Tampilkan postingan dengan label Imamuddin SA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imamuddin SA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Oktober 2014

KUNTOWIJOYO DALAM MAKLUMAT SASTRA PROFETIK

Imamuddin SA
http://sastra-indonesia.com

Siapa yang tidak kenal dengan Kuntowijoyo! Ia seorang sastrawan, budayawan, sekaligus akademisi yang lahir di Yogyakarta 18 September 1943. Ia salah seorang maestro yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Karya-karyanya sungguh luar biasa dan menjadi karya besar. Melalui karya-karyanya, Kuntowijoyo mengantongi berbagai macam gelar. Cerpenya yang berjudul “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri “(1995), “Resolusi Perdamaian” (1996), “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan” (1997), dan “Jalan Asmara Dana” (2005), meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik Kompas. Cerpenya yang berjudul “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” (1968) memperoleh hadiah pertama dari majalah Sastra. Naskah dramanya yang berjudul “Rumput-Rumput Danau Bento” meraih hadiah harapan dari BTNI (1968). Sedangkan baskah dramanya yang berjudul “Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma, Barda, Cartasm” dan “Topeng Kayu” memperoleh hadiah kedua dari Dewan Kesenian Jakarta.

Sabtu, 14 Juni 2014

MEMUNGUT JEJAK FIGUR RAHMATAN LIL’ALAMIN

Judul Buku: Pesan Al Quran untuk Sastrawan
Jenis Buku: Kumpulan Esai Budaya dan Agama
Pengarang: Aguk Irawan MN
Tahun: 2013
Penerbit: Jalasutra Yogyakarta
Tebal: x + 434 hlm; 15 cm x 23 cm
Peresensi: Imamuddin SA
http://sastra-indonesia.com

Senin, 27 Februari 2012

KIDUNG IMANENSI RUMI DI BALIK JUBAH MUSA

Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Untuk tiap-tiap umat itu ada rasulnya (QS. Yunus, ayat 47). Berdasarkan ayat tersebut, dalam tiap umat manusia pasti memiliki seorang rasul di setiap zamanya. Rasul tersebut diutus tuhan hanya untuk menyampaikan ajaran kebenaran tentang esensi Tuhan yang telah diselewengkan dan bahkan diingkari oleh suatu umat. Ia mengajak sekaligus mengarahkan mereka yang berada dalam kesesatan agar kembali pada jalan yang benar serta memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Hal tersebut ia lakukan dengan meneladankan sifat dan sikap yang terpancar melalui perkataan maupun perbuatan.

Rabu, 25 Mei 2011

RUMI DAN JEJAK TUHAN DI ATAS SAJADAH MUSA

Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Dalam pembahasan sebelumnya telah disinggung bahwa hakekat hidup manusia di dunia ini adalah untuk kembali kepada Tuhan dengan membawa limpahan keselamatan dan kebahagiaan. Dengan kata lain, orientasi hidup di dunia ini hanya kepada Tuhan. Manusia hidup di dunia ini hanyalah proses pencarian terhadap hakekat Tuhan yang haqq, agar saat ia kembali kepada-Nya kelak sanggup memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.

Kamis, 02 Desember 2010

RUMI DAN SYU’AIB ANTARA HARAPAN DAN PERSEMBAHAN

Imamuddin SA *
http://sastra-indonesia.com/

Harapan identik dengan adanya keinginan. Orang yang menginginkan suatu hal pastilah ia memiliki harapan agar hal tersebut bisa segera terengkuhnya. Sebaliknya, untuk mendapatkan sesuatu tentunya seseorang harus ada pengorbanan, baik pengorbanan secara fisik maupun perasaan. Pengorbanan juga identik dengan persembahan.

Berbicara masalah harapan dan persembahan, kali ini akan diorientasikan pada harapan dan persembahan Syu’aib AS. Syu’aib AS merupakan salah satu dari sekian banyak nabi dan rasul yang diutus tuhan untuk menjadi perantara memberi pencerahan kepada umat manusia yang berjalan dalam lembah kesesatan. Ia diutus untuk kaum Madyan yang cenderung berbuat kemungkaran, kemaksiatan, dan tipu-menipu dalam kehidupan sehari-hari. Yang paling jelas melekat pada kepribadian mereka adalah kecurangan dan penghianatan dalam hubungan dagang, seperti pemalsuan barang, pencurian dalam takaran dan timbangan.

……Berdo’alah, menangislah di waktu malam, sampai terdengar suara yang dahsyat dari langit memecah gendang telingamu…… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).

Ungkapan pertama, yaitu “Berdo’alah, menangislah di waktu malam, sampai terdengar suara yang dahsyat dari langit memecah gendang telingamu”, ini merupakan himbauan dan anjuran dari seorang Rumi. Dalam sajaknya, ia menghimbau kepada siapa saja yang hendak menuju tuhan agar senantiasa bermunajat pada suasana yang hening dan juga penuh dengan ketenangan. Suasana itu tidak lain adalah saat malam telah tiba. Tepatnya pada sepertiga malam karena saat itulah segala bentuk aktifitas manusia yang berkaitan dengan urusan keduniawian telah berhenti sejenak. Jadi momen itulah yang cocok untuk bermunajat kepada tuhan.

Mengapa waktu tersebut merupakan waktu yang cocok untuk bermunajat? Hal tersebut berdasar pada hadits nabi yang berbunyi: sesungguhnya setiap malam, disepertiga akhir malam, Allah turun ke langit dunia, Dia berkata: adakah yang bisa aku Bantu? Adakah yang bisa aku Bantu?

Perlu dijadikan catatan bahwa ungkapan Allah turun ke langit dunia, bukan merujuk pada eksistensi Dzat-tillah yang turun ke dunia. Dalam fenomena, Tuhan sebelumnya berada jauh dari tempat dan jangkauan manusia. Hal tersebut bertolak belakang dengan firman Allah yang artinya “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat dari pada urat lehernya.” (QS. Qaf, ayat 16).

Berdasarkan ayat tersebut, keberadaan tuhan begitu dekat dengan diri pribadi seorang manusia. Ia bahkan lebih dekat dari urat leher manusia. Yang menjadi orientasi makna konotasi ungkapan Allah turun ke langit dunia, adalah rahmat dan hidayah Tuhan diberikan kepada seorang manusia, apabila ia berkenan bermunajat pada waktu itu, sebab Tuhan saat itu menawarkan rahmat dan hidayah-Nya kepada siapa saja yang sedang bermunajat atau memohon kepada-Nya.

Dalam karya ini, Rumi mengambil percontohan munajat yang dilakukan oleh Syu’aib AS. Kisah munajat Syu’aib ini tampaknya Rumi ambil dari karya Attar, yang berjudul Ilehinama. Hal itu mengisahkan bahwa Syu’aib ketika bermunajat mendapatkan bisikan gaib yang datang dari langit. Bisikan itu mempertanyakan perihal munajatnya. Saat itu Syu’aib AS bertaubat akan segala dosa yang pernah dilakukanya.

Katika suasan khusuk melingkupinya, terdengar seruan kepadanya bahwa segala dosanya akan diampuni. Selain itu, seruan itu juga menawarkan kepada Syu’aib AS perihal kenikmatan surga dan memerintahkan dia untuk segera mengakhiri munajatnya.

……“Jika kau orang yang bergelimang dosa, akan kumaafkan kau dan kuampuni dosa-dosamu. Surgakah yang kau ingin raih? Lihatlah, kuberi sekarang, diam dan akhiri permintaanmu itu!” …… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Saat mendengar bisikan semacam itu, Syu’aib AS tidak serta-merta memperoleh kepuasan diri serta kebahagiaan hati. Ia tidak menghentikan munajatnya. Ia justru semakin khusuk dan bahkan menolak tawaran surga yang dijanjikan kepadanya. Ia tetap berdiri kokoh dengan harapan dan juga keinginan utamanya yaitu bertemu dan bersanding dengan Tuhan, sebab hanya Dia-lah Dzat yang sepatutnya dijadikan tujuan peribadatan dan penghambaan, bukan surga, neraka maupun yang lainya. Sebagaimana Al Qahthani menjelaskan bahwa Allah (Tuhan) adalah Dzat yang diibadahi dan dijadikan tujuan penghambaan, yang memiliki hak penghambaan serta peribadatan makhluk-makhlu-Nya.

Tidak hanya itu, Syu’aib bahkan meneguhkan hati bahwa ia akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan, walaupun seluruh samudra telah menjadi api. Jika di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan, ia akan rela menghanguskan diri ke dalamnya.

……Syu’aib menjawab, “ Tak kuminta ini ataupun itu. yang kuminta hanyalah menatap wajah tugan semata. Walaupun tujuh samudra seluruhnya menjadi kobaran api yang mematikan, akan kuhanguskan diriku jika disitu aku dapat menyatu dengan-Nya!”……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Bagi pecinta sejati, yaitu orang-orang yang benar-benar mengoroientasikan hidupnya hanya kepada tuhan semata, hal tersebut tidaklah aneh. Baginya, segala sesuatu yang bersifat kebendaan dan kemakhlukan berada dalam kekuasaan Tuhan. Sesungguhnya ia tidak memiliki suatu daya dan kekuatan kecuali atas kehendak dan kuasa Tuhan, sehingga ia tidak perlu ditakuti.

Api adalah benda dan makhluk sebab ia termasuk barang baru yang merupakan salah satu dari sekian banyak ciptaan Tuhan. Jika Tuhan berada di dalam kobaran api, bagi pecinta sejati, semua itu tidaklah menjadi sebuah penghalang untuk segera bertemu dan bersanding dengan-Nya. Ia tidak akan ragu dan takut akan sengatan panasnya, sebab ketika Tuhan telah bersamanya, panas api tidak akan ada artinya. Semua akan tunduk bersama kuasa-Nya. Sebagaimana kisah Ibrahim AS yang dilemparkan Namrut ke dalam tungku api yang begitu besar. Saat itu panas api bukan membakar tapi berubah menjadi kenikmatan dan juga rahmat. Firman tuhan yang berbunyi: Hai api menjadi dinginlah dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim (QS. Al-Ambiyaa’:69).

Berbeda dengan orang-orang yang hanya berorientasi pada aspek keduniawian, ini sungguh aneh dan mustahil untuk dilakukanya. Jangankan ia berani menghanguskan diri ke dalam lautan api, ia baru melihat nyala api dari sebuah rumah yang terbakar, sudah lari terbirit-birit.

Bukan sekedar itu, dalam munajatnya, Syu’aib AS kembali mengujarkan harapanya secara lebih khusuk. Ia berkata bahwa munajat yang dilakukanya tidak akan berhenti sebelum ia mendapatkan pengabulan harapanya. Ia akan terus memohon dengan linangan air mata agar bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan. Ia tidak mendambakan apapun selain tuhan. Ia bahkan rela berada di dalam neraka asalkan di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan. Surga bukan jadi orientasinya lagi dan bukan tempat yang layak ia huni ketika di sana ia tidak menemukan tuhan.

Sungguh peneguhan hati yang luar biasa. Ia telah lepas dari keterikatan eksistensi surga dan neraka secara universal. Surga yang notabenenya menawarkan kenikmatan-kenikmatan, ia singkirkan begitu saja. Neraka yang notabenenya penuh dengan siksa dan derita, justru ia pilih asalakan di tempat itu ia bisa bertemu dan bersanding dengan tuhan.

……Tapi jika aku tak diizinkan menatap-Nya, maka mataku akan terendam air mata menutup rapat hingga terhalang untuk melihat impian itu, lebih baik aku menetap di api neraka, surga bukanlah tempat tinggalku…… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan, seorang manusia harus dalam kondisi suci lahir dan batin.Tindakan untuk melepasakan diri dari keterikatan rasa terhadap segala sesuatu selain tuhan merupakan tahap terakhir dari hakekat bersuci dan mensucikan diri. Sebagaimana Al-Ghazali menegaskan bahwa bersuci itu ada empat tahapan, yaitu; 1) membersihkan lahir (anggota badan) dari hadas dan kotoran-kotoran, 2) membersihkan badan dari perbuatan-perbuatan dosa, 3) membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan hina, 4) membersihkan pribadi dari selain tuhan.

Surga dan neraka merupakan salah satu dari ciptaan Tuhan. Setiap ciptaan berarti masuk dalam kriteria makhluk, oleh karena itu, surga dan neraka bukanlah tujuan utama bagi seorang pecinta sejati seperti Syu’aib AS. Eksistensinya harus dilenyapkan dari pribadi seseorang yang benar-benar hendak menuju tuhan. Hal tersebut disebabkan surga dan neraka sanggup menjadi tabir penghalang bagi pribadi seseorang untuk bisa bertemu dan bersanding bersama tuhan. Sejalan dengan itu, Al-Farabi juga menyatakan bahwa pada dirimu dan dari dirimu ada hijab, apalagi dari pakaianmu yang berupa badan, karena itu berusahalah untuk menghilangkan hijab dan telanjang, dan dalam keadan demikian engkau dapat mencapai-Nya.

Esensi dan eksistensi tuhan menjadi orientasi utama dalam munajat ini. Syu’aib AS selalu memberi penegasan-penegasan yang begitu mendalam akan hasrat dan keinginannya untuk bertemu dan bersanding besama tuhan. Baginya, surga terasa seperti neraka Jahannam apabila tidak diliputi dengan cinta kasih Tuhan.

……Tanpa belas kasih-Nya, surga bagiku hanya seperti neraka Jahannam. Aku akan dilulur oleh warna dan aroma bau sang maut; dimanakah cahaya keabadian yang diperdebatkan itu? …… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Ungkapan belas kasih-Nya jika ditinjau lebih jauh akan merujuk pada nama Tuhan dalam asmaulhusnah yaitu Ar-rahma dan Ar-rahim. Nama ini berada dalam urutan paling awal. Hal tersebut menunjukan bahwa nama ini merupakan nama yang utama bagi tuhan. Perlu diingat bahwa di dalam sebuah nama pastilah mencerminkan sifatnya. Jadi dalam nama Ar-rahman dan Ar-rahim mengandung sifat Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Sebagai mana Ibnu Qoyyim berkata bahwa di dalam nama-nama-Nya terdapat sifat-Nya.

Ar-rahman dan Ar-rahim merupakan pondasi awal dalam mencipta segala sesuatu yang berada dalam kesemestaan alam ini. Segala sesuatu tidak mungkin tercipta tanpa diikuti dengan kasih sayang Tuhan. Begitu juga dengan keberadaan surga. Surga tidak mungkin ada jika ia tidak diliputi kasih sayang Tuhan. Tuhan mengadakan suatu hal merupakan bukti kasih saying-Nya sehingga hal tersebut ada secara esensi dan eksistensinya. Oleh karena itu, nabi mengisarahkan agar dalam setiap hendak melakukan sesuatu harus diawali dengan membaca basmalah. Hal tersebut menandai bahwa setiap gerak manusia adalah berkat kasih sayang Tuhan.

Untuk kata surga, ini bisa ditafsirkan pada pemberian Tuhan yang berupa kenikmatan. Jika pemberian Tuhan yeng berupa kenikmatan ini dalam munajatnya diterima oleh Syu’aib, ia takut menjadi penghalang untuk bisa bertemu dan bersanding bersama-Nya. Ia menjadi lalai dengan tujuan utamanya, yaitu Tuhan. Ia bisa terbuai dengan kenikmatan-kenikamatan yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

Jika ia telah terbuai oleh hal tersebut, secara otomatis ia akan lupa terhadap pemberi-Nya (Tuhan). Ketika ia lupa, kenikmatan itu bisa berubah menjadi bencana dan siksa bagi dirinya. Selain itu ia bisa gagal bertemu dan bersanding bersama tuhan. Hal tersebut sesuai dengan ungkapan bahwa orang yang hanya bergembira dengan Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena kurnia-Nya, sebab ia sibuk memperhatikan-Nya, sehingga terhibur oleh-Nya semata, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah. Selain itu, siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala’. Kiranya hal itulah yang menyebabkan Syu’aib AS menolak pemberian surga dan berdalih bahwa surga bisa berubah menjadi Jahannam baginya jika di sana ia tidak mendapat cinta kasih Tuhan dengan membiarkanya bisa bertmu dan bersanding bersama-Nya.

Mengapa Syu’aib bertanya tentang keberadaan cahaya keabadian? Hal itu sebenarnya sebagian i’tibar dari penyebutan diri Tuhan. Tidak ada sesuatu yang abadi kecuali diri Tuhan semata. Adapun idiom Tuhan digantinya dengan kata cahaya. Ini sesuai firman-Nya dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 35 yang artinya: Allah adalah cahaya langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar, pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohin yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui sesuatu (QS. An-Nur:35).

Syu’aib merindukan cahaya keabadian itu sehingga ia menanyakan terus perihal keberadaanya. Cahaya itu adalah cahaya Illahiah, cahaya di atas cahaya. Dialah pembimbing manusia untuk menuju hakekat hidup yang sejati dan tidak ada yang sanggup memberi bimbingan menuju kesejatian kecuali Dzat Tuhan semata. Itulah esensi dasar Syu’aib AS mengi’tibarkan tuhan dengan memakai idiom cahaya.

……Kata mereka, “Akhiri ratap tangismu, agar penglihatanmu tidak hitam, sebab matamu akan buta jika menangis berlebih-lebihan” ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).

Kata mereka merujuk kepada orang-orang yang berada disekeliling Syu’aib AS yang tidak lain adalah kaum Madyan. Hal tersebut bukanlah merujuk pada sesuatu yang lain, baik mengarah pada bisikan gaib dari langit atau yang lainya. Ini adalah kaumnya sendiri. Rujukan ini berdasar pada terjemahan karya Rumi yang diberi judul Kasidah Cinta dan diterjemahkan Hartoyo Andangjaya. Dalam terjemahan itu kata mereka di ungkapkan dengan artian orang-orang berkata.

Secara lebih rinci, ungkapan tersebut merupakan himbauan dari kaum Syu’aib AS. Mereka menghimbau agar Syu’aib AS mengakhiri munajat dan tangisanya sebab ia bisa mengalami kebutaan mata. Tampaknya peristiwa ini diasumsikan berlangsung ketika hari sudah menjelang pagi. Saat itu orang-orang sudah mulai melansungkan aktifitas sehari-harinya. Ini diperkirakan saat orang-orang berlalulalang di sekitar rumah Syu’aib AS.

Saat mendapat himbauan semacam itu, Syu’aib AS justru memberi penegasan kepada mereka. Syu’aib berkata bahwa ia tidak akan bersedih karena buta. Baginya, buta mata tidaklah berarti sebab menurutnya bagian tubuh yang lain bisa berubah menjadi mata. Tentunya semua itu juga tidak terlepas dari kehendak, kuasa, dan keridlaan Tuhan.

……Syu’aib menjawab, “Bila kedua mataku akhirnya buta hanya karena menangis, maka setiap bagian dari diriku akan berubah menjadi mata; mengapa aku harus bersedih karena buta?” ……(Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz).

Ungkapan ini jika dinisbatkan dapat merujuk pada Al-qur’an surat Yasin ayat 65 yang artinya; “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan dan kaki mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. Hal ini menunjukan adanya Kebasaran dan Maha Kuasanya Tuhan yang sanggup menjadikan segala sesuatu bisa berbicara, melihat, dan juga mendengar. Tuhan tidak merasa kesulitan untuk melakukan hal itu.

Salah satu pertanda Maha Kuasa Tuhan yang ditunjukkan-Nya di dunia ini adalah menjadikan kepekaan indra yang sangat tinggi bagi orang yang buta. Orang buta tidak bisa melihat sesuatu dengan matanya, tetapi Tuhan memberikan rahmat-Nya yang lain yang berupa kepekaan terhadap indra-indra yang lain pula, oleh karena itu, orang buta bisa mendeteksi segala hal yang ada disekelilingnya dengan cermat. Ia bisa mengetahui sesuatu dengan pasti lewat perantaraan indra peraba, pencium, pencecap, dan pendengarnya. Tidak hanya itu, Tuhan bahkan juga memberinya mata batin yang kerap dikenal dengan istilah indra keenam. Hal itulah yang kiranya menjadi maksud dan tujuan perkataan Syu’aib AS bahwa setiap bagian dari tubuhnya akan berubah menjadi mata.

……Namun jika akhirnya Ia merampas mataku untuk selamanya, akan kubiarlah mata benar-benar menjadi buta karena ia tidak layak menatap junjungan kasih!” …… (Jalaluddin Rumi, Diwan Syam-i Tabriz)

Dalam penegasanya lebih lanjut, Syu’aib AS mengungkapkan bahwa ia akan mengikhlaskan kedua matanya menjadi buta. Hal tersebut dilakukanya sebagai suatu bentuk persembahanya kepada tuhan. Syu’aib AS benar-benar tulus dan ikhlas memberikanya, ketika penglihatan itu harus diminta kembali oleh Tuhan.

Tampaknya hal ini sesuai dengan makna dasar ungkapan inna lillahi wainna ilaihi raajiuun. Arti ungkapan tersebut yaitu segala sesuatu adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya ia akan kembali kepada-Nya. Syu’aib AS menyadari benar akan hal itu. Ia paham betul bahwa dirinya dan seluruh isi alam semesta ini adalah kepunyaan Tuhan dan suatu saat pasti akan kembali kepada-Nya juga.

Segala yang dimiliki oleh manusia pada hakekatnya hanyalah titipan Tuhan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Yang dikatakan titipan, suatu saat pasti akan diambil oleh pemiliknya. Saat itulah seseorang harus rela dan ikhlas menyerahkan kepada pemiliknya yang mutlak. Begitu juga dengan eksistensi indra penglihatan, ia merupakan titipan Tuhan yang dibebankan kepada manusia sebagai alat utuk melihat segala sesuatu yang ada disekelilingnya. Untuk semuanya itu, tidak ada batasan waktu dalam pengambilanya. Kapanpun dan dimanapun, Tuhan sewaktu-waktu bisa mengambilnya. Entah diambil pada akhir hayat manusia ataupun di masa tua, muda, maupun balita, semuanya masih berada dalam misteri ilahiah.

Selain itu Syu’aib AS juga sadar bahwa penglihatan mata lahir manusia tidak sanggup menangkap keberadaan Dzat Tuhan yang sejati. Hal tersebut dikarenakan Dzat Tuhan yang sejati bersifat kasat mata yang tidak dapat maujud di dalam alam materi. Ia bahkan tidak dapat digapai dengan logika. Ia hanya dapat digapai dengan keyakinan dan pengetahuan intuitif bahkan Ia merupakan wujud yang sempurna.

Kesadaran semacam inilah yang ditunjukan oleh Syu’aib AS. Dengan merelakan penglihatan lahirnya kepada Tuhan. Ia menumbuhkan harapan baru dalam hatinya. Ia berharap dengan kebutaanya, Tuhan berkenan memberikan penglihatanya yang baru yang berupa penglihatan batin melalui peneguhan keyakinan dan juga pengetahuan intuitif, yaitu pengetahuan yang berdasarkan pada wahyu ilahiah. Sungguh harapan dan persembahan yang begitu agung dari seorang Syu’aib AS.

Perlu diingat, dalam sejarah para nabi, Syu’aib pada akhirnya tidak mengalami kebutaan mata secara fisik. Karakter fisiknya pada umumnya sama dengan kebanyakan orang. Ia utuh dan tidak mengalami cacat pada kostruksi fisiknya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Harapan Syu’aib dalam munajatnya hanyalah ingin bertemu dan bersanding bersama Tuhan (Allah) di kehidupan mendatang, yaitu akhirat. Harapan itu ia iringi dengan sebuah persembahan yaitu peniadaan surga dan neraka dalam dirinya. Ia melepas keterikatan diri terhadap esensi dan eksistens surga yang notabenenya menjadi tujuan hidup manusia pada umumnya.. Tidak hanya itu, ia bahkan rela menyerahkan penglihatan lahirnya sebagai sebuah persembahan asalkan ia kelak dapat bertemu dan bersanding bersama Tuhan (Allah). Tentunya, persembahan tersebut diliputi dengan perasaan tulus dan ikhlas yang terpancar dari pribadinya.

=========
*) Imamuddin SA, lahir di desa Kendal-Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim. 13 Maret 1986, nama aslinya Imam Syaiful Aziz. Aktif mengikuti diskusi di Forum Sastra Lamongan [FSL], Candrakirana Kostela, Sanggar Seni Simurg. Sempat sebagai sekretaris redaksi pada Jurnal Sastra Timur Jauh, serta Jurnal Kebudayaan The Sandour. Karya-karyanya terpublikasi di Majalah Gelanggang, Gerbang Masa, Tabloid Telunjuk, Jurnal Kebudayaan The Sandour, dll. Karyanya terantologi di Lanskap Telunjuk, Absurditas Rindu, Khianat Waktu, dan Memori Biru. Antologi tunggalnya: Esensi Bayang-Bayang (PUstaka puJAngga), Sembah Rindu Sang Kekasih (PUstaka puJAngga).

Rabu, 24 November 2010

Sastra Klasik al-Isra’ wal-Mi’roj (Karya Imam Najmudin Ghoitd)

Diterjemahkan dari Arab ke Jawa: Yusuf Jaelani
Khototib: Isti Anisa
Alih bahasa ke Indonesia: Imamuddin SA
Diterbitkan PUstaka puJAngga, 11 Juni 2008.
http://sastra-indonesia.com/

Pada suatu ketika, saat malam telah tiba. Kerlap-kerlip bintang di langit cerah menjadi pesona yang begitu berharga. Menjadi saksi akan kemuliaan seorang manusia. Saat itu bertepatan tanggal 27 Rojab 11 kenabian, Nabiullah Muhammad SAW beristirahat. Tidur menyamping di samping Hijir Ismail. Dekat Baitullah. Di samping kanan dan kiri beliau ada dua orang pemuda (Sayyidina Hamzah dan Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib). Tiba-tiba di tempat tersebut, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan Mikail. Selain kedua malaikat itu masih ada satu malaikat lagi, yaitu Malaikat Isrofil. Kemudian ketiga malaikat itu membopong Nabiullah Muhammad hingga sumur Zam-Zam. Lantas Nabiullah Muhammad ditelentangkan di sana. Adapun yang menjadi penanggung jawabnya adalah Malaikat Jibril.

Di dalam sebuah riwayat lain dijelaskan bahwa: tiba-tiba atap rumah saya tersingkap. Lantas Malikat Jibril masuk. Setelah itu Jibril membedah/mengoperasi dada Nabiullah Muhammad. Dimulai dari bawahnya leher hingga sampai di bawahnya perut. Malaikat Jibril kemudian berucap kata kepada Malaikat Mikail: “Ambillah bokor emas yang berisikan air Zam-Zam. Saya hendak menyucikan hati dan batinnya (manah) Nabiullah Muhammad SAW. ” Setelah itu, Malikat Jibril mengeluarkan hatinya Nabiullah Muhammad SAW sampai tiga kali. Dan membuang semua kotoran yang terdapat di dalam batin Kanjeng Nabi. Adapun Malikat Mikail mondar-mandir sambil membawa tiga bokor emas yang di dalamnya berisikan air Zam-Zam.

Setelah melakukan semua hal itu, kemudian membawa bokor emas yang isinya penuh dengan hikmah dan iman. Selanjutnya isi bokor tersebut ditumpahkan ke dalam hatinya Kajeng Nabi hingga batin beliau berisi penuh dengan sifat: sabar, alim, yakin, dan islam. Lantas dikembalikan seperti sediakala. Dan diberikan gelar kenabian oleh kedua malaikat tersebut.

Selanjutnya Kanjeng Nabi Muhammad disediakan kendaraan Buroq. Lengkap dengan pelana dan kendalinya. Buroq adalah sejenis hewan yang berbuluh putih, tinggi melebihi Himar dan lebih pendek dari Bighol. Sekali melangkahkan kakinya. Sejauh mata memandang. Kedua telinganya selalu bergerak-gerak.

Saat naik gunung, kedua sukunya yang belakang memanjang. Dan saat turun gunung, kedua sukunya yang depan memanjang. Buroq itu memiliki sepasang sayap di kedua pupuhnya. Kedua sayap itu berfungsi untuk membantu kecepatan larinya. Buroq berjingkrak-jingkrak memperlihatkan kekuatannya. Lantas Jibril meletakkan kedua tangannya tepat di kepala Buroq. Dan berkata: “Tidakkah kamu malu, wahai Buroq? Demi Allah! Orang yang hendak menaikimu ini adalah orang yang paling mulia di hadapan Allah SWT.” Lantas Buroq tersipu malu hingga keringatnya berkucuran laksana rerintik hujan. Dan dia pun tenang. Hingga Kanjeng Nabi naik di atas punggungnya.

Buroq itu sebenarnya sudah pernah dinaiki oleh para nabi sebelum Nabiullah Muhammad SAW. Sa’id bin Musayyap menjelaskan bahwa: “Buroq itu merupakan kendaraannya Nabi Ibrahim AS yang biasanya dinaiki untuk bepergian ke Baitul Haram (Mekah)”.

Selanjutnya Nabiullah Muhammad berangkat dengan didampingi Malikat Jibril di sebelah kanan dan Malikat Mikail di sebelah kiri. Menurut keterangan Ibnu Sa’id: “Jibril bagian memegang tempat duduknya, Mikail memegang tali kendalinya”.

Setelah itu kembali melanjutkan perjalanannya hingga sampai di kebun kurma. Jibril berkata kepada Kanjeng Nabi: “Saya persilahkan Kanjeng Nabi untuk turun, dan bersedialah kiranya untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Kanjeng Nabi turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Jibril bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Mengertikah ya Baginda Rasul, di tempat manakah Baginda Rasul mengerjakan shalat tadi?” Kanjeng Nabi menjawab: “Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di Thoyyibah (Madinah) ……Di tempat itulah kelak Baginda Rasul akan berhijrah.”

Tidak lama kemudian Buroq berangkat lagi dengan kecepatannya yang sangat kencang. Begitu sekali melangkahkan kakinya, sejauh mata memandang. Laksana kilatan halilintar sudah sampai tempat tujuan. Jibril berkata kepada Kanjeng Nabi: “Saya persilahkan Kanjeng Nabi untuk turun, dan bersedialah kiranya untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Kanjeng Nabi turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Jibril bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Mengertikah ya Baginda Rasul, di tempat manakah Baginda mengerjakan shalat tadi?” Kanjeng Nabi menjawab: “Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi mengerjakan shalat di Madin di dekat Sajaroh Musa (pohon tempat Nabi Musa berteduh ketika keluar dari Mesir, sebab dikejar-kejar Raja Fir’un).”

Lantas Kanjeng Nabi berangkat kembali: Buroq berlari dengan kencangnya. Dan berhentilah kembali. Jibril pun berkata: “Saya persilahkan Kanjeng Nabi untuk turun, dan bersedialah untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Kanjeng Nabi turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Jibril bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Mengertikah ya Baginda Rasul, di tempat manakah Baginda mengerjakan shalat tadi?” Kanjeng Nabi menjawab: “Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di Bukit Thursina. Tempat munajatnya Nabi Musa AS dan tempat Nabi Musa AS beraudensi dengan Allah SWT.”

Terus Kanjeng Nabi melanjutkan perjalanannya kembali hingga tiba di tanah yang terlihat bangunan gedung-gedung Negeri Syam berdiri kokoh. Jibril berkata: “Saya persilahkan Kanjeng Nabi untuk turun, dan bersedialah untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Kanjeng Nabi turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Buroq berlari kencang. Larinya laksana menyambar-nyambar. Jibril bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Mengertikah ya Baginda Rasul, di tempat manakah Baginda mengerjakan shalat tadi?” Kanjeng Nabi menjawab: “Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di Betlehem, tanah tempat Nabi Isa dilahirkan.”

Dan di tengah-tengah perjalanan, saat Kanjeng Nabi masih berada di atas punggung Buroq. Tiba-tiba Kanjeng Nabi melihat Jin Iffrit (Jin yang jahat). Yang bergegas mengikuti Kanjeng Nabi dengan membawa sebuah obor. Setiap kali Kanjeng Nabi menoleh ke belakang, Jin Iffrit terlihat masih ada. Selanjutnya Jibril berkata: “Apakah Baginda Rasul menginginkan saya untuk mengajari baginda kalimat-kalimat, apabila kalimat-kalimat itu Baginda baca, tentu akan padam obor tersebut dan Iffrit akan tersungkur.”

Menjawab Kanjeng Nabi: :……Silahkan.” dan Jibril pun akhirnya berkata: :……Baginda Rasul saya persilahkan untuk membaca: Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Mulia. Dan kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Yang tidak dapat dilanggar oleh orang-orang shalih dan jahat. Serta dari bala’-kejahatan yang turun dari langit. Dan bahaya kejahatan yang naik ke langit. Pun dari kejahatan makhluk melata di bumi. Dan dari kejahatan hewan-hewan yang keluar dari dalam bumi (seperti ular, kalajengking, dan sebagainya). Serta dari bahaya fitnah-godaan di waktu malam dan siang tiba. Pun dari bencana yang datangnya tiba-tiba ketika waktu siang dan malam. Kecuali apabila datang sesuatu yang membawa rahmat-kesehatan. Wahai Dzat yang Maha Pengasih.” Dan akhirnya Jin Iffrit pun tersungkur.

Kemudian Kanjeng Nabi melanjutkan perjalanannya kembali hingga tiba di sebuah umat yang saat itu sedang bercocok tanam. Namun anehnya, tanaman yang baru saja ditanam itu dengan seketika bisa dipanen. Setiap kali dipanen, tanaman itu langsung kembali seperti semula. Kanjeng Nabi bertanya kepada Malikat Jibril: “Apa maksudnya dari semua itu?” Jibril menjawab: “Semua itu merupakan contoh dari umat Baginda Rasul yang berjihad berjuang fi sabilillah. Satu amal shalih akan dilipat gandakan pahalanya hingga tujuh ratus kebaikan …… Serta contohnya orang-orang yang suka berinfaq harta benda, tenaga, dan pikirannya guna menyiarkan agama islam. Semua itu adalah sebagai ganti dari Allah SWT.

Selanjutnya Kanjeng Nabi mencium aroma yang sangat sedap keharumannya. Kanjeng Nabi bertanya: “Jibril, aroma harum apakah ini?” Jibril menimpali: “Ini adalah aroma harum Ibu Masyitoh. Seorang wanita yang bekerja sebagai juru sisir Raja Fir’un dan putri-putrinya. Suatu ketika, Masyito menyisir rambut putrinya Raja Fir’un. Tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dengan sepontan Ibu Masyitoh bibirnya mengucap: ….. Dengan menyebut nama Allah, dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Celakalah Fir’un.” Putri Fir’un mendengar ucapan itu. Dia terkejut dan bertanya: “Apakah kamu mempunyai tuhan selain Bapak saya?” Masyitoh menjawab: “Ya!”. Putri Fir’un bertanya kembali: “Beranikah kamu, saya laporkan kepada bapak saya atas apa yang baru saja kamu ucapkan?” Masyitoh menjawab: “Silahkan!” Lantas Putri Raja Fir’un tersebut melaporkan semua perkataan yang telah diucapkan Masyitoh kepada Raja Fir’un. Selanjutnya Fir’un memanggil Msyitoh untuk menghadap dan bertanya: “Apakah kamu mempunyai tuhan selain saya?” Kemudian Masyitoh pun menjawabnya dengan tegas: “Iya, benar. Tuhan saya dan tuhan Baginda Raja itu adalah Allah SWT.”

Dewi Msyitoh itu memiliki dua putra laki-laki dan seorang suami. Setelah itu Raja Fir’un memanggil ke hadapannya dengan maksud ingin membujuk dan mempengaruhi agar Masyitoh dan suaminya berkenan meninggalkan agamanya. Namun Masyitoh dan suaminya tetap tidak mau murtad (menolaknya). Fir’un kemudian berkata: “Kalau begitu, saya akan benar-benar menghukum mati kalian berdua!” Dewi Msyitoh menjawabnya: “Silahkan! Saya hanya meminta yang terbaik dari Baginda Raja. Apabila kami semua jadi dibunuh, saya berharap agar ditempatkan dalam satu tempat yang sama dan dikubur dalam satu kuburan yang sama pula.” Fir’un membalasnya: “Ini jadi hakmu. Saya akan melaksanakannya.” Raja Fir’un lalu memberi perintah agar segera menyiapkan ke’nce’ng dembogo (penggorengan yang terbuat dari tembaga yang sagat besar). Dan diisi dengan minyak Zaitun. Pun dipanaskan hingga mendidih. Selanjutnya Raja Fir’un memerintahkan agar Masyitoh beserta putra-putrinya segera dimasukan ke dalam tempat penggorengan tersebut.

Tidak lama kemudian, mereka semua di masukkan satu persatu hingga anaknya yang masih bayi dan baru berumur delapan bulan. Saat itu hati Dewi Masyito sempat ragu-ragu, keimanannya goyah. Lantas bayi yang masih menyusu itu berkata: “Wahai Ibuku! Bersedialah Ibu untuk segera mencelupkan diri. Janganlah maju-mundur, karena sesungguhnya Ibu itu memegang teguh sebuah kebenaran.” Selanjutnya Masyito beserta putra-putrinya dimasukkan ke dalam tempat penggorengan yang mendidih tersebut.
Perowi hadits berkata: “Bayi yang sudah sanggup berbicara semenjak ia berada di dalam ayunan itu ada empat: 1) Bayinya Dewi Masyitoh, 2) Bayi yang menjadi saksinya Nabi Yusuf, 3) Bayi saksinya Juraij, 4) Bayi Nabi Isa bin Maryam AS.”

Lantas Kanjeng Nabi melanjutkan perjalanannya kembali. Dalam perjalanan berikutnya, beliau bertemu dengan sekelompok orang yang memukul-mukul kepalanya sendiri dengan palu godam hingga kepalanya pecah. Tidak lama kemudian kepala tersebut kembali utuh seperti sediakala. Kemudian orang-orang tersebut kembali memukulinya lagi dengan tiada henti-hentinya. Kanjeng Nabi bertanya: “Jibril, siapa orang-orang tersebut?” Jibril menjawab: “Mereka adalah gambaran dari orang-orang yang berat dan bermalas-malasan dalam mengerjakan shalat maktubah.”

Setelah itu, Kanjeng Nabi meneruskan perjalanannya hingga bertemu dengan sekelompok orang yang semuanya setengah telanjang (hanya bercawat. Sekedar menutupi kemaluannya saja) yang digembalakan seperti unta dan kambing (digiring). Orang-orang tersebut memakan tumbuh-tumbuhan yang berduri dan Zakum. Bara dan batu mengangah dari neraka Jahannam. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa orang-orang tersebut?” Jibril menjawab: “Mereka adalah contoh dari sebagian umat Baginda Rasul yang sudah waktunya mengeluarkan zakat namun enggan mengeluarkan zakat. Yang seperti itu, bukanlah Allah yang menyengsarakannya, (namun akibat dari perbuatannya sendiri yang menyengsarakannya).”

Lantas Kanjeng Nabi meneruskan perjalanannya kembali. Kemudian bertemulah beliau dengan sekelompok orang yang jumlahnya sangatlah banyak. Mereka menunggu daging matang yang masih segar yang berada di dalam kuwali (cawan besar) dan daging lain yang masih mentah serta busuk. Anehnya, orang-orang tersebut memakan daging yang busuk dan meninggalkan daging yang matang lagi enak. Kanjeng Nabi berkata: “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah contohnya orang laki-laki dari umat Baginda Rasul yang sudah memiliki istri yang halal dan bagus, namun masih saja melakukan perbuatan zinah dengan wanita lain yang tidak halal serta buruk. Hingga lelaki tersebut menidurinya sampai pagi tiba. Serta contohnya seorang wanita yang sudah mempunyai suami halal dan baik, namun masih saja melakukan perbuatan zinah dengan lelaki lain yang buruk. Serta tidur bersama lelaki tersebut hingga pagi tiba.”

Kanjeng Nabi meneruskan kembali perjalanannya lantas bertemu dengan sebatang pohon yang penuh dengan duri melintang di tengah-tengah jalan. Hendak menyobek baju dan menyakiti sekujur tubuh orang-orang yang lewat di tempat itu. Kanjeng Nabi bertanya: “Maksudnya apa semua ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Semua ini adalah sebagian contoh dari umat Baginda Rasul yang senang begadang di pinggir jalan dan dalam begadangnya tersebut, mereka kerap membuat usil kepada orang-orang yang hendak melintas di depannya, sementara orang yang melintas tadi hendak melakukan perbuatan baik dan mulia.” Kemudian Jibril membaca sebuah ayat: “Dan janganlah kamu sekalian begadang di tepi-tepi jalan dengan maksud mengganggu dan berbuat usil kepada orang-orang yang hendak lewat, dan janganlah kalian semua menghalang-halangi agama Allah SWT.” (Al-Akhzab:56).

Selanjutnya Kanjeng Nabi meneruskan perjalanannya kembali hingga bertemu dengan orang-orang yang berenang di sungai darah yang dilempari bebatuan. Kanjeng Nabi bertanya: “Apa artinya semua ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Semua itu merupakan sebagian contoh dari orang-orang yang kerap memakan harta riba.”

Setelah itu Kanjeng Nabi berangkat kembali untuk melanjutkan perjalanannya. Beliau kemudian bertemu dengan orang-orang yang mengumpulkan kayu bakar, yang mengikat kayu tersebut dalam satu ikatan yang besar. Mereka tidak kuat memanggul kayu-kayu tersebut namun justru malah ditambahi beban kayu lagi. Kanjeng nabi berkata: “Apakah maksud semua itu Jibril?” Jibril menjawab: “Semua itu adalah sebagian contoh dari umat Baginda Rasul yang sudah banyak menerima tanggungan dan amanah dari sesamanya. Mereka sudah tidak mampu lagi melaksanakan tanggungan dan amanah tersebut namun masih berkenan menerima bahkan masih mencari-cari tanggungan dan amanah lagi. (seperti: hutang belum dibayar, namun sudah hutang lagi, dan hutang lagi)”.

Kemudian Kanjeng nabi berangkat lagi dan bertemu dengan sekelompok orang yang saling mengguntingi lisan dan bibirnya sendiri-sendiri dengan menggunakan gunting besi. Setiap kali digunting, lisan dan bibirnya terputus. Setelah itu kembali utuh seperti semula. Begitu seterusnya. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa meraka wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah ahli fitnah (suka memfitnah) dan merupakan sebagian contoh dari umat Baginda Rasul yang ahli nasihat. Ahli memberi pembelajaran kepada orang banyak. Suka mengajak kepada kebaikan dan kemaslahatan namun dirinya sendiri tidak pernah mengerjakannya (tindakan menasehatinya hanya berorientasi pada harta, tahta, kedudukan, dan suka dimuliakan).”

Setelah itu, Kanjeng Nabi berjumpa dengan sekelompok kaum yang mencakar-cakar wajah dan dadanya sendiri-sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga yang sangat tajam. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah sebagian contoh dari oran-orang yang suka memakan daging manusia (kanibal). Artinya: orang-orang tersebut adalah orang-orang yang ahli mengumpat, senang menyebarluaskan aib orang lain. Senang membuat nama baik orang lain menjadi tercemar.”

Kanjeng Nabi berangkat meneruskan perjalanannya kembali, lantas menjumpai sebuah lubang yang sangat kecil. Dari dalamnya keluar sapi yang sangat besar. Sapi tersebut berusaha ingin masuk ke dalam lubang yang sangat kecil itu lagi, namun tidak bisa masuk. Kanjeng Nabi bertanya: “Apa maksud dari semua ini Jibril?” Jibril menjawab: “Semua ini adalah sebagian contoh dari umat Baginda Rasul yang salah berbicara. Mereka sudah terlanjur berbicara sedangkan ucapan yang diutarakan tadi adalah ucapan yang bersifat penting-rahasia-berbahya-merusak di dunia dan akhirat. Namun pada akhirnya mereka menyesali semua ucapannya tadi. Tentu saja ucapan tersebut tidak dapat ditarik kembali.”

Dalam penjelasan isra’ mi’raj tersebut, Kanjeng Nabi tiba-tiba dipanggil-panggil oleh seseorang dari arah kanan: “Wahai Muhammad! Bersedialah kamu untuk berhenti sebentar. Saya hendak bertanya sesuatu kepadamu.” Namun Kanjeng Nabi tidak menolehkan kepalanya sedikitpun dan enggan menjawab seruan orang tersebut. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Itu adalah seruan dari orang Yahudi. Ingatlah! Seumpama Baginda Rasul tadi berkenan menjawab seruan itu, sudah barang tentu umat Baginda Rasul akan menjadi Yahudi semuanya.”

Lantas Kanjeng Nabi berangkat lagi. Tiba-tiba beliau dipanggil-panggil seseorang dari arah kiri: “Wahai Muhammad, saya meminta kamu untuk berhenti sejenak dan menunggu saya. Saya ingin bertanya sesuatu hal kepadamu.” Namun Kanjeng Nabi tidak menghiraukannya. Kanjeng Nabi berkata: “Siapa lagi itu ya Jibril?” Jibril menjawab: “Itu adalah seruan yang berasal dari orang Nasrani. Ingatlah! Seumpama Baginda Rasul menjawab panggilan orang tersebut, tentu umat Baginda Rasul akan menjadi Nasrani semuanya.”

Selanjutnya Kanjeng Nabi berangkat lagi. Tiba-tiba beliau berjumpa dengan seorang wanita yang kedua lengannya terbuka. Dia memakai perhiasan yang serba indah. Dia kemudian memanggil-manggil: “Wahai Muhammad, bersedialah kamu untuk berhenti sebentar saja. Saya hendak bertanya kepadamu tentang suatu hal.” Namun Kanjeng Nabi enggan berhenti, tidak menoleh, dan tidak menghiraukannya. Kanjeng Nabi berkata: “Siapa wanita tersebut ya Jibril?” Jibril menjawab: “Itulah dunia. Seumpama Baginda Rasul tadi menjawabnya, sudah barang tentu seluruh umat Baginda Rasul akan memilih kehidupan dunia dan enggan memperhatikan kehidupan akhirat.” Dikisahkan dalam sebuah syair:

“Ingatlah: bahwa sesungguhnya dunia itu hanyalah tempat bersinggah bagi seseorang. Menetap di kala malam hari dan ketika pagi tiba, ia akan segera pergi lagi.”

Kemudian Kanjeng Nabi berangkat untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Tiba-tiba beliau berjumpa dengan orang tua di tepi jalan. Dia memanggil-manggil: “Wahai Muhammad! Kemarilah sebentar!” Jibril berkata: “Bergegaslah dalam melangkah ya Rasulullah!” Lantas Kanjeng Nabi bertanya: “Siapakah orang tua tersebut ya Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalah musuh Allah SWT. Dia tidak lain adalah Iblis. Dia berusaha untuk menggoda Baginda Rasul agar berkenan mengikuti perbuatannya.”

Kanjeng Nabi mengayunkan kakinya kembali. Tiba-tiba berjumpa dengan seorang wanita yang sudah lanjut usia. Wanita tersebut berada di tepi jalan. Dia memanggil-manggil kepada Kanjeng Nabi: “Wahai Muhammad! Saya mohon kepadamu agar kamu berkenan untuk berhenti sejenak! Hamba hendak bertanya kepadamu.” Kanjeng nabi tidak menolehnya dan bahkan tidak menghiraukannya. Lantas Kanjeng Nabi berkata: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Itu adalah sedikit gambaran dari alam dunia yang usianya sudah sangat tua renta (sudah sangat dekat dengan datangnya hari kiamat).”

Setelah itu, Kanjeng Nabi melanjutkan perjalanannya kembali hingga sampai di Baitul Maqdis (Palestina). Beliau masuk lewat pintu gerbang Al-Yamani (kanan). Lantas Kanjeng Nabi turun dari Buroq dan mengikat Buroq tersebut di dekat Masjidil Aqsho. Di mana tempat itu adalah tempat yang dahulu pernah dijadikan oleh para Nabi untuk mengikat Buroqnya

Menurut salah satu riwayat: Malaikat Jibril mendekati sebuah batu yang sangat besar. Batu tersebut kemudian dilubangi oleh Jibril. Dan Buroq pun akhirnya diikat di bati tersebut. Lantas Kanjeng Nabi masuk ke dalam Masjidil Aqsho melalui pintu yang dicondongi matahari dan rembulan ketika baru terbit. Selanjutnya Kanjeng Nabi mengerjakan shalat dua rakaat berjamaah dengan Malikat Jibril.

Tidak lama kemudian, berkumpullah para nabi. Kanjeng Nabi melihat dan memperhatikan para nabi tersebut, sebagian ada yang masih berdiri, ada yang ruku’, ada pula yang sujud. Lantas ada yang beradzan dan dilanjutkan iqomah. Para nabi itu berdiri dan berbaris semuanya hingga menjadi beberapa shaf. Semuanya menunggu siapa yang akan menjadi imam shalat jamaah saat itu. Kemudian Jibril memegang tangan Kanjeng Nabi dan menariknya ke depan untuk menjadi imam. Selanjutnya Kanjeng Nabi pun menjadi imam dari para nabi untuk mengerjakan shalat dua rakaat.

Menurut riwayat Imam Ka’ab: “Malaikat Jibril yang beradzan. Lantas seluruh malaikat pun berbondong-bondong turun dari langit. Dan Allah SWT mengumpulkan seluruh nabi dan rasul. Selanjutnya Kanjeng Nabi menjadi imam shalat dari seluruh malaikat, nabi, dan rasul.”
Setelah salam, Jibril bertanya: “Wahai Muhammad! Tahukah kamu, siapa orang-orang yang shalat di belakangmu tadi?” Kanjeng Nabi berkata: “Saya tidak tahu!” Jibril menimpali: “Semuanya tadi, adalah para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah SWT.”

Lantas para nabi dan rasul tersebut saling memuji Allah dengan puji-pujian yang bagus. Kemudian Kanjeng Nabi berkata: “Kamu sekalian saling memuji-muji kepada Tuhanmu. Dan saya juga akan memuja dan memuji-muji kepada Tuhan saya.”

Selanjutnya Kanjeng Nabi bergegas mengucap puji-pujian: “Segala puji itu hanya milik Allah. Dzat yang telah mengutusku sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan kepada manusia dengan memberi kebahagiaan surga bagi orang yang patuh-taat. Dan menakut-nakuti dengan neraka bagi orang yang durhaka. Dan Allah SWT telah menurunkan Al-Quran kepadaku yang di dalamnya itu terdapat keterangan-keterangan tentang seluruh hal. Dan telah menjadikan umatku lebih bagus dari seluruh umat terdahulu. Yang dilahirkan untuk manusia yang lain. Dan telah dijadikan umatku menjadi umat yang “tengah-tengah-sedengan-dan pilihan”. Dan telah dijadikan umatku sebagai umat yang pertama dalam permulaan menakdirkan makhluk dan wujud umat yang terakhir. Dan Allah telah melapangkan dada dan hatiku, serta mengampuni segala dosaku. Dan telah mengangkat derajat serta namaku. Dan yang telah menjadikanku nabi yang paling awal dan paling akhir.”

Nabi Ibrahim AS berkata: “Sebab perkataan Kanjeng Nabi tersebut, Kanjeng Nabi dimuliakan Allah SWT melebihi kemuliaan seluruh nabi dan rasul.” Saat itu Kanjeng Nabi merasakan rasa haus yang begitu dahsyat. Jibril kemudian datang dengan membawa segelas arak dan segelas susu. Lantas Kanjeng Nabi mengambil dan memilih susu. Jibril berkata: “Baginda Rasul telah memilih fitrah (agama islam). Seumpama Baginda Rasul memilih arak, sudah dapat dipastikan bahwa umat Baginda Rasul akan banyak yang bersifat durhaka dan tidak ada yang menaati Baginda Rasul, kecuali hanya sedikit saja.

Menurut riwayat lain: “Sesungguhnya gelas yang telah dihidangkan itu ada tiga: adapun gelas yang nomor tiga tersebut berisi air putih. Jibril berkata: Seumpama Baginda Rasul tadi meminum air putih, sudah barang tentu umat Baginda Rasul akan mati tenggelam dalam kemaksiatan.
Dalam riwayat lain juga dijelaskan: “Gelas yang nomor tiga tersebut adalah madu yang merupakan pengganti dari air putih.”

Dan sesungguhnya Kanjeng Nabi juga melihat dan memperhatikan beberapa bidadari yang berada di sebelah kiri batu besar. Setelah itu beliau bersalam dan bidadari-bidadari itu pun menjawab salam beliau. Selanjutnya Kanjeng Nabi bertanya kepada para bidadari tersebut. Bidadari menjawabnya dengan perangai wajah yang berseri-seri dan membahagiakan pandangan.

Kanjeng Nabi lantas disediakan tangga. Sebuah alat untuk naiknya roh-roh manusia yang beriman. Tangga tersebut sangatlah bagus dan indah yang tiada bandingnya. Satu tangga terbuat dari perak dan satu tangga yang lain terbuat dari emas. Tangga tersebut berasal dari surga Firdaus. Tangga tersebut disemprot dengan lu’lu’-mutiara. Di sebelah kanan tangga ada malaikat. Di sebelah kirinya juga terdapat malaikat.

Lantas Kanjeng Nabi naik tangga bersamaan dengan malaikat Jibril hingga keduanya tiba di sebuah pintu dari beberapa pintu langit dunia, yang disebut dengan Babul Hafadhah. Di pintu tersebut terdapat penjaganya yang bernama Malaikat Ismail. Beliau yang diperintahkan sebagai penjaga langit dunia yang bertempat di angkasa. Selama-lamanya Malikat Ismail tidak pernah naik ke langit atasnya dan beliau juga tidak akan pernah turun ke bumi, kecuali ketika hari wafatnya Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Adapun jumlah pengawal Malaikat Ismail adalah tujuh puluh ribu malaikat. Dan setiap satu orang malaikat ditemani tujuh puluh ribu malaikat. Selanjutnya Malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Dan ditanyalah Malaikat Jibril: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkan masuk! Selamat datang! Saya bersyukur atas anugrah dari Allah SWT, sebab saya dapat bertatap muka dengan Baginda Rasul dan menjadi bagian dari keluarga Baginda Rasul. Semoga dimuliakan Allah SWT, saudara: yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Demikianlah sebagus-bagusnya saudara seiman, wakilnya Allah SWT, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Lantas pintu langit pun segera di buka, tatkala keduanya masuk. Tiba-tiba di tempat tersebut berjumpa dengan Nabi Adam AS, yaitu bapak dari seluruh umat manusia. Adapun keberadaannya masih tetap sama seperti ketika diciptakan oleh Allah SWT (kulitnya tetap putih kemerah-merahan dan bercahaya, tinggi badanya kira-kira 60 dziro’ atau kurang lebih 29 meter. Lebar dadanya kurang lebih 7 dziro’ atau kurang lebih 3 meter)

Didatangkan kepada Nabi Adam AS arwahnya para nabi dan keturunannya yang beriman. Lantas Nabi Adam berkata: “Roh suci dan sukma yang bagus! Sama-sama masuklah kalian semua di dalam surga Firdaus / Illiyyin.”

Lantas didatangkan lagi kepada Nabi Adam AS roh-roh keturunannya yang sama-sama kafir. Dan Nabi Adam AS pun berkata: “Roh-roh yang busuk dan sukma yang durhaka, sama-sama masuklah kalian semua di dalam neraka Sijjin.”

Dan Nabi Adam AS melihat dari arah kanannya ada bayang-bayang (gerombolan-gerombolan nyawa) hitam dan pintu. Dan dari pintu tersebut, keluarlah aroma yang sangat semerbak harum. Dan dari arah kiri, Nabi Adam AS melihat bayang-bayang dan pintu. Dari pintu tersebut keluarlah aroma yang yang sangat busuk dan menyengat.

Ketika Nabi Adam AS menoleh ke arah kanan, dirinya bangga dan bergembira. Dan ketika menoleh ke kiri, dirinya sedih dan menangis.

Lantas Kanjeng Nabi bersalam kepada Nabi Adam AS. Dan Nabi Adam AS pun menjawab salam beliau. Nabi Adam AS lantas berkata: “Selamat datang wahai anakku yang shalih dan nabi yang shalih.” Lantas Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa itu ya Jibril?” Jibril menjawab: “Beliau adalah Bapak moyang Baginda Rasul, yaitu Nabi Adam AS. Adapun bayang-bayang hitam itu adalah keturunan Nabi Adam AS.
Sementara itu, gerombolan-gerombolan hitam sisi kanan adalah ahli surga, dan yang sisi kiri adalah ahli neraka.”

Apabila Nabi Adam AS melihat ke sisi kanan, beliau bangga dan bahagia hatinya. Dan apabila melihat ke sisi kiri, Nabi Adam AS menangis dan bersedih hati.
Pintu sebelah kanan adalah pintu surga. Ketika nabi Adam AS melihat anak keturunannya sama-sama masuk surga, hatinya bangga dan berbahagia.
Adapun pintu sebelah kiri adalah pintu neraka. Ketika Nabi Adam AS melihat anak keturunannya sama-sama masuk neraka, hatinya menangis dan bersedih.

Lantas Kanjeng Nabi melanjutklan perjalanannya kembali yang tidak jauh dari tempat tadi. Dan bertemulah beliau dengan orang-orang yang senang memakan harta riba dan harta benda anak yatim. Beliau juga bertemu dengan orang-orang yang gemar berzina dan sebagainya. Keberadaan mereka sangat menyedihkan dan mengenaskan (buruk). Seperti fenomena terdahulu. Justru malah lebih menyedihkan.

Lantas Kanjeng Nabi naik kembali ke langit yang kedua. Jibril mengetuk puntu langit dan meminta izin untuk masuk. Penjaga langit bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas penjaga langit bertanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkan masuk! Selamat datang! Aduh … …, Saya rasa, saya mendapat anugrah dari Allah SWT, sebab saya dapat bertatap muka dengan Baginda Rasul dan menjalin persaudaraan. Semoga Baginda Rasul dimuliakan Allah SWT, dan saudara-saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Demikianlah sebagus-bagusnya saudara seiman, wakilnya Allah SWT, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Kemudian pintu langit pun segera dibuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tiba mereka bertemu dengan Nabi Isa AS bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakaria yang keduanya hampir serupa pakaian dan rambutnya (ibunya nabi Yahya masih bersaudara dengan Dewi Maryam). Keduanya ditemani oleh sekelompok kaumnya.

Nabi Isa itu berperawakan standar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Rambutnya panjang, kelihatan seperti orang yang baru saja mandi. Wajahnya serupa dengan Yarwah bin Mas’ud-ats Tsaqafi.

Kanjeng Nabi lantas berucap salam kepada Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Keduanya menjawab salam tersebut dan berkata: “Selamat datang saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih.” Keduanya pun mendoakan Kanjeng Nabi dengan do’a yang bagus.

Lantas Kanjen Nabi dan Malikat Jibril naik ke Langit yang ketiga. Jibril meminta izin agar dibukakan pintu langit. Penjaga pintu langit pun bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkan masuk! Selamat datang! Sungguh saya telah mendapat anugrah dari Allah SWT, sebab saya dapat berjumpa dengan Baginda Rasul dan menjalin persaudaraan dengan Baginda Rasul. Semoga baginda rasul dimuliakan Allah SWT, saudara-saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Itulah semulya-mulyanya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Kemudian pintu langit pun segera dibuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tiba mereka berdua berjumpa dengan Nabi Yusuf AS yang ditemani oleh sebagian umatnya. Kanjeng Nabi bersalam kepada Nabi Yusuf AS. Lantas Nabi Yusuf AS menjawab salam tersebut. Dan berkatalah Nabi Yusuf AS: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih!” Nabi Yusuf pun mendo’akan Kanjeng Nabi dengan do’a yang luhur.

Ketampanan Nabi Yusuf tersebut menyamai setengah dari ketampanan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Menurut salah satu riwayat: “Nabi Yusuf itu dianugrahi raut wajah yang indah melebihi keindahan wajah seluruh umat manusia. Wajahnya laksana bulan purnama yang sinar terangnya melebihi terang sinar semua bintang.” Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalah saudara Baginda Rasul. Namanya Nabi Yusuf AS.”

Lantas Kanjeng Nabi dan Malikat Jibril naik lagi ke langit yang keempat. Dan Jibril meminta izin agar dibukakan pintunya. Penjaga langit bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan oleh saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Pintu langit lalu dibukakan. Setelah itu mereka berdua masuk. Tiba-tiba Kanjeng Nabi dan Malikat Jibril bertemu dengan Nabi Idris AS yang dimuliakan Allah SWT di tempat yang tinggi dan mulia. Kanjeng Nabi bersalam. Dan dijawablah salam tersebut oleh Nabi Idris AS. Beliau berkata: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih.” Lantas Nabi Idris mendo’akan Kanjeng Nabi Muhammad dangan do’a yang luhur.

Kemudian Kanjeng Nabi dan Malikat Jibril naik ke langit yang kelima. Jibril lalu minta izin untuk dibukakan pintunya. Penjaga langit pun bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutuskah kalian oleh Allah untuk datang ke tempat ini?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan oleh saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Setelah itu pintu langit pun dibuka. Kemudian Kanjeng Nabi dan Malikat Jibril masuk, tiba-tiba mereka berdua berjumpa dengan Nabi Harun AS yang rambut dan jenggotnya sebagian putih dan sebagian hitam. Jenggot tersebut menjuntai ke bawah sepanjang pusar, sebab sangat panjangnya. Nabi harun dikerumuni oleh kaum Bani Israil. Saat itu Nabi Harun bercerita kepada kaum tersebut.

Kanjeng Nabi bersalam dan dijawab. Lantas Nabi Harun berucap: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih!” Kemudian Nabi Harun mendo’akan Kanjeng Nabi dengan do’a yang baik. Kanjeng Nabi bertanya kepada Malikat Jibril: “Siapakah dia ya Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalah seorang lelaki yang sangat dicintai oleh kaumnya. Namanya Nabi Harun bin Imran.”

Selanjutnya Kanjeng Nabi dan Malaikat Jibril naik lagi ke langit yang keenam. Jibril meminta izin agar dibukakan pintu langit tersebut. Penjaga pintu langit bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang ke mari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga pintu langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan oleh saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.

Kemudian pintu langit pun dibuka. Setelah itu mereka berdua masuk. Lantas Kanjeng Nabi bertemu dengan beberapa nabi yang saling diiringi oleh para kaumnya, namun hanya sedikit. Kanjeng Nabi juga berjumpa dengan nabi-nabi yang kaumnya banyak. Dan bertemu dengan nabi-nabi yang tidak berpengikut.

Kemudian Kanjeng Nabi berjumpa dengan serombongan orang yang sangat banyak yang memenuhi segala penjuru (segala arah). Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah Nabi Musa AS dan para pengikutnya. Namun saya harap Baginda Rasul untuk mengangkat kepala.” Tiba-tiba Kanjeng Nabi melihat serombongan orang yang juga berjumlah sangat banyak yang memenuhi segala penjuru. Jibril berkata: “Mereka semua adalah umatmu wahai Baginda Rasul.” Adapun selain iring-iringan tersebut, ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa dihisab, (semoga kita masuk dalam golongan tersebut).

Setelah Kanjeng Nabi dan Malikat jibril masuk, tiba-tiba mereka berdua bertemu dengan Nabi Musa AS bin Imran. Nabi Musa itu seorang lelaki yang berkulit putih kemerah-merahan. Tinggi badannya seperti orang Syanuah. Banyak-tebal bulunya. Apabila memakai baju rangkap dua, sungguh akan robek tertembus bulu tersebut.

Lantas Kanjeng Nabi bersalam, dan salam tersebut dijawab oleh Nabi Musa AS. Kemudian Nabi Musa berucap: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih.” Nabi Musa AS juga berdo’a untuk Kanjeng Nabi dengan do’a yang luhur.

Nabi Musa berkata: “Semua orang sama-sama berpikiran bahwa saya adalah orang termulia di hadapan Allah SWT dari pada Muhammad. Namun sesungguhnya Muhammadlah yang lebih mulia di hadapan Allah SWT dari pada saya.”
Ketika Kanjeng Nabi melewati Nabi musa AS, Nabi Musa menangis. Beliau ditanya oleh orang-orang banyak: “Ada apa kok menangis wahai Nabi Musa?” Nabi Musa menjawab: “Saya menangis sebab Muhammad diutus sesudah saya, namun umatnya sangat banyak yang masuk surga dari pada umat saya.”

Kaum Bani Israil sama-sama berpendapat bahwa sayalah yang paling mulia di antara seluruh keturunan Nabi Adam AS di hadapan Allah, namun sesungguhnya Muhammadlah yang lahir sesudah saya yang termulia. Sementara saya telah hidup di alam akhirat. Seumpama hanya Muhammad sendirian, saya tidak apa-apa, namun ini berbeda, Muhammad bersama-sama dengan umatnya, tentu saja saya menjadi iri dengannya.”

Lantas Kanjeng Nabi dan Malikat Jibril naik kembali ke langit yang ketujuh. Jibril meminta izin agar dibukakan pintu langit tersebut. Penjaga pintu langit bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Kanjeng Nabi Muhammad.” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang ke mari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan oleh saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.”

Kemudian pintu langit pun terbuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tiba mereka bejumpa dengan Nabi Ibrahim AS “Al-Kholil” yang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari emas di depan pintu surga. Beliau menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur. Saat itu Nabi Ibrahim sedang didampingi oleh sekolompok kaumnya. Lantas Kanjeng Nabi berucap salam dan dijawablah salam tersebut oleh Nabi Ibrahim AS.

Kemudian Nabi Ibrahim AS berkata: “Selamat datang wahai anakku dan nabi yang shalih.” Lantas Nabi Ibrahim berpesan: “Perintahkanlah kepada umatmu, agar memperbanyak tanaman dan perhiasan surga, karena sesungguhnya tanah surga itu sangatlah bagus-subur dan luas.” Kanjeng Nabi bertanya: “Apa tanaman surga tersebut?” Nabi Ibrahim AS berkata: “ Yaitu: laa khaula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim.”

Menurut salah satu riwayat diterangkan bahwa: “Tolong sampaikan salam saya kepada umatmu dan ceritakanlah bahwa surga itu tanahnya bagus-sangat subur, tawar dan segar airnya. Adapun sesungguhnya tanaman surga tersebut adalah: subkhaanallah walkhamdulillah wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar.”

Orang-orang yang berada di sebelah kiri dan kanan Nabi Ibrahim (kaumnya) semuanya duduk dalam satu kelompok. Wajahnya putih-bening seperti kertas, sekelompok lain ada kotoran noda hitam kulitnya. Lantas kaum yang terdapat kotoran dikulitnya sama-sama berdiri kemudian masuk dan mandi di sebuah sungai. Selanjutnya sama-sama keluar sebab telah bersih kotorannya. Setelah itu masuk dan mandi kembali di sebuah sungai yang lain. Kemudian keluar dan telah bersih kotoran noda-noda hitamnya. Lantas masuk dan mandi kembali sampai tiga kali di aungai yang lain lagi. Sesudah itu sama-sama keluar sebab telah bersih seluruh kotoran noda hitamnya. Sehingga kulit dan wajahnya putih-bening sama seperti teman-temannya yang lain. Lantas semuanya sama-sama duduk berkumpul bersama teman-temannya yang berkulit dan berwajah putih-bening tadi.

Kanjeng Nabi bertanya: “Wahai Jibril, siapa kelompok orang-orang yang berkulit dan berwajah putih-bening tersebut? Dan siapa golongan yang kulit dan wajahnya terdapat kotoran noda hitam itu? Dan sungai apa yang dijadikan tempat mandi tadi?”

Jibril menjawab: “Kelompok orang-orang yang kulit dan wajahnya putih-bening itu adalah orang-orang yang imannya tidak tercampur dengan dosa-maksiat. Sedangkan sekelompok orang yang kulit dan wajahnya terdapat kotoran dan noda hitam adalah orang-orang yang beramal shalih namun juga mengerjakan perbuatan dosa-maksiat, lantas mereka sama-sama bertobat dan Allah SWT menerima tobatnya. Adapun sungai tersebut adalah: yang pertama sungai Rahmatullah, yang kedua sungai nikmatullah, dan yang ketiga adalah sungai saqaahum rabbahum syaraabangthahuuraa, yang artinya: sungai tempat kalian semua dianugrahi minum-minuman yang sangat segar dan bening juga bersih.”

Dan dijelaskan oleh Malikat Jibril: “Itulah tempatmu dan tempat umatmu ya Rasulullah!” Di tempat tersebut tiba-tiba Kanjeng Nabi berjumpa dengan umat beliau. Umat tersebut terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang pertama memakai pakaian putih seperti kertas, sedangkan golongan yang kedua memakai pakaian kusam.

Kanjeng Nabi lantas masuk ke Baitul Makmur. Beliau masuk bersama-sama dengan golongan yang memakai pakaian putih. Dan golongan yang memakai pakaian kusam dilarang masuk mengikutinya. Kemudian Kanjeng Nabi mengerjakan shalat di Baitul Makmur bersama-sama dengan orang-orang mukmin.

Di situ, Baitul Makmur tersebut ternyata dalam setiap harinya dimasuki tujuh puluh ribu malaikat yang tidak pernah kembali keluar lagi hingga hari kiamat. Dan sesungguhnya Baitul Makmur tersebut tegak lurus dengan Ka’bah. Seumpama sebuah batu di jatuhkan dari Baitul Makmur, maka akan terjatuh tepat di Ka’bah. Apabila sudah masuk Baitul Makmur maka tidak akan keluar lagi. Tepat di Baitul Mamur tersebut merupakan akhir dari perjalanan para malaikat.

Dalam riwayat lain juga dijelaskan: “Dalam Baitul Makmur itu, Kanjeng Nabi dihidangi tiga gelas minuman. Lantas Kanjeng Nabi memilih dan mengambil gelas yang berisi susu. Tindakan Kanjeng Nabi tersebut dibenarkan oleh Malaikat Jibril dengan ungkapan: Susu tersebut merupakan tanda dari agama islam (fitrah) yang akan Baginda Rasul dan umat Baginda Rasul peluk.”

Kemudian Kanjeng Nabi dibawah naik lagi ke Sidrotul Muntaha. Di tempat itulah akhir dari semua amal manusia naik dari bumi, lalu berhenti. Di Sidrotul Muntaha tersebut, takdir-takdir diturunkan dari ketinggian dan berhenti.

Sidrotul Muntaha adalah sebatang pohon besar. Dari tunasnya mengalir beberapa sungai yang airnya sangat bening dan tidak pernah berubah, baik bentuk maupun rasanya. Di situ juga mengalir sungai susu yang tidak akan pernah berubah rasanya. Ada juga sungai arak yang sangat segar menurut orang-orang yang meminum dan sungai madu yang sangat bersih-bening.

Atap Sidratul Muntaha itu jika ditelusuri seseorang yang naik kendaraan membutuhkan waktu tujuh puluh tahun, namun belum juga sampai. Adapun buahnya Sidrotul Muntaha itu sebesar kendi-kendi Tanah Hajar (sebuah desa yang dekat dengan Madinah). Sementara daunnya selebar telinga gajah. Satu daun saja sudah mampu menutupi seluruh umat yang ada.

Menurut salah satu riwayat diterangkan: “Selembar daun tersebut dapat menutupi seluruh makhluk. Tiap-tiap satu daun terdapat satu malaikat. Daun itu warnanya bermacam-macam yang tidak dapat dimengerti warna apa saja itu. Ketika ada suatu perkara yang menutupinya, sebab perintah Allah SWT, lantas berubalah menjadi Intan Baiduri, Yaqut, dan Zabarjud.”

Tidak ada seorang pun yang sanggup memberi sifat dan menggambarkan keadaan Sidratul Muntaha. Dalam setiap daun terdapat belalang emas. Dari tunas pohon Sidrotul Muntaha tersebut mengalir empat sungai yang masuk ke surga. Adapun yang dua, mengalir keluar ke bumi (dua yang terlihat dan dua tidak terlihat).

Kanjeng Nabi bertanya: “Sungai apakah itu ya Jibril?” Jibril berkata: “Dua sungai yang tidak terlihat itu mengalir ke dalam surga. Adapun dua sungai yang terlihat itu adalah sungai Nil (Mesir) dan sungai Furat (Irak).”

Menurut salah satu riwayat dijelaskan: “Di dalam Sidrotul Muntaha, Kanjeng Nabi sempat melihat Malaikat Jibril memiliki enam ratus sayap (600). Tiap-tiap sayap tersebut sanggup menutupi jagad raya. Dan dari tiap-tiap sayapnya Jibril itu bertaburan Intan dan Yaqut. Dari mana asalnya tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT.”

Lalu Kanjeng Nabi berjalan menelusuri tepi Telaga Kautsar hingga masuk ke dalam surga. Tiba-tiba Kanjeng Nabi di dalam surga melihat beberpa hal yang tidak dapat terlihat oleh mata, tidak dapat didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati. Kanjeng Nabi kemudian melihat sebuah tulisan di pintu surga: “Memberi shadaqah itu pahalanya sepuluh kali lipat, dan memberi hutang orang yang membutuhkan itu pahalanya delapan belas kali lipat.” Lantas Kanjeng Nabi pun bertanya: “Jibril, bagaimana bisa orang yang memberi hutang itu lebih utama dari pada shadaqah?” Jibril menjawab: “Sebab orang yang meminta-minta itu masih memiliki kelebihan sesuatu, sedangkan orang hutang itu tidak akan berani hutang kecuali membutuhkan.”

Kanjeng Nabi kemudian berjalan-jalan di surga. Tiba-tiba saja beliau berjumpa dengan sungai susu yang tidak akan pernah berubah rasanya dan sungai khomer yang sangat lezat menurut orang-orang yang minum. Dan sungai madu yang sangat bening. Di dalam surga bertaburan rumah-rumahan kecil yang terbuat dari lu’lu’-mutiara dan beberapa buah delima yang besarnya sebesar timba-timba.

Menurut salah satu riwayat diterangkan: “Di dalam surga terdapat buah delima yang besarnya sebesar kulit unta yang ada muatannya dan burung-burung surga itu sebesar Unta Khurasan yang memiliki dua punuk (punggung).”

Shahabat Abu Bakr berkata: “Ya Rasulullah! Apakah dagingnya nikmat?” Kanjeng Nabi berkata: “Saya pernah memakan daging burung itu. Sungguh dagingnya benar-benar nikmat melebihi kenikmatan seluruh daging yang pernah aku rasakan. Dan saya berharap kamu bisa makan daging burung tersebut.” Lalu Kanjeng Nabi melihat Telaga Kautsar yang di dua tepinya terdapat rumah-rumahan kecil yang terbuat dari mutiara yang dilubangi. Tanahnya berbau harum seperti minyak misik.

Lantas Kanjeng Nabi diperlihatkan batu dan besi di neraka. Di situ tempat kemurkaan, kutukan, dan siksaan Allah SWT.

Seumpama batu dan besi dilemparkan ke dalam neraka, tentu akan hancur binasa dan meleleh. Di dalam neraka tiba-tiba ada sekelompok orang/umat yang semuanya memakan bangkai.

Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang pekerjaannya suka memakan daging manusia (artinya: orang-orang yang gemar mengumpat).” Di situ, Kanjeng Nabi melihat Malaikat Malik penjaga neraka. Wajahnya selalu terlihat sadis dan memancarkan aura kemarahan yang sangat membara. Kanjeng Nabi mengawali berucap salam kepada Malaikat Malik. Lalu pintu neraka ditutup untuk menghormati Kanjeng Nabi.

Lantas Kanjeng Nabi dibawah naik ke Sidrotul Muntaha. Kanjeng Nabi diselimuti kabut yang menyerupai mendung yang warnanya beraneka ragam. Dan Jibril pun berhenti.

Kanjeng Nabi lalu dibawa naik ke Mustawa (sebuah tempat tinggi yang biasanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan). Di tempat tersebut, beliau terdengar gemricik kolam-kolam. Di situ, beliau juga melihat seorang lelaki yang diliputi oleh Nurul ‘Arsy. Kanjeng Nabi bertanya: “Siapa dia wahai Jibril? Apakah seorang Malaikat?” Jibril menjawab: “Bukan!” Kanjeng Nabi bertanya lagi: “Apakah seorang nabi?” Dijawabnya kembali: “Bukan!” Kanjeng Nabi bertanya sekali lagi: “Lantas siapakah dia?” Dan dijawablah: “Dia adalah seorang lelaki yang semasa hidup di dunia, lisannya selalu basah sebab dibuat dzikir kepada Allah SWT. Dan hatinya selalu terikat erat (sambung-berpikir-berangan-angan) dengan masjid. Serta tidak pernah memusuhi-tidak pernah menyakiti hati kedua orang tuanya.”

Lantas Kanjeng Nabi menghadap Allah SWT. Beliau lalu bersujud. Allah pun berkata kepada Kanjeng Nabi ketika beliau sedang bersujud: “Wahai Muhammad!” Kanjeng Nabi menjawab: “Ya, ada apa wahai Tuhanku?” Allah berucap: “Apa yang kamu kehendaki dari-Ku?” Kanjeng Nabi berkata: “Sesungguhnya Engkau telah menjadikan Nabi Ibrahim AS sebagai Kholilullah dan juga kerajaan yang agung. Engkau telah memberi petunjuk kepada Nabi Musa AS. Dan menganugrahi Nabi Dawud AS kerajaan yang agung, meluluhkan besi kepada Nabi Dawud AS, juga memberi kuasa Nabi Dawud untuk meguasai gunung. Dan Engkau telah memberikan kepada Nabi Sulaiman kerajaan yang agung, dapat menguasai jin, manusia, syetan, dan angin. Engkau juga telah menganugrahkan sebuah kerajaan yang tidak pernah diberikan setelah Nabi Sulaiman. Engkau juga mengajari Nabi Isa AS kitab Taurat dan Injil, juga memberikan kemampuan dapat menyembuhkan orang buta, bisu, dan belang (kulitnya putih), dan dapat menghidupkan orang mati dengan seizin-Mu. Engkau telah menjaga sekaligus melindungi Nabi Isa AS serta ibunya dari godaan syetan yang terkutuk, hingga tidak ada yang berani menggoda keduanya lagi.”

Lalu Allah SWT berkata: “Sungguh telah Kujadikan engakau Muhammad sebagai kekasih-Ku. Rowi Hadits menjelaskan: “Ucapan Allah tersebut sebenarnya telah ditulis di dalam kitab Taurat, bahwa Kanjeng Nabi Muhammad adalah kekasih Allah dan Allah pun telah mengutusnya untuk seluruh umat manusia dengan memberi kebahagiaan surga bagi orang yang berkenan mengikutinya, dan menakut-nakuti dengan neraka bagi orang yang mendurhakainya. Dan Allah telah membuka serta melapangkan dada juga hati Muhammad SAW. Mengampuni seluruh dosanya, dan Allah telah mengangkat derajatnya hingga tidak akan disebut nama Allah kecuali bersamaan dengan Nama Muhammad. Allah telah menjadikan umat Muhammad sebagai umat yang terbagus dari seluruh umat yang ada dan dilahirkan untuk manusia. Dan Allah telah menjadikan umat Muhammad sebagai umat yang awal diciptakan dan yang terakhir dilahirkan.”

“Dan telah Ku tetapkan kepada umatmu, Muhammad, tidak memiliki kewenangan dalam menasehati sesamanya, kecuali telah berucap dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Ku dan utusan-Ku. Dan Aku telah menjadikan umatmu, Muhammad, sebagai satu-satunya umat yang hatinya menjadi tempat menerima ilmu dan hikmah.”

“Dan telah Kujadikan engkau sebagai permulaan para nabi dalam setiap kejadiannya dan yang akhir dari seluruh para nabi berdasarkan pengutusannya. Dan telah Kujadikan engkau sebagai orang yang pertama dihisab, dan telah Aku anugrahkan kepadamu surat Al-Fatihah (tujuh ayat yang diulang-ulang sampai berkali-kali pembacaannya) yang tidak Aku berikan kepada nabi sebelum kamu.”

“Dan telah Kuberikan kepadamu, beberapa akhir dari surat Al-Baqarah, dari perbendaharaannya di bawah ‘Arasy yang tidak pernah aku berikan kepada nabi sebelum kamu.
Dan engkau telah Aku anugrahi Al-Kautsar (telaga Kautsar). Saya juga telah memberimu delapan keutamaan: ………..

…… Islam, hijrah, kebenaran, puasa Ramadlan, amar ma’ruf, dan nahi munkar.”

“Dan sesungguhnya Aku mulai hari ini telah memberi mandat kepada seisi langit dan bumi. Telah Kuwajibkan kepadamu dan kepada umatmu untuk mengerjakan shalat lima puluh kali. Maka kerjakanlah shalat tersebut.”

Dan dalam salah satu riwayat dijelaskan: “Rasulullah Muhammad dianugrahi shalat lima puluh waktu, beberapa ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, dan Allah telah mengampuni dosa-dosa umat Muhammad, kecuali dosa musyrik (menyekutukan Allah) dari umat Muhammad dengan sesuatu hal yang bersifat merusak keimanan.”

Lantas tersibaklah kabut yang menyilaukan yang berasal dari nur Kanjeng Nabi Muhammad. Kemudian Jibril memegang erat-erat tangan Kanjeng Nabi. Lalu cepat-cepat mengundurkan diri.

Setelah itu, Kanjeng Nabi mendatangi Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim tidak berkata apa-apa. Kemudian Kanjeng Nabi mendatangi Nabi Musa AS. Nabi Musa AS berkata: “Aku adalah sebagus-bagusnya teman bagimu.”

Nabi Musa AS bertanya: “Ada keperluan apa engkau ya Muhammad? Apa yang telah diwajibkan Allah kepadamu dan kepada umatmu?” Kanjeng Nabi menjawab: “Allah telah mewajibkan kepadaku dan kepada umatku untuk mengerjakan shalat lima puluh waktu dalam sehari semalam.”

Nabi Musa AS berkata: “Berkenanlah kiranya engkau untuk kembali ke hadapan Allah dan memintalah keringanan untuk dirimu dan umatmu. Sebab sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya. Sungguh, saya telah mencobanya kepada orang-orang sebelum kamu dari kaum Bani Israil. Dan perintah tersebut lebih ringan dari pada perintah yang telah diwajibkan kepadamu dan kepada umatmu itu. Pagi dua rakaat, sore dua rakaat, namun umatku masih saja sulit dan tidak sanggup mengerjakannya. Mereka semua sama-sama meninggalkannya.

Sementara umatmu, lebih ringkih jasadnya, badannya, hatinya, penglihatannya, dan pendengarannya.”

Lalu Kanjeng Nabi menoleh ke arah malaikat Jibril, meminta pertimbangan. Jibril menganggukkan kepala, sebagai tanda mempersilahkan. Kanjeng Nabi lantas lekas-lekas kembali.

Hingga tiba di Syajaroh Sidrotil Muntaha. Kanjeng Nabi kemudian diselimuti mendung. Kanjeng Nabi sujud dan berkata: “Duh Tuhanku, semoga engkau berkenan memberi keringanan kepada umatku sebab umatku adalah seringkih-ringkihnya umat.” Allah SWT berkata: “Aku kurangi lima untuk umatmu.”

Lantas tersingkaplah kabut mendung. Kanjeng Nabi kembali datang menghadap Nabi Musa AS, dan berkata: “Allah telah mengurangi lima untukku.” Kemudian Nabi Musa AS berkata: “Berkenanlah untuk kembali mengahadap Tuhanmu dan mintalah keringanan sekali lagi. Karena sesungguhnya umatmu masih tidak mampu untuk mengerjakannya.”

Selanjutnya Kanjeng Nabi bolak-balik dengan tiada henti-hentinya di antara Nabi Musa AS dan Allah SWT. Allah memberikan keringanan lima-lima kepada Kanjeng Nabi hingga shalat lima puluh waktu tersebut hanya tinggal lima waktu saja. Allah pun berkata kepada Kanjeng Nabi: “Wahai Muhammad!” Kanjeng Nabi menjawab: “Aku sambut panggilan-Mu ya Allah!” Allah berkata: “Shalat itu kerjakanlah dalam waktu sehari-semalam. Adapun pahalanya setiap satu kali shalat adalah sepuluh kali lipat. Jadi, lima kali shalatan itu sama halnya dengan pahala lima puluh kali shalat.

Oleh sebab itu, apa yang telah aku katakan, tidak akan pernah bisa diganti maupun dihapus, dan itu telah menjadi ketetapanku. Dan siapa saja yang dengan sengaja berniat untuk melakukan kebajikan, namun tidak bisa melaksanakan (sebab ada sesuatu udzur syara’) maka ditulis satu kebaikan, namun jika dapat mengerjakannya, maka ditulis sepuluh kebagusan.

Barang siapa yang berniat maksiat, lantas tidak jadi dikerjakannya, maka tidak akan ditulis apa-apa. Apa bila jadi mengerjakan maksiat tersebut, maka ditulislah satu maksiat.”

Setelah itu tersingkaplah mendung yang menutupi Kanjeng Nabi dan beliau pun akhirnya turun hingga sampai pada Nabi Musa AS kembali lantas Kanjeng Nabi memberi khabar padanya. Lantas Nabi Musa AS berkata:: “Berkenanlah kiranya kamu ya Muhammad untuk kembali lagi ke hadapan Allah, Tuhanmu untuk meminta keringanan. Sesungguhnya umatmu masih belum sanggup untuk mengerjakannya.” Kanjeng Nabi menjawab: “Saya sudah bolak-balik ke hadapan Allah SWT hingga saya merasa malu. Sekarang saya telah ridla dan pasrah/ikhlas menerimanya.”

Tidak lama kemudian, terdengarlah seruan: “Sungguh aku telah mewajibkan akan sebuah kewajiban dan telah memberikan suatu keringanan kepada hamba-Ku.” Setelah terdengar seruan itu, Nabi Musa AS lalu berkata: “Silahkan, saya persilahkan kamu wahai Muhammad untuk turun sambil menyebut nama Allah SWT.”

Kemudian Kanjeng Nabi turun. Dan beliau tidak mendahului rombongan para malaikat. Kecuali mereka semua saling berkata: “Berkenanlah kamu ya Rasulullah untuk membiasakan canduk (mengeluarkan darah kotor dari kepala).”

Dalam satu riwayat diterangkan: “Berkenanlah kamu kiranya ya Muhammad untuk memerintahkan kepada umatmu agar membiasakan canduk.” Lalu Kanjeng Nabi turun.

Kanjeng Nabi bertanya kepada Malaikat Jibril: “Saya tidak menemukan penghuni langit, kecuali sama-sama menyambut kehadiranku dengan sambutan riang gembira. Dan semuanya sama-sama tersenyum manis untukku. Kecuali seorang malaikat. Saya mengucap salam kepadanya. Dia juga menjawab salam saya dan menyambut saya dengan penuh kebahagiaan. Dia juga mendoakan saya, namun dia tidak menunjukkan raut wajah yang menggembirakan kepadaku.”

Jibril menjelaskan: “Seorang Malikat tersebut adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Dia tidak pernah menunjukkan raut wajah yang menggembirakan semenjak diciptakan. Seumpama Malikat Malik ingin menunjukkan raut wajah yang menggembirakan kepada orang lain, tentu saja hanya kepadamu seorang ya Rasul.”

Ketika Kanjeng Nabi turun ke langit dunia, beliau melihat ke bawah. Tiba-tiba beliau melihat debu yang tebal dan smendengar suara yang menggemuruh. Lalu Kanjeng Nabi bertanya: “Apa itu ya Jibril?” Jibril menjawab: “Itu adalah perbuatan syetan yang berusaha untuk menghalang-halangi manusia agar manusia tersebut tidak mampu memikirkan keagungan Allah SWT baik di langit maupun di bumi. Seumpama syetan tidak menggaggu dan tidak menghalang-halangi, sudah dapat dipastikan bahwa, semua manusia akan mampu melihat keajaiban-keajaiban Allah SWT.”

Kanjeng Nabi lalu naik Buroq. Beliau kemudian melihat unta-unta orang Quraisy berhamburan di sana-sini. Dan di dalam rombongan unta-unta tersebut, ada satu unta yang membawa dua muatan. Satu muatan berwarna hitam dan satu muatan berwarna putih.

Ketika Kanjeng Nabi mendekati unta-unta tersebuat, unta-unta itu semuanya saling berontak lari dan berputar-putar lalu terjatuh hingga ada yang patah kakinya.

Kanjeng Nabi lantas mendahului iring-iringan orang yang mengendarai unta-unta yang lain. Di antara metreka ada yang kehilangan untanya. Seluruh unta dikumpulkan dan dicarilah unta yang hilang tersebut oleh orang banyak yang berasal dari Bani Fulan. Lalu Kanjeng Nabi bersalam kepada orang berunta tersebut. Dan berkatalah sebagian orang dari rombongan tadi: “Ini suaranya Muhammad!”

Setelah semua itu, Kanjeng Nabi tiba di tempat shohabat-shohabatnya menjelang waktu subuh di Makkah. Ketika sudah subuh, beliau terlihat mengeluh-sedih dan mengerti jika sesungguhnya orang-orang akan sama-sama mendustakannya. Kanjeng nabi lantas duduk bersandar dan bersedih hati.

Tidak lama kemudian muncullah musuh Allah SWT yaitu Abu Jahal. Abu Jahal pun mendatangi Kanjeng Nabi dan ikut duduk bersama beliau. Abu Jahal bertanya kepada Kanjeng Nabi seperti orang yang mengejek: “Apakah ada berita yang ajaib Muhammad?” Kanjeng Nabi menjawab: “Iya, ada!” Abu Jahal bertanya kembali: “Berita apakah itu?” Kanjeng Nabi menjawabnya: “Tadi malam saya di-Isra’kan.” Abu Jahal bertanya lagi: “Kemanakah Isra’mu?” Kanjeng Nabi menjawab: “Ke Baitul Maqdis.”

Abu Jahal bertanya: “Sepagi inikah kamu sudah hadir di tengah-tengah kita semua?” Kanjeng Nabi menjawab: “Ya!” Abu Jahal tidak memperlihatkan kedustaanya kepada Kanjeng Nabi. Abu Jahal hawatir jika Kanjeng Nabi akan berpaling dari ucapannya sehingga Abu Jahal pun memanggilkan para kaum beliau.
Abu Jahal bertanya: “Wahai Muhammad! Bagimana pendapatmu jika aku undang kaummu? Apakah kamu berkenan untuk menceritakan kepada para kaummu apa yang telah kau ceritakan kepadaku?” Kanjeng Nabi berkata: “Ya, saya mau!”

Lalu Abu jahal mengundang dan mengumumkannya: “Wahai kaum keturunan Bani Ka’ab bin Lu’ayin, datanglah kemari kalian semuanya!” Lantas datanglah mereka semua untuk menghadiri majelis tersebut. Orang-orang banyak yang berdatangan serta duduk di depan kursinya Kanjeng Nabi dan Abu Jahal. Abu Jahal pun berkata: “Wahai Muhammad! Berceritalah kamu kepada kaummu, tentang apa yang telah kau ceritakan kepadaku!”

Kemudian Rasulullah SAW pun bercerita: “Sesungguhnya saya tadi malam telah di-Isra’kan.” Orang banyak sama-sama bertanya: “Ke mana?” Baginda Rasul Menjawab: “Ke Baitul Maqdis.” Orang-orang pun bertanya kembali: “Apa sepagi inikah kamu telah datang di tengah-tengah kita semua?” Baginda Rasul menjawab: ”Ya, benar!”

Mendengar cerita Rasulullah tersebut, kaum menjadi gaduh. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang meletakkan tangannya di kepalanya sebab kagum. Suasana kaum menjadi gaduh. Kaum menganggapnya aneh dan sebuah peristiwa besar. Lantas Mut’im bin Adi berkata: “Wahai Muhammad! Semua ceritamu sebelumnya hanya biasa-biasa saja dan ringan, kecuali ceritamu pada hari ini.

Saya bersaksi: bahwa sesungguhnya kamu itu bohong dan seorang pembohong. Kita/saya bepergian ke Baitul Maqdis dengan mengendarai unta itu membutuhkan rentang waktu satu bulan. Apa mungkin kamu dapat sampai di Baitul Maqdis dalam rentang waktu hanya semalam? Demi Latta dan Uzza, saya tidak percaya!”

Shohabat Abu Bakar berkata: “Wahai Mut’im! Sungguh hina ucapanmu kepada putra saudaramu sendiri. Kamu telah membuat malu dan mendustakan keponakanmu sendiri. Sementara itu, saya bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu orang yang benar (saya percaya)!”

Orang-orang saling bertanya: “Wahai Muhammad! Cobalah kau sifati-jelaskanlah kepada kita semua tentang Baitul Maqdis. Seperti apa bangunannya? Seperti apa bentuknya? Dan berapa jarak-jauhnya dengan gunung? Sementara di dalam kumpulan kaum ini sudah ada salah seorang yang pernah pergi ke Baitul Maqdis.” Lalu Kanjeng Nabi menyifati Baitul Maqdis dengan jelas kepada kaumnya. Bagunannya, bentuknya, dan jarak-jauhnya dengan gunung. Beliau menyifati dan menggambarkan semua keadaan Baitul Maqdis secara jelas kepada kaumnya. Hanya ada satu hal yang tidak beliau jelaskan yaitu tentang jumlah pintunya. Sebab itulah, hati Kanjeng Nabi pun menjadi sedih. Belia tidak pernah merasakan kesedihan hati seperti saat itu.

Tiba-tiba beliau pun didatangkan gambar Masjid Baitul Maqdis yang terletak di dekat rumah Akil bin Abi Tholib. Kaum Quraisy lalu saling bertanya: “Berapa banyakkah jumlah pintu Baitul Maqdis?” padahal Kanjeng Nabi belum pernah menghitungnya. Kemudian beliau melihat dan mengamati gambar masjid serta menghitung jumlah pintunya dengan jelas. Lalu Kanjeng Nabi pun menjawab dan memberitahukannya kepada mereka semua. Dengan sepontan Shohabat Abu Bakar berkata: “Benar kamu ya Rasulullah. Kamu memang benar! Saya bersaksi bahwa engkaulah utusan Allah SWT.”

Kaum Quraisy saling berkata kepada Abu Bakar: “Berkaitan dengan sifat-sifat masjid, demi Allah Muhammad memang benar. Namun apakah engkau juga membenarkan jika Muhammad telah bepergian dalam kurun waktu semalam ke Baitul Maqdis? Dan telah tiba kembali di tempat ini sebelum subuh?” Abu Bakr menjawab: “Ya, justru itu, sesungguhnya saya sangat membenarkannya. Saya juga percaya mengenai cerita Kanjeng Nabi yang naik ke langit (Mi’raj) dalam kurun waktu sepagi atau sesore.” Sebab itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq (orang yang cepat percaya).

Lantas kaum Quraisy bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Wahai Muhammad! Coba kamu ceritakan tentang rombongan unta-unta kita (yang sekarang baru bepergian ke Baitul Maqdis).” Kanjeng Nabi berkata: “Saya bertemu rombongan unta Bani Fulan di Rukhaa yang kehilangan untanya dan mereka semua saling mencarinya. Kemudian saya singgah sejenak, tapi saya tidak bertemu dengan siapa-siapa. Tiba-tiba di tempat itu, saya menemukan semangkuk air. Air itu lalu saya minum.

Kemudian saya juga bertemu dengan rombongan unta-unta Bani Fulan di sana-sini. Dan di tempat itu ada unta merah yang ada muatannya karug hitam dan karung putih. Ketika saya melewatinya, rombongan unta-unta itu sama-sama terkejut dan saling berlarian membuyarkan diri.

Lalu saya bertemu iring-iringan rombongan orang-orang yang naik unta dari Bani Fulan di Tan’im. Unta yang terdepan berwarna kelabu yang bergaris hitam. Unta tersebut membawa dua karung. Rombongan untan-unta tersebut sebentar lagi akan tiba di sini.”

Kaum Quraisy bertanya: “Kira-kira kapan rombongan unta-unta itu akan tiba?” Kanjeng Nabi menjawab: “Hari Rabu!” Ketika hari Rabu telah tiba, kaum Quraisy sama-sama menjemput dan menunggu kedatangannya. Tidak disangka, hari Rabu pun hampir berselang, rombongan unta-unta belum juga tiba. Kanjeng Nabi lalu berdo’a-meminta kepada Allah SWT agar hari itu di tambah satu jam lagi dan matahari ditahan berhenti hingga iring-iringan unta-unta itu tiba.

Lantas kaum Quraisy sama-sama menjemput rombongan unta-unta itu dan saling bertanya: “Apakah kalian kehilangan unta?” Rombongan tersebut menjawab: “Iya, benar!” Perowi hadits menceritakan: “Kaum Quraisy saling bertanya kepada rombongan unta-unta yang lain. Apa unta kalian yang berwarna merah kakinya patah?” Mereka menjawabnya: “Iya, benar!” Kaum Quraisy bertanya lagi: “Apakah di antara kalian ada yang memiliki semangkuk air?” Ada salah seorang yang menjawab: “Saya bersumpah demi Allah, saya meletakkan semangkuk air. Tidak ada seorang pun yang mengaku meminum air itu dan juga tidaklah tumpah air itu ke tanah, namun airnya habis dengan sendirinya.”

Pada Akhirnya kaum Quraisy sama-sama menuduh kepada Kanjeng Nabi dan berucap: “Benar, apa kata Al-Walid!” Sebab peristiwa tersebut, Allah pun menurunkan ayat: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan ar-ru’ya (penglihatan dan pengetahuan yang telah Kuperlihatkan ketika Isra’-Mi’raj), kecuali hanya menjadi fitnah-ujian bagi manusia.”

Berakhirlah kisah perjalanan Isra’-Mi’raj rasulullah Muhammad SAW. Segala puji bagi Allah atas segala pertolongan-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat dan salam-Nya kepada Nabiullah Muhammad, keluarga, dan kepada para shahabat-shahabat beliau dengan Rahmat dan Salam yang melimpah-ruah. Dan segala puji tersebut, hanyalah milik Allah, Tuhan sekalian Alam, amin…

Jumat, 01 Oktober 2010

Perjalanan Panjang nan Sejenak

Judul Buku: Kitab Para Malaikat
Pengarang : Nurel Javissyarqi
Pengantar : Maman S. Mahayana
Epilog : Herry Lamongan
Jenis Buku: Antologi Puisi Tunggal
Penerbit : PUstaka puJAngga
Tebal Buku: x+130hlm;15,5×23,5cm
Peresensi : Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Hidup di dunia ini merupakan sebuah rangkaian perjalanan panjang namun sejenak. Dikatakan panjang sebab kehidupan manusia di dalamnya harus melalui beberapa fase. Secara fisikal, dimulai dari fase pembentukan jasad. Kelahiran dalam wujud balita. Kanak-kanak. Dewasa. Tua. Lanjut usia. Lantas tiada. Belum lagi perjalanan secara ruhaniah. Yaitu yang dimulai dari tataran syariat, hakikat, ma’rifat, serta fase penyatuan. Kesemuanya itu merupakan sebuah proses pencarian kesempurnaan dan jati diri kemanusiaanya. Dan rentang waktu antara fase satu ke fase yang lain itu cukuplah lama. Berpuluh-puluh tahun.

Dikatakan sejenak sebab dunia ini fana yang bersifat tidak kekal. Begitu juga dengan manusianya. Secara jasadiah, manusia pasti mengalami kematian di dalam dunia ini. Ia tidak kekal. Suatu saat ia pasti lenyap dari keberadaan kehidupan materi ini. Yang demikian itulah fenomena hidup di dunia yang merupakan sebuah rangkaian perjalanan panjang yang sejenak.

Dalam rangkaian perjalanan panjang yang sejenak ini, seorang manusia pastilah menemukan sesuatu yang lebih dalam hidup dan kehidupanya. Ia sudah barang tentu menemukan hikmah-hikmah tersendiri yang tidak sama dengan penemuan manusia yang lain. Yang lebih dulu hidup daripadanya. Namun jika ada satu kemiripan, itu merupakan suatu kewajaran. Sebab realitas kehidupan manusia sekarang tidak lain adalah hasil pengulangan realitas kehidupan yang silam. Yang menjadi pembedanya adalah cara pengungkapan dan penuangannya dalam realitas sosial. Tentunya dipengaruhi oleh setting suasana dan tempat yang berbeda. Jadi yang sama adalah akar konsep pemahaman idenya. Bukan sama secara realitas fisiknya. Hanya saja konsep ide yang lalu dalam realitas sekarang mungkin terdapat satu pengembangan sesuai dengan prifasi dan lingkungan fisiknya.

Penemuan sesuatu yang lebih dan hikmah-himah oleh seorang manusia itu berpangkal pada tindak pemaknahan terhadap simbol-simbol realitas yang ada. Simbol-simbol yang terdapat di sisi sayap kanan dan kirinya. Dengan adanya pemaknahan itu, maka beroleh manfaatlah dalam pribadi orang tersebut. Tidak menutup kemungkinan, orang lain pun turut merasakannya.

Hal itu tampaknya telah dicapai oleh seorang Nurel dengan menghadirkan karyanya Kitab Para Malaikat. Rangkaian hikmah yang dicakup dalam hidup dan kehidupanya berpangkal dari pemaknahan akan realitas yang melingkupi pribadinya. Perjalanan yang relatif panjang. Kurang lebih hampir sepuluh tahun ia mengumpulkan hikmah-hikmah tersebut hingga kini hadirlah sebuah buku yang berjudul Kitab Para Malaikat. Tempaanya tidak pada satu tempat melainkan di berbagai tempat. Seperti di pesantren Waticongol, Muntilan (Magelang), Tegal Sari, Jetis, (Ponorogo), Yogyakarta, Selat Sunda, Gersik, Lamongan, dan lain-lain. Ia laksana memungut satu demi satu kerikil makna kehidupan yang berserakan sebagai amunisi menelanjangi peradaban zaman.

Falsafah hidup sangat kental dalam Kitab Para Malaikat. Dalam tiap bagianya tersebar luas nilai-nilai falsafahnya. Falsafah tentang wanita misalnya. Siapa yang dapat menghormati dan menjujung martabat rumah tangga, masyarakat, bangsa, dan bahkan leluhur seseorang? Semuanya itu yang berperan adalah seorang wanita. Dialah panutannya. Dialah tulang punggungnya. Jika pribadi seorang wanita itu rusak, maka rusaklah semuanya. Martabat pun akan mengalami degradasi dengan indahnya.

Mengapa wanita sebagai penentu dan tulang punggug semuanya? Ini bukan merujuk pada tindak emansipasi wanita secara mutlak. Tidak mengunggulkan wanita harus memimpin segalanya. Memimpin rumah tangga, masyarakat, maupun bangsa dan negara. Ini melainkan berorientasi pada hakekat dasar wanita. Obsesi wanita sebagai seorang ibu dari anak-anaknya. Cinta kasih harus ditanamkan oleh seorang ibu kepada anaknya secara mendalam. Pendidikan dasar seorang anak tercermin lewat karakter ibunya. Sebab seorang ibu pada dasarnya lebih dekat secara psikologi dengan anak-anaknya. Seorang anak akan mempelajari secara alamiah kebiasaan-kebiasaan ibunya. Jika ibunya sering bersikap kasar, apatis, nakal, kurang sopan, dan sering keluar rumah, sudah barang tentu kelak karakter anak tidak jauh berbeda dari semua itu. Bahkan bisa berbuat lebih. Tidak ingatkah ketika seorang ibu mengalami sakit, maka bayinya pun turut merasakanya jua. Seorang ibu yang sedang guncang jiwa dan perasaanya, maka bayinya pun merengek tak henti-hentinya. Ini sebagai bukti bahwa kedekatan psikologi seorang anak cenderung mengarah pada kepribadian ibunya..

Jadi peranan wanita sebagai penentu kepribadian generasi berikutnya yang menjadi sorotan utamanya. Wanita harus bisa memberdayakan eksistensi pribadinya. Yaitu sebagai seorang ibu yang mencurahkan segenap kasih sayang, cinta, dan pendidikan dasar kepada anak-anaknya. Bukan memberi contoh buruk. Biar kelak tercipta generasi penerus yang lebih unggul. Generasi yang mampu menyemikan harkat dan martabat neneng moyangnya. Wanitalah panutanya. Tampaknya hal itu yang menjadi titik tolak ungkapan seorang Nurel; “Bagi bangsa-bangsa menghormati moyangnya, wanita // menjadi panutan, selendang panjangnya menyeret lelangkah // dan dunia setuju walau berkali-kali terhempas prahara” (Membuka Raga Padmi, I; XI, hal:5).

Pengajaran akan nilai-nilai keikhlasan juga semerbak dalam karya ini. Dalam perjalanan hidupnya, manusia harus senantiasa melangkah dengan penuh keikhlasan. Mengabdi dengan bekal keikhlasan lewat ketetapan hati, perkataan, maupun perilaku. Keikhlasan itu diwujudkan dalam bentuk ikhlas kala memperoleh kenikmatan. Dan ikhlas kala mendapatkan musibah. Hal itu memang terjadi secara bergantian. Ini sebuah kewajaran. Orang tidak akan merasakan kenikmatan sebelum ia pernah merasakan musibah atau sengsara. Begitu juga dengan sebaliknya. Ini merupakan sesuatu yang berkala. “Sakit serta nikmat ia terima sejauh tidak mengurangi kekhusyukan, // kesungguhan hayatmu mengabdi berbekal puja keikhlasan” (Anak Sungai Filsafat, IX; XXI, hal:52).

Nilai vitalitas juga terdapat dalam Kitab Para Malaikat. Ini seolah cermin dari pribadi pengarangnya. “Bara revolusi berasal dari rindu terkumpul gagasan sebelum bertemu, // dan akhirnya bentuklah yang menciptakan melodi ruangan takdirmu” (Musik-Tarian Keabadian, V; XI, Hal:31). Ungkapan ini bermaksud memberi dorongan dan semangat hidup. Bahwa sesungguhnya perubahan besar yang terjadi dalam pribadi seseorang itu bermula dari kerinduan untuk menggapai suatu hal. Di mana pencapaian terhadap suatu tujuan itu belum terwujud. Oleh sebab itu dorongan batin harus segera dituangkan dalam bentuk tindakan dan kesungguhan usaha. Adapun takdir di esok hari akan mengikuti kekuatan tindakan dan kesungguhan usaha dalam proses penggapaian suatu hal yang telah dirindu-impikan. Intinya, seseorang tidak boleh berhenti di tengah jalan saat hendak merengkuh sebuah impian dan cita-cita. Kuatkan tekad sampai muara.

Karya ini merupakan karya yang dituangkan dalam bentuk romantisme perjalanan hidup. Adapun yang menjadi selimutnya adalah romantisme filosofis. Disusun ke dalam beberapa bagian. Lebih tepatnya dua puluh bagian ditambah satu bagian muqaddimah sebagai pembuka awalnya. Bagian-bagianya adalah; Muqaddimah (Waktu Di Sayap Jibril), Membuka Raga Padmi; I, Hukum-Hukum Pecinta; II, Bait-Bait Persembahan; III, Ruang-Ruang Mengabadikan; IV, Musik-Tarian Keabadian; V, Diruapi Malam Harum; VI, Keinginan-Keinginan Mulia; VII, Di Atas Tandu Langitan; VIII, Anak Sungai Filsafat; IX, Sekuntum Bunga Revolusi; X, Penampakan Do’a Semalam; XI, Duka Tangis Busa, XII, Gelombang Merawat Pantai; XIII, Mengembalikan Niat Suci; XIV, Pembangunan Dunia Ganjil; XV, Siang Tubuh Malam Jiwanya; XVI, Secercah Cahaya Kurnia; XVII, Tanah Kelahiran Masa; XVIII, Ruang Waktu Padat; XIX, Muakhir (Kesaksian-Kesaksian); XX.
Dalam setiap bagianya tersusun secara panjang. Namun dibatasi dengan angka-angka romawi sebagai bentuk pemisahan baitnya. Hal itu tampaknya sebagai wujud ekspresi yang menyimbolkan bahwa karya ini digurat dalam rentang waktu yang relatif lama. Dan dalam ruang-waktu yang berbeda-beda.

Tampilan fisik Kitab Para Malaikat cenderung mengelabuhi penikmatnya. Penikmat akan terpancing untuk memaknai dan memahami dalam tiap baitnya secara terpisah. Tiap bait yang dicipta seolah mengusung topik yang baru. Padahal tidak. Itu sebenarnya merupakan satu kesatuan yang utuh dalam tiap sub bagiannya. Walaupun juga ada sedikit yang meloncat. Namun pada akhir bagianya bisa kembali pada topik pembahasan semula. Jika pola pemahaman penikmat dilakukan secara terpisah-pisah, maka benar apabila karya ini disebutnya sebagai karya yang pengguratanya menggunakan ritme Jurus Dewa Mabuk. Ritme yang tidak beraturan dan tak berarah. Namun mengandung kekuatan yang dahsyat dan mematikan lawan-lawanya.

Bahasa yang dipaki tidak sederhana dan terlalu sublim. Jadi butuh pemahaman ekstra untuk menguak intinya. Dan tiap bagianya pun terlalu panjang. Ini bagi penikmat yang kurang sabar, sering mengalami kejenuhan dan bosan. Serta sedikit mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Yang paling sering akan menganggap ungkapan dalam karya ini minim makna dan pesan. Sekedar keromantisan bahasa yang disajikan. Namun bagi beberapa kalangan penikmat, ini sangat menyenangkan. Sebab ada tantangan yang lebih untuk menguak kesublimannya.

Selanjutnya, selamat menikmati. Selamat menerjemahkan inti. Semoga kesahajaan akan melingkupi jiwa-jiwa sang pencari.

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez