlihatkan bahwa Alquran menantang. Namun redaksi kata itu jangan hanya diartikan untuk membuat ayat serupa dengan nilai sastra yang sama pula. Tetapi kita harus memikirkan isinya pula. Sebenarnya ini menunjukan bahwa ketika Anda beriman, keimanan itu harus diuji terus menerus jangan disembunyikan ataupun dibentengi. Karena itu dapat mengakibatkan benteng keimanan yang kita anggap kuat pada awalnya ketika dihantam oleh filsafat akan membuat kalah. Inilah yang sering terjadi, kita selalu membentengi keimanan dengan tidak boleh ini dan itu, namun ketika kita bertemu dengan filsafat dan dibenturnya, kita tidak berdaya. Yang namanya filsafat itu terus menggelinding. Kalau kita tidak proaktif kita akan diserang terus.
Kalau boleh tahu, apa alasan itu juga yang membuat mahasiswa Bapak berbuat demikian?
Salah satunya itu. Namun perkataan itu berawal dari kekesalan mereka atas kebobrokan kondisi kita. Hingga kini, koruptor lepas namun penjahat kecil terus ditangkapi. Dengan pemikiran mereka yang masih muda dan belajar filsafat tanpa akidah yang kuat, yang keluar adalah hal itu. Permasalahannya ada pada bahasa yang digunakannya. Kalau saja kemarahan itu bisa mereka cover dalam bahasa yang lebih santun dan bermoral, maka persoalan ini tidak akan terjadi. Bagi saya sendiri, setelah mendengar ucapan itu, saya merasa marah. Kenapa dia menggunakan kata seperti itu ketika dia kesal.
Pendongkelan dan pendangkalan akidah kini makin kasat mata dan terang-terangan dilakukan di dalam masyarakat. Apa yang bisa kita lakukan?
Apabila pendangkalan akidah yang dimaksud akan mengarah pada atheis atau komunis, saya balik bertanya kenapa kita takut pada faham-faham itu? Kalau kita takut pada atheis atau pada suatu hal, maka ada sesuatu yang tidak beres. Ketidak beresan ini, bergantung pada diri kita sendiri. Kita tidak perlu takut pada komunis, toh komunis, di negerinya sendiri seperti Rusia, dan RRC, hancur kok. Alasannya karena mereka tidak punya pesantren, majlis ulama, IAIN, FUUI, dan masjid. Tapi kalau ini terjadi di Indonesia, saya hanya ingin tersenyum. Kenapa mesti takut? padahal kita mempunyai ribuan masjid, kiai, pesantren, kenapa takut? Dengan kekuatan ini, saya yakin atheis ataupun komunis tidak akan berhasil tumbuh. Namun atheis bisa muncul jika terjadi kesenjangan sosial. Seharusnya kita membuktikan bahwa atheis itu salah. Namun bagaimana kita bisa membuktikan kalau kita sendiri tidak mengenal atheis dan komunis, tanpa mempelajarinya.
Apa yang bisa dilakukan umat Islam untuk membentengi diri dari arus ghazwul fikr (perang pemikiran) yang makin deras?
Jawabannya sederhana, yakni harus ada yang belajar filsafat. Tidak usah semuanya, hanya orang-orang pintar yang akidahnya sudah benar, untuk menghadapi filsafat yang luar biasa. Karena filsafat membicarakan tentang tuhan, keadilan, kalau kita mau hancurkan mereka tidak akan bisa kalau hanya dilarang harus ada orang yang dapat membuktikan bahwa itu tidak benar. Kita harus bisa membuktikannya jangan hanya melalui pelarangan saja.
Benarkah metode dakwah yang dikembangkan selama ini kurang mengena?
Metode dakwah tidak bisa hanya dengan kata-kata harus ada pemecahannya. Seperti kasus keluar Islam karena mi instan. Apa yang sebenrnya terjadi? yang terjadi adalah kenapa kita tidak memberi mi instan. Seharusnya dakwah mampu menjaga umat tetap senang dalam Islam. Bukan hanya ngomong kamu salah. Kalau mereka pindah agama itu kesalahan kita, karena dakwah kita hanya omong. Dakwah mereka sudah menggunakan lambang ekonomi. Kesimpulannya, metode dakwah, dan pembelajaran Islam, tidak akan punya kemampuan untuk mengatasi kesulitan hidup, membuat orang amanah, kerja keras. Karena isinya hanya doktrin-doktrin eskatalogis, tentang malikat dengan lainnya. Harusnya ada penguatan di dalam diri umat. Jangan jadikan dakwah sebatas dongeng tentang malaikat. Namun sudah waktunya mengurus dakwah dengan cara liberal. Saya tidak setuju, tapi saya bisa maklum.
Lalu apa yang bisa dilakukan terkait kondisi ini?
Ada dua cara. Pertama, selektivitas, dan yang kedua, proses pembelajaran. Selektifitas telah diusulkan untuk lebih ketat, contohnya untuk tafsir hadis, seharusnya mahasiswa yang masuk telah menguasai Al quran. Proses pembelajaran mereka yang lebih penting dari seleksi. Di situ komitmen dosen juga dilihat. Saya harus mengakui, kurikulum harus dievaluasi, karena hal yang menyangkut akidah dan akhlak sangat kurang. Tapi itu tidak terjadi di IAIN saja, tetapi juga terjadi di SMA. Mata kuliah dasar, komponen fakultas, dan 40 persen komponen lokal yang bisa diubah. Disitulah kita bermain. Kurikulum harus dikembangkan, jangan hanya menerima.
http://www.republika.co.id/
Tidak ada ilmu yang tidak berguna, semuanya saling melengkapi. Walaupun harus diakui pertentangan atau kontroversi dalam suatu disiplin ilmu kerap terjadi. Tak terkecuali adalah filsafat. Apalagi filsafat adalah ilmu yang mengedepankan rasio, akal, pikiran, sehingga masalah yang tidak terlihat bisa diperdebatkan di dunia filsafat. Belum lagi ditambah filsafat adalah ilmu yang membicarakan tentang manusia, agama, tuhan,liberalisme, atheisme, marxisme, dan komunisme, yang terkadang bertentangan dengan Islam.
”Orang yang belajar filsafat haruslah orang pintar yang mempunyai akidah yang kuat, sehingga bisa membantu memaslahatkan umat,” ujar Direktur Pasca Sarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, DR Afif Muhammad MA.
Melihat penting dan sensitivnya ilmu filsafat, sudah barang tentu pengajaran atau metode yang diberikan harus sesuai dengan yang diharapkan. Karena sedikit saja bergeser, keimanan adalah taruhannya. Kepada wartawan Republika, , dosen di berbagai perguruan tinggi ini menuturkan seluk beluk filsafat termasuk metodenya. Berikut ini petikannya:
Ada yang ‘melarikan’ kasus yang terjadi di UIN Sunan Gunung Djati sebagai praktik pendangkalan akidah yang dilakukan lembaga pendidikan agama. bagaimana komentar Anda?
Kalau kata ‘praktik’, itu merupakan sesuatu yang diprogram dan direncanakan. Dan kalau yang dimaksud dalam pengertian itu, saya jamin tidak akan ada praktik pendangkalan akidah dalam kasus ini. Kalaupun perguruan tinggi itu mempunyai pemikiran yang macam-macam, kami kira untuk dunia akademik itu wajar. Karena kami bukan hanya memahami tapi mendorong orang untuk berpikir kritis. Begitupun dengan pemikiran mahasiswa yang bermacam-macam, dan saya kira itu juga wajar, karena mereka datang dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda.
Sejauh mana batas ilmiah pencarian ketuhanan?
Tentu akan ada batasan. Misalnya kita tidak boleh terlalu berpegang pada kesimpulan akal tanpa bimbingan wahyu. Banyak hal yang tidaak dapat dipecahkan oleh filsafat. Contohnya ketika kita sudah tidak bisa menjawab suatu persoalan, maka kita akan kembali pada wahyu. Namun akal dan wahyu pun berbeda.
Ketika kita berfilsafat maka pada kesimpulan pertama yang muncul adalah tuhan ada atau tiada. Dan apabila buktinya sama-sama kuat maka perlu didialogkan. Kalaupun dalam dialog itu menemukan kebuntuan karena ada keseimbangan antara akal dan wahyu, maka kita harus menggunakan hati nurani kita dengan bantuan agama. Namun untuk masalah ketuhanan sendiri, cara pandang masyarakat awam dan dunia akademik berbeda. Masyarakat awam diberi informasi, didongengi, dan didakwahi. Kalau dunia akademik diajak membuktikan dan bersifat kritis agar imannya semakin kuat.
Sampai batas mana kebenaran agama bisa dibantah atau didebat, bila memang perbedaan pendapat itu rahmah?
Alquran mengatakan jika kalian masih ragu-ragu terhadap ayat yang diturunkan kepada hambaku Muhammad ini, maka coba buat ayat seperti itu perkataan itu memperlihatkan bahwa Alquran menantang. Namun redaksi kata itu jangan hanya diartikan untuk membuat ayat serupa dengan nilai sastra yang sama pula. Tetapi kita harus memikirkan isinya pula. Sebenarnya ini menunjukan bahwa ketika Anda beriman, keimanan itu harus diuji terus menerus jangan disembunyikan ataupun dibentengi. Karena itu dapat mengakibatkan benteng keimanan yang kita anggap kuat pada awalnya ketika dihantam oleh filsafat akan membuat kalah. Inilah yang sering terjadi, kita selalu membentengi keimanan dengan tidak boleh ini dan itu, namun ketika kita bertemu dengan filsafat dan dibenturnya, kita tidak berdaya. Yang namanya filsafat itu terus menggelinding. Kalau kita tidak proaktif kita akan diserang terus.
Kalau boleh tahu, apa alasan itu juga yang membuat mahasiswa Bapak berbuat demikian?
Salah satunya itu. Namun perkataan itu berawal dari kekesalan mereka atas kebobrokan kondisi kita. Hingga kini, koruptor lepas namun penjahat kecil terus ditangkapi. Dengan pemikiran mereka yang masih muda dan belajar filsafat tanpa akidah yang kuat, yang keluar adalah hal itu. Permasalahannya ada pada bahasa yang digunakannya. Kalau saja kemarahan itu bisa mereka cover dalam bahasa yang lebih santun dan bermoral, maka persoalan ini tidak akan terjadi. Bagi saya sendiri, setelah mendengar ucapan itu, saya merasa marah. Kenapa dia menggunakan kata seperti itu ketika dia kesal.
Pendongkelan dan pendangkalan akidah kini makin kasat mata dan terang-terangan dilakukan di dalam masyarakat. Apa yang bisa kita lakukan?
Apabila pendangkalan akidah yang dimaksud akan mengarah pada atheis atau komunis, saya balik bertanya kenapa kita takut pada faham-faham itu? Kalau kita takut pada atheis atau pada suatu hal, maka ada sesuatu yang tidak beres. Ketidak beresan ini, bergantung pada diri kita sendiri. Kita tidak perlu takut pada komunis, toh komunis, di negerinya sendiri seperti Rusia, dan RRC, hancur kok. Alasannya karena mereka tidak punya pesantren, majlis ulama, IAIN, FUUI, dan masjid. Tapi kalau ini terjadi di Indonesia, saya hanya ingin tersenyum. Kenapa mesti takut? padahal kita mempunyai ribuan masjid, kiai, pesantren, kenapa takut? Dengan kekuatan ini, saya yakin atheis ataupun komunis tidak akan berhasil tumbuh. Namun atheis bisa muncul jika terjadi kesenjangan sosial. Seharusnya kita membuktikan bahwa atheis itu salah. Namun bagaimana kita bisa membuktikan kalau kita sendiri tidak mengenal atheis dan komunis, tanpa mempelajarinya.
Apa yang bisa dilakukan umat Islam untuk membentengi diri dari arus ghazwul fikr (perang pemikiran) yang makin deras?
Jawabannya sederhana, yakni harus ada yang belajar filsafat. Tidak usah semuanya, hanya orang-orang pintar yang akidahnya sudah benar, untuk menghadapi filsafat yang luar biasa. Karena filsafat membicarakan tentang tuhan, keadilan, kalau kita mau hancurkan mereka tidak akan bisa kalau hanya dilarang harus ada orang yang dapat membuktikan bahwa itu tidak benar. Kita harus bisa membuktikannya jangan hanya melalui pelarangan saja.
Benarkah metode dakwah yang dikembangkan selama ini kurang mengena?
Metode dakwah tidak bisa hanya dengan kata-kata harus ada pemecahannya. Seperti kasus keluar Islam karena mi instan. Apa yang sebenrnya terjadi? yang terjadi adalah kenapa kita tidak memberi mi instan. Seharusnya dakwah mampu menjaga umat tetap senang dalam Islam. Bukan hanya ngomong kamu salah. Kalau mereka pindah agama itu kesalahan kita, karena dakwah kita hanya omong. Dakwah mereka sudah menggunakan lambang ekonomi. Kesimpulannya, metode dakwah, dan pembelajaran Islam, tidak akan punya kemampuan untuk mengatasi kesulitan hidup, membuat orang amanah, kerja keras. Karena isinya hanya doktrin-doktrin eskatalogis, tentang malikat dengan lainnya. Harusnya ada penguatan di dalam diri umat. Jangan jadikan dakwah sebatas dongeng tentang malaikat. Namun sudah waktunya mengurus dakwah dengan cara liberal. Saya tidak setuju, tapi saya bisa maklum.
Lalu apa yang bisa dilakukan terkait kondisi ini?
Ada dua cara. Pertama, selektivitas, dan yang kedua, proses pembelajaran. Selektifitas telah diusulkan untuk lebih ketat, contohnya untuk tafsir hadis, seharusnya mahasiswa yang masuk telah menguasai Al quran. Proses pembelajaran mereka yang lebih penting dari seleksi. Di situ komitmen dosen juga dilihat. Saya harus mengakui, kurikulum harus dievaluasi, karena hal yang menyangkut akidah dan akhlak sangat kurang. Tapi itu tidak terjadi di IAIN saja, tetapi juga terjadi di SMA. Mata kuliah dasar, komponen fakultas, dan 40 persen komponen lokal yang bisa diubah. Disitulah kita bermain. Kurikulum harus dikembangkan, jangan hanya menerima.
D. Zawawi Imron, Dari Madura Menemukan Indonesia
Ilham Khoiri
oase.kompas.com
D. Zawawi Imron, penyair asal Madura, Jawa Timur, itu sudah lama mengembangkan puisi modern yang bertolak dari khazanah budaya tradisional Pulau Garam itu. Tak hanya memperkaya ekspresi seni sastra modern Indonesia, karya-karyanya yang memuliakan kemanusiaan juga diapresiasi dunia internasional.
oase.kompas.com
D. Zawawi Imron, penyair asal Madura, Jawa Timur, itu sudah lama mengembangkan puisi modern yang bertolak dari khazanah budaya tradisional Pulau Garam itu. Tak hanya memperkaya ekspresi seni sastra modern Indonesia, karya-karyanya yang memuliakan kemanusiaan juga diapresiasi dunia internasional.
Rabu, 13 Oktober 2010
Danarto, “Haji Itu Perlu Dorongan Spiritual Yang Kuat”
Wawancara ini juga dimuat dalam Majalah MataAir edisi 18 “Banyak Jalan Menuju Makkah”
http://www.gusmus.net/
Siapa yang tidak kenal Danarto. Budayawan gaek dan penulis buku “Orang Jawa Naik Haji” ini dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Kali ini, Danarto akan mengisahkan pengalamannya berhaji serta berbagai pendapat dan ungkapannya tentang fenomena unik ibadah haji kepada anda.
Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar. Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958—1961, ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan seni lukis.
Danarto aktif mengamati dan menulis tentang sufisme. Sedari belia, Danarto sudah punya pengalaman menulis cerita pendek, melukis, menyair, menyutradarai teater dan menjadi penata artistik. Kumpulan cerpennya, Godlob (1975) sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Abracadabra oleh Harry Aveling, pengamat sastra Indonesia dari Australia. Beberapa cerpennya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Belanda. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan hadiah sastra pada tahun 1982, Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama tahun 1982. Burton Raffel, pengamat sastra dari Amerika, sampai-sampai mengomentarinya dalam The Asian Wall Street Journal, 28 Februari 1980.
Mantan anggota inti Sanggarbambu ini pernah menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta selama 11 tahun dan wartawan majalah Zaman selama 6 tahun. Pada tahun 1983, ia menunaikan ibadah haji dan menghasilkan sebuah laporan perjalanan yang kemudian diterbitkan PT Pustaka Grafiti Pers, Jakarta dengan judul “Orang Jawa Naik Haji”. Danarto juga pernah bergabung dengan teater Sardono yang tampil di Eropa Barat dan Asia tahun 1974. Di samping berpameran “Kanvas Kosong” (1973), ia juga berpameran puisi konkret (1978).
MataAir mewancarainya seputar pengalaman haji dalam sebuah pertemuan sore hari di Mal Pondok Indah. Berikut wawancara selengkapnya.
Masyarakat kita kok kayaknya hasrat berhaji tidak pernah luntur. Bagaimana menurut Anda?
Semangat untuk berhaji masyarakat kita memang tidak ada kendornya, karena keimanan yang tinggi. Setiap jamaah calon haji maupun yang sudah berhaji merasakan bahwa untuk menunaikan ibadah haji membutuhkan suatu dorongan spiritual yang kuat, dan dorongan spiritual itu selalu dipunyai oleh para jemaah calon haji.
Anda pernah menulis buku Orang Jawa Naik Haji. Apa Anda memang ingin mengungkap sesuatu yang unik dari ibadah haji?
Buku Orang Jawa Naik Haji yang saya tulis itu judulnya itu bukan dari saya, tapi dari ide Gunawan Muhammad. Judul itu membuat buku itu laku. Sebenarnya, tidak ada sesuatu yang istimewa dalam pergi haji bagi masyarakat manapun. Tetapi, ketika orang Jawa dicantumkan dalam judul buku itu, orang jadi kepingin baca. Memang ada karakter Jawa dalam buku itu yang berbeda dengan suku-suku lain. Misalnya, saya bisa berhaji apa adanya, secara santai dan kemampuan pasrah yang mutlak..
Konon, seperti Sultan Hamengkubono IX tidak mau berhaji. Apa lantaran ada kepercayaan dalam budaya Jawa yang memandang sinis haji?
Mungkin tidak hanya bagi Sri Sultan Hamengkubono IX, orang kayak Emha Ainun Najib juga tidak mau berhaji. Barangkali begini. Bagi Sri Sultan, berhaji itu merupakan satu kemewahan, sehingga bertentangan dengan sifat-sifat kerakyatan Sultan. Sedang, bagi Emha, barangkali berhaji itu akan menimbulkan kedudukan status sosial yang rancu. Artinya, orang tidak bisa begitu saja dipandang sebagai saudara, apalagi kemudian dengan embel-embel haji, orang jadi punya pamrih yang mendalam.
Dalam haji, bagaimana menyelaraskan ritual dzahir dengan yang spiritual?
Pergi haji itu pertama-tama adalah iman, kemudian kepasrahan serta harapan akan dicapainya suatu kondisi spiritual yang bisa memuaskan. Ketika saya pergi haji, saya tidak mendapatkan suatu sambutan yang ramah. Saya selalu mendapatkan kesukaran dan kendala. Meskipun demikian, karena kepasrahan yang tinggi, kendala itu saya anggap ringan saja.
Maksud kendala dan kesulitan itu apa?
Artinya, kedudukan pembimbing itu tidak ada artinya apa-apa di Tanah Suci. Setiap jamaah punya problematika sendiri-sendiri. Berdasarkan watak dari jamaah itu sendiri, dan dari sini setiap jamaah mendapatkan pengalamannya sendiri-sendiri. Ada saja orang yang enggak mau berhaji lantaran takut dikerjain di Tanah Suci misalnya.
Ada kejadian unik?
Iya memang terjadi. Misalnya gini. Saya pernah terjebak kemacetan 14 jam di dalam bus, tanpa makanan dan minuman. Itu kan sesuatu yang mustahil. Tetapi, saya alami juga itu, karena ada kondisi yang memungkinkan kejadian itu menimpa tiap jamaah.
Jamaah lain juga merasakan. Banyak orang-orang tua yang lapar dan haus. Sementara, ada bayi yang tidur nyaman, tidak terganggu apa-apa. Jadi, betul-betul Tanah Suci itu beroperasi terhadap kejiwaan orang–perorang.
Calon haji harus mempersiapakan segala sesuatunya termasuk kehidupan rohani dan tindakan sehari-harinya. Ucapan, perilaku dan pikiran-pikirannya akan menentukan sepak terjang berhaji di Tanah Suci. Pendeknya, ada dua fakta, ada jamaah yang mendapat kesukaran berjam-jam dan ada jamaah yang tidak mendapatkan halangan apapun. Padahal, harinya sama, tempatnya sama dan ritualnya sama.
Ada yang sadar bahwa peristiwa itu imbas dari kehidupan rohaninya. Tetapi, ada yang tidak sadar bahwa kejadian itu betul-betul kesukaran yang bersifat fisikal semata, karena kecerobohan dari panitia haji.
Saya pergi haji itu tahun 1983. Kala itu, satu kamar yang luasnya sepuluh meter persegi bisa dihuni 50 jamaah dengan satu kamar mandi. Wah, sengsara betul tahun-tahun itu. Di atas tikar tempat tidur ada jemuran. Makanya, bukan tidak mungkin waktu tidur mukanya ketetesan air jemuran. Juga, antrian yang panjang dikamar mandi. Betul-betul ada kebodohan di sana. Ada jiwa yang mampat di sana yang mungkin bagi Emha pasti enggak bisa diterima sebagai ketololan.
Bagaimana saat Anda melihat Ka’bah?
Pertamakali, saya menatap Ka’bah saya merasa kaget sekali, ternyata Ka’bah begitu agung dan mempengaruhi kegiatan sehari-hari saya dalam melaksanakan rukun-rukun haji.
Bagaimana dengan haji eksekutif?
Haji eksekutif itu kan haji yang memenuhi standar sebagai pegawai negeri sipil atau suatu kedudukan dalam pemerintahan, sehingga mereka menganggap hal itu sebagai suatu tugas yang dibebankan oleh negara kepadanya. Dan jika tugas itu sudah terlaksana dengan baik, maka ya sudah cukup.
Pergi haji itu kan juga bermotivasi adanya kerinduan spiritual?
Ya bisa saja. Yah, rindu akan kekayaan spiritual yang bisa didapat dari pengalaman menunaikan ibadah haji. Sehingga, banyak orang kaya raya mau bersusah payah berhaji. Memang haji bisa dilakukan secara gampang. Misalnya, haji itu kan hanya satu syarat, yaitu wukuf di Arafah. Jadi, begitu mendarat di bandara Jeddah kita bisa langsung ke Arafah untuk wukuf dari pagi sampai sore. Sesudah itu, ya sudah haji. Walaupun tidak mengikuti rukun-rukun yang lain, misalnya lempar jumrah dan sebagainya.
Apa yang paling berat saat wukuf di Arafah?
Yang berat itu wukuf di Arafah dan juga melempar jumrah di Mina, karena harus melempar jumrah berkali-kali ditengah dua setengah juta umat Islam.
Dulu, haji bisa menjadi wahana meningkatkan semangat Pan Islamisme.
Dulu, saya kira bisa. Tetapi, sekarang tidak, karena masing-masing negara memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Misalnya, Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia yang sangat condong ke Barat. Kurang memperhatikan kepentingan-kepentingan rakyat Palestina misalnya. Mungkin, karena posisi Indonesia sekarang serba susah atau serba salah karena berpihak ke Barat. Tapi, kalau tidak berpihak pada Barat, bangsa ini mungkin tidak bisa berlangsung kehidupannya.
Pada saat menjalankan haji kira-kira pada momen ritual apa Anda merasakan kenikmatan spiritual?
Momen yang paling memuaskan secara spiritual bahwa saya bisa berhasil sampai ke Tanah Suci dengan uang tabungan yang diangsur sedikit demi sedikit. Ketika sampai di Tanah Suci, saya merasa bahwa ini suatu berkah yang sungguh di luar kemampuan saya sebenarnya.
Pandangan Anda tentang orang yang berhaji berkali-kali?
Mereka mungkin mendapatkan kepuasan spiritual dari ibadah haji. Walaupun, harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk berhaji lagi. Ada janji kedudukan spriritual yang bisa didapat dari Tanah Suci itu. Seandainya itu merupakan bentuk riya’ atau sekedar hanya untuk gengsi, rasanya tidak mungkin dilaksanakan berkali-kali, karena akan bosan.
Kayaknya ada yang suda berhaji, tetapi kelakuannya tidak berubah?
Saya kira banyak. Pulang haji kelakuannya tidak berubah. Misalnya, tetap saja melakukan kejahatan. Tetapi, itu ya memang sesuatu yang terjadi secara lumrah. Mengingat bahwa bagi sebagian orang mungkin pergi haji merupakan suatu bentuk pencapaian cita-cita yang bersifat material-finansial. Sehingga, bagi dia tidak perlu ada perubahan atau jaminan spiritual yang bisa di dapat dari pergi haji itu.
Menurut Anda berhaji yang ideal itu bagaimana?
Berhaji yang ideal itu adalah yang dilandasi keimanan, keihklasan dan harapan. untuk mendapatkan kekuatan atau kekayaan spiritual.
Meningkatnya jumlah orang berhaji apa bisa jadi petunjuk bahwa spiritualitas masyarakat kita juga meningkat?
Bisa saja. Meningkatnya jumlah jamah haji itu menandakan juga meningkatnya kekayaan spiritual yang didapat dari Tanah Suci.
Haji diposisikan sebagai rukun Islam yang terakhir. Apakah ini berarti sebagai puncak pencapaian spiritual?
Iya. Haji merupakan gong di rukun Islam. Kalau ada yang tidak butuh pergi haji, barangkali mereka yang berpikiran hal itu menjadi sesuatu yang sangat memeras tenaga dan biaya.
Pesan-pesan Anda untuk mereka yang mau berhaji?
Yang paling penting adalah kehidupan sehari-hari harus ditata betul sebelum keberangkatan. Misalnya, cara berfikir, cara ngomong, cara bertindak sehari-hari yang itu akan mempengaruhi kelangsungan atau kelancaran berhaji di sana. Yah, ada istilah menjadi Muslim yang kaffah.. Sebenarnya, sampai kepada wudhu yang benar, berpakaian yang benar, hubungan antar sesama yang baik, itu semua akan sangat mempengaruhi kelancaran haji kita. (mz)
Sumber: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis⊂=6&id=900
http://www.gusmus.net/
Siapa yang tidak kenal Danarto. Budayawan gaek dan penulis buku “Orang Jawa Naik Haji” ini dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Kali ini, Danarto akan mengisahkan pengalamannya berhaji serta berbagai pendapat dan ungkapannya tentang fenomena unik ibadah haji kepada anda.
Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar. Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958—1961, ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan seni lukis.
Danarto aktif mengamati dan menulis tentang sufisme. Sedari belia, Danarto sudah punya pengalaman menulis cerita pendek, melukis, menyair, menyutradarai teater dan menjadi penata artistik. Kumpulan cerpennya, Godlob (1975) sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Abracadabra oleh Harry Aveling, pengamat sastra Indonesia dari Australia. Beberapa cerpennya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Belanda. Kumpulan cerpennya yang lain, Adam Ma’rifat, memenangkan hadiah sastra pada tahun 1982, Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama tahun 1982. Burton Raffel, pengamat sastra dari Amerika, sampai-sampai mengomentarinya dalam The Asian Wall Street Journal, 28 Februari 1980.
Mantan anggota inti Sanggarbambu ini pernah menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta selama 11 tahun dan wartawan majalah Zaman selama 6 tahun. Pada tahun 1983, ia menunaikan ibadah haji dan menghasilkan sebuah laporan perjalanan yang kemudian diterbitkan PT Pustaka Grafiti Pers, Jakarta dengan judul “Orang Jawa Naik Haji”. Danarto juga pernah bergabung dengan teater Sardono yang tampil di Eropa Barat dan Asia tahun 1974. Di samping berpameran “Kanvas Kosong” (1973), ia juga berpameran puisi konkret (1978).
MataAir mewancarainya seputar pengalaman haji dalam sebuah pertemuan sore hari di Mal Pondok Indah. Berikut wawancara selengkapnya.
Masyarakat kita kok kayaknya hasrat berhaji tidak pernah luntur. Bagaimana menurut Anda?
Semangat untuk berhaji masyarakat kita memang tidak ada kendornya, karena keimanan yang tinggi. Setiap jamaah calon haji maupun yang sudah berhaji merasakan bahwa untuk menunaikan ibadah haji membutuhkan suatu dorongan spiritual yang kuat, dan dorongan spiritual itu selalu dipunyai oleh para jemaah calon haji.
Anda pernah menulis buku Orang Jawa Naik Haji. Apa Anda memang ingin mengungkap sesuatu yang unik dari ibadah haji?
Buku Orang Jawa Naik Haji yang saya tulis itu judulnya itu bukan dari saya, tapi dari ide Gunawan Muhammad. Judul itu membuat buku itu laku. Sebenarnya, tidak ada sesuatu yang istimewa dalam pergi haji bagi masyarakat manapun. Tetapi, ketika orang Jawa dicantumkan dalam judul buku itu, orang jadi kepingin baca. Memang ada karakter Jawa dalam buku itu yang berbeda dengan suku-suku lain. Misalnya, saya bisa berhaji apa adanya, secara santai dan kemampuan pasrah yang mutlak..
Konon, seperti Sultan Hamengkubono IX tidak mau berhaji. Apa lantaran ada kepercayaan dalam budaya Jawa yang memandang sinis haji?
Mungkin tidak hanya bagi Sri Sultan Hamengkubono IX, orang kayak Emha Ainun Najib juga tidak mau berhaji. Barangkali begini. Bagi Sri Sultan, berhaji itu merupakan satu kemewahan, sehingga bertentangan dengan sifat-sifat kerakyatan Sultan. Sedang, bagi Emha, barangkali berhaji itu akan menimbulkan kedudukan status sosial yang rancu. Artinya, orang tidak bisa begitu saja dipandang sebagai saudara, apalagi kemudian dengan embel-embel haji, orang jadi punya pamrih yang mendalam.
Dalam haji, bagaimana menyelaraskan ritual dzahir dengan yang spiritual?
Pergi haji itu pertama-tama adalah iman, kemudian kepasrahan serta harapan akan dicapainya suatu kondisi spiritual yang bisa memuaskan. Ketika saya pergi haji, saya tidak mendapatkan suatu sambutan yang ramah. Saya selalu mendapatkan kesukaran dan kendala. Meskipun demikian, karena kepasrahan yang tinggi, kendala itu saya anggap ringan saja.
Maksud kendala dan kesulitan itu apa?
Artinya, kedudukan pembimbing itu tidak ada artinya apa-apa di Tanah Suci. Setiap jamaah punya problematika sendiri-sendiri. Berdasarkan watak dari jamaah itu sendiri, dan dari sini setiap jamaah mendapatkan pengalamannya sendiri-sendiri. Ada saja orang yang enggak mau berhaji lantaran takut dikerjain di Tanah Suci misalnya.
Ada kejadian unik?
Iya memang terjadi. Misalnya gini. Saya pernah terjebak kemacetan 14 jam di dalam bus, tanpa makanan dan minuman. Itu kan sesuatu yang mustahil. Tetapi, saya alami juga itu, karena ada kondisi yang memungkinkan kejadian itu menimpa tiap jamaah.
Jamaah lain juga merasakan. Banyak orang-orang tua yang lapar dan haus. Sementara, ada bayi yang tidur nyaman, tidak terganggu apa-apa. Jadi, betul-betul Tanah Suci itu beroperasi terhadap kejiwaan orang–perorang.
Calon haji harus mempersiapakan segala sesuatunya termasuk kehidupan rohani dan tindakan sehari-harinya. Ucapan, perilaku dan pikiran-pikirannya akan menentukan sepak terjang berhaji di Tanah Suci. Pendeknya, ada dua fakta, ada jamaah yang mendapat kesukaran berjam-jam dan ada jamaah yang tidak mendapatkan halangan apapun. Padahal, harinya sama, tempatnya sama dan ritualnya sama.
Ada yang sadar bahwa peristiwa itu imbas dari kehidupan rohaninya. Tetapi, ada yang tidak sadar bahwa kejadian itu betul-betul kesukaran yang bersifat fisikal semata, karena kecerobohan dari panitia haji.
Saya pergi haji itu tahun 1983. Kala itu, satu kamar yang luasnya sepuluh meter persegi bisa dihuni 50 jamaah dengan satu kamar mandi. Wah, sengsara betul tahun-tahun itu. Di atas tikar tempat tidur ada jemuran. Makanya, bukan tidak mungkin waktu tidur mukanya ketetesan air jemuran. Juga, antrian yang panjang dikamar mandi. Betul-betul ada kebodohan di sana. Ada jiwa yang mampat di sana yang mungkin bagi Emha pasti enggak bisa diterima sebagai ketololan.
Bagaimana saat Anda melihat Ka’bah?
Pertamakali, saya menatap Ka’bah saya merasa kaget sekali, ternyata Ka’bah begitu agung dan mempengaruhi kegiatan sehari-hari saya dalam melaksanakan rukun-rukun haji.
Bagaimana dengan haji eksekutif?
Haji eksekutif itu kan haji yang memenuhi standar sebagai pegawai negeri sipil atau suatu kedudukan dalam pemerintahan, sehingga mereka menganggap hal itu sebagai suatu tugas yang dibebankan oleh negara kepadanya. Dan jika tugas itu sudah terlaksana dengan baik, maka ya sudah cukup.
Pergi haji itu kan juga bermotivasi adanya kerinduan spiritual?
Ya bisa saja. Yah, rindu akan kekayaan spiritual yang bisa didapat dari pengalaman menunaikan ibadah haji. Sehingga, banyak orang kaya raya mau bersusah payah berhaji. Memang haji bisa dilakukan secara gampang. Misalnya, haji itu kan hanya satu syarat, yaitu wukuf di Arafah. Jadi, begitu mendarat di bandara Jeddah kita bisa langsung ke Arafah untuk wukuf dari pagi sampai sore. Sesudah itu, ya sudah haji. Walaupun tidak mengikuti rukun-rukun yang lain, misalnya lempar jumrah dan sebagainya.
Apa yang paling berat saat wukuf di Arafah?
Yang berat itu wukuf di Arafah dan juga melempar jumrah di Mina, karena harus melempar jumrah berkali-kali ditengah dua setengah juta umat Islam.
Dulu, haji bisa menjadi wahana meningkatkan semangat Pan Islamisme.
Dulu, saya kira bisa. Tetapi, sekarang tidak, karena masing-masing negara memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Misalnya, Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia yang sangat condong ke Barat. Kurang memperhatikan kepentingan-kepentingan rakyat Palestina misalnya. Mungkin, karena posisi Indonesia sekarang serba susah atau serba salah karena berpihak ke Barat. Tapi, kalau tidak berpihak pada Barat, bangsa ini mungkin tidak bisa berlangsung kehidupannya.
Pada saat menjalankan haji kira-kira pada momen ritual apa Anda merasakan kenikmatan spiritual?
Momen yang paling memuaskan secara spiritual bahwa saya bisa berhasil sampai ke Tanah Suci dengan uang tabungan yang diangsur sedikit demi sedikit. Ketika sampai di Tanah Suci, saya merasa bahwa ini suatu berkah yang sungguh di luar kemampuan saya sebenarnya.
Pandangan Anda tentang orang yang berhaji berkali-kali?
Mereka mungkin mendapatkan kepuasan spiritual dari ibadah haji. Walaupun, harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk berhaji lagi. Ada janji kedudukan spriritual yang bisa didapat dari Tanah Suci itu. Seandainya itu merupakan bentuk riya’ atau sekedar hanya untuk gengsi, rasanya tidak mungkin dilaksanakan berkali-kali, karena akan bosan.
Kayaknya ada yang suda berhaji, tetapi kelakuannya tidak berubah?
Saya kira banyak. Pulang haji kelakuannya tidak berubah. Misalnya, tetap saja melakukan kejahatan. Tetapi, itu ya memang sesuatu yang terjadi secara lumrah. Mengingat bahwa bagi sebagian orang mungkin pergi haji merupakan suatu bentuk pencapaian cita-cita yang bersifat material-finansial. Sehingga, bagi dia tidak perlu ada perubahan atau jaminan spiritual yang bisa di dapat dari pergi haji itu.
Menurut Anda berhaji yang ideal itu bagaimana?
Berhaji yang ideal itu adalah yang dilandasi keimanan, keihklasan dan harapan. untuk mendapatkan kekuatan atau kekayaan spiritual.
Meningkatnya jumlah orang berhaji apa bisa jadi petunjuk bahwa spiritualitas masyarakat kita juga meningkat?
Bisa saja. Meningkatnya jumlah jamah haji itu menandakan juga meningkatnya kekayaan spiritual yang didapat dari Tanah Suci.
Haji diposisikan sebagai rukun Islam yang terakhir. Apakah ini berarti sebagai puncak pencapaian spiritual?
Iya. Haji merupakan gong di rukun Islam. Kalau ada yang tidak butuh pergi haji, barangkali mereka yang berpikiran hal itu menjadi sesuatu yang sangat memeras tenaga dan biaya.
Pesan-pesan Anda untuk mereka yang mau berhaji?
Yang paling penting adalah kehidupan sehari-hari harus ditata betul sebelum keberangkatan. Misalnya, cara berfikir, cara ngomong, cara bertindak sehari-hari yang itu akan mempengaruhi kelangsungan atau kelancaran berhaji di sana. Yah, ada istilah menjadi Muslim yang kaffah.. Sebenarnya, sampai kepada wudhu yang benar, berpakaian yang benar, hubungan antar sesama yang baik, itu semua akan sangat mempengaruhi kelancaran haji kita. (mz)
Sumber: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis⊂=6&id=900
Jumat, 01 Oktober 2010
SEBELUM JADI PENULIS, JADILAH PEMBACA YANG RAKUS
Petikan diskusi Ahmad
Tohari dengan para murid SMU Pelita Harapan
ruangbaca.com
CAHAYA pagi masih melumuri lapangan basket SMU Pelita Harapan, Karawaci. Dua tim pelajar sedang baku serang untuk membukukan kemenangan. Tak jauh dari lapangan, terlindung dari sinar mentari yang hangat, sepetak ruang yang tersambung dengan kantin siswa disulap menjadi tempat pameran di mana ratusan buku terhampar. Sebuah spanduk terpampang: “Bulan Bahasa 2006”. Ruangbaca mendekati gerai penerbit yang menjual trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dalam kemasan baru. “Sudah habis terjual, pak,” jawab si penjaga gerai.
ruangbaca.com
CAHAYA pagi masih melumuri lapangan basket SMU Pelita Harapan, Karawaci. Dua tim pelajar sedang baku serang untuk membukukan kemenangan. Tak jauh dari lapangan, terlindung dari sinar mentari yang hangat, sepetak ruang yang tersambung dengan kantin siswa disulap menjadi tempat pameran di mana ratusan buku terhampar. Sebuah spanduk terpampang: “Bulan Bahasa 2006”. Ruangbaca mendekati gerai penerbit yang menjual trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dalam kemasan baru. “Sudah habis terjual, pak,” jawab si penjaga gerai.
Senin, 27 September 2010
Sastra Islam versus Penyempitan Ilmu Islam
http://gusdurian.net/
Majalah Horison, 7/1984
Wawancara Abdurrahman Wahid, sang kiai dari Ciganjur, dengan Hardi, wartawan Majalah Horison. Tulisan ini masih sangat relevan bagi kita, untuk mengkaji gugus pemikiran Gus Dur. Terutama dalam hal dialektika antara Islam sebagai sebuah agama, dengan Islam sebagai sebuah hasil kebudaayaan. Dengan membaca ini, –meski dalam pandangan saya materi wawancara lebih bisa diperdalam,– setidaknya ada pintu masuk bagi kita untuk mempelajari setiap perca pemikiran sang cucu Hadlratusy-Syaikh Hasyim Asy’arie tersebut. (Saiful Amien Sholihin)
Majalah Horison, 7/1984
Wawancara Abdurrahman Wahid, sang kiai dari Ciganjur, dengan Hardi, wartawan Majalah Horison. Tulisan ini masih sangat relevan bagi kita, untuk mengkaji gugus pemikiran Gus Dur. Terutama dalam hal dialektika antara Islam sebagai sebuah agama, dengan Islam sebagai sebuah hasil kebudaayaan. Dengan membaca ini, –meski dalam pandangan saya materi wawancara lebih bisa diperdalam,– setidaknya ada pintu masuk bagi kita untuk mempelajari setiap perca pemikiran sang cucu Hadlratusy-Syaikh Hasyim Asy’arie tersebut. (Saiful Amien Sholihin)
Minggu, 22 Agustus 2010
Abdul Hadi W. M., Seni Itu Kendaraan Naik
Abdul Hadi W.M., Kurniawan / Wawancara
http://www.ruangbaca.com/
Kesenian, bagi kaum sufi, adalah representasi simbolik dari pengalaman kerohaniannya. Demikian pandangan Abdul Hadi W. M. (Wiji Muthari), sastrawan kelahiran Sumenep, Madura pada 24 Juni 1946. Dia mulai menekuni sastra sufi sejak kuliah di Fakultas Sastra dan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Bahkan, saat meraih gelar Ph.D di Universiti Sains Malaysia dia menulis disertasi yang diterbitkan sebagai Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri
Sebagai sastrawan, dia menulis sajak-sajak ketuhanan. Salah satu yang terkenal seperti “Tuhan, Kita Begitu Dekat”: Tuhan,/Kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu/… Tuhan,/Kita begitu dekat/Seperti kain dengan kapas/aku kapas dalam kainmu.
Dia juga menulis banyak buku tentang sastra sufi dan kebudayaan Islam, di antaranya Rumi, Sufi dan Penyair, Sastra Sufi, Sebuah Antologi, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, dan Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya.
Untuk mengetahui seberapa jauh Rumi mempengaruhi sastra dan kebudayaan Indonesia, wartawan Tempo Kurniawan dan fotografer Dimas Adityo menemui Abdul Hadi di ruang kerjanya di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pada Senin, 13 Agustus lalu. Berikut ini petikannya.
Pak Abdul Hadi, sejak kapan dunia kesastraan Indonesia dipengaruhi oleh karya sastra Jalaluddin Rumi?
Dalam sejarah kesasatraan Melayu, pengaruh sastra sufi Rumi telah muncul sejak abad ke-15. Salah seorang tokoh yang banyak mendapatkan pengaruh, artinya berinteraksi dengan pemikiran Rumi, itu adalah Sunan Bonang, satu dari para wali yang menyebarkan agama Islam di Nusantara.
Apakah wali-wali lain tidak?
Masalahnya warisan teks yang tersedia sejauh ini baru dari Sunan Bonang. Sedangkan teks dari para wali lain tak ada atau sukar mencarinya. Dalam buku saya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, saya telah menguraikan tentang Sunan Bonang, hubungannya dengan Rumi, gagasan cinta Rumi dan lainnya.
Bagaimana awal perjumpaannya dengan Rumi?
Pada akhir abad ke-15 Sunan Bonang pergi ke Samudera Pasai melalui Malaka bersama Sunan Giri. Dia belajar pada guru yang namanya Syekh Bari. Ini dia abadikan dalam bukunya Pitutur Seh Bari, yang kemudian diterjemahkan dan disunting oleh GWJ Drewes sebagai The Admonition of Seh Bari pada 1967. Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan di situ dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali dan Rumi.
Salah satu pengaruh Rumi yang paling jelas terahdap Sunan Bonang adalah, pertama, ajaran cinta. Kemudian, menerjemahkan asketisme itu dengan kesalehan sosial, di mana aktivitas sosial sangat diutamakan sebagai padanan dari zikir. Lalu, estetika. Pemikiran Rumi tentang seni sangat berpengaruh terhadap Sunan Bonang.
Bisa Anda uraikan konsep seni bagi Rumi?
Rumi berpikir bahwa karya sastra atau seni itu simbolisasi, representasi simbolik dari ide dan pengalaman kerohanian. Pengalaman kerohanian yang paling tinggi adalah tafakur, semacam kontemplasi untuk mencapai kesatuan mistik dengan Tuhan.
Karena sebagai simbol, karya seni itu seakan sebagai jalan naik atau kendaraan naik dari pengalaman empiris ke pengalaman kerohanian.
Konsep ini, contohnya, terlihat dalam komposisi gamelan yang dibuat Sunan Bonang, Gending Dharma, yang berpengaruh terhadap gamelan Jawa kini. Konsepnya konsentrik. Nada-nada, semua bunyi gamelan itu, membawa suasana terpusat ke alam transenden.
Apa bedanya dengan gamelan lain?
Gamelan Sunan Bonang agak berbeda, misalnya, dengan gamelan Hindu. Gamelan jaman Hindu itu digunakan untuk drama, pemujaan kepada dewa-dewa, sehingga eksotik sifatnya, seperti pada gamelan Bali. Gamelan Sunan Bonang bersifat konsentrik. Kedua jenis gamelan ini membawa perubahan pada gamelan Jawa, yang merupakan campuran dari estetika sufi dan estetika tantriisme Hindu.
Adakah bentuk modern dari gamelan Sunan Bonang ini?
Itu gending Kebo Giro (yang biasa mengiringi prosesi perkawinan adat Jawa). Gending itu sangat kontemplatif sekali. Juga tembang Lir-ilir, lir-ilir (yang konon ciptaan Sunan Kalijaga). [Abdul Hadi sejenak menembangkannya: Lir-ilir, lir-ilir/tandure wus sumilir/Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar....] Nah, itu kan jaman Sunan Bonang dan Kalijaga.
Bagaimana dengan sastranya?
Pengaruh Rumi dan ajaran tasawuf paling banyak ditemukan dalam teks-teks suluk karya Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati. Keduanya adalah yang paling terpelajar dalam hal sastra sufi di antara para wali. Di Jawa suluk adalah karangan bercorak tasawuf yang disampaikan dalam bentuk tembang. Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal adalah Suluk Wujil.
Dari mana saja sumber ajaran tasawuf mereka?
Setidak-tidaknya ada lima tokoh tasawuf yang populer di Nusantara pada abad-abad itu. Yang pertama, Imam Ghazali, lewat ajaran etikanya. Kedua, falsafah metafisik tentang wujud dari Ibn Arabi. Kemudian, Abdul Karim al-Jili tentang ajaran insan kamil. Tapi, dari segi seni atau sastra, yang banyak memberikan pengaruh adalah Fariduddin Attar dan Jalaluddin Rumi. Ini terbukti dari banyaknya terjemahan dari karya-karya penyair Persia seperti Attar dan Rumi.
Jejak mereka juga tampak dari pemakaian simbol burung, yang banyak dipakai dalam motif seni ukir. Itu kan bermula dari karya Attar yang disadur ke dalam bahasa Melayu menjadi, Hikayat Burung Pingai, yang kemudian dipopulerkan lagi oleh Hamzah Fansuri dengan sajak-sajaknya tentang burung. Di situ burung menjadi simbol jiwa manusia yang merindukan Tuhan. Burung sebagai simbol itu terutama burung simugh atau pingai atau phoenix.
Kalau jejak Rumi?
Bagian pertama dari Matsnawi karya Rumi, “Muqadimah”, itu berisi lagu seruling bambu yang terpisah dari asal-usulnya. Nah, hikayat-hikayat Pasai kemudian mengambilnya, bahwa asal-usul atau nenek moyang mereka berasal dari pokok bambu. Ini muncul juga dalam cerita dongeng di tanah Batak.
Dari lagu serulingnya Rumi ini pula lahir istilah “buluh perindu”. Di situ seruling, serunai, atau saluang menjadi peralatan paling penting dalam kesenian dan kebudayaan. Sebelumnya, alat musik semacam ini tak dipakai, misalkan dalam gamelan Hindu.
Bagi Hamzah Fansuri, apakah dia mendapat pengaruh juga dari Rumi?
Ya, tapi tidak langsung karena abadnya sudah berbeda. Tetapi jelas bahwa dari segi estetik karya-karya Fansuri banyak dipengaruhi, terutama, oleh Fariduddin Attar. Paling jelas dari Attar, tapi itu dekat sekali dengan Rumi, karena Attar itu sambungannya dengan Rumi. Sedangkan dari pemikiran filsafatnya, baru Fansuri dipengaruhi Ibnu Arabi.
Apa hubungan Attar dan Rumi?
Attar itu guru spiritualnya Rumi, pendahulunya Rumi. Rumi melanjutkannya. Ini merupakan tradisi para sufi, karena mereka tak berpretensi sebagai pembaharu seperti penyair modern sekarang. Yang penting bagi dia (sufi), karyanya merupakan pengalaman pribadi, yang dialaminya dan dihayatinya. Cukup itu saja sudah orisinal bagi mereka. Apakah hal itu sudah dikatakan sebelumnya atau tidak, itu bukan soal bagi mereka. Sekarang saja kita orang rewel tentang orisinalitas semacam ini, kan?
Seperti cerita rakyat, misalnya. Mereka (para sufi) lontarkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan sifat karya sastra sebagai bentuk simbolik. Sehingga mereka memakai cerita rakyat yang sudah berkembang, seperti kisah Laila Majnun dan sebagainya. Juga kisah-kisah binatang, sejarah, dan ada juga yang diambil dari Al-Quran. Cuma dia olah dengan cara dia sendiri. Jadi, bukan soal temanya yang penting. Tema itu bisa sama saja. Justru dengan mengolahnya menjadi baru, dia memberi dimensi-dimensi baru, dimensi estetik, pengalaman, dan sosial pada cerita lama itu.
Bagaimana dengan karya sastra Indonesia modern, seperti Amir Hamzah dan sesudahnya?
Ya, jelas sekali pengaruhnya. Namun, sebelum Amir Hamzah, yang ada pengaruh Ruminya adalah pada Sanusi Pane. Sedangkan Amir jelas sekali terpengaruh secara langsung maupun tidak. Amir kan pernah menerjemahkan Rumi dalam Setanggi Timur. Dan, Rumi sangat dikenal pada masa itu oleh penyair-penyair romantik Indonesia. Sedangkan puisi Rumi itu memang sesuai dengan jiwa romantik. Kalau dalam sastra kontermporer tinggal lihat saja pengaruhnya pada, misalnya, Danarto dan Sutardji Calzoum Bachri.
Bagaimana Anda menilai keterpengaruhan itu?
Saya melihat dari dua hal saja. Pertama, estetik, bahwa karya sastra itu simbol, idealisasi dari realitas yang dialami penyair, jadi bukan langsung diambil dari realitas. Pengalaman diolah oleh imajinasi, lalu dijadikan simbol untuk menceritakan sesuatu yang lain, baik pengalaman kehidupan maupun kritik sosial.
Hal ini lain dengan karya sastra yang coraknya imitasi, peniruan terhadap realitas, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Di sini pengalaman diidealisasi dengan kerangka historis, pertentangan kelas, dan sebagainya.
Nah, sastra sufi itu betul-betul simbol. Di dalam tradisi Timur, termasuk dalam tradisi Islam, seni murni itu demikian, bersifat simbolik. Dia disebut seni murni karena karya itu tidak punya kepentingan politik, tidak ada kepentingan duniawi. Dia semata-mata kerohanian, spiritualitas.
Ini lain dengan corak yang kedua, seni dinamik. Seni ini mempersoalkan masalah sosial, keduniaan. Hanya saja, tradisi Barat tak mengenal seni murni, karena sudah sekuler. Sedangkan dalam tradisi Timur, mulai dari jaman Jawa Hindu, seni murni sudah digarap, tapi seni sosial juga digarap.
Kala itu pengarang bisa kedua-duanya. Tapi, kalau dia mengarang seni murni, pasti simbolik. Karena, yang abstrak, yakni pengalaman spiritual, itu tak bisa ditiru. Jadi dia harus disimbolkan dengan hal-hal yang kongkret. Misalkan pada pepatah “tak ada rotan akar pun jadi”. Nah, yang dibicarakan kan bukan rotan, bukan pula akar yang kongkret, kan?
Dari segi bentuk, apakah sastra sufi lebih cenderung memilih puisi ketimbang prosa?
Puisi atau prosa-puisi. Karena prosa itu kan baru berkembang kemudian setelah orang lebih banyak dekat pada pemikiran diskursif. Bahasa diskursif itu tidak dapat mewadahi hal ini, kecuali distilisasikan, gayanya jadi puitik. La Divina Comedia karya Dante itu kan simbolik.
Hal ini berbeda dengan novel modern. Novel modern itu setelah realisme. Baik realisme maupun romantisme di dunia modern itu merupakan reaksi terhadap saintisme, pemikiran yang selalu mengandalkan akal. Romantisme mengedepankan kebebasan individual dengan imajinasi, sedangkan realisme dengan menceritakan yang buruk-buruk dalam masyarakat.
Apakah realisme itu mempengaruhi sastra Indonesia?
Setelah Sanusi Pane, kita didominasi oleh aliran-aliran dari Barat itu, seolah-olah aliran dari Timur itu sudah kuno. Nah, yang Timur ini baru diangkat kembali pada 1970-an oleh Kuntowijoyo, Danarto, Fudoli Zaini. Yang diangkat itu estetikanya, jadi tidak mesti sama karyanya dengan mereka (aliran dari Timur). Kebaruan mereka jutru karena mereka bisa mengelola sesuatu yang berbeda dengan sastra klasik dan dengan sastra pada zamannya.
Dalam novel-novel sebelum Danarto kan nggak mungkin awan, bekicot, kodok, jadi tokoh novel. Tapi, dalam Mahabharata, dongeng-dongeng, hal itu ada. Danarto justru mengangkatnya lagi, tapi dengan cara yang baru, konteks baru, relevansi baru. Bahkan ayat-ayat Al-Quran dijadikan tokohnya.
[Di salah satu artikelnya Abdul Hadi menyebut sejumlah karya bercorak sufistik dan sosial-keagamaan seperti karya Kuntowijoyo (novel Khotbah di atas Bukit, antologi puisi Suluk Awang Uwung dan kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga), Danarto (kumpulan cerpen Adam Makrifat dan Berhala serta novel Asmaraloka), dan M. Fudoli Zaini (kumpulan cerpen Arafah dan Batu-batu Setan)]
Apakah generasi berikutnya Anda masih melihat pengaruhnya?
Dalam prosa memang jarang sekali, tapi dalam puisi banyak sekali pengaruh gerakan sufistik ini. Tapi, suatu gerakan itu kan tidak selalu harus berkembang terus. Dia kadang harus mengendap dulu, lalu suatu ketika muncul lagi.
Kalau Sutardji?
Ya, dia memang terpukau (pada sastra sufi) setelah kebuntuan pengalaman nihilismenya itu. Misalnya lewat sajak Orangnya Tuhan karya Rumi. Sajak itu jelas berpengaruh pada Sutardji sejak awal masa kepenyairannya. Jadi, pengaruhnya sudah ada waktu itu tapi dia belum bisa mencernanya, kecuali pada masa akhir kepenyairannya.
Dalam acara di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu saya telah menyampaikan bahwa Sutardji itu melalui tiga fase. Pertama, sajak mantera. Saya analisa di situ dia dipengaruhi samanisme, tapi samanisme itu juga sebetulnya mistik. Kedua, nihilis, gayanya kok seperti Nietszche. Kemudian, ke sufi.
Selanjutnya, bagaimana perkembangan sastra sufi?
Memang sejak munculnya Angkatan 45 sampai awal 1960-an, pengaruh sufi itu surut karena hingar bingar realisme, realisme sosial, eksistensialisme, dan segala macam. Tapi kok berbenih lagi pada karya pasca-1966, pada 1970-an pada karya Danarto dan lainnya. Jadi ini tampak sebagai reaksi terhadap realisme, entah realisme formal atau sosial, dalam penulisan sastra dari segi estetik, ditambah lagi kecintaan mereka (para sastrawan) yang mendapat ilham dari tradisi.
Tapi kan pada Chairil punya sajak “Doa”, Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling?
Ya, itu kan remang-remang. Nafas keagamaan memang muncul pada karya-karya tahun 1950-an itu, seperti pada Taufik Ismail, AA Navis, dan lainnya. Tapi, di situ agama pada level legalistik-formal, dalam pengertian dengan adat, dengan pergaulan, tingkah laku masyarakat, ahlak. Sedangkan agama sebagai penghayatan spiritual baru muncul pasca-1966.
Apakah ada konteks sosial tertentu yang mendorong mereka demikian?
Saya tidak tahu mereka. Tapi, dari segi saya, pada waktu itu mulai populer lagi kecenderungan untuk melihat dan membaca karya-karya Asia. Salah satunya buku yang dibaca adalah The Treasure of Asian Litterature (1956). [Abdul Hadi mengambil buku itu dari rak di belakangnya dan memperlihatkan isinya]. Isinya nukilan-nukilan karya berbagai pengaran Asia, tapi penting bagi orang yang belajar sastra. Saya membelinya tahun 1970-an.
Buku ini populer setelah tahun 1966, dibaca oleh penyair-penyair Yogyakarta waktu itu. Di buku itu ada karya Rumi, ada Rubaiyat Omar Khayam. Jadi, mereka bersentuhan dengan ini. Kami yang masih muda-muda waktu, itu, masih 20-an tahun usianya, melihat bahwa ternyata sastra Timur itu kaya, bukan hanya karya sastra Barat. Banyak lagi buku-buku semacam ini yang populer.
Sutardji kan membaca Orangnya Tuhan (The Man of God) karya Rumi kan di situ. Bahkan mereka menerjemahkannya. Sapardi, misalnya, menerjemahkan Shakuntala. Saya sendiri menerjemahkan Rubaiyat Omar Khayam.
Bagaimana dengan latar belakang para sastrawan itu?
Ini memang kebetulan. Kuntowijoyo ini kan mahasiswa jurusan sejarah, yang pasti mempelajari kebudayaan dan kesusasteraan Indonesia. Danarto juga memang lahir dari keluarga kebatinan dan menyukai tasawuf. Fudoli Zaini juga begitu, lahir dari keluarga pesantren, orang Nahdlatul Ulama tulen yang banyak mempelajari tasawufnya Al-Gazali dan lainnya, apalagi ditambah dengan mempelajari sastra Arab di Kairo, Mesir. Kemudian Sutardji sendiri dari tradisi sastra Melayunya pasti membawa itu. Kalau saya kan memang dari studi sastra Melayu.
Seberapa besar peluang sastra sufi untuk muncul saat ini?
Sulit juga bicara soal peluang, karena peluang itu kini ditentukan oleh publikasi dan pasar. Pasar memilih yang mana? Tapi, sebagai aktivitas dia tetap ada. Dipublikasikan atau tidak ia tetap berlangsung dalam kajian-kajian tasawuf yang banyak terdapat di Jakarta.
Banyak sekali kelompok kajian tasawuf di Jakarta, sukar dihitung dan bermacam-macam jenisnya. Ada yang sifatnya cuma majelis zikir saja, ada yang juga mengkaji masalah-masalah sastra sufi ini, bahkan ada yang khusus mengkaji Rumi, seperti kelompok Pusaka Hati yang akan mementaskan “Semalam Rumi” di Gedung Kesenian Jakarta pada 30 Agustus nanti.
http://www.ruangbaca.com/
Kesenian, bagi kaum sufi, adalah representasi simbolik dari pengalaman kerohaniannya. Demikian pandangan Abdul Hadi W. M. (Wiji Muthari), sastrawan kelahiran Sumenep, Madura pada 24 Juni 1946. Dia mulai menekuni sastra sufi sejak kuliah di Fakultas Sastra dan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada. Bahkan, saat meraih gelar Ph.D di Universiti Sains Malaysia dia menulis disertasi yang diterbitkan sebagai Tasawuf Yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri
Sebagai sastrawan, dia menulis sajak-sajak ketuhanan. Salah satu yang terkenal seperti “Tuhan, Kita Begitu Dekat”: Tuhan,/Kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu/… Tuhan,/Kita begitu dekat/Seperti kain dengan kapas/aku kapas dalam kainmu.
Dia juga menulis banyak buku tentang sastra sufi dan kebudayaan Islam, di antaranya Rumi, Sufi dan Penyair, Sastra Sufi, Sebuah Antologi, Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, dan Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya.
Untuk mengetahui seberapa jauh Rumi mempengaruhi sastra dan kebudayaan Indonesia, wartawan Tempo Kurniawan dan fotografer Dimas Adityo menemui Abdul Hadi di ruang kerjanya di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pada Senin, 13 Agustus lalu. Berikut ini petikannya.
Pak Abdul Hadi, sejak kapan dunia kesastraan Indonesia dipengaruhi oleh karya sastra Jalaluddin Rumi?
Dalam sejarah kesasatraan Melayu, pengaruh sastra sufi Rumi telah muncul sejak abad ke-15. Salah seorang tokoh yang banyak mendapatkan pengaruh, artinya berinteraksi dengan pemikiran Rumi, itu adalah Sunan Bonang, satu dari para wali yang menyebarkan agama Islam di Nusantara.
Apakah wali-wali lain tidak?
Masalahnya warisan teks yang tersedia sejauh ini baru dari Sunan Bonang. Sedangkan teks dari para wali lain tak ada atau sukar mencarinya. Dalam buku saya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, saya telah menguraikan tentang Sunan Bonang, hubungannya dengan Rumi, gagasan cinta Rumi dan lainnya.
Bagaimana awal perjumpaannya dengan Rumi?
Pada akhir abad ke-15 Sunan Bonang pergi ke Samudera Pasai melalui Malaka bersama Sunan Giri. Dia belajar pada guru yang namanya Syekh Bari. Ini dia abadikan dalam bukunya Pitutur Seh Bari, yang kemudian diterjemahkan dan disunting oleh GWJ Drewes sebagai The Admonition of Seh Bari pada 1967. Secara umum ajaran tasawuf yang dikemukakan di situ dekat dengan ajaran dua tokoh tasawuf besar dari Persia, Imam al-Ghazali dan Rumi.
Salah satu pengaruh Rumi yang paling jelas terahdap Sunan Bonang adalah, pertama, ajaran cinta. Kemudian, menerjemahkan asketisme itu dengan kesalehan sosial, di mana aktivitas sosial sangat diutamakan sebagai padanan dari zikir. Lalu, estetika. Pemikiran Rumi tentang seni sangat berpengaruh terhadap Sunan Bonang.
Bisa Anda uraikan konsep seni bagi Rumi?
Rumi berpikir bahwa karya sastra atau seni itu simbolisasi, representasi simbolik dari ide dan pengalaman kerohanian. Pengalaman kerohanian yang paling tinggi adalah tafakur, semacam kontemplasi untuk mencapai kesatuan mistik dengan Tuhan.
Karena sebagai simbol, karya seni itu seakan sebagai jalan naik atau kendaraan naik dari pengalaman empiris ke pengalaman kerohanian.
Konsep ini, contohnya, terlihat dalam komposisi gamelan yang dibuat Sunan Bonang, Gending Dharma, yang berpengaruh terhadap gamelan Jawa kini. Konsepnya konsentrik. Nada-nada, semua bunyi gamelan itu, membawa suasana terpusat ke alam transenden.
Apa bedanya dengan gamelan lain?
Gamelan Sunan Bonang agak berbeda, misalnya, dengan gamelan Hindu. Gamelan jaman Hindu itu digunakan untuk drama, pemujaan kepada dewa-dewa, sehingga eksotik sifatnya, seperti pada gamelan Bali. Gamelan Sunan Bonang bersifat konsentrik. Kedua jenis gamelan ini membawa perubahan pada gamelan Jawa, yang merupakan campuran dari estetika sufi dan estetika tantriisme Hindu.
Adakah bentuk modern dari gamelan Sunan Bonang ini?
Itu gending Kebo Giro (yang biasa mengiringi prosesi perkawinan adat Jawa). Gending itu sangat kontemplatif sekali. Juga tembang Lir-ilir, lir-ilir (yang konon ciptaan Sunan Kalijaga). [Abdul Hadi sejenak menembangkannya: Lir-ilir, lir-ilir/tandure wus sumilir/Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar....] Nah, itu kan jaman Sunan Bonang dan Kalijaga.
Bagaimana dengan sastranya?
Pengaruh Rumi dan ajaran tasawuf paling banyak ditemukan dalam teks-teks suluk karya Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati. Keduanya adalah yang paling terpelajar dalam hal sastra sufi di antara para wali. Di Jawa suluk adalah karangan bercorak tasawuf yang disampaikan dalam bentuk tembang. Di antara suluk karya Sunan Bonang yang paling dikenal adalah Suluk Wujil.
Dari mana saja sumber ajaran tasawuf mereka?
Setidak-tidaknya ada lima tokoh tasawuf yang populer di Nusantara pada abad-abad itu. Yang pertama, Imam Ghazali, lewat ajaran etikanya. Kedua, falsafah metafisik tentang wujud dari Ibn Arabi. Kemudian, Abdul Karim al-Jili tentang ajaran insan kamil. Tapi, dari segi seni atau sastra, yang banyak memberikan pengaruh adalah Fariduddin Attar dan Jalaluddin Rumi. Ini terbukti dari banyaknya terjemahan dari karya-karya penyair Persia seperti Attar dan Rumi.
Jejak mereka juga tampak dari pemakaian simbol burung, yang banyak dipakai dalam motif seni ukir. Itu kan bermula dari karya Attar yang disadur ke dalam bahasa Melayu menjadi, Hikayat Burung Pingai, yang kemudian dipopulerkan lagi oleh Hamzah Fansuri dengan sajak-sajaknya tentang burung. Di situ burung menjadi simbol jiwa manusia yang merindukan Tuhan. Burung sebagai simbol itu terutama burung simugh atau pingai atau phoenix.
Kalau jejak Rumi?
Bagian pertama dari Matsnawi karya Rumi, “Muqadimah”, itu berisi lagu seruling bambu yang terpisah dari asal-usulnya. Nah, hikayat-hikayat Pasai kemudian mengambilnya, bahwa asal-usul atau nenek moyang mereka berasal dari pokok bambu. Ini muncul juga dalam cerita dongeng di tanah Batak.
Dari lagu serulingnya Rumi ini pula lahir istilah “buluh perindu”. Di situ seruling, serunai, atau saluang menjadi peralatan paling penting dalam kesenian dan kebudayaan. Sebelumnya, alat musik semacam ini tak dipakai, misalkan dalam gamelan Hindu.
Bagi Hamzah Fansuri, apakah dia mendapat pengaruh juga dari Rumi?
Ya, tapi tidak langsung karena abadnya sudah berbeda. Tetapi jelas bahwa dari segi estetik karya-karya Fansuri banyak dipengaruhi, terutama, oleh Fariduddin Attar. Paling jelas dari Attar, tapi itu dekat sekali dengan Rumi, karena Attar itu sambungannya dengan Rumi. Sedangkan dari pemikiran filsafatnya, baru Fansuri dipengaruhi Ibnu Arabi.
Apa hubungan Attar dan Rumi?
Attar itu guru spiritualnya Rumi, pendahulunya Rumi. Rumi melanjutkannya. Ini merupakan tradisi para sufi, karena mereka tak berpretensi sebagai pembaharu seperti penyair modern sekarang. Yang penting bagi dia (sufi), karyanya merupakan pengalaman pribadi, yang dialaminya dan dihayatinya. Cukup itu saja sudah orisinal bagi mereka. Apakah hal itu sudah dikatakan sebelumnya atau tidak, itu bukan soal bagi mereka. Sekarang saja kita orang rewel tentang orisinalitas semacam ini, kan?
Seperti cerita rakyat, misalnya. Mereka (para sufi) lontarkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan sifat karya sastra sebagai bentuk simbolik. Sehingga mereka memakai cerita rakyat yang sudah berkembang, seperti kisah Laila Majnun dan sebagainya. Juga kisah-kisah binatang, sejarah, dan ada juga yang diambil dari Al-Quran. Cuma dia olah dengan cara dia sendiri. Jadi, bukan soal temanya yang penting. Tema itu bisa sama saja. Justru dengan mengolahnya menjadi baru, dia memberi dimensi-dimensi baru, dimensi estetik, pengalaman, dan sosial pada cerita lama itu.
Bagaimana dengan karya sastra Indonesia modern, seperti Amir Hamzah dan sesudahnya?
Ya, jelas sekali pengaruhnya. Namun, sebelum Amir Hamzah, yang ada pengaruh Ruminya adalah pada Sanusi Pane. Sedangkan Amir jelas sekali terpengaruh secara langsung maupun tidak. Amir kan pernah menerjemahkan Rumi dalam Setanggi Timur. Dan, Rumi sangat dikenal pada masa itu oleh penyair-penyair romantik Indonesia. Sedangkan puisi Rumi itu memang sesuai dengan jiwa romantik. Kalau dalam sastra kontermporer tinggal lihat saja pengaruhnya pada, misalnya, Danarto dan Sutardji Calzoum Bachri.
Bagaimana Anda menilai keterpengaruhan itu?
Saya melihat dari dua hal saja. Pertama, estetik, bahwa karya sastra itu simbol, idealisasi dari realitas yang dialami penyair, jadi bukan langsung diambil dari realitas. Pengalaman diolah oleh imajinasi, lalu dijadikan simbol untuk menceritakan sesuatu yang lain, baik pengalaman kehidupan maupun kritik sosial.
Hal ini lain dengan karya sastra yang coraknya imitasi, peniruan terhadap realitas, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Di sini pengalaman diidealisasi dengan kerangka historis, pertentangan kelas, dan sebagainya.
Nah, sastra sufi itu betul-betul simbol. Di dalam tradisi Timur, termasuk dalam tradisi Islam, seni murni itu demikian, bersifat simbolik. Dia disebut seni murni karena karya itu tidak punya kepentingan politik, tidak ada kepentingan duniawi. Dia semata-mata kerohanian, spiritualitas.
Ini lain dengan corak yang kedua, seni dinamik. Seni ini mempersoalkan masalah sosial, keduniaan. Hanya saja, tradisi Barat tak mengenal seni murni, karena sudah sekuler. Sedangkan dalam tradisi Timur, mulai dari jaman Jawa Hindu, seni murni sudah digarap, tapi seni sosial juga digarap.
Kala itu pengarang bisa kedua-duanya. Tapi, kalau dia mengarang seni murni, pasti simbolik. Karena, yang abstrak, yakni pengalaman spiritual, itu tak bisa ditiru. Jadi dia harus disimbolkan dengan hal-hal yang kongkret. Misalkan pada pepatah “tak ada rotan akar pun jadi”. Nah, yang dibicarakan kan bukan rotan, bukan pula akar yang kongkret, kan?
Dari segi bentuk, apakah sastra sufi lebih cenderung memilih puisi ketimbang prosa?
Puisi atau prosa-puisi. Karena prosa itu kan baru berkembang kemudian setelah orang lebih banyak dekat pada pemikiran diskursif. Bahasa diskursif itu tidak dapat mewadahi hal ini, kecuali distilisasikan, gayanya jadi puitik. La Divina Comedia karya Dante itu kan simbolik.
Hal ini berbeda dengan novel modern. Novel modern itu setelah realisme. Baik realisme maupun romantisme di dunia modern itu merupakan reaksi terhadap saintisme, pemikiran yang selalu mengandalkan akal. Romantisme mengedepankan kebebasan individual dengan imajinasi, sedangkan realisme dengan menceritakan yang buruk-buruk dalam masyarakat.
Apakah realisme itu mempengaruhi sastra Indonesia?
Setelah Sanusi Pane, kita didominasi oleh aliran-aliran dari Barat itu, seolah-olah aliran dari Timur itu sudah kuno. Nah, yang Timur ini baru diangkat kembali pada 1970-an oleh Kuntowijoyo, Danarto, Fudoli Zaini. Yang diangkat itu estetikanya, jadi tidak mesti sama karyanya dengan mereka (aliran dari Timur). Kebaruan mereka jutru karena mereka bisa mengelola sesuatu yang berbeda dengan sastra klasik dan dengan sastra pada zamannya.
Dalam novel-novel sebelum Danarto kan nggak mungkin awan, bekicot, kodok, jadi tokoh novel. Tapi, dalam Mahabharata, dongeng-dongeng, hal itu ada. Danarto justru mengangkatnya lagi, tapi dengan cara yang baru, konteks baru, relevansi baru. Bahkan ayat-ayat Al-Quran dijadikan tokohnya.
[Di salah satu artikelnya Abdul Hadi menyebut sejumlah karya bercorak sufistik dan sosial-keagamaan seperti karya Kuntowijoyo (novel Khotbah di atas Bukit, antologi puisi Suluk Awang Uwung dan kumpulan cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga), Danarto (kumpulan cerpen Adam Makrifat dan Berhala serta novel Asmaraloka), dan M. Fudoli Zaini (kumpulan cerpen Arafah dan Batu-batu Setan)]
Apakah generasi berikutnya Anda masih melihat pengaruhnya?
Dalam prosa memang jarang sekali, tapi dalam puisi banyak sekali pengaruh gerakan sufistik ini. Tapi, suatu gerakan itu kan tidak selalu harus berkembang terus. Dia kadang harus mengendap dulu, lalu suatu ketika muncul lagi.
Kalau Sutardji?
Ya, dia memang terpukau (pada sastra sufi) setelah kebuntuan pengalaman nihilismenya itu. Misalnya lewat sajak Orangnya Tuhan karya Rumi. Sajak itu jelas berpengaruh pada Sutardji sejak awal masa kepenyairannya. Jadi, pengaruhnya sudah ada waktu itu tapi dia belum bisa mencernanya, kecuali pada masa akhir kepenyairannya.
Dalam acara di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu saya telah menyampaikan bahwa Sutardji itu melalui tiga fase. Pertama, sajak mantera. Saya analisa di situ dia dipengaruhi samanisme, tapi samanisme itu juga sebetulnya mistik. Kedua, nihilis, gayanya kok seperti Nietszche. Kemudian, ke sufi.
Selanjutnya, bagaimana perkembangan sastra sufi?
Memang sejak munculnya Angkatan 45 sampai awal 1960-an, pengaruh sufi itu surut karena hingar bingar realisme, realisme sosial, eksistensialisme, dan segala macam. Tapi kok berbenih lagi pada karya pasca-1966, pada 1970-an pada karya Danarto dan lainnya. Jadi ini tampak sebagai reaksi terhadap realisme, entah realisme formal atau sosial, dalam penulisan sastra dari segi estetik, ditambah lagi kecintaan mereka (para sastrawan) yang mendapat ilham dari tradisi.
Tapi kan pada Chairil punya sajak “Doa”, Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling?
Ya, itu kan remang-remang. Nafas keagamaan memang muncul pada karya-karya tahun 1950-an itu, seperti pada Taufik Ismail, AA Navis, dan lainnya. Tapi, di situ agama pada level legalistik-formal, dalam pengertian dengan adat, dengan pergaulan, tingkah laku masyarakat, ahlak. Sedangkan agama sebagai penghayatan spiritual baru muncul pasca-1966.
Apakah ada konteks sosial tertentu yang mendorong mereka demikian?
Saya tidak tahu mereka. Tapi, dari segi saya, pada waktu itu mulai populer lagi kecenderungan untuk melihat dan membaca karya-karya Asia. Salah satunya buku yang dibaca adalah The Treasure of Asian Litterature (1956). [Abdul Hadi mengambil buku itu dari rak di belakangnya dan memperlihatkan isinya]. Isinya nukilan-nukilan karya berbagai pengaran Asia, tapi penting bagi orang yang belajar sastra. Saya membelinya tahun 1970-an.
Buku ini populer setelah tahun 1966, dibaca oleh penyair-penyair Yogyakarta waktu itu. Di buku itu ada karya Rumi, ada Rubaiyat Omar Khayam. Jadi, mereka bersentuhan dengan ini. Kami yang masih muda-muda waktu, itu, masih 20-an tahun usianya, melihat bahwa ternyata sastra Timur itu kaya, bukan hanya karya sastra Barat. Banyak lagi buku-buku semacam ini yang populer.
Sutardji kan membaca Orangnya Tuhan (The Man of God) karya Rumi kan di situ. Bahkan mereka menerjemahkannya. Sapardi, misalnya, menerjemahkan Shakuntala. Saya sendiri menerjemahkan Rubaiyat Omar Khayam.
Bagaimana dengan latar belakang para sastrawan itu?
Ini memang kebetulan. Kuntowijoyo ini kan mahasiswa jurusan sejarah, yang pasti mempelajari kebudayaan dan kesusasteraan Indonesia. Danarto juga memang lahir dari keluarga kebatinan dan menyukai tasawuf. Fudoli Zaini juga begitu, lahir dari keluarga pesantren, orang Nahdlatul Ulama tulen yang banyak mempelajari tasawufnya Al-Gazali dan lainnya, apalagi ditambah dengan mempelajari sastra Arab di Kairo, Mesir. Kemudian Sutardji sendiri dari tradisi sastra Melayunya pasti membawa itu. Kalau saya kan memang dari studi sastra Melayu.
Seberapa besar peluang sastra sufi untuk muncul saat ini?
Sulit juga bicara soal peluang, karena peluang itu kini ditentukan oleh publikasi dan pasar. Pasar memilih yang mana? Tapi, sebagai aktivitas dia tetap ada. Dipublikasikan atau tidak ia tetap berlangsung dalam kajian-kajian tasawuf yang banyak terdapat di Jakarta.
Banyak sekali kelompok kajian tasawuf di Jakarta, sukar dihitung dan bermacam-macam jenisnya. Ada yang sifatnya cuma majelis zikir saja, ada yang juga mengkaji masalah-masalah sastra sufi ini, bahkan ada yang khusus mengkaji Rumi, seperti kelompok Pusaka Hati yang akan mementaskan “Semalam Rumi” di Gedung Kesenian Jakarta pada 30 Agustus nanti.
“Saya Cinta Kiai dan Pesantren”
Abidah El Khalieqy
Pewawancara: Muhammad Syaifullah
http://www.korantempo.com/
Abidah El Khalieqy tidak hanya dikenal sebagai penyair, tapi juga novelis yang produktif. Lima novel telah ditulisnya, selain buku kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Salah satu novelnya, Geni Jora, memenangi Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. Perempuan kelahiran Jombang, 1 Maret 1965, yang mulai menulis sejak usia 12 tahun ini pernah memperoleh penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1998). Tahun lalu ia menerima Ikapi dan Balai Bahasa Award.
Melalui karya-karyanya, istri penyair Hamdy Salad ini menyuarakan persoalan perempuan. “Dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah,” ujar ibu tiga anak ini.
Namanya melambung setelah novelnya, Perempuan Berkalung Sorban (2001), diangkat ke layar lebar oleh sutradara Hanung Bramantyo. Apalagi setelah film tersebut menuai kontroversi. Beberapa adegan di film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) dianggap melecehkan pesantren dan kiai.
“Mana yang melecehkan? Ini adalah kritik bagi kiai dan pesantren yang kami cintai,” kata perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Putri Modern Persis, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, ini.
Di kediamannya, kawasan Maguwoharjo, Yogyakarta, Abidah menerima wartawan Tempo Muhammad Syaifullah untuk sebuah wawancara, Rabu lalu. Berikut ini petikannya.
Bagaimana proses kreatif Perempuan Berkalung Sorban?
Pada awalnya ini ide YKF (Yayasan Kesejahteraan Fatayat), LSM milik Nahdlatul Ulama Yogyakarta, untuk membuat suatu novel tentang pemberdayaan perempuan. Maka dirancang novel Perempuan Berkalung Sorban ini dan saya sebagai penulisnya.
Tujuan menulis PBS?
Novel ini untuk mensosialisasi hak-hak reproduksi perempuan yang sudah diratifikasi oleh PBB. Jadi saya ketika itu diminta mengadakan riset tentang hak-hak reproduksi perempuan selama hampir dua tahun. Riset lapangan untuk memberi setting tempat dan yang fisik-fisik selama tiga bulan, di Kaliangkrik, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Di satu kampung ada banyak pesantren salaf. Lokasinya di pegunungan. Saya juga menemukan orang-orang yang naik kuda.
Sesudahnya, mengikuti seminar-seminar yang dilakukan oleh YKF selama hampir dua tahun, kemudian saya menulis selama sembilan bulan. Karena kontraknya hanya satu tahun, dua tahun saya lakukan di luar kontrak.
YKF dan Ford Foundation yang membiayai proyek ini. Saya mau bekerja sama dengan Ford Foundation karena saya sebagai sastrawan dalam menulis, apa isinya, saya memiliki otoritas pribadi. Mereka tidak boleh ikut campur tangan. Sebetulnya semua isi dan teknik penulisan murni dari saya sebagai sastrawan. Ini memang sifatnya pesanan soal reproduksi perempuan. Tetapi kenapa saya mau–yang sebagai sastrawan memiliki independensi–karena yang diinginkan mereka adalah yang selama ini tema-tema yang menjadi sorotan saya. Kebetulan misi dan sorotannya sama.
Apa yang Anda sampaikan dalam PBS?
Saya ingin perempuan memiliki kemandirian, perempuan harus menguasai ilmu. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjawab nasib perempuan. Derajat ditentukan dengan ilmu.
Kenapa memilih tema feminisme?
Awal-awal saya kuliah, saya aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan kemudian saya tidak tertarik masalah politik. Ketika itu, isu tentang feminisme yang ditulis dalam novel seperti Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi dibahas di mana-mana. Saya juga mulai tertarik untuk membahas persoalan perempuan.
Dan dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah. Memang harus dicari akar permasalahannya dan disuarakan sekeras-kerasnya. Artinya, harus ada revolusi pemikiran bahwa ini adalah sesuatu yang sangat mendesak. Selama ini soal perempuan memang sudah banyak ditulis, soal penderitaan mereka dan keterpinggiran mereka. Tetapi bagaimana solusi ke depan untuk menyikapi kondisi seperti ini kan belum ditulis.
Bagaimana Anda menanggapi kontroversi PBS?
Ini lucu dan ironi. Kenapa? Yang dikontroversikan mereka itu, ya, itu yang dikritik dalam film dan buku (novel). Anehnya, para pengkritik tidak mau nonton. Mereka tidak tahu sebetulnya dialog itu sebuah dialog (dalam novel dan film).
Misalnya adegan oleh para pelakon protagonis dan antagonisnya. Dalam film tersebut ada antagonisnya yang selalu menjawab. Contohnya, dalam Islam perempuan tidak boleh naik kuda. Menurut (dalam dialog) Annisa, perempuan boleh naik kuda. Zaman Nabi saja perempuan boleh naik kuda. Jadi dalam film itu adalah dialog antagonis dan protagonis. Mungkin yang mengkontroversikan tidak menyimak dialog yang katakan Annisa (tokoh protagonis dalam film PBS yang diperankan Revalina S. Temat).
Dalam PBS, yang mengatakan perempuan tidak boleh bepergian kecuali ditemani muhrimnya, meskipun untuk belajar, itu dikatakan oleh Kiai Hanan, yang menjadi oknum kiai yang antagonis. Ini pribadi, seorang manusia yang mengatakan, meskipun kiai, dia adalah manusia biasa. Meskipun dia kiai, bisa juga menjadi oknum.
Untuk memahami PBS dengan teori dekonstruksi, bahwa sesuatu yang baik itu tidak hanya bisa dimunculkan oleh tokoh protagonis, tapi antagonis pun bisa. Kalau yang disampaikan Kiai Ali Mustafa (KH Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal), mestinya yang diucapkan kiai itu harus yang baik-baik. Kalau itu, semua orang juga sudah tahu. Tapi dalam film itu ada kiai yang seperti itu. Ini yang kita kritik dalam film PBS. Ini kan juga kritik untuk kiai yang seperti itu.
Kalau berani mengkritik dan berkukuh tidak mau menonton, kan (dia) tidak tahu. Dalam teori seni, ada teori dekonstruksi. Kalau saya dikatakan melecehkan pesantren, di mana letak melecehkannya? Tokoh utamanya kembali ke pesantren kan, untuk memperbaiki pesantrennya.
Apakah film ini melecehkan Islam?
Tidak. Ini tidak melecehkan Islam. Justru film dan novel PBS mengkritik para kiai dan kitab kuning, khusus untuk hadis-hadis misoginis, hadis-hadis yang berkarakter menyudutkan perempuan. Di beberapa pesantren salaf, masih ada buku-buku yang diajarkan, seperti Kitab Uqudullujain fi uqudizzujain. Seakan-akan kitab-kitab seperti Riyadlussholihin, yang kesahihannya sudah dijamin, malah dikesampingkan, meskipun juga diajarkan dengan porsi sedikit. Yang akan kita kritik, ya, itu. Kenapa mengkritik para kiai dan kitab kuning? Karena saya cinta mereka, mosok saya bisa membiarkan ini berlanjut turun-temurun dari abad ke abad. Pesantren adalah satu institusi tempat pola pikir dari zaman ini dibentuk. Karena pesantren merupakan agen perubahan untuk zaman ini. Kalau mereka melakukan seperti itu, mereka bisa menciptakan pola pikir yang keliru dari zaman ke zaman. Novel PBS menawarkan upaya reinterpretasi Al-Quran dan rekonstruksi fikih.
Maksudnya?
Bahwa fikih kita yang diajarkan di pesantren sudah kedaluwarsa. Fiqih merupakan hukum-hukum yang menjawab tantangan zaman dari para ulama. Dan zaman ini selalu berubah. Tetapi fiqih kita dari zaman tabiuttabiin sampai sekarang tidak berubah. Itu yang perlu direkonstruksi.
Kenapa sampai sekarang perempuan masih tertindas? Karena ada referensinya, ketika para ulama mengartikan “arrijalu qowwamuna alannisa”. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Benarkah kata qowwamuna di sini berarti pemimpin? Ternyata para tokoh feminis Muslimat, baik dari Pakistan, Maroko, maupun Saudi, melakukan penelitian dan terbukti kata-kata itu dalam kamus kuno bukan berarti pemimpin. Artinya adalah pembimbing atau mitra sejajar.
Yang dipakai oleh orang Arab sendiri dari kata qoum, yang berarti pembimbing, teman sharing, mitra sejajar. Tapi selama ini para ulama, terutama yang menafsirkan Al-Quran, masih mengartikannya sebagai pemimpin. Itu sudah dari abad ke abad. Ini jadi landasan bagi para laki-laki menganggap dirinya sebagai pemimpin. Maka perempuan menjadi kelas dua, konco wingking (teman di belakang). Pola pikir ini membentuk pola pikir zaman dan ini membentuk kebudayaan.
Adakah adegan yang tak ada di novel tapi ada di film?
Ada beberapa: pembakaran buku, adegan rajam. Kalau dialog dalam bahasa Arab, untuk keperluan penggambaran pesantren biar lebih hidup.
Bagaimana kalau film dan novel ditarik dari peredaran?
Sebelum di-launching, film PBS kan sudah lulus sensor melalui LSF (Lembaga Sensor Film), sedangkan di LSF kan juga ada unsur dari MUI, ya, para kiai. Dan itu tidak disensor.
Apa ada permintaan novel PBS ditarik?
Tidak. Banyak yang menganggap dilarang. Malah sudah 13 ribu eksemplar dibagikan. Sekarang dicetak lagi. Dalam tiga minggu sudah lebih dari 50 ribu kopi terjual. Tapi royalti belum dibicarakan, sampai sekarang belum ada.
Apa pengaruh pesantren dan pendidikan Anda di Universitas Islam Negeri dalam tulisan?
Pemikiran dari pesantren yang saya serap, saya berawal dari pesantren dan kuliah di UIN (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Mungkin saya kesulitan menulis PBS jika tidak didasari dua institusi itu. Basis pesantren memudahkan saya mengetahui karakter pesantren.
Bagi Anda, lebih sulit mana, menulis novel atau puisi?
Menulis novel lebih bebas mengekspresikan ide. Menulis puisi itu mewah; memerlukan energi yang luar biasa. Butuh kesiapan, intensif dengan refleksi. Lebih berat menulis puisi. Dari sekian gagasan harus dikristalkan dengan beberapa kata. Tetapi banyak yang mengkritik novel saya puitis.
BIODATA
Nama: Abidah El Khalieqy
Lahir: Jombang, 1 Maret 1965
Pendidikan: Fakultas Syariah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1990
Pekerjaan: Penulis (sastrawan)
Status: Menikah (suami Hamdy Salad, dengan tiga anak)
Karya:
* Ibuku Laut Berkobar (puisi, 1997)
* Menari di Atas Guntingv (cerita pendek, 2001)
* Perempuan Berkalung Sorban (novel, 2001)
* Atas Singgasana (novel, 2002)
* Geni Jora (novel, 2004)
* Mahabbah Rindu (novel, 2007)
* Nirzona (novel, 2008)
* Mikraj Odyssey (cerita pendek, 2009)
Pewawancara: Muhammad Syaifullah
http://www.korantempo.com/
Abidah El Khalieqy tidak hanya dikenal sebagai penyair, tapi juga novelis yang produktif. Lima novel telah ditulisnya, selain buku kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Salah satu novelnya, Geni Jora, memenangi Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. Perempuan kelahiran Jombang, 1 Maret 1965, yang mulai menulis sejak usia 12 tahun ini pernah memperoleh penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (1998). Tahun lalu ia menerima Ikapi dan Balai Bahasa Award.
Melalui karya-karyanya, istri penyair Hamdy Salad ini menyuarakan persoalan perempuan. “Dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah,” ujar ibu tiga anak ini.
Namanya melambung setelah novelnya, Perempuan Berkalung Sorban (2001), diangkat ke layar lebar oleh sutradara Hanung Bramantyo. Apalagi setelah film tersebut menuai kontroversi. Beberapa adegan di film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) dianggap melecehkan pesantren dan kiai.
“Mana yang melecehkan? Ini adalah kritik bagi kiai dan pesantren yang kami cintai,” kata perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Putri Modern Persis, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, ini.
Di kediamannya, kawasan Maguwoharjo, Yogyakarta, Abidah menerima wartawan Tempo Muhammad Syaifullah untuk sebuah wawancara, Rabu lalu. Berikut ini petikannya.
Bagaimana proses kreatif Perempuan Berkalung Sorban?
Pada awalnya ini ide YKF (Yayasan Kesejahteraan Fatayat), LSM milik Nahdlatul Ulama Yogyakarta, untuk membuat suatu novel tentang pemberdayaan perempuan. Maka dirancang novel Perempuan Berkalung Sorban ini dan saya sebagai penulisnya.
Tujuan menulis PBS?
Novel ini untuk mensosialisasi hak-hak reproduksi perempuan yang sudah diratifikasi oleh PBB. Jadi saya ketika itu diminta mengadakan riset tentang hak-hak reproduksi perempuan selama hampir dua tahun. Riset lapangan untuk memberi setting tempat dan yang fisik-fisik selama tiga bulan, di Kaliangkrik, Kajoran, Magelang, Jawa Tengah. Di satu kampung ada banyak pesantren salaf. Lokasinya di pegunungan. Saya juga menemukan orang-orang yang naik kuda.
Sesudahnya, mengikuti seminar-seminar yang dilakukan oleh YKF selama hampir dua tahun, kemudian saya menulis selama sembilan bulan. Karena kontraknya hanya satu tahun, dua tahun saya lakukan di luar kontrak.
YKF dan Ford Foundation yang membiayai proyek ini. Saya mau bekerja sama dengan Ford Foundation karena saya sebagai sastrawan dalam menulis, apa isinya, saya memiliki otoritas pribadi. Mereka tidak boleh ikut campur tangan. Sebetulnya semua isi dan teknik penulisan murni dari saya sebagai sastrawan. Ini memang sifatnya pesanan soal reproduksi perempuan. Tetapi kenapa saya mau–yang sebagai sastrawan memiliki independensi–karena yang diinginkan mereka adalah yang selama ini tema-tema yang menjadi sorotan saya. Kebetulan misi dan sorotannya sama.
Apa yang Anda sampaikan dalam PBS?
Saya ingin perempuan memiliki kemandirian, perempuan harus menguasai ilmu. Ilmu pengetahuanlah yang akan menjawab nasib perempuan. Derajat ditentukan dengan ilmu.
Kenapa memilih tema feminisme?
Awal-awal saya kuliah, saya aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan kemudian saya tidak tertarik masalah politik. Ketika itu, isu tentang feminisme yang ditulis dalam novel seperti Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadawi dibahas di mana-mana. Saya juga mulai tertarik untuk membahas persoalan perempuan.
Dan dalam benak saya, perempuan di Indonesia masih termarginalkan. Jadi, menurut saya, kondisi perempuan sudah sangat parah. Memang harus dicari akar permasalahannya dan disuarakan sekeras-kerasnya. Artinya, harus ada revolusi pemikiran bahwa ini adalah sesuatu yang sangat mendesak. Selama ini soal perempuan memang sudah banyak ditulis, soal penderitaan mereka dan keterpinggiran mereka. Tetapi bagaimana solusi ke depan untuk menyikapi kondisi seperti ini kan belum ditulis.
Bagaimana Anda menanggapi kontroversi PBS?
Ini lucu dan ironi. Kenapa? Yang dikontroversikan mereka itu, ya, itu yang dikritik dalam film dan buku (novel). Anehnya, para pengkritik tidak mau nonton. Mereka tidak tahu sebetulnya dialog itu sebuah dialog (dalam novel dan film).
Misalnya adegan oleh para pelakon protagonis dan antagonisnya. Dalam film tersebut ada antagonisnya yang selalu menjawab. Contohnya, dalam Islam perempuan tidak boleh naik kuda. Menurut (dalam dialog) Annisa, perempuan boleh naik kuda. Zaman Nabi saja perempuan boleh naik kuda. Jadi dalam film itu adalah dialog antagonis dan protagonis. Mungkin yang mengkontroversikan tidak menyimak dialog yang katakan Annisa (tokoh protagonis dalam film PBS yang diperankan Revalina S. Temat).
Dalam PBS, yang mengatakan perempuan tidak boleh bepergian kecuali ditemani muhrimnya, meskipun untuk belajar, itu dikatakan oleh Kiai Hanan, yang menjadi oknum kiai yang antagonis. Ini pribadi, seorang manusia yang mengatakan, meskipun kiai, dia adalah manusia biasa. Meskipun dia kiai, bisa juga menjadi oknum.
Untuk memahami PBS dengan teori dekonstruksi, bahwa sesuatu yang baik itu tidak hanya bisa dimunculkan oleh tokoh protagonis, tapi antagonis pun bisa. Kalau yang disampaikan Kiai Ali Mustafa (KH Ali Mustafa Yaqub, imam besar Masjid Istiqlal), mestinya yang diucapkan kiai itu harus yang baik-baik. Kalau itu, semua orang juga sudah tahu. Tapi dalam film itu ada kiai yang seperti itu. Ini yang kita kritik dalam film PBS. Ini kan juga kritik untuk kiai yang seperti itu.
Kalau berani mengkritik dan berkukuh tidak mau menonton, kan (dia) tidak tahu. Dalam teori seni, ada teori dekonstruksi. Kalau saya dikatakan melecehkan pesantren, di mana letak melecehkannya? Tokoh utamanya kembali ke pesantren kan, untuk memperbaiki pesantrennya.
Apakah film ini melecehkan Islam?
Tidak. Ini tidak melecehkan Islam. Justru film dan novel PBS mengkritik para kiai dan kitab kuning, khusus untuk hadis-hadis misoginis, hadis-hadis yang berkarakter menyudutkan perempuan. Di beberapa pesantren salaf, masih ada buku-buku yang diajarkan, seperti Kitab Uqudullujain fi uqudizzujain. Seakan-akan kitab-kitab seperti Riyadlussholihin, yang kesahihannya sudah dijamin, malah dikesampingkan, meskipun juga diajarkan dengan porsi sedikit. Yang akan kita kritik, ya, itu. Kenapa mengkritik para kiai dan kitab kuning? Karena saya cinta mereka, mosok saya bisa membiarkan ini berlanjut turun-temurun dari abad ke abad. Pesantren adalah satu institusi tempat pola pikir dari zaman ini dibentuk. Karena pesantren merupakan agen perubahan untuk zaman ini. Kalau mereka melakukan seperti itu, mereka bisa menciptakan pola pikir yang keliru dari zaman ke zaman. Novel PBS menawarkan upaya reinterpretasi Al-Quran dan rekonstruksi fikih.
Maksudnya?
Bahwa fikih kita yang diajarkan di pesantren sudah kedaluwarsa. Fiqih merupakan hukum-hukum yang menjawab tantangan zaman dari para ulama. Dan zaman ini selalu berubah. Tetapi fiqih kita dari zaman tabiuttabiin sampai sekarang tidak berubah. Itu yang perlu direkonstruksi.
Kenapa sampai sekarang perempuan masih tertindas? Karena ada referensinya, ketika para ulama mengartikan “arrijalu qowwamuna alannisa”. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Benarkah kata qowwamuna di sini berarti pemimpin? Ternyata para tokoh feminis Muslimat, baik dari Pakistan, Maroko, maupun Saudi, melakukan penelitian dan terbukti kata-kata itu dalam kamus kuno bukan berarti pemimpin. Artinya adalah pembimbing atau mitra sejajar.
Yang dipakai oleh orang Arab sendiri dari kata qoum, yang berarti pembimbing, teman sharing, mitra sejajar. Tapi selama ini para ulama, terutama yang menafsirkan Al-Quran, masih mengartikannya sebagai pemimpin. Itu sudah dari abad ke abad. Ini jadi landasan bagi para laki-laki menganggap dirinya sebagai pemimpin. Maka perempuan menjadi kelas dua, konco wingking (teman di belakang). Pola pikir ini membentuk pola pikir zaman dan ini membentuk kebudayaan.
Adakah adegan yang tak ada di novel tapi ada di film?
Ada beberapa: pembakaran buku, adegan rajam. Kalau dialog dalam bahasa Arab, untuk keperluan penggambaran pesantren biar lebih hidup.
Bagaimana kalau film dan novel ditarik dari peredaran?
Sebelum di-launching, film PBS kan sudah lulus sensor melalui LSF (Lembaga Sensor Film), sedangkan di LSF kan juga ada unsur dari MUI, ya, para kiai. Dan itu tidak disensor.
Apa ada permintaan novel PBS ditarik?
Tidak. Banyak yang menganggap dilarang. Malah sudah 13 ribu eksemplar dibagikan. Sekarang dicetak lagi. Dalam tiga minggu sudah lebih dari 50 ribu kopi terjual. Tapi royalti belum dibicarakan, sampai sekarang belum ada.
Apa pengaruh pesantren dan pendidikan Anda di Universitas Islam Negeri dalam tulisan?
Pemikiran dari pesantren yang saya serap, saya berawal dari pesantren dan kuliah di UIN (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta). Mungkin saya kesulitan menulis PBS jika tidak didasari dua institusi itu. Basis pesantren memudahkan saya mengetahui karakter pesantren.
Bagi Anda, lebih sulit mana, menulis novel atau puisi?
Menulis novel lebih bebas mengekspresikan ide. Menulis puisi itu mewah; memerlukan energi yang luar biasa. Butuh kesiapan, intensif dengan refleksi. Lebih berat menulis puisi. Dari sekian gagasan harus dikristalkan dengan beberapa kata. Tetapi banyak yang mengkritik novel saya puitis.
BIODATA
Nama: Abidah El Khalieqy
Lahir: Jombang, 1 Maret 1965
Pendidikan: Fakultas Syariah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1990
Pekerjaan: Penulis (sastrawan)
Status: Menikah (suami Hamdy Salad, dengan tiga anak)
Karya:
* Ibuku Laut Berkobar (puisi, 1997)
* Menari di Atas Guntingv (cerita pendek, 2001)
* Perempuan Berkalung Sorban (novel, 2001)
* Atas Singgasana (novel, 2002)
* Geni Jora (novel, 2004)
* Mahabbah Rindu (novel, 2007)
* Nirzona (novel, 2008)
* Mikraj Odyssey (cerita pendek, 2009)
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
A Khoirul Anam
A. Khoirul Anam
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abd. Basid
Abdul Aziz
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar
Abdul Hadi W.M.
Abdul Rauf Singkil
Abdul Rosyid
Abdul Salam HS
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Alawi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abu Nawas
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Ach. Tirmidzi Munahwan
Achmad Faesol
Adam Chiefni
Adhitya Ramadhan
Adi Mawardi
Adian Husaini
Aditya Ardi N
Ady Amar
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afrizal Malna
Afrizal Qosim
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus Buchori
Agus Fahri Husein
Agus Fathuddin Yusuf
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahmad Anshori
Ahmad Badrus Sholihin
Ahmad Baso
Ahmad Fatoni
Ahmad Hadidul Fahmi
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rohim
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Sahal
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alang Khoiruddin
Alang Khoirudin
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Aliansyah
Allamah Syaikh Dalhar
Alvi Puspita
AM Adhy Trisnanto
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Amin Hasan
Aminullah HA Noor
Amir Hamzah
Ammar Machmud
Andri Awan
Anindita S Thayf
Aning Ayu Kusuma
Anjar Nugroho
Anjrah Lelono Broto
Antari Setyowati
Anwar Nuris
Arafat Nur
Ariany Isnamurti
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arif Hidayat
Arif Saifudin Yudistira
Arifin Hakim
Arman AZ
Arwan
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Juanda
Asep S. Bahri
Asep Sambodja
Asep Yayat
Asif Trisnani
Aswab Mahasin
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Azizah Hefni
Azwar Nazir
B Kunto Wibisono
Babe Derwan
Badrut Tamam Gaffas
Bale Aksara
Bandung Mawardi
Bastian Zulyeno
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benny Benke
Berita
Berita Duka
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budiawan Dwi Santoso
Buku Kritik Sastra
Candra Adikara Irawan
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cawapres Jokowi
Cerpen
Chairil Anwar
Chairul Abhsar
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
CNN Indonesia
Cucuk Espe
Cut Nanda A.
D Zawawi Imron
D. Dudu AR
Dahta Gautama
Damanhuri Zuhri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Danuji Ahmad
Dati Wahyuni
Dea Anugrah
Dea Ayu Ragilia
Dede Kurniawan
Dedik Priyanto
Den Rasyidi
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Detti Febrina
Dewi Kartika
Dian Sukarno
Dian Wahyu Kusuma
Didi Purwadi
Dien Makmur
Din Saja
Djasepudin
Djauharul Bar
Djoko Pitono
Djoko Saryono
DM Ningsih
Doddy Hidayatullah
Donny Syofyan
Dr Afif Muhammad MA
Dr. Simuh
Dr. Yunasril Ali
Dudi Rustandi
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dyah Ratna Meta Novia
E Tryar Dianto
Ecep Heryadi
Edeng Syamsul Ma’arif
Edy A Effendi
Edy Susanto
EH Ismail
Eka Budianta
Ekky Malaky
Eko Israhayu
Ellie R. Noer
Emha Ainun Nadjib
Esai
Esha Tegar Putra
Evi Melyati
Fachry Ali
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faizal Af
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fazabinal Alim
Festival Literasi Nusantara
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Fuad Mardhatillah UY Tiba
Furqon Lapoa
Fuska Sani Evani
Geger Riyanto
Ghufron
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
Gus Muwaffiq
Gusriyono
Gusti Grehenson
H Marjohan
H. Usep Romli H.M.
Habibullah
Hadi Napster
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hamka
Hammam Fathulloh
Hamzah Fansuri
Hamzah Sahal
Hamzah Tualeka Zn
Hanibal W.Y. Wijayanta
Hanum Fitriah
Haris del Hakim
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B. Kori’un
Hasan Basri Marwah
Hasnan Bachtiar
Hasyim Asy’ari
Helmy Prasetya
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Heri Listianto
Heri Ruslan
Herry Lamongan
Herry Nurdi
Heru Kurniawan
Hilmi Abedillah
Hotnida Novita Sary
Hudan Hidayat
Husein Muhammad
I Nyoman Suaka
Ibn ‘Arabi (1165-1240)
Ibn Rusyd
Ibnu Sina
Ibnu Wahyudi
Idayati
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Yusardi
Imadi Daimah Ermasuri
Imam Hamidi Antassalam
Imam Khomeini
Imam Nawawi
Imam Nur Suharno
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Nasri
Imron Tohari
Indonesia O’Galelano
Indra Kurniawan
Indra Tjahyadi
Inung As
Irma Safitri
Isbedy Stiawan Z.S.
Istiyah
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
J Sumardianta
Jadid Al Farisy
Jalaluddin
Jalaluddin Rakhmat
Jamal Ma’mur Asmani
Jamaluddin Mohammad
Javed Paul Syatha
Jaya Suprana
Jember Gemar Membaca
Jo Batara Surya
Johan Wahyudi
John Halmahera
Joko Pinurbo
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K. Muhamad Hakiki
K.H. A. Azis Masyhuri
K.H. Anwar Manshur
K.H. M. Najib Muhammad
K.H. Ma'ruf Amin
Kabar Pesantren
Kafiyatun Hasya
Kanjeng Tok
Kasnadi
Kazzaini Ks
KH Abdul Ghofur
KH. Irfan Hielmy
Khansa Arifah Adila
Khoirul Anwar
Khoirur Rizal Umami
Khoshshol Fairuz
Kiai Muzajjad
Kiki Mikail
Kitab Dalailul Khoirot
Kodirun
Komunitas Deo Gratias
Koskow
Kritik Sastra
Kurniawan
Kurtubi
Kuswaidi Syafi’ie
Kyai Maimun Zubair
Lan Fang
Larung Sastra
Leila S. Chudori
Linda S Priyatna
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP
Lukman Asya
Lukman Santoso Az
M Arif Rohman Hakim
M Hari Atmoko
M Ismail
M Thobroni
M. Adnan Amal
M. Al Mustafad
M. Arwan Hamidi
M. Bashori Muchsin
M. Faizi
M. Hadi Bashori
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Mustafied
M. Nurdin
M. Yoesoef
M. Yunis
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
M.S. Nugroho
M.Si
M’Shoe
Mahamuda
Mahdi Idris
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahrus eL-Mawa
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mansur Muhammad
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marjohan
Marsudi Fitro Wibowo
Martin van Bruinessen
Marzuki Wahid
Marzuzak SY
Masduri
Mashuri
Masjid Kordoba
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni el-Moezany
Matroni Muserang
Mbah Dalhar
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Miftahul Ulum
Mila Novita
Mochtar Lubis
Moh. Ghufron Cholid
Mohamad Salim Aljufri
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Yamin
Muh. Khamdan
Muhajir Arrosyid
Muhammad Abdullah
Muhammad Affan Adzim
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Ali Fakih AR
Muhammad Amin
Muhammad Anta Kusuma
Muhammad Ghannoe
Muhammad Idrus Djoge
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Kosim
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Mukhlisin
Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Subhan
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yasir
Muhammad Yuanda Zara
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyiddin
Mujtahid
Muktamar Sastra
Mulyadi SA
Munawar A. Djalil
Munawir Aziz
Musa Ismail
Musa Zainuddin
Muslim
Mustafa Ismail
Mustami’ tanpa Nama
Mustofa W Hasyim
Musyafak
Myrna Ratna
N. Mursidi
Nasaruddin Umar
Nashih Nashrullah
Naskah Teater
Nasruli Chusna
Nasrullah Thaleb
Nelson Alwi
Nevatuhella
Ngarto Februana
Nidia Zuraya
Ninuk Mardiana Pambudy
Nita Zakiyah
Nizar Qabbani
Nova Burhanuddin
Noval Jubbek
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nur Fauzan Ahmad
Nur Wahid
Nurcholish
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Orasi Budaya
Pangeran Diponegoro
Parimono V / 40 Plandi Jombang
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
Pesantren Tebuireng
Pidato
Politik
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang
PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pramoedya Ananta Toer
Prof. Dr. Nur Syam
Profil Ma'ruf Amin
Prosa
Puisi
Puji Hartanto
Puji Santosa
Pungkit Wijaya
Purwanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
PUstaka puJAngga
Putera Maunaba
Putu Fajar Arcana
R. Ng. Ronggowarsito
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rakhmat Nur Hakim
Ramadhan Alyafi
Rameli Agam
Rasanrasan Boengaketji
Ratnaislamiati
Raudal Tanjung Banua
Reni Susanti
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Retno HY
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar
Rinto Andriono
Risa Umami
Riyadhus Shalihin
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rohman Abdullah
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifuddin Syadiri
Saifudin
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Salahuddin Wahid
Salamet Wahedi
Salman Faris
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sandiaga Uno
Sanggar Pasir
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra Pesantren
Sastrawan Pujangga Baru
Satmoko Budi Santoso
Satriwan
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra Boenga Ketjil
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siswanto
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slavoj Zizek
Snouck Hugronje
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sufyan al Jawi
Sugiarta Sriwibawa
Sulaiman Djaya
Sundari
Sungatno
Sunu Wasono
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susringah
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardi
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaiful Amin
Syaifullah Amin
Syarif Hidayat Santoso
Syeikh Abdul Maalik
Syeikh Muhammad Nawawi
Syekh Abdurrahman Shiddiq
Syekh Sulaiman al Jazuli
Syi'ir
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Tiar Anwar Bachtiar
Tjahjono Widijanto
Tok Pulau Manis
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tu-ngang Iskandar
Turita Indah Setyani
Umar Fauzi Ballah
Uniawati
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usep Romli H.M.
Usman Arrumy
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W.S. Rendra
Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
Wahyu Aji
Walid Syaikhun
Wan Mohd. Shaghir Abdullah
Warung Boengaketjil
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Welly Adi Tirta
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Fei Hung
Y Alpriyanti
Yanti Mulatsih
Yanuar Widodo
Yanuar Yachya
Yayuk Widiati
Yeni Ratnaningsih
Yohanes Sehandi
Yopi Setia Umbara
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudi Latif
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Zaenal Abidin Riam
Zainal Arifin Thoha
Zainuddin Sugendal
Zakki Amali
Zehan Zareez