Tampilkan postingan dengan label Asef Umar Fakhruddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asef Umar Fakhruddin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Agustus 2010

Mencari Titik Temu antara Sastra dan Agama

Asef Umar Fakhruddin*
http://www.infoanda.com/Republika

Membincangkan relasi antara sastra dan agama memang selalu menarik. Tidak jarang menyeruak pula perdebatan sengit terkait kedua entitas ini. Perdebatan sengit antara “dua kubu” aliran sastra (kubu Taufiq Islamil dkk dengan kubu Hudan Hidayat dkk) beberapa waktu yang lalu dan bahkan sampai sekarang, jika dirunut, juga berujung pada di mana sebenarnya posisi sastra dan agama dalam kehidupan.

Pada hakikatnya, agama maupun sastra, bermuara pada rasa atau jiwa. Agama, misalnya, meskipun juga membahas dan menyodorkan pusparagam hukum-hukum formal, juga mengetengahkan kajian-kajian kritis tentang jiwa. Bagaimana seyogyanya manusia melakukan pembersihan terhadap hati atau jiwa pemeluknya, merupakan salah satu kajian inti agama.

Sama halnya dengan karya sastra. Setiap karya sastra bisa dikatakan sebagai gelora batin penulisnya (baca: sastrawan). Gelora ini merupakan bentuk kegelisahan sekaligus harapan mereka terhadap kemanusiaan yang semakin ditanggal-tinggalkan. Jiwa para sastrawan terpanggil untuk memberikan alternasi. Jadi, agama dan sastra sama-sama mengacu pada jiwa.

Pada titik ini, teologi pluralis menemukan aksentuasinya. Akan tetapi, teologi ini tidak hanya berhenti di ruang diskusi atau meja perdebatan, melainkan mewujud dalam aksi nyata untuk kemanusiaan dan kehidupan. Bila teologi pluralis ini, kata filsuf Jurgen Habermas, tidak dikembangkan dan dikawinkan dengan tujuan pembebasan kemanusiaan, maka ia akan sekadar menjadi obyek ilmu pengetahuan yang abstrak dan menggantung di langit; hanya menjadi obyek pengetahuan yang tidak mempunyai dimensi praksis. Padahal, paradigma ilmu sosial tradisional yang obyektif dari ideologi telah dirobohkan oleh paradigma ilmu sosial kritis yang membebaskan (Jurgen Habermas, 1993).

Sebagai denyar-denyar gerak hati sastrawan, yang karena muasalnya adalah jiwa, dan kemudian diejahwantahkan dalam bentuk karya sastra, maka karya sastra tersebut seharusnya juga memerhatikan pesan yang dikandungnya. Pasalnya, karya sastra tersebut nantinya akan dibaca, dan bahkan menjadi “teladan” bagi masyarakat. Pablo Neruda, peraih Nobel Sastra dari Chili, bahkan menegaskan bahwa para sastrawan adalah pendidik bangsa.

Dengan demikian, karya sastra harus menyeruakkan tapak-tapak nilai kebajikan dan kebijaksanaan. Cerpen Gus Jakfar karya sastrawan A Musthofa Bisri, misalnya, adalah salah satu cerpen atau karya sastra yang mampu menggugah kemapanan paradigma yang selama ini bertengger di ujung rasionalitas manusia, khususnya umat Islam. Setelah cerpen tersebut dimuat, banyak kyai yang ingin tahu, bahkan “mewajibkan” diri untuk membacanya.

Setidaknya menurut pandangan penulis, di banyak pesantren, instansi pendidikan, pesantren mahasiswa di kota-kota besar, dan komunitas sastra maupun sosial, banyak orang membaca dan menelaah cerpen tersebut. Tidak hanya itu, sahabat-sahabat penulis yang nonmuslin pun banyak yang mengkaji cerpen tersebut. Pasalnya, menurut mereka, isi cerpen tersebut merupakan kritik terhadap simbolitas yang acapkali mewarnai kehidupan, yang parahnya, sering dijadikan legitimasi melakukan penghukuman.

Pada titik ini, pesan yang disampaikan Gus Mus, demikian ia biasa dipanggil, berhasil mengenai sasaran: jiwa pembaca. Setelah membaca cerpen tersebut, kebanyakan dari mereka membelokkan arah pemikiran mereka yang selama ini cenderung segmentaris-ekslusif-primordial, menuju pemikiran inklusif-sufistik-transformatif. Dan, perubahan seperti ini merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh agama.

Penyair Sutardji Cholzum Bachri, juga pernah mewartakan bahwa karya sastra dapat memberikan hikmah. Hikmah karya sastra yang baik adalah bisa membuat orang yang membacanya tercerahkan. Hikmah itu berupa nilai dan kearifan. Tapak-tapak kearifan itu tinggal di hati. Karena itu, karya sastra yang bagus bukanlah sekadar kata-kata yang bagus, tapi sesuatu yang bersifat mencerahkan.

Intinya, agama dan karya sastra tidak hanya berkelana pada ranah esoteris saja, melainkan juga berkecimpung pada ranah eksoteris. Tidak hanya itu, agama dan sastra juga senantiasa bergerak dari wilayah outward ke inward, juga sebaliknya.

Agama adalah bela rasa (atau cinta), demikian kata peneliti agama-agama dunia, Karen Armstrong. Dalam hal ini, lagi-lagi, sama dengan sastra. Sastra juga menjadikan rasa sebagai landasan pijak dalam menunjukkan eksistensinya. Karena itu, akan sangat bijak jika mempersandingkan keduanya untuk melahirkan konformitas dalam segala hal dengan kembali ke nurani.

Di tengah negara-bangsa yang sedang oleng dan akan karam ini, dibutuhkan kebajikan dan kebijaksanaan dalam berpikir dan bersikap. Dekadensi moral sudah saatnya dienyahkan dari bumi pertiwi Indonesia. Setangkup kearifan sekalipun, harus segera dihadir-jelaskan kepada persada ini.

Ajakan untuk kembali kepada nurani bukan berarti memproklamirkan diri sebagai ‘orang suci’, moralis, atawa apalah penyebutannya, tetapi lebih sebagai panggilan jiwa. Sudah saatnya seluruh rakyat dan elemen negara-bangsa ini kembali kepada kesucian diri: hakikat kemanusiaan.

Menjadikan kebijaksanaan, baik ketika mendalami agama maupun sastra, sebagai spirit perlu mendapatkan perhatian serius. Pasalnya, tatkala kebijaksanaan dikedepankan, hasil (karya) yang dihasilkan akan mampu memberikan pencerahan. Dalam hal ini, kita, kata Karen Armstrong, harus belajar kepada orang-orang, yang oleh filsuf Karl Jaspers disebut Zaman Aksial, zaman yang berkisar antara tahun 900-200 SM.

Orang-orang zaman ini telah menampilkan keagungan dan keberadaban tingkat tinggi. Konfusianisme dan Taoisme di Cina, Hinduisme dan Buddhisme di India, monoteisme di Israel, dan rasionalisme filosofis di Yunani ada pada Zaman Aksial ini. Zaman ini merupakan periode Buddha, Sokrates, Konfusius, Yeremia, mistikus Upanishad, Mensius dan Euripides. Selama periode kreativitas yang kental ini, para genius dan filosofis memelopori jenis pengalaman kemanusiaan yang sama sekali baru (Karen Armstrong: 2007).

Dalam terang peradaban seperti sekarang, problem kemanusiaan tidak muncul dari under development, tetapi justru dari over development. Maka dari itu, sudah saatnya agama dan sastra dijadikan pilar pembangun peradaban manusia. Dengan kata lain, melahirkan karya sastra dengan tetap menjadikan agama dan nurani kemanusiaan sebagai landasan pijak merupakan sebuah sine qua non.

Agar agama dan sastra bisa berjalan beriringan, kita harus melakukan reformasi terhadap pola pikir dan sikap kita, serta perlu, seperti saran Mensius, pergi mencari hati yang hilang. Bela rasa atau cinta bisa menjadi titik tolak perubahan peradaban manusia tersebut: agar konformitas kehidupan ini selalu lestari. Rasa yang menyublim dalam agama dan sastra adalah anima mundi (ruh dunia). Rabbi Yahudi, Akiba, yang terbunuh oleh Romawi pada 132 M, tambah Karen, mendedahkan bahwa prinsip utama dalam Taurat adalah cinta.

Kita semua berharap agar agama dan sastra-sebagaimana dikatakan oleh Anton Kurnia dalam pengantarnya untuk novel peraih Nobel Sastra, Gunung Jiwa, karya Gao Xingjian-memang merupakan ‘jalan’ menuju kesejatian. Sebab, konon, ada empat jalan meraih kesejatian (baca: pencerahan), yaitu agama, sains, filsafat, dan sastra.

*) Peneliti pada Centre for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga.

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez