Tampilkan postingan dengan label Sabrank Suparno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabrank Suparno. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2021

Puisi itu…! Menerjang Pecundang

Sabrank Suparno
 
Detik detik penutupan serangkaian acara Gebyar Pesta Seni Rakyat Jombang yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jombang (DeKaJo) beserta lembaga terkait di gedung PSBR, dipungkasi dengan pertunjukan Teatrikalisasi-Puisi-Musik persembahan mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang angkatan 2009. Pementasan sesi pertama digelar pukul 15:30 dan pementasan ulang pukul 19:00, dengan 4 judul puisi sekaligus: Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan Balada Terbunuhnya Atmo Karpo karya WS. Rendra, Menghisap Kelembak Menyan karya Emha Ainun Nadjib, dan terakhir MAJOI (Malu Aku Jadi Orang Indonesi karya Taufik Ismail).

Selasa, 13 Februari 2018

Mendadak jadi Moderator


Sabrank Suparno

Mendadak jadi moderator dalam diskusi buku “Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia” Karya Nurel Javissyarqi pada hari Selasa 30 Januari 2018 di Kedai Boenga Ketjil miliknya Cak Andhi Setyo Wibowo. Kalau saya mondar-mandir dalam diskusi itu, bukan meniru Karni Ilyas pada acara ILC, sebab ILC baru berdiri beberapa tahun lalu saja, dibanding saya memoderatori di berbagai acara. Jika saya tiba-tiba mendebat pembicara, meminta ketegasan ulang, menghentikan pendapat, mengulas, dll, juga bukan meniru Rosiana Silalahi yang endel produktif itu. Itu semata hanya teori menghidupkan ruang diskusi.

Kamis, 07 Februari 2013

Nasionalisasi Strategi Perang Khondak

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Jangan katakan “Wouw,” jika tidak terperangah dengan pemikiran Emha Ainun Nadjib pada pengajian Padhang mBulan edisi 30 September, 2012. Cak Nun melontarkan pertanyaan sederhana, “untuk siapakah Rasululloh mengadakan perang Khondak?” Cak Nun kemudian merangsang inti pertanyaan tersebut dengan beberapa pertanyaan pendukung/ pengembang. Misal, apakah perang khondak untuk negara-pan arabis, Iran, Syiria, Libanon, Mesir, Arab Saudi dll?

Kamis, 09 Agustus 2012

Kekuatan Sastra Hingga ke Pelaminan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

“Jodoh, Rizqi, Mati, iku mung siji, tapi sewu dalane.”

A. Prolog

Kaidah filsafat Jawa di atas, sepintas ndemel terdengar, tapi akan terus menguntit-ngiang di telinga orang yang serius mendalami filsafat dan apalagi jika hendak menjadikan konsep pemikiran dan laku hidup. Coba fikirkan sejenak! Jodoh dimaksutkan untuk menyebut idiom pertemuan dua hal atau lebih yang saling menguntungkan (simbiosis mutualis).

Selasa, 07 Agustus 2012

Umatan Wasathon? Iblis dan Yehuwa pun Bertawhid

Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

Keunggulan Pengajian Padhang mBulan di samping sebagai majlis ilmu juga wahana apreseasi kesenian dalam bentuk apa pun yang siap tampil mengisi acara. Sebut saja Cak Suliadi, seniman asal Nganjuk, pada Padhang mBulan 4 juni 2012, ia mengisi beberapa lagu tradisional Banyuwangi-an sebelum acara. Alunan lagu Gelang Alit (ciptaan Catur) yang diaransemen musik mandolin dan lirik asli Oseng Banyuwangi-an: //wes kelakon, semene lawase //isun yo riko kedani //semunu sun imbangi //mulo riko, kudyangane ati //segoro yo, ono pesisire //sun welas nono batese //wedyang kopi-belung nongko //raino bengi-mung katon nyang riko//.

Kamis, 26 Juli 2012

Perahu Nu-h-santara Pasca Meluapnya Krisis Dunia

Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

1. Kepulauan Indonesia Membentuk Sketsa Perahu

Satu lagi yang disingkap tekhnologi mengenai ketakterdugaan nusantara, yakni desain alamiah bentuk pulau di bumi jika dilihat dari foto satelit NASA. Seperti diinformasikan Emha Ainun Nadjib pada pengajian Padhang mBulan 4 Juni 2012, bahwa kepulauan Indonesia dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, hingga Nusa Tenggara berjajar menyerupai perahu.

Rabu, 25 Juli 2012

Konspirasi Dajjal Gugat

Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

Pembahasan tentang Dajjal yang diangkat Cak Nun pada pertemuan Padhang mBulan 4 Juli 2012, berehubungan dengan riset plus umroh ke tanah suci yang dilaksanakan Cak Nun bersama anak dan istrinya bertepatan hari ulang tahun Cak Nun, yakni 27 Mei. Sebagaimana ulang tahun sebelumnya (sekitar 27 Mei 2011), Cak Nun juga melakukan umroh yang sama (saat Wedus Gembel Merapi mengamuk dan menewaskan Mbah Maridjan).

Sabtu, 21 April 2012

Sayap-Sayap Langit ke Tujuh

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Ada pertalian khusus tema Padhang Mbulan 11 Maret 2012 dengan Padhang Mbulan 6 April 2012, yakni lontaran pemikiran Cak Nun mengenai tingkat kedalaman pengetahuan Nabi Muhammad. Hingga pada pertemuan April kemarin Cak Nun getol membahas ulang soal pertanyaan: Apakah Rasul mengetahui jika di planet lain ada makhluk? Sejak kapan Rasul mengetahui segala hal yang sudah dan akan terjadi dalam sejarah? Berapa persen tingkat pengetahan Rasul dibanding tekhnologi mutakhir? Pertanyaan kritis tersebut dilontarkan Cak Nun sebagai banding. Karena selama ini pemahaman yang berkembang dan atau dikembangkan sebatas Rasul berpredikat bodoh, polos, jahil, bergaya dan mengembangkan teori hidup melarat.

Senin, 19 Desember 2011

Sunan Kali Jaga dan Gagasan Negara Federal

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Topik utama pemikiran pengajian Padhang mBulan pada 26 Juli 2010, Cak Nun mengurai jelas tentang sistem pemerintahan federal yang digagas Sunan Kalijaga. Federal, sepadan dengan kata perdikan (yang dimerdekakan) atau istilah sekarang otonomi daerah.

Senin, 05 Desember 2011

Sastrawan Jawa Timur: Peta Kebangkitan Jaman

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Jawa Timur yang luasnya sekitar157.922 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk 36.294.280 merupakan wilayah fenomenik. Berbagai kajian keilmuan tak pernah sepi mengangkat Jawa Timur sebagai topik utama.

Dari sudut sastra, para esais sastra sedang gencar mengupas perihal tarik-ulur eksistensi kesusastraan yang pada akhirnya menguatkan titik fokus jati diri Jawa Timur sebagai wilayah kesusastraan tersendiri di Indonesia, wilayah yang tak lagi menjadikan Jakarta dan Melayu sebagai pusat imperium kesusasteraan.

Jumat, 30 September 2011

Perihal Anjing Yang Suka Azan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Di perantauan mana pun, yang penting bagi seseorang ialah sopan, jujur, dan tahudiri. Itu kunci. Bagaimana menempatkan diri sebagai perantau! Siapa tuan rumah? Siapa pendatang? Jika itu dilakukan, saudara dan orang tua dengan mudah terjalin di mana saja.

Awalnya aku mengenal I Ketut Sunyahne, Balinese tulen yang tak begitu cakap berbahsa Indonesia, tapi dia malah mengerti kalau aku berbahasa Jawa kuno. Barulah aku yakin pada sejarah, bahwa ras penduduk Bali, bernenek moyang Jawa yang lari jaman Majapahit dulu.

Sabtu, 09 April 2011

Alloh: Cahaya di Atas Cahaya

(Catatan pengajian Padhang mBulan tanggal 19 Pebruari 2011)
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Alloh? Sepertinya kita sudah mengenal, entah berapa prosen perangkat informasi tentang Dia yang pernah kita terima. Atau, sesungguhnya kita adalah bagian dari susunan ‘tubuh’Nya dalam struktur berjenjang makro kosmos, namun karena kita tidak terima untuk mengakui bahwa kita bagian terkecil dariNya dan kita berhasrat menggebu menarik Dia ke dalam bagian kita, segala kesuksesan, segala apa yang kita miliki, membuat kita enggan mengakui bahwa sebetulnya kita sudah berada di dalamNya.

Rabu, 02 Maret 2011

Islamophobia: Anak si Kambing Hitam

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

A. Islamophobia

Wacana Islamophobia, ketakutan terhadap umat islam di kalangan negara barat, kini menjadi borok budaya yang menggerogoti sukujur tubuhnya. Dan kemalasan barat (terutama Amerika) untuk menyembuhkan, borok itu kian meradang dengan nanah baru yang merikuhkan gerak tubuh dari cabikan benda apapun yang dapat menggores sensitifitas lepukan luka. Jika terus berlanjut, keberadaan barat akan disingkirkan dunia yang lambat laun risih atas kehadiran, karena menyengatkan aroma anyir memuakkan lingkungan, yang artinya barat sendiri merancang bunuh diri perlahan namun pasti.

Kambuh Islamophobia kembali ter-urik ulah Pendeta Terry Jones dari Dove Word Outreach Center(sebuah komunitas kecil dengan jema’at cuma 50 orang) yang hendak membakar Al-qur’an saat mengenang hancurnya menara kembar WTC pada tanggal 11 September 2010. Terry Jones dari Gainesville Florida bermaksud mengecam ulah teroris yang membajak 2 pesawat: American Airlines, masing masing bernomor penerbangan 11 yang menabrak menara utara pukul (08:46), dan nomor penerbangan 175 menghantam menara selatan WTC pukul (09;03) pada 11 September 2001 yang menewaskan 3000 warga.

Ibarat sekeping dua sisi, Terry Jones juga berniat menggugat rencana Faisal Abdul Rauf (pimpinan masjid Al-Farah di Amerika) yang akan mendirikan gedung Cordoba Huose(nama Islamic Center) dan masjid Ground Zero di dua blok dekat puing menara kembar atau yang dikenal area Park51. Serayanya pembangunan memang disetujui Barack Obama.

Seperti dilangsir Jawa Pos tanggal 12 September 2010 halaman 4, aksi Terry Jones tersebut mengundang berbagai aksi konfrontatif. Dari beberapa poster terlihat Matt Skye dari New York yang menggugat dibangunnya masjid Ground Zero sedang berdebat dengan Herbert Silver dari Florida yang pendukung dibangnnya masjid Ground Zero. Matt Skye membentangkan spanduk bertuliskan’ no mass murder mosque at Ground Zero’, sedangkan Herbert Silver menenteng spanduk bertuliskan’support freedom relegion’. Tampak seorang wanita pemilik blog stopislamophobia,org, mengacungkan boxletter bertuliskan ‘muslim are welcome here’.

Kambuhnya islamophobia Terry Jones hanyalah pengulangan radang yang terjadi berkali-kali. Awal Februari 2006 penyakit sejenis dihembuskan oleh pemuda Denmark yang melukis wajah Nabi Muhammad sedang menyunggi bom. Protes kalangan muslim pun menghangat atas kejadian itu, dan pengulangan yang masih hangat adalah peluluh lantahan Gaza oleh pasukan Israel.

Niatan Faisal Abdul Rauf mendirikan Cordoba House dan masjid Ground Zero untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya muslim sangat ramah ketika bargaul dengan manusia beragama apa pun. Kalau dihitung dendam, justru ulah Amerika di Timur Tengah yang memberlakukan sangsi Iraq, membacking serangan Israel ke Gaza malah menumpahkan darah puluhan ribu warga muslim.

Menyikapi perpolitikan internasional global yang menyudutkan muslim sebagai biang alibi islamophobia barat, Emha Ainun Najib (Cak Nun) menyampaikan pandangan sikap sufisnya. Pandangan tersebut disampaikan Cak Nun dalam pengajian Padhang mBulan tanggal 23 September 2010. Menurut Cak Nun, umat islam tidak perlu merisaukan hal itu. Islam yang kita fahami bukanlah islam yang orang-orang barat mengerti. Islam, bagi muslim adalah tranformasi nilai ke kebaikan, kebenaran dan kemulyaan berperilaku. Al qur’an yang mereka bakar hanyalah kertas cetakan. Sebab al qur’an yang sesungguhnya tertancap dalam pribadi seorang muslim. Alqur’an itu murni milik Alloh dan Alloh pula yang menjaganya. Tidak kuasa siapa pun hendak memusnahkannya.

Untuk mencapai taraf pemahaman tersebut di atas, Cak Nun memakai dasar nilai sufi. Dimana muslim yang memahami bahwa segala yang terjadi adalah kilatan hikmah dari Alloh, maka muslim tidak akan pernah terpenjara, terhimpit, tersepelehkan hanya karena ulah remeh Terry Jones. Muslim tetap merdeka terbebas dari rasa kehilangan. Bagaimana pun juga, rumus kehidupan pada ahirnya harus kehilangan apa yang kita miliki. Cak Nun justru menyarankan umat islam sendiri agar inspropeksi. Sebab ulah barat terhadap muslim selama ini memang berkaitan dengan kesalahan muslim dalam menerapkan, memahami hakikat nilai islam sebagai frekwensi potensi rohani. Kalau pun barat mengusik simbol-simbol islam, yang barat lakukan sekedar peruntuhan harga diri muslim. Dan bukan peruntuhan islam. Sedang bagi muslim sejati yang melampaui batas haqikat, tidak diperlukan lagi harga diri, melainkan harga Alloh yang pasti menyimpan rahasia hikmah di balik tiap permasalahan.

B. Dendam Barat, Dendam Hulu.

Dendam negara barat terhadap islam sesungguhnya dendam hulu, yakni dendam yang tertancap sejak masa Nabi Muhammad. Masjid Aqsho di Jerusalem diperlakukan sebagai anak sandera oleh kaum Yahudi. Ia tidak disakiti. Namun dibatasi kebebasannya. Apalagi ahir abad 19 negara-negara islam jatuh menjadi jajahan orang kulit putih. Kecuali Iran dan Turqi. Yang meskipun merdeka, tapi tetap mendapat tekanan imperialsme.

Ketidak pecusan sikap politik Amerika terhadap islam juga menghulu. Jangankan terhadap islam, American yang notabenenya perantau dari Eropa, juga membabat habis suku asli Indian setempat. Bahkan dalam senat Amerika ‘mencanangkan’ agenda khusus dalam rangka memerangi islam. Karakter politik Amerika ini ditimbulkan atas jiwa perantauannya yang sangat sengsara membabah wilayah jauh. Sehingga ketakutan terhadap kehancuran menjadi momok yang membayangi masa depan sejarahnya.

Politik double standart yang diterapkan Amerika memang entri power tersendiri bagi kekuatan Amerika. Namun di sisi lain, Amerika juga gagal menangani problem dalam negerinya. Badai Katerina di Amerika Latin terbukti pemerintah setempat tidak tuntas mengatasinya. Biaya perang di Timur Tengah juga didemo warganya. Ketidak adilan Amerika yang mencolok adalah memberlakukan hak veto dalam PBB. Hak veto, dinilai Agil Siroj sebagai kedholiman politik Amerika. Hal ini disampaikan Agil Siroj (PB NU) saat ceramah di Tambakberas tanggal 26 Juni 2010. Namun ‘American is not Amerika government’.

Terpilihnya Barack Obama yang disinyalir berbau islam dan peduli dengan negara-negara berkembang, menunjukkan perubahan sikap mayoritas warga Amerika. Demi masa depan Amerika yang aman, tidak mungkin dilakukan dengan cara mengintimidasi islam terus menerus. Sebab pertentangan yang didasarkan agama, pasti menimbulkan gejala meryt kompleks, jihat yang tak berkesudahan. Jalan terbaik adalah toleransi agama yang tinggi.

Krisis finansial global tahun 2009 lalu, Amerika seolah menampar wajahnya sendiri. Kegagalan sistem segala bidang yang diterapkan, pada ahirnya melumpuhkan super power yang dirajut hampir 150 kali pergantian presiden. Kesigapan membaca intensitas ruang sosial negaranya, American menguji coba Barack Obama sebagai spekulasi alternatife, sekaligus menuju kefitrahan manusia yang pada ahirnya memilih jalan perdamaian, hidup selaras dan serasi apa pun agamanya.

Fakta ini berbalik dengan karakter asli sang adi kuasa yang dijuluki negara super power, yaitu sikap ego merasa teratas. Situasi demikian dimainkan oposisi sayap kiri dengan mengintai tergelincirnya Obama. Oposisi sayap kanan bersikukuh andai pun Amerika membaik, tak bersangkutan dengan dunia islam. Sebagai contoh kongkrit pembatalan Obama saat berkunjung ke Indonesia pertengahan 2010 yang secara kalkulatif bilateral merugikan dua belah pihak, terutama muslim di Indonesia yang kebebasan beragamanya mulai dihantui tudingan jaringan teroris.

Demi efektifitas bilateral Indonesia-Amerika, Obama terpaksa ‘membatalkan’ kunjungan ke Indonesia, setelah disinyalir intelegent kepresidenan bahwa Obama diintai penembak jitu dari kelompok Yahudi di Bali. Jika peristiwa itu terjadi, Indonesia akan berulang kali terkena getah alibi. Sedang dugaan lain, pembatalan itu disebabkan ketidaksiapan pemerintah Indonesia yang kian carut dan malu jika kebobrokan pemerintahan tertangkap basah pihak Amerika.

Bagaimana pun juga, American lebih reflekstif atas campur tangan pemerintahannya terhadap negara negara islam. Kasus bom Bali I yang meledakkan atom c4=c four, dengan kapasitas hulu ledak dahsyat, mustahil jika dirancang Amrozi dkk. Sebab, setelah angkatan darat TNI menguji coba ledakan yang sama di Sumatera untuk menakar ledakan setara dengan ledakan bom Bali, disimpulkan bahwa ledakan sedahsyat bom Bali hanya dimiliki Pentagon pusat pangkalan militer Amerika. Maka bom Bali sesungguhnya bukanlah aksi teroris muslim, tetapi muslim yang dijadikan subyek biang alibi.

Mengamati peta kepolisian( dalam hal ini densus 88) yang khusus menangani proyek penangkapan teroris, dapat kita analisa asumsi di atas. Jaringan satu proyek pengeboman dengan mudah diudal densus 88 secara detail rentetannya. Publik hanya menyangka hal itu kecanggihan kerja polisi. Tetapi anggapan masyarakat berangsur geser memahami bahwa ada semacam konspirasi jual beli antara gangser pemilik jaringan teroris dengan aparat kepolisian. Artinya sebelum teroris melakukan pengeboman, polisi sudah menerima data terlebih dulu siapa pelakunya. Kemudahan polisi membekuknya, dengan tujuan menghasilkan imag bahwa polisi(satuan densus 88) mampu berkiprah secara profesional.

Dendam Amerika terhadap islam menyebabkan sikap protektif berlebihan terhadap Indonesia, mengingat Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia. Gejala sikap ini merupakan pelampiasan kekecewaan Amerika terhadap Indonesia yang gagal menaklukkan Sukarno untuk menjadi blog barat PBB. Kekecewaan Amerika terulang lagi saat pemerintahan Suharto tidak menyetujui inisiatif Amerika yang hendak membangun pangkalan militernya di kepulauan Manado waktu itu. Tak berselang lama kemudian Amerika mengguncang Indonesia dengan memanfaatkan kurs dolar. Krisis ekonomi tahun 2008, terbukti melengserkan Suharto sebagai gelombang dari sikap moneter Amerika. Selanjutnya, Amerika menerapkan politik ‘lempar batu sembunyi tangan’ para teroris.

C. Gengter Jaringan Terorisme dan Kepolisian.

Kelemahan sumber daya manusia Indonesia, serta sifat miskin yang menghantui sejak masa kolonial membuat warga Indonesia empuk, muprul diiming-imingi uang. Tak peduli nasib saudara setanah air, mereka dengan enjoi menjual aset negara, termasuk proyek terorisme yang terus terjadi. Jangka panjangnya supaya Amerika mudah melumpuhkan tokoh-tokoh muslim yang dianggap menghambat Amerika dalam targetnya menguasai dunia, termasuk Indonesia.

Ketidakadilan pejabat dan semua instansi dengan memarginalkan kaum muslim saat perekrutan jabatan, posisi pekerjaan, mengakibatkan jumlah pengangguran muslim bertambah. Inilah penyebab teroris tergiur pekerjaan nekat asal bergaji sederajat.

Di sisi lain, para teroris direkrut dari santri militan yang hanya faham ilmu keagamaan, tapi minim ilmu sosial kamasyarakatan. Dari rata-rata data teroris yang tertangkap, adalah orang yang menghilang dari kampung halamannya, bahkan dari Indonesia sejak lama. Di sini terjadi kerancuan. Bisa jadi mereka yang tergaet Geng jaringan teroris, seperti buah simalakama. Harus bersedia menjadi teroris, kalau menghindar, akan dibunuh dengan dalih terlanjur mengetahui rahasia.

Dalam negara berkembang seperti Indonesia, tingkat sentimentil gaya hidup sangat tinggi, di mana ada yang meraih kesuksesan berjerih payah menuntaskan pendidikan biaya mahal, sementara ada pula yang ingin meraih kesuksesan tanpa keahlian sekalipun. Kesenjangan sosial yang dilatarbelakangi kesenjangan pendidikan, menjurus pada keberhasilan finansial(kaya) sebagai mine point hidup. Seseorang mudah digaet orang lain dengan iming-iming pekerjaan ringan gaji melimpah. Misalkan tiba-tiba seseorang diangkat menjadi sekertaris pribadi yang kerjanya hanya survey sana-sini nenteng koper. Suatu saat dia disuruh juragan mengambil atau membawa koper ke suatu tempat. Tanpa si pembawa koper tau isinya, tiba-tiba meledak diremout control dari jauh. Nyarisnya, pelaku dituding polisi sebagai anggota teroris berKTP islam.

Hingga batas September 2010, kepolisian Indonesia kususnya densus 88 anti teror, kian tidak rasional kinerjanya. Setiap aksi kriminalitas bersenjatakan peluru, dengan mudah dituding jaringan teroris. Sementara pemahaman sebelumnya, teroris sederajat dengan orang muslim. Akibatnya setiap kegiatan muslim apapun yang dianggap tidak sesuai dengan kepolisian akan dianggap teroris yang sah dicekal.

Runyamnya posisi kepolisian sekarang, menambah carut marutnya pemahaman tentang terorisme di Indonesia. Seperti ditandaskan Cak Nun dalam pemikiran kritiknya. ”Polisi kita tidak jelas posisi kelaminnya, laki/perempuan? Kalau laki-laki kok gak di jajaran ABRI, kalau ikut sipil kok gak bernaung di bawah Mendagri.” Posisi kepolisian semacam ini dikawatirkan menjadi gengter bayaran yang mudah dibeli kepentingan partai berkuasa, orang berpengaruh, atau campur tangan asing sekalipun.

Sedikit banyak, kinerja kepolisian yang kerap menuding umat islam sebagai teroris(atau yang dituduh teroris meskipun tidak ada sangkut pautnya dengan teroris) akan melukai perasaan muslim Indonesia. Pada saatnya, dalam tingkat kewajaran tertentu, muslim yang digerakkan pondok pesantren secara serentak seperti pemberontakan 10 November 1945, akan menjadi kekuatan tak tertandingi. Sebelum itu terjadi, selayaknya kepolisian mulai mengambil langkah kebijakan sejak dini. Demi kepentingan bersama dalam bernegara, kepolisian yang digaji rakyat harus menyelamatkan jangka panjang bangsa Indonesia, dan tidak malah menjual kedamaian rakyat demi tander proyek asing yang ujungnya menciptakan pertikaian sebangsa.

D. Introspeksi Muslim.

Muslim sendiri hendaknya instropeksi. Tidak semua perilaku muslim sesuai dengan esensi ajarannya. Apalagi di kalangan muslim moderat, yang meletakkan kebenaran hanya bagi dirinya. Standart kebenaran yang dipahami golongan muslim ini hanyalah sebatas hukum formal saja. Itupun direduksi berdasarkan kepentingan semata. Sedang untuk menjadi muslim yang kaffah perlu memahami hukum moral dan kecintaan (hubb).

Golongan muslim ini adalah golongan yang ‘masuk anginan, alergi terhadap pendapat orang lain, merasa penafsirannya paling benar, baginya Alloh hanya membenarkan tarikatnya. Sedang golongan lain, jika ingin menempuh Alloh dan surganya, harus nganut tarikatnya. Memang! Alloh dan surga adalah milik mBahnya.

Sikap inklusif semacam ini akan ber-ulah menggantikan tuhan. Tuhan diatur menurut dirinya tanpa mempertimbangkan hikmah yang dirahasiakan. Manusia dicipta sebagai khalifah(wakil tuhan)di muka bumi. Namun kebebasan manusia dalam melakoni kekhalifahannya, disertakan pula hukum kausalitas atas jalan hudup yang dipilihnya. Jihat, dipandang sebagai jalan ke surga bagi dirinya, sedang orang lain kebagian surga atau tidak, mereka tak mau tau. Bahkan ribuan muslim saudaranya terkena imbas jihatnya pun, tidak dikaitkan dengan tujuan pribadinya. Hukum kausalitas Alloh prakti bagi hambanya. Silahkan menjadi pencuri, berabdal, teroris, dan boleh, asal menanggung resiko digebukin, dipenjara dan dihukum mati.

Saat tanpa kontrol ambisi menyerang Kaisar Jengiz Khan( 200-300 SM) pasukan muslim kalah telak. Keangkuhan dan tanpa kontrol nafsu muslim ketika berjihat, ternyata jauh sebelumnya disuguhi Alloh pasukan berkuda Jengiz Khan yang terlatih sejak kecil dan menghasilkan pasukan handal.

Dengan demikian, yang paling baik dan benar dalam menjalankan sistem apapun adalah kembali mengoreksi kekurangan, kelemahan dan kesalahan masing-masing sederajat artinya dengan mendamaikan dunia.

NU Miring, Sastra Gonjang Ganjing

Sabrank Suparno
 
Menelusuri kiprah para muda NU sepeninggal tokoh muktabar Abdurrahman Wahid, diam-diam generasi penerusnya aktif melakukan upaya terobosan yang mengarah ke pembangkitan kesadaran kembali, terutama pada wilayah tradisi keNUan atau yang dikenal dengan ‘tradisi santri’. Geliat ini dapat kita amati dari berbagai acara yang berkenaan dengan keNUan dari berbagai sektor kehidupan sosial, politik, kebudayaan, kesenian dan sastra, bahkan soal yang remeh sekali pun perihal ‘guyonan nyentrik ala NUis.

Minggu, 22 Agustus 2010

Wangi Bunga Di Atas Makam

Sabrank Suparno
http://www.sastra-indonesia.com/

Mendamba, adalah puncak do’a bathin nan serius, yang dilakukan orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, dosen terhadap mahasiswanya, kiai pada santrinya, agar kelak anak didik dan anak asuhnya menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Tak heran jika kemudian para orang tua rela mengucurkan jutaan rupiah demi pendidikan anaknya, dengan harapan agar kelak di kemudian hari tidak bernasib seperti bapaknya. Namun tentu saja lebih baik dari segi apapun; moral, intelektual, spiritual sebagai harkat martabat hidupnya.

Sejajar ungkapan jawa; ‘anak polah, bopo kepradah’ anak berulah, orang tua menanggung akibatnya. Baik-buruk perilaku anak, sangat berpengaruh terhadap kredibilitas orang tuanya. Dalam ungkapan lain, anak diharapkan ‘mikul duwur, mendem jeru’ terhadap orang tua. Mikul duwur: menghargai jasa-jasanya, mempraktekkan pitutur orang tua. Mendem jeru: tidak mengungkit-ungkit kesilapan orang tuanya.

Gus Zainal Arifin Thoha, semasa hidupnya dapat dijadikan acuhan cetak tebal bagi debut kepenyairannya di belantara sastra Indoesia. Kiai muda yang akrab dipanggil Gus Zainal itu, tidak sekedar ekstase atas keberhasilannya sebagai penyair, bahkan pondok pesantrennya di dermakan bagi para mahasiswa di Yogyakarta, lebih-lebih yang ingin mendalami dunia tulis-menulis dan kepenyairan, padahal taraf kehidupan rumah tangga Gus Zainal sendiri masih serba kekurangan.

Di pesantren Hasyim Asy’ari Yogyakarta inilah, sembari memimpin pondoknya, Gus Zainal menelorkan buku-bukunya: Aku Menulis Maka Aku Ada, Jagatnya Gus Dur, Runtuhnya Singgasana Kiai NU, dll. Bagai ayam bertelor di lumbung padi, para mahasiswa dapat mondok dengan bebas iuran, juga dibimbing mendalami dunia kepenulisan.

Disadari atau tidak, semasa hidupnya Gus Zainal, seolah mengukir guratan nisan di atas makamnya kelak. Betapa tidak, anak-anak yang bergiat di “Sastra Kutub,” yang note bene mencecap sum-sum kepenyairan Gus Zainal, serempak berhamburan mengepakkan berbagai bendera kepenyiaran.

Buku Antologi Puisi Mazhab Kutub ini dihuni 14 sastrawan muda jebolan sarang bergerumunnya Sastra Kutub. Barisan nama: Selendang Sulaiman, Mahwi Air Tawar, Ahmad Muchlis Amrin, Ala Roa, Jufri Zaituna, Mohammad Ali Mahmudi, AF Denar Deniar, Bernando J. Sujibto, Salman Rusydi Anwar, Matroni El-Moezany, Ahmad Maltuf Syamsury, Muhammad Ali Faqih, Imam S Arizal dan Alfian Harfi, menyuguhkan puisi-puisi yang menggelinjang di era sekarang.

Secara keseluruhan puisi-puisi mereka, menorehkan jenis ornamental mozaik baru dari transisi konversi dogmatis struktur kepenyairan lampau. Pematahan tradisi ritmatik, adalah simbol baju khas penyair anak jaman yang lahir pada dekaden 80’an. Kecenderungan ‘bebas’ namun dalam kadar tekstur kepuisian, tidak lantas dituding sebagai pembelotan arah, lebih dari itu merupakan ramuan padu semerbak harum aneka warna bunga yang mungkin didambakan Gus Zainal semasa hidupnya, dan kini harum mewangi bunga itu di tebarkan para santrinya dalam Mazhab Kutub.

Larik-larik puisi Mazab Kutub sengaja disuguhkan dengan tehnik observasi terbaru sebagai pilihan sikap mewakili anak zaman. Seperti merubahnya Mother Thereza dari jargon: aku bukan orang yang ‘anti kekerasan’, melainkan lebih lentur digubah menjadi: aku ingin menjadi bagian dari ‘pro perdamaian’. Bedanya pada jargon pertama, kata ‘kekerasan’ masih disertakan dalam meng-anti-kannya, tetapi pada jargon kedua kata ‘kekerasan’ sudah tidak ditemukan lagi, meski dua jargon itu berkapasitas nilai setara.

Kehati-hatian tercermin di setiap gelitik puisi pada antologi ini. Kebebasan berekspresi yang dilepaskan dari kerangkeng orde baru, tidak lantas dilakukan 14 penyair tersebut dengan berlarat-larat atas nama mengisi kebebasan, namun lebih ke elevasi nilai dalam kebebasan itu sendiri.

Kekuatan unsur filsafat, dapat kita jumpai dalam puisi-puisi Matroni El-Moezany; engkau boleh sombong//asal masih ada sebiji sadar di jiwamu// (Adalah Engkau,) penyair adalah separuh semesta//dan separuhnya adalah kata-kata (Risalah Batu-Batu), penyair adalah orang pertama yang memberi bantuan//memberi tanpa laba//memberi tanpa unsur apa-apa. Puisi “Malam Kian Panjang,” karya Imam S Arizal: aku membaca malam//ditubuhmu kian panjang//serupa sungai-sungai musim hujan.

Refleksi repertoal sebagai ciri pengabdian sekaligus kesetiaan penyair tatkala melebur dengan alam, juga dihadirkan dalam Antologi Puisi Mazhab Kutub ini. Hiruk pikuk polesai kehidupan di seputaran Malioboro misalnya, disuguhkan Muhammad Alif Mahmudi bertitel: “Sepanjang Malioboro”, sebagai potret nyata antara “ada” dan harapan. Hal yang sama dilakukan Imam S Arizal dalam “Narasi Laut Kenjeran,” sedangkan Ahmad Maltuf Syamsury melarikkan deretan “Warung Tunggu”.

Disamping warna ekstase diri penyair kala menyelami kedalaman samudera jiwanya, ada juga beberapa puisi profaitik dan pemberontakan sosial. Yang menarik di buku ini, pemberontakan yang dilakukan, ibarat ujung pedang bermata dua. Satu sisi ketimpangan sosial harus disingkap, di sisi lain, penyingkapannya tidak diperlukan jatuhnya sudut pandang yang curam. Bagi para penyair ini merumuskan, bahwa metode kritik curam dan tajam terbukti gagal mengatasi ketimpangan sejarah. Selanjutnya, landai-landai saja.

JUDUL BUKU: Antologi Puisi Mazhab Kutub
PENULIS: Sastrawan Kutub
PENERBIT: PUstaka puJAngga
CETAKAN: 1 Juni 2010
TEBAL: 108 halaman
Peresensi: Sabrank Suparno*

*) Penggiat literasi di Lincak Sastra Jombang. Beralamat di RT/TW:08/02, Desa Plosokerep, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. HP: 081-359-913-627/ 085-645-085-745.

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez