Minggu, 22 Agustus 2010

IMC KUADRAT: RENUNGAN DARI MEMBACA ISLAM MAZHAB CINTA

Nurel Javissyarqi
http://www.sastra-indonesia.com/

Membakar semangat mengukuhkan jiwa, itulah lukisan saya selepas membaca karya Gugun el-Guyanie bertitel Islam Mazhab Cinta. Kerisauan ini terobati setelah memandangi kerusakan alam Nusantara atas ulah jemari anak-anaknya. Buku yang diterbitkan Kutub Wacana, februari 2008, dieditori Muhsin Kalida. MA., dipengantari HM. Nasruddin Anshory Ch. Saya menemukan nalar produktif yang segar, refleksif penuh perhitungan yang didasari kekayaan bathiniah. Sesudah penulisnya mengkaji berbagai pengetahuan para pakar yang disambangi, lewat warisan-warisannya berupa buku-buku, kitab lama.

Dia tak sekadar mencoba, tapi merefleksikan gejala alam; apakah bencana, kasuistik benturan ideologi, serta pernik-pertikaian tradisi dengan gerak perubahan. Buku itu menjanjikan bakal adanya perubahan yang berkembang. Usaha kesungguhan dari seorang yang mendiami bumi bergejolak, carut-marut yang sering kita lupa mencintainya (: Indonesia).

Saya mendapati perkembangan terbaru dari bulir-bulir pemikiran para cendekia bumi putra tempo dulu, yang diolah sebencah tanah kian subur nan bening oleh Gugun el-Guyanie. Ini tak sekadar mementingkan kekayaan intelektual, tetapi juga membongkar akar kemiskinan yang menjerat masyarakat. Tidak semata mengembangkan kepiawian dari bumi terjajah gemerlap jaman menggoda setiap mata-mata kelaparan, kehausan pamor. Tapi lebih mengedepankan kesadaran umat, berfikiran positif akan gejala jaman yang melindasi orang-orang tersisikan.

Karena berangkat keterbatasan terolah, khasanah yang tampil merupakan buah-buah matang bergelantungan, pada pohon berakar menghujam di tanah tradisional. Inilah kembang harum siap dipetik bagi pengantin peradaban. Ketika ditelaah, luar biasa daya kekuatan jiwanya. Seorang cendekia takkan purna jikalau hanya berkutat pengolahan nalar saja, sedang dia suguhkan berasal hasil praktek dirinya, dalam mengembangkan pribadi kepada sesama.

Kewajaran tampil kala menyadari keterbatasan itu bukan penghalang, tapi tantangan harus dilalui. Barang siapa mampu menjebolnya, maka hikmah kobaran rindu perdamaian teratasi, minimal kangen kasih sesama. Andai di kedalaman kalimahnya ditemukan sekelumit ego. Itu dapat difahami kepemudaan-nya terang gemilang. Tidak-lah pantas membetot tanpa menilik selidik bagian dalam penuh makna darinya. Dari tangan pemudalah bangsa akan sampai. Kala senantiasa mengolah materi-matari kejiwaan dalam mengembang pemikiran kepada khalayak.

Dia salah satu intelektual Kutub Yogya. Pada barisannya kita mengimpikan Indonesia kelak ditumbuhi para pakar muslim tak lupa umat. Sebab tidak keranjingan jabatan oleh atmosfir yang terangkum dalam lingkungannya alam kebersamaan. Karena pesantren itu bentukan tradisi paling kuat menyebarkan keilmuan. Menjadikan persaudaraan tanpa tinggi rendah, ketika wawasan berdialog memantabkan pribadi demi masyarakat luas, bumi jagad ayu serentetan kepulauan cantik sekalung putri pertiwi.

Saya tak gegebah melihat para santri almarhum KH Zaenal Arifin Thoha yang masih di masa kini. Masa orang-orang sudah terlanjur ugal-ugalan bermotif gengsi serta arogansi kekayaan. Dengan riangnya para santri menaiki keterbatasan (naik sepeda ontel) untuk kuliah ke UIN Yogya atas jaraknya 5kiloan dan ini setiap hari. Menelusuri perbedaan, warna-warni tambil menyeberangi pandangan. Tidakkah yang mengamati jauh faham merasai dirinya daripada berkelebat cepat, ada sesuatu terjatuh namun tak terketahui. Isi buku ini dapat diilustrasikan mengambili paku-paku di tengah jalan, batu-batu pemikiran dijumput, ditaruh di pojok laluan, guna tak mengganggu pandangan makna jalan lurus.

