Tampilkan postingan dengan label Aminullah HA Noor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aminullah HA Noor. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Agustus 2010

Sastra Religius di Tahun Seni Budaya

Aminullah HA Noor
http://www.suarakarya-online.com/

Pembahasan tentang puisi religius di media massa selama ini sering terkesan tidak tuntas. Sebab membahas sastra religius memang tidak gampang karena akan terbentur banyak hal. Sejak pemahaman tentang religiusitas itu sendiri sampai kaitannya dengan agama lain, yang mempunyai klaim religiusitas berbeda.

Jika masalah religiusitas hanya dibatasi menurut konsep agama Islam saja pun akan membentur kepada keanekaragaman karya sastra yang bisa saja ada yang justru merusak nilai-nilai Islam, padahal karya sastra itu penuh dengan ciri-ciri Islam. Hamzah Fansuri misalnya, yang banyak menulis karya agung di abad ke-16, oleh sementara kalangan karyanya justru dinilai tak sesuai dengan Islam karena ajaran-ajaran wahdatul wujud-nya yang panteistik, seperti terkandung dalam Syair Perahu-nya.

Karena itu, Nuruddin Ar Raniri, ulama dan sastrawan Aceh yang besar tak lama setelah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatrani, mengadakan gerakan pembersihan terhadap ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatrani. Buku-buku karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As Sumatrani pun dimusnahkan.

Menurut buku Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik karya Liauw Yock Fang (Erlangga, Jakarta 1991), di Malaysia pernah terjadi perdebatan seru mengenai sastra Islam. Perdebatan itu dipicu oleh makalah Shahnon Ahmad. Sastra Islam, yang dimuat dalam Majalah Dewan Bahasa, Kuala Lumpur, edisi Juli 1977.

Dengan irama reda - hangat - reda - hangat, pelemik antara Shahnon Ahmad dengan Kassin Ahmad juga ditimpali oleh Shafie Abu Bakar, Ismail Ibrahim dan Sayed Alatas, dan berlangsung terus hingga tahun 1983.

Permasalahan yang diperdebatkan berkibar pada apa yang dimaksud dengan harus “mendukung nilai-nilai Islam”, ataukah “berdasarkan kisah-kisah yang terselah dalam Al Qur’an dan Hadits” ataukan “hasil tulisan yang berdasarkan tauchid”.

Menurut Liauw Yock Fang, dengan pengetatan ciri-ciri sastra Islam, bisa-bisa sebagian benar khasanah sastra Melayu lama dianggap “bukan sastra Islam” (dan bukan sastra relegius). Sebab, sebagian besar karya sastra Melayu lama “melenceng” dan nilai-nilai Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Hadits.

Tetapi, menurut Rock Fang, hal itu bisa difahami karena Islam masuk ke berbagai negara melalui berbagai negara pula. Tentu, banyak bercampur dengan kultur tradisional setempat yang kebanyakan bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.

Karena kultur setempat itu diadopsi begitu saja oleh sastrawan Islam di masa itu - tidak disaring sebagaimana Sunan Kalijaga mengawinkan Islam dan kultur tradisional Jawa - maka jadilah ajaran Islam yang tercampur dengan kultur tradisional yang kemudian juga tercermin dalam karya-karya sastra lama.

Percampuran seperti itu bahkan tak jarang menimpa karya-karya sastra masa kini, dimana nilai-nilai Islam yang dianut oleh para sastrawan masa kini bisa jadi tercampur berbagai ideologi, baik ideologi Timur maupun Barat yang tidak disaring secara ketat dan ditelan saja mentah-mentah. Beberapa puisi Abdul Hadi WM. misalnya, meski dianggap religius, memiliki karya-karya yang dekat dengan pandangan panteisme atau wahdatul wujud.

Lepas dari persoalan di atas, realitas menunjukkan bahwa sastra religius ataupun sastra Islam tetap hidup di tengah sastra Indonesia kontemporer, walaupun kini tidak menjadi arus besar. Menurut saya, sastra Islami/religius boleh terus ada tanpa harus menjadi arus besar. Cukup banyak penyair Indonesia kini yang terus menulis sajak-sajak religius dengan bagus dan tawadhuk tanpa perduli bahwa arus besar sastra Indonesia tengah dipimpin oleh gaya surealistik post-modernist seperti gaya Afrizal Malna.

Mengharap sastra religius menjadi arus besar hanya mengakibatkan dipinggirkannya sastrawan-sastrawan Islam yang menulis sastra Islam tanpa menghiraukan arus besar yang sedang berkembang.

Apakah HAMKA, Bahrum Rangkuti, Yoesoef Syou’eb, Endang Anshori Ananda, Danarto, Abdul Hadi WM, Emha Ainun Najib, hingga Ahmadun Yosi Herfanda menjadi sastrawan nomor dua hanya karena mereka menulis sastra Islam ketika sejarah dan pembicara sastra Indonesia berpihak kepada arus besar yang bukan sastra Islam?

Dasawarsa 1980-an barangkali menjadi perkecualian, karena Abdul Hadi MW mampu “mengkudeta” sejarah sastra Indonesia dengan memasakan arus besar sastra religius dan sufistik secara intensif melalui lembaran budaya di harian Berita Buana.Tetapi, juga harus dicatat dengan hati-hati, bahwa arus besar sastra sufistik yang dikibarkan oleh Abdul Hadi MW itu diikuti oleh para sastrawan yang benar-benar Islami. Karena, pada zaman itu terjadi anekdot-anekdot lucu, antara lain beberapa penyair yang setiap hari kerjanya berkelahi, memalak orang dan suka minum minuman keras, terpaksa menulis sajak-sajak sufistik agar namanya ikut tercatat dalam barisan sastrawan sufistik Indonesia tahun 1980-an.

Sejak awal 1990-an sejak sastra Indonesia dilanda arus besar Afrizalian. Tiba-tiba kini orang seperti rindu kembali pada sastra Islami. Menurut saya, mempersoalkan kembali sastra religius Islam akan lebih mempunyai arti jika mendudukkannya dalam genre terdiri dengan sejarahnya sendiri, ketimbang mempertanyakannya atau mempersoalkan kedudukannya di tengah arus besar Afrizalian yang anomik.

Bahkan, saya yakin, pencatat sastra religius Islam sebagai genre tersendiri dalam kesusastraan Indonesia akan memunculkan nama-nama yang selama ini tersembunyi di pesantren yang bertebaran di seluruh Indonesia.

Beberapa media di Indonesia bisa memulai upaya pencatatan itu dengan membuka rubrik khusus sastra religius Islam di antara halaman sastra budaya yang tersedia. Upaya itu, jika benar-benar dilakukan, jangan lantas dicurigai sebagai kecenderungan eksklusifisme genre sastra Islam. Tetapi, itu adalah langkah konkret dari penyiasatan pencatatan genre sastra Islami, yang dewasa ini disisihkan secara semena-mena oleh sejarah Indonesia yang diawali muatan politik oleh penjajah Belanda lewat mainstream Balai Pustaka-isme.

Mengulang kembali kesuksesan Abdul Hadi WM mengkudeta tahta sastra Indonesia untuk sastra sufistik bukan hal yang mudah. Mungkin setelah Afrizalian yang hyper-absurd mewarnai sastra Indonesia periode 1990-an perlu disiapkan agenda baru untuk sastra Indonesia tahun 2005? Mungkinkah penghidupan kembali sastra religius Islam bisa memberi warna pada tahun seni dan budaya (tahun ini) sebagaimana dicanangkan Presiden SBY baru-baru ini.

Untuk itu semua kita hanya bisa menunggu sejarah. Tetapi, sejarah juga menunggu langkah-langkah kita semua. Sejak dulu sejarah adalah ajang perebutan kesempatan! Siapa dapat, ia menulis sejarah dengan versi sekehendak hatinya! Sejarah bisa ditulis dalam versi yang lain, jika ada pergantian penentang pula! ***

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez