Dian Sukarno **
Bismillah alhamdulillah saya mendapat undangan istimewa untuk bertemu anak-anak muda yang melampaui zamannya. Saya katakan demikian, karena kebesaran Nusantara telah memanggil anak-anaknya untuk menampakkan wujud aslinya sebagai mercusuar dunia. Penduduk surgawi sebagaimana dikatakan oleh Syech Ahmad Saltut, seorang ulama Mesir yang berkunjung di era Presiden Soekarno, yang memapar dalam ungkapan penuh takjub; Indonesia adalah sekeping tanah surga yang diturunkan Tuhan ke dunia. Celetuk kekaguman itu bukanlah tanpa alasan, mengingat hamparan bumi, luasan langit, bentangan peristiwa, hingga plasmanutfah atau kekayaan alamnya menjadi yang terpenting bagi kelangsungan seluruh makhluk di permukaan bumi. Maka, tidak mengherankan jika Nusantara menjadi ajang perseteruan abadi para perompak berbaju modern, mulai bangsa Eropa, Amerika, hingga jazirah padang savana Mongol yang menginginkan Nusantara tunduk di hadapan duli tuannya.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Dian Sukarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dian Sukarno. Tampilkan semua postingan
Rabu, 07 Maret 2018
Jumat, 01 Oktober 2010
Filosofi Semar dan Makrokosmos Gus Dur
Dian Sukarno *)
http://radarmojokerto.co.id/
Semar dalam dunia pewayangan adalah manusia setengah dewa penjelmaan Sang Hyang Ismaya. Semar sendiri berasal dari kata tan samar, artinya tidak tertutupi oleh tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi sesuatu. Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketentraman di muka bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu hayuning sasama). Sebagai titah atau makhluk Semar mengemban amanat untuk ngawula (mengabdi) berupa dharma atau amalan baik kepada bendara alias juragan bin majikan, juga kepada bangsa dan negara. Ini dibuktikan ketika Jonggring Saloka kayangan para dewa bergejolak, maka Semar turun tangan lewat Semar Mbangun Kayangan (Semar membangun Kayangan). Begitu muncul ketidakadilan dan ketidakbenaran sistem, maka Semar pun tergerak dalam Semar Gugat (Semar Menggugat), dan masih banyak lagi.
Yang menarik pada sebagian masyarakat Jawa masih menganggap Semar merupakan sosok filosofis yang diyakini menjadi pamong para kesatria agung. Siapapun tokoh yang berdekatan dengan Semar dan dari mana ia berasal akan merasa tentram dan ujung-ujungnya mengalami pencerahan. Bapak dari tokoh punakawan Gareng, Petruk, dan Bagong ini seolah tidak pernah mengenal kata sedih. Bicaranya spontan tetapi mengandung kebenaran. Setiap bertutur selalu menghibur. Sehingga orang yang sedih menjadi gembira, mereka yang susah bisa tertawa. Itulah Semar yang tumakninah mengawal kebenaran dan hati nurani pandawa sebagai representasi tokoh dunia putih.
Bagaimana dengan Gus Dur? Entahlah. Penulis merasa kentekan candra luwih rupa, kehabisan kata-kata untuk berkisah tentang beliau. Sama halnya para elemen bangsa yang tidak bisa membicarakan Gus Dur kecuali rasan-rasan terkait amal baik almarhum. Karena Gus Dur adalah sosok guru bangsa yang harus disyukuri keberadaannya oleh keluarga besar bangsa Indonesia, menurut ungkapan Cak Nun.
Pembaca, Gus Dur memang bukan Semar yang dianggab setengah dewa atau wali bagi sebagian pengikutnya. Tetapi jika mau merunut dan mengilas balik tindakan, ucapan, dan sepak terjang beliau semasa sugeng, potret filosofis Semar seolah mengejawantah pada pribadi cucu Hadratussyeh KH Hasyim Asy’ari pendiri pondok pesantren Tebuireng, Jombang ini. Jika ada Semar Mbangun Kayangan, maka di alam nyata Gus Dur pernah duduk menjadi presiden ke-4 Republik Indonesia. Pun kalau ada Semar Gugat Gus Dur sering melakukan lewat banyak forum, termasuk menggagas Forum Demokrasi atau Fordem dan banyak hal yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Dan antara Gus Dur dan Semar terdapat kemiripan, bahwa di antara keduanya kaya anekdot. Dalam pewayangan Semar pernah mengingatkan Arjuna lebih baik makan berlebih daripada kelebihan omongan, karena kelebihan makan bisa buang air, sebaliknya kelebihan bicara bisa berakibat maut, “Langkung prayogi keladuk mbadog tinimbang keladuk cocot. Keladuk mbadog saged diisingaken, nanging menawi keladuk cocot saged dibacok tiyang.” Sedangkan Gus Dur ketika ditanya wartawan soal peluang menjadi presiden kembali sangat tipis, beliau dengan enteng menjawab, “pendukung saya kan orang kampung yang ndak punya HP.” Atas keunikan-keunikan Gus Dur inilah sejumlah pelukis Jombang yang tergabung dalam Komunitas Pelukis (Kopi) Jombang merefleksikan pada lukisan bertema Gus Dur dan Semar.
Sosok almarhum Gus Dur dalam beberapa hari terakhir telah menyedot perhatian ribuan, bahkan jutaan umat manusia di muka bumi. Mereka seolah enggan mengatakan bahwa Gus Dur telah wafat. Terbukti pada malam peringatan 7 hari berpulangnya kakak kandung KH Solahudin Wahid (Gus Solah) itu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, ketika sesi ceramah yang diisi Cak Nun (budayawan Emha Ainun Najib), salah seorang jamaah berteriak, “Hidup Gus Dur!” Alhasil Cak Nun sempat terhenyak dan berkomentar, “Awakmu iku ngawur ae, Rek!” Ya, Gus Dur memang hidup abadi di hati siapapun yang menghargai harkat kemanusiaan dan religiusitas tinggi. Tidak mengherankan apabila KH Abunyamin Ruhiat, pengasuh pondok pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat mencatat ada tiga hal yang bisa diteladani dari KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur; pertama kebangsaan yang majemuk, artinya mengutamakan pluralisme, kedua Islam yang moderat menunjukkan Islam sebagai rahmat seluruh alam, dan yang ketiga peran Gus Dur mengembalikan NU ke khittah 1926.
Gus Dur sebagai bapak bangsa dan tokoh pro kemajemukan, penulis mencatat sejumlah komentar dari tokoh lintas agama dan keyakinan atas pribadi almarhum sebagai berikut;…Gus Dur jadi Presiden itu agama Kong Hu Cu diadakan.Jadi yang memperjuangkan agama orang Tionghoa, ini Gus Dur… (Ny Hoolan umat kong hu cu kelenteng Boenbio Jl Kapasan 131,Surabaya),…Saya rasa beliau (Gus Dur) memberikan banyak contoh untuk bagaimana seorang manusia itu harus hidup di dunia ini dan saya rasa memberikan keteladanan yang bukan hanya untuk Indonesia tapi saya rasa untuk seluruh dunia, bagaimana seorang pemimpin harus bersikap…(George Soraya pimpinan Masyarakat Agama Bahai Indonesia),…Gus Dur adalah sosok orang yang bisa kita jadikan teladan bagi bangsa ini khususnya, karena bagaimanapun karya beliau terlepas dari orang suka atau tidak suka, beliau telah berkarya nyata untuk mengembangkan, membangun nilai-nilai universalisme, nilai-nilai multikultural yang diusung untuk menghargai berbagai macam perbedaan…(Bante Yana Suryanadi pimpinan Sangha Agung Indonesia)…Mungkin belum saya temukan orang segusdur (sebaik) Gus Dur di negeri ini…(Romo Franz Magnis Suseno, pastor dan budayawan). Ternyata dengan pemahaman keagamaan yang paripurna sosok Gus Dur telah melampaui sekat-sekat dimensi ruang dan waktu. Gus Dur telah menjadi makrokosmos (jagad besar) atas nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, sosial budaya dan lain-lain. Gus Dur telah menggabungkan tiga fitrah kemanusiaan menurut Muhammad Iqbal sastrawan Mesir, yaitu agama, filsafat, dan seni budaya. Seorang ulama yang tinggi derajat keilmuannya, seorang yang paham akan filsafat kehidupan, dan pribadi yang menyukai keindahan lewat produk-produk kebudayaan, seperti musik klasik hingga tarling Banyumasan.
Gus Dur… Kami akan selalu rindu dengan kebijaksanaan dan anekdotmu yang menghibur. Selamat jalan Bapak bangsaku. Semoga njenengan terus tersenyum di alam langgeng dan Kami tetap tegar menghadapi segala sesuatu sebagaimana sering njenengan katakan, “gitu aja kok repot…”
*) Penulis adalah adalah penggiat budaya dan pimpinan sanggar tari Lung Ayu, Sengon, Jombang.
http://radarmojokerto.co.id/
Semar dalam dunia pewayangan adalah manusia setengah dewa penjelmaan Sang Hyang Ismaya. Semar sendiri berasal dari kata tan samar, artinya tidak tertutupi oleh tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi sesuatu. Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketentraman di muka bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu hayuning sasama). Sebagai titah atau makhluk Semar mengemban amanat untuk ngawula (mengabdi) berupa dharma atau amalan baik kepada bendara alias juragan bin majikan, juga kepada bangsa dan negara. Ini dibuktikan ketika Jonggring Saloka kayangan para dewa bergejolak, maka Semar turun tangan lewat Semar Mbangun Kayangan (Semar membangun Kayangan). Begitu muncul ketidakadilan dan ketidakbenaran sistem, maka Semar pun tergerak dalam Semar Gugat (Semar Menggugat), dan masih banyak lagi.
Yang menarik pada sebagian masyarakat Jawa masih menganggap Semar merupakan sosok filosofis yang diyakini menjadi pamong para kesatria agung. Siapapun tokoh yang berdekatan dengan Semar dan dari mana ia berasal akan merasa tentram dan ujung-ujungnya mengalami pencerahan. Bapak dari tokoh punakawan Gareng, Petruk, dan Bagong ini seolah tidak pernah mengenal kata sedih. Bicaranya spontan tetapi mengandung kebenaran. Setiap bertutur selalu menghibur. Sehingga orang yang sedih menjadi gembira, mereka yang susah bisa tertawa. Itulah Semar yang tumakninah mengawal kebenaran dan hati nurani pandawa sebagai representasi tokoh dunia putih.
Bagaimana dengan Gus Dur? Entahlah. Penulis merasa kentekan candra luwih rupa, kehabisan kata-kata untuk berkisah tentang beliau. Sama halnya para elemen bangsa yang tidak bisa membicarakan Gus Dur kecuali rasan-rasan terkait amal baik almarhum. Karena Gus Dur adalah sosok guru bangsa yang harus disyukuri keberadaannya oleh keluarga besar bangsa Indonesia, menurut ungkapan Cak Nun.
Pembaca, Gus Dur memang bukan Semar yang dianggab setengah dewa atau wali bagi sebagian pengikutnya. Tetapi jika mau merunut dan mengilas balik tindakan, ucapan, dan sepak terjang beliau semasa sugeng, potret filosofis Semar seolah mengejawantah pada pribadi cucu Hadratussyeh KH Hasyim Asy’ari pendiri pondok pesantren Tebuireng, Jombang ini. Jika ada Semar Mbangun Kayangan, maka di alam nyata Gus Dur pernah duduk menjadi presiden ke-4 Republik Indonesia. Pun kalau ada Semar Gugat Gus Dur sering melakukan lewat banyak forum, termasuk menggagas Forum Demokrasi atau Fordem dan banyak hal yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Dan antara Gus Dur dan Semar terdapat kemiripan, bahwa di antara keduanya kaya anekdot. Dalam pewayangan Semar pernah mengingatkan Arjuna lebih baik makan berlebih daripada kelebihan omongan, karena kelebihan makan bisa buang air, sebaliknya kelebihan bicara bisa berakibat maut, “Langkung prayogi keladuk mbadog tinimbang keladuk cocot. Keladuk mbadog saged diisingaken, nanging menawi keladuk cocot saged dibacok tiyang.” Sedangkan Gus Dur ketika ditanya wartawan soal peluang menjadi presiden kembali sangat tipis, beliau dengan enteng menjawab, “pendukung saya kan orang kampung yang ndak punya HP.” Atas keunikan-keunikan Gus Dur inilah sejumlah pelukis Jombang yang tergabung dalam Komunitas Pelukis (Kopi) Jombang merefleksikan pada lukisan bertema Gus Dur dan Semar.
Sosok almarhum Gus Dur dalam beberapa hari terakhir telah menyedot perhatian ribuan, bahkan jutaan umat manusia di muka bumi. Mereka seolah enggan mengatakan bahwa Gus Dur telah wafat. Terbukti pada malam peringatan 7 hari berpulangnya kakak kandung KH Solahudin Wahid (Gus Solah) itu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, ketika sesi ceramah yang diisi Cak Nun (budayawan Emha Ainun Najib), salah seorang jamaah berteriak, “Hidup Gus Dur!” Alhasil Cak Nun sempat terhenyak dan berkomentar, “Awakmu iku ngawur ae, Rek!” Ya, Gus Dur memang hidup abadi di hati siapapun yang menghargai harkat kemanusiaan dan religiusitas tinggi. Tidak mengherankan apabila KH Abunyamin Ruhiat, pengasuh pondok pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat mencatat ada tiga hal yang bisa diteladani dari KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur; pertama kebangsaan yang majemuk, artinya mengutamakan pluralisme, kedua Islam yang moderat menunjukkan Islam sebagai rahmat seluruh alam, dan yang ketiga peran Gus Dur mengembalikan NU ke khittah 1926.
Gus Dur sebagai bapak bangsa dan tokoh pro kemajemukan, penulis mencatat sejumlah komentar dari tokoh lintas agama dan keyakinan atas pribadi almarhum sebagai berikut;…Gus Dur jadi Presiden itu agama Kong Hu Cu diadakan.Jadi yang memperjuangkan agama orang Tionghoa, ini Gus Dur… (Ny Hoolan umat kong hu cu kelenteng Boenbio Jl Kapasan 131,Surabaya),…Saya rasa beliau (Gus Dur) memberikan banyak contoh untuk bagaimana seorang manusia itu harus hidup di dunia ini dan saya rasa memberikan keteladanan yang bukan hanya untuk Indonesia tapi saya rasa untuk seluruh dunia, bagaimana seorang pemimpin harus bersikap…(George Soraya pimpinan Masyarakat Agama Bahai Indonesia),…Gus Dur adalah sosok orang yang bisa kita jadikan teladan bagi bangsa ini khususnya, karena bagaimanapun karya beliau terlepas dari orang suka atau tidak suka, beliau telah berkarya nyata untuk mengembangkan, membangun nilai-nilai universalisme, nilai-nilai multikultural yang diusung untuk menghargai berbagai macam perbedaan…(Bante Yana Suryanadi pimpinan Sangha Agung Indonesia)…Mungkin belum saya temukan orang segusdur (sebaik) Gus Dur di negeri ini…(Romo Franz Magnis Suseno, pastor dan budayawan). Ternyata dengan pemahaman keagamaan yang paripurna sosok Gus Dur telah melampaui sekat-sekat dimensi ruang dan waktu. Gus Dur telah menjadi makrokosmos (jagad besar) atas nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, sosial budaya dan lain-lain. Gus Dur telah menggabungkan tiga fitrah kemanusiaan menurut Muhammad Iqbal sastrawan Mesir, yaitu agama, filsafat, dan seni budaya. Seorang ulama yang tinggi derajat keilmuannya, seorang yang paham akan filsafat kehidupan, dan pribadi yang menyukai keindahan lewat produk-produk kebudayaan, seperti musik klasik hingga tarling Banyumasan.
Gus Dur… Kami akan selalu rindu dengan kebijaksanaan dan anekdotmu yang menghibur. Selamat jalan Bapak bangsaku. Semoga njenengan terus tersenyum di alam langgeng dan Kami tetap tegar menghadapi segala sesuatu sebagaimana sering njenengan katakan, “gitu aja kok repot…”
*) Penulis adalah adalah penggiat budaya dan pimpinan sanggar tari Lung Ayu, Sengon, Jombang.
Kamis, 23 September 2010
SEJARAH SEPANJANG JALAN
Dian Sukarno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Pelajaran Sejarah pada hakekatnya adalah memperkenalkan manusia yang berjuang kepada manusia yang sedang berjuang (R.Moh.Ali,2005:352). Karena itu diperlukan strategi yang tepat agar generasi sekarang tidak gagab terhadap sejarah bangsanya. Peran guru sebagai pendidik sangat menentukan keberhasilan pencapaian hasil pelajaran sejarah. Dalam hal ini guru-guru sejarah harus memiliki kemampuan penceritaan sejarah yang diharapkan nilai-nilai kejuangan dapat ditransformasikan kepada peserta didik yang notabene sebagai generasi penerus.
Satu fakta ketika penulis menjadi salah satu narasumber bidang sejarah dan budaya pada pemilihan Duta Wisata kabupaten Jombang beberapa waktu yang lalu, ternyata dari puluhan peserta pemilihan Duta Wisata tersebut tidak satupun yang dapat menceritakan, meski sedikit sejarah daerahnya. Mereka beralasan pelajaran sejarah membuat mata mereka mengantuk. Nah! Itulah fakta yang dihadapi tidak hanya kabupaten Jombang dalam skup kecil, melainkan juga problem secara nasional, dan ini berbahaya sekali bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Sebagaimana diingatkan Bung Karno sebagai salah satu founding fathers atau pendiri negara, Jas Merah! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Memang banyak cara untuk mengenalkan dan mengingatkan warga masyarakat terutama pelajar tentang arti penting sejarah. Di antaranya melalui pemakaian nama-nama tokoh daerah maupun non daerah pada jalan-jalan, baik jalan utama maupun biasa. Sehingga paling tidak ketika kita melintas di salah satu jalan, aroma nilai kejuangan tokoh bersangkutan dapat mempengaruhi keseharian kita. Misalnya jalan KH Wahid Hasyim dan KH Hasyim Asy’ari, akan mengingatkan kita pada sosok pahlawan nasional asal Tebuireng. Jalan KH Wahab Chasbulloh, akan mengingatkan kita pejuang kemerdekaan pendiri pondok pesantren Tambakberas dan lain-lain.
Sayangnya upaya pemberian nama tokoh-tokoh maupun peristiwa yang berkait erat dengan sejarah pada ruas-ruas jalan yang ada di kabupaten Jombang sebagian besar terkesan tidak dilakukan secara serius. Artinya tidak disertai kajian historiografi atau metode penulisan sejarah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk menguatkan nama jalan bersangkutan. Sebaliknya ada penamaan jalan yang sudah tepat, tetapi pada perkembangannya diubah secara membabibuta oleh perangkat birokrasi yang sangat gagab sejarah. Sebagai contoh misalnya Jalan Pahlawan di sebelah utara kantor PLN, nama jalan Pahlawan ada karena salah seorang pejuang kemerdekaan asal Jombang yang gugur pertama kali pada peristiwa 10 Nopember Surabaya adalah orang Wersah. Untuk memberi penghormatan kepada jasa pejuang tadi, maka jalan yang melintasi wilayah Wersah, kecamatan Jombang dinamakan Jalan Pahlawan. Kemudian tanpa alasan yang jelas nama itu diganti menjadi jalan Siliwangi. Waduh! Seandainya yang mengubah itu paham sejarah tidak akan terjadi hal demikian. Untungnya kemudian nama jalan Pahlawan dikembalikan lagi seperti semula.
Kesadaran untuk mengabadikan nama tokoh setempat sebagai nama jalan rupanya cukup disadari oleh warga desa Mojokrapak, kecamatan Tembelang, Jombang. Hal ini patut diacungi jempol mengingat kesadaran itu tumbuh justru dari kalangan masyarakat desa, sangat paradoksal dengan penggantian nama jalan Pahlawan yang saya sebutkan di atas. Nama-nama tokoh yang dianggab cukup berjasa bagi sejarah desa Mojokrapak diabadikan cukup manis tanpa mengurangi rasa hormat berlebihan yang mengarah pada kultus individu.
Ada empat nama tokoh yang sempat penulis catat, antara lain; pertama Jalan Abd. Kharim, nama ini adalah tokoh pejuang asal Sendang Duwur Gresik yang datang di Mojokrapak sebelum adanya sistem pemerintahan yang lengkap seperti sekarang.
Kedua Jalan Sumo Prawiro Dirjo, nama kepala desa II Mojokrapak.
Ketiga Jalan KH Tamjis pejuang sekaligus tokoh agama.
Keempat Jalan Paidin, sebagai tokoh kepala desa ketiga desa setempat.
Memang belum ada penelitian secara langsung korelasi penamaan jalan dengan tokoh atau peristiwa sejarah. Namun upaya pemerintah kabupaten Jombang untuk mengabadikan nama besar Gus Dur sebagai Bapak Bangsa pada salah satu ruas jalan di kabupaten Jombang ibarat oase di padang gersang. Meskipun belum diwujudkan paling tidak kesadaran menghormati tokoh besar dari daerah mulai bergeliat. Semoga upaya ini tidak berhenti hanya pada nama Gus Dur, karena banyak tokoh nasional maupun internasional asal kabupaten Jombang yang patut untuk diabadikan menjadi nama-nama jalan. Ke depan penulis berharap agar nama-nama yang sangat layak diabadikan sebagai nama jalan tidak sebatas pada tokoh politik ataupun kebangsaan, melainkan juga tokoh-tokoh seniman, ulama yang memberi kontribusi sangat besar pada keharuman nama Jombang, Jawa Timur, bahkan Indonesia.
Tokoh ulama misalnya KH Bisri S. dari Denanyar, Pangeran Benowo asal Jipang Panolan Demak yang diduga makamnya di Wonosalam. Tokoh seni seperti Sastro Bolet Amenan pencipta remo boletan asal Tawangsari, Gombloh musikus asal Tawangsari, Jombang, Markeso tokoh kidungan garingan kini dimakamkan di desa Tunggorono, dan Cak Durasim orang Kaliwungu yang membawa ludruk ke Surabaya. Tokoh-tokoh seperti Kanjeng Bupati Jombang juga sangat pantas untuk diabadikan. Sehingga kelak generasi muda Jombang tidak asing dengan nama-nama Kanjeng Suroadiningrat sebagai bupati Jombang pertama dan lain-lain.
Ada baiknya kita renungkan kata mutiara yang berbunyi,”Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya.” Salah satu bentuk penghargaan dimaksud adalah mengabadikan nama-nama beliau pada ruas-ruas jalan yang kita miliki. Karena para pahlawan mempunyai semangat juang yang tetap abadi meskipun zaman terus berganti. Sehingga dengan langkah sederhana ini kita tidak lagi gagab akan sejarah kebesaran bangsa. Kita akan bangga karena Sejarah telah diabadikan di sepanjang jalan yang kita punya.
http://forumsastrajombang.blogspot.com/
Pelajaran Sejarah pada hakekatnya adalah memperkenalkan manusia yang berjuang kepada manusia yang sedang berjuang (R.Moh.Ali,2005:352). Karena itu diperlukan strategi yang tepat agar generasi sekarang tidak gagab terhadap sejarah bangsanya. Peran guru sebagai pendidik sangat menentukan keberhasilan pencapaian hasil pelajaran sejarah. Dalam hal ini guru-guru sejarah harus memiliki kemampuan penceritaan sejarah yang diharapkan nilai-nilai kejuangan dapat ditransformasikan kepada peserta didik yang notabene sebagai generasi penerus.
Satu fakta ketika penulis menjadi salah satu narasumber bidang sejarah dan budaya pada pemilihan Duta Wisata kabupaten Jombang beberapa waktu yang lalu, ternyata dari puluhan peserta pemilihan Duta Wisata tersebut tidak satupun yang dapat menceritakan, meski sedikit sejarah daerahnya. Mereka beralasan pelajaran sejarah membuat mata mereka mengantuk. Nah! Itulah fakta yang dihadapi tidak hanya kabupaten Jombang dalam skup kecil, melainkan juga problem secara nasional, dan ini berbahaya sekali bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Sebagaimana diingatkan Bung Karno sebagai salah satu founding fathers atau pendiri negara, Jas Merah! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
Memang banyak cara untuk mengenalkan dan mengingatkan warga masyarakat terutama pelajar tentang arti penting sejarah. Di antaranya melalui pemakaian nama-nama tokoh daerah maupun non daerah pada jalan-jalan, baik jalan utama maupun biasa. Sehingga paling tidak ketika kita melintas di salah satu jalan, aroma nilai kejuangan tokoh bersangkutan dapat mempengaruhi keseharian kita. Misalnya jalan KH Wahid Hasyim dan KH Hasyim Asy’ari, akan mengingatkan kita pada sosok pahlawan nasional asal Tebuireng. Jalan KH Wahab Chasbulloh, akan mengingatkan kita pejuang kemerdekaan pendiri pondok pesantren Tambakberas dan lain-lain.
Sayangnya upaya pemberian nama tokoh-tokoh maupun peristiwa yang berkait erat dengan sejarah pada ruas-ruas jalan yang ada di kabupaten Jombang sebagian besar terkesan tidak dilakukan secara serius. Artinya tidak disertai kajian historiografi atau metode penulisan sejarah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk menguatkan nama jalan bersangkutan. Sebaliknya ada penamaan jalan yang sudah tepat, tetapi pada perkembangannya diubah secara membabibuta oleh perangkat birokrasi yang sangat gagab sejarah. Sebagai contoh misalnya Jalan Pahlawan di sebelah utara kantor PLN, nama jalan Pahlawan ada karena salah seorang pejuang kemerdekaan asal Jombang yang gugur pertama kali pada peristiwa 10 Nopember Surabaya adalah orang Wersah. Untuk memberi penghormatan kepada jasa pejuang tadi, maka jalan yang melintasi wilayah Wersah, kecamatan Jombang dinamakan Jalan Pahlawan. Kemudian tanpa alasan yang jelas nama itu diganti menjadi jalan Siliwangi. Waduh! Seandainya yang mengubah itu paham sejarah tidak akan terjadi hal demikian. Untungnya kemudian nama jalan Pahlawan dikembalikan lagi seperti semula.
Kesadaran untuk mengabadikan nama tokoh setempat sebagai nama jalan rupanya cukup disadari oleh warga desa Mojokrapak, kecamatan Tembelang, Jombang. Hal ini patut diacungi jempol mengingat kesadaran itu tumbuh justru dari kalangan masyarakat desa, sangat paradoksal dengan penggantian nama jalan Pahlawan yang saya sebutkan di atas. Nama-nama tokoh yang dianggab cukup berjasa bagi sejarah desa Mojokrapak diabadikan cukup manis tanpa mengurangi rasa hormat berlebihan yang mengarah pada kultus individu.
Ada empat nama tokoh yang sempat penulis catat, antara lain; pertama Jalan Abd. Kharim, nama ini adalah tokoh pejuang asal Sendang Duwur Gresik yang datang di Mojokrapak sebelum adanya sistem pemerintahan yang lengkap seperti sekarang.
Kedua Jalan Sumo Prawiro Dirjo, nama kepala desa II Mojokrapak.
Ketiga Jalan KH Tamjis pejuang sekaligus tokoh agama.
Keempat Jalan Paidin, sebagai tokoh kepala desa ketiga desa setempat.
Memang belum ada penelitian secara langsung korelasi penamaan jalan dengan tokoh atau peristiwa sejarah. Namun upaya pemerintah kabupaten Jombang untuk mengabadikan nama besar Gus Dur sebagai Bapak Bangsa pada salah satu ruas jalan di kabupaten Jombang ibarat oase di padang gersang. Meskipun belum diwujudkan paling tidak kesadaran menghormati tokoh besar dari daerah mulai bergeliat. Semoga upaya ini tidak berhenti hanya pada nama Gus Dur, karena banyak tokoh nasional maupun internasional asal kabupaten Jombang yang patut untuk diabadikan menjadi nama-nama jalan. Ke depan penulis berharap agar nama-nama yang sangat layak diabadikan sebagai nama jalan tidak sebatas pada tokoh politik ataupun kebangsaan, melainkan juga tokoh-tokoh seniman, ulama yang memberi kontribusi sangat besar pada keharuman nama Jombang, Jawa Timur, bahkan Indonesia.
Tokoh ulama misalnya KH Bisri S. dari Denanyar, Pangeran Benowo asal Jipang Panolan Demak yang diduga makamnya di Wonosalam. Tokoh seni seperti Sastro Bolet Amenan pencipta remo boletan asal Tawangsari, Gombloh musikus asal Tawangsari, Jombang, Markeso tokoh kidungan garingan kini dimakamkan di desa Tunggorono, dan Cak Durasim orang Kaliwungu yang membawa ludruk ke Surabaya. Tokoh-tokoh seperti Kanjeng Bupati Jombang juga sangat pantas untuk diabadikan. Sehingga kelak generasi muda Jombang tidak asing dengan nama-nama Kanjeng Suroadiningrat sebagai bupati Jombang pertama dan lain-lain.
Ada baiknya kita renungkan kata mutiara yang berbunyi,”Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya.” Salah satu bentuk penghargaan dimaksud adalah mengabadikan nama-nama beliau pada ruas-ruas jalan yang kita miliki. Karena para pahlawan mempunyai semangat juang yang tetap abadi meskipun zaman terus berganti. Sehingga dengan langkah sederhana ini kita tidak lagi gagab akan sejarah kebesaran bangsa. Kita akan bangga karena Sejarah telah diabadikan di sepanjang jalan yang kita punya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Label
A Khoirul Anam
A. Khoirul Anam
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abd. Basid
Abdul Aziz
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar
Abdul Hadi W.M.
Abdul Rauf Singkil
Abdul Rosyid
Abdul Salam HS
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Alawi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abu Nawas
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Ach. Tirmidzi Munahwan
Achmad Faesol
Adam Chiefni
Adhitya Ramadhan
Adi Mawardi
Adian Husaini
Aditya Ardi N
Ady Amar
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afrizal Malna
Afrizal Qosim
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus Buchori
Agus Fahri Husein
Agus Fathuddin Yusuf
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahmad Anshori
Ahmad Badrus Sholihin
Ahmad Baso
Ahmad Fatoni
Ahmad Hadidul Fahmi
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rohim
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Sahal
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alang Khoiruddin
Alang Khoirudin
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Aliansyah
Allamah Syaikh Dalhar
Alvi Puspita
AM Adhy Trisnanto
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Amin Hasan
Aminullah HA Noor
Amir Hamzah
Ammar Machmud
Andri Awan
Anindita S Thayf
Aning Ayu Kusuma
Anjar Nugroho
Anjrah Lelono Broto
Antari Setyowati
Anwar Nuris
Arafat Nur
Ariany Isnamurti
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arif Hidayat
Arif Saifudin Yudistira
Arifin Hakim
Arman AZ
Arwan
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Juanda
Asep S. Bahri
Asep Sambodja
Asep Yayat
Asif Trisnani
Aswab Mahasin
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Azizah Hefni
Azwar Nazir
B Kunto Wibisono
Babe Derwan
Badrut Tamam Gaffas
Bale Aksara
Bandung Mawardi
Bastian Zulyeno
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benny Benke
Berita
Berita Duka
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budiawan Dwi Santoso
Buku Kritik Sastra
Candra Adikara Irawan
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cawapres Jokowi
Cerpen
Chairil Anwar
Chairul Abhsar
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
CNN Indonesia
Cucuk Espe
Cut Nanda A.
D Zawawi Imron
D. Dudu AR
Dahta Gautama
Damanhuri Zuhri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Danuji Ahmad
Dati Wahyuni
Dea Anugrah
Dea Ayu Ragilia
Dede Kurniawan
Dedik Priyanto
Den Rasyidi
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Detti Febrina
Dewi Kartika
Dian Sukarno
Dian Wahyu Kusuma
Didi Purwadi
Dien Makmur
Din Saja
Djasepudin
Djauharul Bar
Djoko Pitono
Djoko Saryono
DM Ningsih
Doddy Hidayatullah
Donny Syofyan
Dr Afif Muhammad MA
Dr. Simuh
Dr. Yunasril Ali
Dudi Rustandi
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dyah Ratna Meta Novia
E Tryar Dianto
Ecep Heryadi
Edeng Syamsul Ma’arif
Edy A Effendi
Edy Susanto
EH Ismail
Eka Budianta
Ekky Malaky
Eko Israhayu
Ellie R. Noer
Emha Ainun Nadjib
Esai
Esha Tegar Putra
Evi Melyati
Fachry Ali
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faizal Af
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fazabinal Alim
Festival Literasi Nusantara
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Fuad Mardhatillah UY Tiba
Furqon Lapoa
Fuska Sani Evani
Geger Riyanto
Ghufron
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
Gus Muwaffiq
Gusriyono
Gusti Grehenson
H Marjohan
H. Usep Romli H.M.
Habibullah
Hadi Napster
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hamka
Hammam Fathulloh
Hamzah Fansuri
Hamzah Sahal
Hamzah Tualeka Zn
Hanibal W.Y. Wijayanta
Hanum Fitriah
Haris del Hakim
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B. Kori’un
Hasan Basri Marwah
Hasnan Bachtiar
Hasyim Asy’ari
Helmy Prasetya
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Heri Listianto
Heri Ruslan
Herry Lamongan
Herry Nurdi
Heru Kurniawan
Hilmi Abedillah
Hotnida Novita Sary
Hudan Hidayat
Husein Muhammad
I Nyoman Suaka
Ibn ‘Arabi (1165-1240)
Ibn Rusyd
Ibnu Sina
Ibnu Wahyudi
Idayati
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Yusardi
Imadi Daimah Ermasuri
Imam Hamidi Antassalam
Imam Khomeini
Imam Nawawi
Imam Nur Suharno
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Nasri
Imron Tohari
Indonesia O’Galelano
Indra Kurniawan
Indra Tjahyadi
Inung As
Irma Safitri
Isbedy Stiawan Z.S.
Istiyah
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
J Sumardianta
Jadid Al Farisy
Jalaluddin
Jalaluddin Rakhmat
Jamal Ma’mur Asmani
Jamaluddin Mohammad
Javed Paul Syatha
Jaya Suprana
Jember Gemar Membaca
Jo Batara Surya
Johan Wahyudi
John Halmahera
Joko Pinurbo
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K. Muhamad Hakiki
K.H. A. Azis Masyhuri
K.H. Anwar Manshur
K.H. M. Najib Muhammad
K.H. Ma'ruf Amin
Kabar Pesantren
Kafiyatun Hasya
Kanjeng Tok
Kasnadi
Kazzaini Ks
KH Abdul Ghofur
KH. Irfan Hielmy
Khansa Arifah Adila
Khoirul Anwar
Khoirur Rizal Umami
Khoshshol Fairuz
Kiai Muzajjad
Kiki Mikail
Kitab Dalailul Khoirot
Kodirun
Komunitas Deo Gratias
Koskow
Kritik Sastra
Kurniawan
Kurtubi
Kuswaidi Syafi’ie
Kyai Maimun Zubair
Lan Fang
Larung Sastra
Leila S. Chudori
Linda S Priyatna
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP
Lukman Asya
Lukman Santoso Az
M Arif Rohman Hakim
M Hari Atmoko
M Ismail
M Thobroni
M. Adnan Amal
M. Al Mustafad
M. Arwan Hamidi
M. Bashori Muchsin
M. Faizi
M. Hadi Bashori
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Mustafied
M. Nurdin
M. Yoesoef
M. Yunis
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
M.S. Nugroho
M.Si
M’Shoe
Mahamuda
Mahdi Idris
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahrus eL-Mawa
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mansur Muhammad
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marjohan
Marsudi Fitro Wibowo
Martin van Bruinessen
Marzuki Wahid
Marzuzak SY
Masduri
Mashuri
Masjid Kordoba
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni el-Moezany
Matroni Muserang
Mbah Dalhar
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Miftahul Ulum
Mila Novita
Mochtar Lubis
Moh. Ghufron Cholid
Mohamad Salim Aljufri
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Yamin
Muh. Khamdan
Muhajir Arrosyid
Muhammad Abdullah
Muhammad Affan Adzim
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Ali Fakih AR
Muhammad Amin
Muhammad Anta Kusuma
Muhammad Ghannoe
Muhammad Idrus Djoge
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Kosim
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Mukhlisin
Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Subhan
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yasir
Muhammad Yuanda Zara
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyiddin
Mujtahid
Muktamar Sastra
Mulyadi SA
Munawar A. Djalil
Munawir Aziz
Musa Ismail
Musa Zainuddin
Muslim
Mustafa Ismail
Mustami’ tanpa Nama
Mustofa W Hasyim
Musyafak
Myrna Ratna
N. Mursidi
Nasaruddin Umar
Nashih Nashrullah
Naskah Teater
Nasruli Chusna
Nasrullah Thaleb
Nelson Alwi
Nevatuhella
Ngarto Februana
Nidia Zuraya
Ninuk Mardiana Pambudy
Nita Zakiyah
Nizar Qabbani
Nova Burhanuddin
Noval Jubbek
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nur Fauzan Ahmad
Nur Wahid
Nurcholish
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Orasi Budaya
Pangeran Diponegoro
Parimono V / 40 Plandi Jombang
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
Pesantren Tebuireng
Pidato
Politik
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang
PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pramoedya Ananta Toer
Prof. Dr. Nur Syam
Profil Ma'ruf Amin
Prosa
Puisi
Puji Hartanto
Puji Santosa
Pungkit Wijaya
Purwanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
PUstaka puJAngga
Putera Maunaba
Putu Fajar Arcana
R. Ng. Ronggowarsito
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rakhmat Nur Hakim
Ramadhan Alyafi
Rameli Agam
Rasanrasan Boengaketji
Ratnaislamiati
Raudal Tanjung Banua
Reni Susanti
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Retno HY
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar
Rinto Andriono
Risa Umami
Riyadhus Shalihin
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rohman Abdullah
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifuddin Syadiri
Saifudin
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Salahuddin Wahid
Salamet Wahedi
Salman Faris
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sandiaga Uno
Sanggar Pasir
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra Pesantren
Sastrawan Pujangga Baru
Satmoko Budi Santoso
Satriwan
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra Boenga Ketjil
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siswanto
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slavoj Zizek
Snouck Hugronje
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sufyan al Jawi
Sugiarta Sriwibawa
Sulaiman Djaya
Sundari
Sungatno
Sunu Wasono
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susringah
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardi
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaiful Amin
Syaifullah Amin
Syarif Hidayat Santoso
Syeikh Abdul Maalik
Syeikh Muhammad Nawawi
Syekh Abdurrahman Shiddiq
Syekh Sulaiman al Jazuli
Syi'ir
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Tiar Anwar Bachtiar
Tjahjono Widijanto
Tok Pulau Manis
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tu-ngang Iskandar
Turita Indah Setyani
Umar Fauzi Ballah
Uniawati
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usep Romli H.M.
Usman Arrumy
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W.S. Rendra
Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
Wahyu Aji
Walid Syaikhun
Wan Mohd. Shaghir Abdullah
Warung Boengaketjil
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Welly Adi Tirta
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Fei Hung
Y Alpriyanti
Yanti Mulatsih
Yanuar Widodo
Yanuar Yachya
Yayuk Widiati
Yeni Ratnaningsih
Yohanes Sehandi
Yopi Setia Umbara
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudi Latif
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Zaenal Abidin Riam
Zainal Arifin Thoha
Zainuddin Sugendal
Zakki Amali
Zehan Zareez