Ini tirakat terbesar, desir fikir saya. Ketika pelajar yang lain kembangkan proyek demi masa depan, namun di lingkungan Hasyim Asyari masih menikmati pergulatan jiwa dalam berbagai pengetahuan, yang diwarisi perpustakaan oleh Gus Zainal. Atau inikah kemapanan jiwa yang telah menanggulangi kemiskinan raga? Senada kalimah hikmah para ulama terdahulu: “Ilmu takkan hadir kecuali melewati keterbatasan. Serta kepayahan menuntut ilmu, jauh berharga daripara lautan mutiara. Yang kegigihannya dinaungi para malaikat bersayap hikmah.”

Kembali pada nalar kalbu el-Guyanie mengenai Islam Mazhab Cinta, saya fikir dia tak berlebihan melabelkan bukunya berstempal tersebut. Setidaknya saya manghormati keindahan analisanya yang dipadu irama-ramai sejarah. Menguliti masa lampau lewat kacamata obyektif dalam menghadirkan gambaran kekinian. Saya sebut karya penggalian, pengerukan dalam. Demi hadirnya sumber mata air kesadaran pembaca, di samping bagi dirinya yang muda. Ketika bahan sejarah berserak dari berbagai sumber telah dimamah-kunyah, hadirlah keluasaan. Ialah kurang penting, apakah baru belajar melawan, tersebab makna kesadaran itu sama. Dia tak dalam keadaan tergopoh ketika menghadirkan buku itu. Pun tidak kelelahan dalam melagukan irama jiwa nalarnya yang telah terbukti media massa.

Sering saya malu pada cerdik cendeki, ketika menengok usia saya belum menghasilkan apa-apa. Sementara sosoknya telah memantabkan pribadi (lahiriah-nalarnya, bathiniah-jiwanya). Berangkat dari niatan mulia, memurnikah khasanah keilmuan di bumi putra. Olehnya saya tak segan berguru padanya setiap datang ke Yogya. Gemetar rasanya saat jiwa ini diajak bertukar bentur pengalaman di atas perjalanan berorganisasi, pengelanaan para pencapai ilmu. Semua telah dimiliki sedari gesekan bersama sudaranya yang lain di LKKY.

Kecenderungan dia pada volume pemikiran Nurcholis Madjid, Fazlur Rahman pun para ulama tempo dulu. Tidak membuat mati nalarnya atau menyepitkan gerak runcing penanya. Malah saya mengamati kian indah sesampan digoyang ombak tidak tenggelam. Sebab sudah kuasai teknik bathin wacana yang didengungkannya. Serta tidak segan melucuti pemikir yang kurang obyektif menurutnya. Andai anak-anak manusia di tanah air ini semua pemberani, tentu nalar kebangsaan tidak tertindas mesin perusak, dari sejarah menyimpang atas segelintir keinginan di belahan bumi bernama hasrat menguasai.

Pembaca IMC tentu tak menyangka, kalau penulisnya sedang menyelesaikan S1, tepatnya saat tulisan ini saya buat, dia tengah dalam pengujian skripsi. Ketidaktersangkaan itu wajar, karena sering kita melihat para pengajar, banyak membangun gugusan gagasan berupa buku, namun kalimahnya gagap. Seperti mentalnya direbus ketakutan malu berlebih. Padahal itu tak beralasan, andai menempatkan jiwanya -yang berpsoses. Ada terbelit berkata kesibukan serta jenis mementahkan ragawinya bersuntuk menggeluti keilmuan. Yang nyatanya sebagai kran mahasiswa. Malulah jika murid lebih piawai mengayunkan pedang yang diwarisi dari gurunya, yang tidak kuasa memegang dari empu sebelumnya. Dan seringkali khalayak mengatakan; “Itulah kesahajaan para guru.” Oh begitu garangnya mitos itu melucuti jiwa-jiwa pengajar, menjadi tumpul lunglai lumpuh total.

Padahal lewat kekaguman dapat pula belajar pada yang muda. Bukan sebaliknya mematikan rasa pribadi menutup diri, atas dasar merasa mencapai dakian tinggi. Mari berhenti sejenak, tidakkah cara pendakian awal menghantarkan pengalaman lanjut? Tentu kala membuka kaca mata, terpampang dakiannya di berbagai tebing pengalaman. Dan menemukan pengetahuan tidak serupa. Sementara yang hanya melihat ketinggalan kereta. Tidakkah harus bepergian? Menghantarkan sesama menuju pemahaman lebih membumikan keilmuan? Tidak sebatas memakan roti, minum teh pagi hari suguhan mereka. Padahal kita mengetahui, beras hasil bumi kita lebih kaya gizi, dibandingkan roti dari pulau jauh belahan lain yang kita kira baik.

Sayangnya, negara belum menjangkau menyatukan para cendekia, guna mencipta jaring demi menanggulangi keterkejutan masa depan. (Oh, dimanakah ujud ICMI?) Sampai kini, bangsa ini terus digilas, dilintas, dilibas faham kapitalisme serakah, liberalisme mengangkangi nalar fitroh dengan ketawa. Benar sejarah keilmuan Islam berangkat dari kebebasan bernalar, mencari ilmu ke sebrang. Tapi bukan berarti yang telah berilmu sihir mengamalkan dengan menguasai yang lain. Seyogyanya digunakan demi menyembuhkan yang kesurupan. Di sini tidak menuduh pihak lain, sebab tidak memiliki berkas bukti, namun kehawatiran sebaiknya dirasai. Agar tak terperosok meninggalkan yang terpegang dari kehadiran kesadaran semula.

Serupa yang dinaikkah Gugun, seharusnya pemerintah tidak curiga prodak militan pesantren. Dengan alasan yang tersirat adanya bom di Bali misalnya. Tidakkah perjuangan kemerdekaan di negara ini, tak lepas dari semangat gerilya para santri dan kyai dalam merangsek melawan penjajah? Hutang kita telah banyak pada kaum santri dan kaum abangan. Tapi kerapkali kita memberinya tumpeng kecurigaan. Air susu dibalas tuba, kitab kuning dibalas turunnya ninja, dengan mengira kyai dukun santet semua. Malanglah negara yang tak menghargai pahlawan, lupa diri serakah jaman edan, bal gedual aspal diuntal.

Tema-tema yang ditawarkan IMC perkara sekitar. Merekam sejarah dijadikan kamus sosial atas soal dijabarkan jawaban kekinian serta nantinya, sebab kerap berulang oleh kebiasaan cara pandang. Dan Gugun memberikan khasana pembedahan cukup segar, jikalau kita tidak berpandangan sebelah mata. Meski yang dikemukakan ada perihal lama, tetap bisa diambil sarinya atas jarak jembatan merenungi permasalahan di depan dengan kalbu kasih sayang. Adanya tema kurang menarik, tetapi karena penyajiannya menawan sehingga tidak sadarlah merampungkannya. Diri ini diajak terlibat mengarungi kedalamannya nan nyaman dibuatnya.

El-Guyani merupakan salah satu tentara Allah dari Kutub yang memiliki faham madzab cinta. Pasukan intelektual dari pesantren Hasyim Asyari-nya almarhum Gus Zainal. Di sampingnya ada Muhammadun, Rusdy, Mufid, Syaiful Anam, Mukhlis, Yunus &ll. Kita tunggu saja buku-buku mereka yang tentu memberi hasana kasih sesama. Yang berangkat dari keterbatasan, bahu-membahu berdasarkan cintanya pada agama serta negara. Setiap saya ke jogja bertemu mereka, seringkali mendesirkan kalimah; tentunya tahun-tahun mendatang, mereka menjadi pioner-pioner pembaharu Islam di bumi Nusantara, bumi sholawat Ceng Ho, para pemberani berkendara kalbu keimanan. Saya merinding cemburu terkagum dibuatnya. Salam hormat bagi mereka semua.

Senin 3 Maret 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez