DR. Fuad Mardhatillah UY Tiba **
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu (berada) di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walau tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS, an-Nur: 35)
I
Ada dimensi bathin dari jagad makro (semesta alam) dan mikro (semesta manusia) yang terkadang tak mampu dimaknai, meski oleh seorang penyair atau filosof yang telah menjadi sinting sekalipun. Kehadirannya yang intensif dan mendalam sekalipun, juga niscaya gagal mengungkap keseluruhan makna melalui logika dan ungkapan sastrawi kosa-kosa kata yang sejauh ini telah pernah dicipta, dalam bahasa apapun, untuk coba mengekspresikan seutas makna yang tak berumpama dan bermisal, maka seolah hanya bathin-nya belaka yang mengerti tanpa mampu bercerita dalam kata-kata.
Seumpama bola kristal wajah realitas social dan pengalaman mistis yang memiliki perspektif serbamuka, baik facet maupun foci, bagi sebuah sudut pandang dari upaya pemaknaan yang di dalamnya mengandung kemajemukan semiotika, tanda-tanda, dan merupakan suatu fenomena abstrak, bathini, maka semata monopoli otonom pribadi yang mengalami. Sehingga, keadaan ketidak-mengertian maknawi dan ketidak-mampuan menangkap pesan-pesan intrinsic mistis yang membathin ini, seringkali menjemukan para pembaca, dan merasa dibuat kesal, putus-asa atas keterbatasannya untuk mengerti. Memang, terkadang si pembaca harus mengaku merasa terhibur oleh suatu situasi keindahan yang dipastikan terkandung di dalamnya, meski sebenarnya ia masih berada dalam gulita tak kunjung dimengerti.
Apalagi, saat sang penyair saja masih sedang coba-coba mengail nama dan makna, setelah berhasil mengabstraksikan suatu konsep pemahaman ke alam bathinnya, tentang ikhwal sesuatu yang sesungguhnya kongkrit belaka. Namun itu selalu harus dirumuskan ke dalam jagad makna yang menyingkapinya lapis-lapis konfigurasi hijab, yang justru menyebabkan sesuatu itu semakin sulit dimengerti. Tanpa penyingkap itu, maka semakin kecil pula medan realitas wujud yang berhasil diungkap-tafsirkan maknanya ke dalam kata-kata, yang niscaya dan sesungguhnya memiliki juntrungan teleologis permuaraannya, bagi perjalanan kelana seorang musafir-penyair, filosof ataupun sufi, menemukan lautan hikmah dari sebuah atom ma’rifah.
Itulah wilayah kerja sastrawi yang didalamnya berserak nilai-nilai misteri, aneka keanehan, keganjilan dan absurdity, dari perjalanan dan petualangan mencari makna dan hikmah yang kiranya melingkari medan realitas, fenomena dan afinitas gaya grafitasi keakuan (egohood) seorang penyair yang sangat subjektif. Kata demi kata yang diungkap secara tak pernah selesai, tetapi selalu coba dihadirkan kehadapan sidang para pembaca, dimana mensyaratkan adanya kemampuan hermeneutica terhadap ungkapan bathin kepenyairannya. Namun, sang penyair seringkali harus berharap untuk diberi apresiasi dan penghormatan atas suatu jerih-payah sastrawinya, walau kehadirannya tak persis dipahami oleh para pembacanya.
Di sini, antara produsen dan konsumen memang selalu ada kesenjangan yang menganga. Terutama, hal itu disebabkan oleh adanya apa yang dikatakan oleh Ludwig Wittgenstein sebagai pengejawantahan kehadiran pesona the game of language yang sepertinya memang tak begitu butuh akan suatu makna praktikal dalam membingkai prilaku yang koheren dan konsisten, yang sebenarnya selalu perlu diamalkan untuk coba memperkaya pengalaman sejarah ummat manusia. Boleh jadi, ungkapan Wittgenstein berupa: “Tractatus Logico-Philosophicus” (perjanjian logis kefilsafatan) yang menunjuk jalaran nalar pemaknaan atas realitas yang mengalir melalui entitas logika, intuisi dan spiritualitas kebahasaan, mengutarakan: “It is clear that however different from the real one an imagined world may be, it must have something—a from—in common with the real world”. Ini karena This fixed form consist of the objects di mana The substance of the world can only determine a form and not any material properties. For these are first presented by propositions—first formed by the configuration of the objects (Wittgenstein, 1922, no.2.022/2.023-2.0231).
II
Selanjutnya, ruang, waktu, konstruksi sejarah hasil ulah-laku dan lakon manusia, juga menunjuk kesadaran akan kehadiran Tuhan adalah semacam transendensi konfiguratif rendezvous para hamba, baik yang aulia maupun yang hina, yang mempertemukan imagi alam makhluk dengan kehendak azali Tuhannya yang niscaya tak kunjung harus dipahami eksistensialNya, walau dalam maqam ma’rifat yang telah menyingkap serba hijab yang mendinding antara yang mencipta dengan yang diciptakan. Karena, Tuhan memang harus dan niscaya harus hadir dalam sifat-sifat keilahian yang juga memang harus tidak pernah sepenuhnya dimengerti oleh hambanya, terhadap seluruh yang esensial dan substansial dari dimensi yang dinamakan “ketuhanan”, meskipun beragam upaya allegori dan interpretasi anthromorphism yang coba menggambarkan divine presence, memang sesungguhnya sah-sah saja dihadir-terjemahkan oleh manusia, walau dalam segala keterbatasannya yang sangat terbatas, meski kita selalu sulit menentukan dengan pasti di mana letak keterbatasannya.
Namun, upaya itu harus dilihat sebagai wujud manifestasi curiosity dari rasa cinta, yang tanpa Dia, kita seringkali menghadirkan bencana. Sehingga, hermeneutika mpenafsiran itu merupakan proyeksi dari nama-nama yang menyifati wajibul-wujud eksistensial-Nya di alam bumi yang nyata, bersama segala misteri yang memang selalu harus tersisa. Ini menjadi semacam kemestian azali, agar validitas ketuhanannya dapat diterima dan diakui oleh hambanya yang berakal, jika dan hanya jika masih tersisa aneka rahasia dan misteri. Ini diperkuat oleh watak akal itu sendiri, yang lantas menyimpulkan bahwa Tuhan memang harus completely berbeda dan tak terpahami, justru karena agar Ia sah menjadi Tuhan.
Sementara kebaradaan Tuhan memang bukan untuk dipahami, tetapi Tuhan mencipta manusia agar manusia memahami dirinya sendiri, dari mana ianya berasal, apa pula tugas-tugas kemanusiaan yang secara sunatullah wajib diemban dan ke mana pula ia harus mengemudi langkah-langkah hidup, di tengah gelombang exodus manusia meninggalkan rumah-rumah kodratinya, tanpa cinta, penuh benci, dan keinginan memusnahkan, yang dipandang akan melempangkan jalan menuju istana-istana imagi, yang seluruhnya adalah ilusi. Karena manusia, memang diberi hak dan kuasa untuk bermimpi, khususnya saat in melek dan terjaga…
Maka Nabi Muhammad SAW juga memberitahukan pada para malaikat Allah, bahwa banyak manusia yang mengalami kematian saat ia masih bergerak hidup kesana-kemari, tetapi is justru kembali merasa hidup saat ia telah terkurung dalam keranda kematiannya.
Di sinilah, kegelisahan dan persahabatan ataupun bahkan gugatan terhadap esensi ketuhanan yang semestinya tak pernah dipahami secara memadai dalam artian historisitas kemanusiaan. Namun, Tuhan justru semakin membuat para hambanya menjadi semakin gelisah dan penasaran untuk terus berusaha dekat denganNya. Meski kedekatan itu hanya sekedar sebuah ilusi, saat ia telah merengkuh maut...
Barangkali, inilah suatu rabaan mistis seorang din saja yang coba kembali pulang ke rumah azali, setelah sekian lama merantau ke alam nir-ilahi, yang mengembara ke alam teka-teki. Kini ia berikrar di hadapan Tuhan, justru karena ia kembali menggapai kemerdekaan dan kemandirian, melalui sujud-sujud yang kini telah mampu dilakukan.
Ada semacam kerelaan yang muncul saat ia menggapai kembali kemerdekaannya, yang selama ini dirasa direnggut oleh suatu kekuatan yang sebenarnya selalu bersemayam dalam benak dan kesadarannya sendiri yang merasa tidak merdeka. Padahal, selain Tuhan itu sendiri, tiada suatu kekuatanpun yang mampu merenggut kemerdekaan yang telah dianugerahkan Tuhan pada semua manusia yang terlanjur hidup, walau seringkali merasa terjajah dan terpasung dalam kehidupan yang tak mampu dielak, kecuali bunuh-diri saat ia merasa sangat kecewa, soal ikhwal kenapa kematian tak kunjung datang menyapa dan mengajak dirinya pergi. Padahal semestinya ia tak perlu bunuh diri atau membunuh orang lain, ketika ia telah sejak lahir, secara gradual sukses menjadi binatang dan gagal menjadi manusia.
Sehingga sejarah kemunafikan yang kini menjadi ”agama” baru masyarakat, meskipun ia harus mengimpor, di mana importirnya adalah setan-setan yang telah mendapat lisensi dari Tuhan, untuk membunuh kemanusiaan dan menjelmakan kebinatangan, yang jalang dengan hunus pedang, bedil-bedil dan missile-missile, yang menggelikan para setan, yang tergelak tawa sendiri. Itu merupakan sebuah momentum perayaan kesuksesan dengan ikrar kesetiaan kepada Tuhan-Tuhan baru yang diproduksi sendiri oleh alam ketakutan, yang kini mengurung eksistensinya. Dengan senyum dan air mata, juga jubah, butir-butiran tasbih dan helaian sorban, beserta persujudan dirinya pada sajadah kenistaan dari berhala-berhala fana, yang disayembarakan dalam sebuah festival memenggal leher-leher keluarganya sendiri, sebagai tumbal yang dilakukan untuk membuktikan kesetiaan dirinya pada iblis dan setan yang memberhalakan kematian saudaranya, sesama manusia. Namun ia seolah dengan gagah melenggang masuk syurga.
Maka, kita tak perlu heran jika, di rumah-rumah banyak bekicot, yang memelototkan mata menyedot sumsum-sumsum peradaban manusia, apalagi di dinding-dinding kamar, laba-laba menebarkan jala-jala, untuk kemudian, entah siapa selanjutnya menjadi mangsa-mangsa.
Dan begitulah, saat din saja, berpikir, membaca dan mengerti, apa maksud dan tujuan penciptaan, yang sepertinya, ada pertentangan antara dirinya dan Tuhan. Meskipun kemudian, ia bertekad untuk terus berzikir-pikir, semoga ia dapat bertemu dengan Dia, Allah, yang barangkali semakin malu bertemu dengan hamba-hambanya yang semakin angkuh dan nistanya keserakahan, menyusuri jalan menuju ke kuburannya, yang sejak awal telah dipersiapkan penggaliannya.
Walau kemudian, din saja, kiranya berhasil bertemu dan bercakap-cakap dengan Tuhan dan melapor bahwa di negeri ini ada ”sekuntum mawar” yang tak lagi harum, yang batangnya alif: ”arogan, lancang, ilusif dan fasik”; yang daunnya lam: ”laknat, amuk dan musyrik”; dan yang kelopaknya mim: ”mengeluarkan igauan tangis yang menjijikkan...”
III
Gelora geliat jiwa yang sepertinya sedang meronta untuk keluar dari lingkaran setan kemunafikan, kepura-puraan di atas panggung extravaganza sandiwara politik negeri ini, kiranya masih menyisakan seorang din saja yang sepertinya sedang membangun rumah taubat. Namun, bukan dalam rona dan arena pertaubatan seperti yang sering dikumandangkan oleh para imam, khatib, da’i, ulama dan para pemimpin negeri ini, yang mencela kebodohan dan kedosaan rakyatnya, untuk kemudian merasa suci sendiri dalam ”taubat nasuha”nya yang sesungguhnya tak pernah mampu dipahami, diyakini dan apalagi dilakoni.
Karena ia hanya sekedar semulut ”corong” pengeras suara dan perpanjangan tangan para umara, yang merasa bahwa tugasnya hanya membuka mulut untuk memperbaiki dan mengajak rakyat bertaubat dari segala dosanya terhadap penguasa. Sementara mereka sendiri menjadi para punggawa yang ikut berpartisipasi mencari kaedah-kaedah pembenar, ijtihad-ijtihad yang coba mengkamuflase bungkus-bungkus kemunafikan, meramaikan kejahatan dan kebusukan, bersama para umara yang hari ini terjerembab dalam totemisme politik, yang merasa dirinya menjadi wakil Tuhan, entah Tuhan yang mana, kita pun tak persis tahu, namun merasa paling benar dan suci. Mereka bahkan merasa harus bersaing dengan Tuhan untuk menunjuk pada rakyatnya ”akulah paling berkuasa”, rezeki kekayaan ada pada tangan-tangan dermawannya. Namun, jika engkau ingkar, wahai rakyat yang diduganya penuh kebodohan, kukirim segera keranda-keranda untuk mengemas tuntas kematianmu.
Akhirnya, hantaran renungan eksistensial yang menggelisahkan antara ancaman dan jaring pengaman ketuhanan, yang dikemas dalam ungkapan puitis oleh seorang din saja yang sedang membaca dirinya dan alam di sekitarnya, untuk kemudian coba menemukan kembali Tuhannya, jika memang masih ada dalam benak kita hari ini. Itu semua adalah suatu abstraksi yang coba memetakan realitas kongkrit yang terkadang tidak cukup bahasa dan kata untuk mengungkapkannya. Jadi ada ”dimensi diam” tak berbunyi dan tak bersuara dalam pengalaman historis bathini yang coba ditransendensikan sedemikian rupa, untuk selanjutnya ia sekedar mampu melantunkan do’a-do’a belaka, bahwa ia masih dan punya harapan dan asa, yang kiranya masih tersisa di tengah kebusukan peradaban manusia yang telah berkoalisi dengan iblis dan setan. Membentang jaring koalisi politik machiavelian, yang sedang membangun istana kerajaan egosentrismenya, bersama konstitusi yang menjadi totem dan voodoo, untuk coba sepenuhnya menjadi jimat dalam mengambil alih tugas-tugas ilahi untuk mengeksekusi kehidupan...dan...kehidupan...
IV
Memang Allah telah menerangkan wujud eksistensial dirinya dalam alegori cahaya-cahaya yang di atas cahaya, nuurun ’ala nuur, sebagaimana yang terungkap dalam ayat surat An-nur di atas. Manusia berhak mendamba arahan dan panduan dari cahayaNya yang dalam konteks filsafat Islam itu harus dipandang sebagai hayula (esensi awal) dari jiwa ketuhanan, dalam keindahan (jamal) sebagaimana yang terungkap dalam 99 nama-nama Allah. HarapanNya, manusia harus merasa rela dan bersedia untuk mewujudkannya dalam kehidupan nyata di dunia, bersama dan terhadap sesama makhluk: manusia, flora, fauna dan lingkungan semesta. Di sinilah jiwa kepahlawanan dari penggunaan energi fitrah manusia dalam semangat dunianya yang hanif dan terpadu oleh esensi kehendak Tuhan.
Boleh jadi kita mengasosiasikan ungkapan sastrawi din saja ini, tidak sebagai sebuah keluhan, apatisme, dan keputus-asaan, namun mestilah dibaca sebagai pesan-pesan keindahan dan serba kekuatan yang menhyalakan api kehidupan, yang tentu saja coba mempersembahkan sesuatu, sebagai manifestasi dari sifat ilahiahnya manusia. Barangkali, itu semua dapat dipahami dengan mengikuti tradisi dan konsepsi Neo-Platonis dalam konsep ”raja-pemikir”. Seperti Iqbal misalnya, seorang penyair filosof Pakistan, yang telah sukses mengembalikan kepercayaan diri rakyat Pakistan melalui syair-syair puitis Asrari Khudi-nya. Di sini, ia coba membongkar konsep egohood para manusia yang telah merusak sendiri kodrat fitriahnya, akibat dorongan keangkuhan, keserakahan dan kemunafikan, sehingga seolah melihat diri ibarat seorang Tuhan. Oleh Iqbal, kemudian coba merangsang tumbuhnya konsep diri kemanusiaan muslimin, untuk menyimpulkan bahwa keindahan sebagai abadi, dan sebagai sebab yang efisien dan final dari segala macam cinta, setiap hasrat, dan semua gerak, darai seluruh dimensi peradaban, sebagai manifestasi dari ketundukan total kita terhadap kehendak keindahan Tuhan, baik dalam konteks free will ataupun pre-determination.
Lebih lanjut kita juga melihat, bahwa pada pertengahan abad ke-19, gerakan romantisme di Barat juga mencapai babak baru. Di Inggris, Browning menulis syair-syair yang sarat dengan muatan kekuatan yang membangkitkan dari keterlenaan. Sementara Carlyle menerbitkan beberapa karya yang memuji pahlawan-pahlawan besar dunia, yang salah satu diantara yang paling dikaguminya adalah Nabi Besar Muhammad SAW. Karya-karya terakhirnya, seperti On Heroes and Hero-Worship, secara jenius mengungkapkan pujian akan jiwa kepahlawanan. Posisi sentral elanvitas kehidupan yang menjadikan hidup menjadi bermakna dapat pula dilihat pada karya seorang ahli biologi Lloyd Morgan, The Emergent Evolution (1908) dan Outline of Psychology (1910), yang kesemuanya menganggap bahwa tenaga kepahlawanan merupakan esensi suci kehidupan, dan dorongan perasaan keakuan (egohood) sebagai kekuatan paling inti dari kepribadian manusia, yang sangat potensial bagi merubah wajah peradaban dunia.
Gagasan imajinasi H.G Well, mengilhami manusia untuk menaklukkan ruang dan waktu, dan para ilmuwan pun akhirnya juga sibuk mewujudkan penaklukkan itu. George Bernard Shaw, seorang diantara kaum terpelajar itu, merupakan orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap tenaga kehidupan. Penghargaannya yang tinggi terhadap Caesar, Napoleon, Hitler, Mussolini, dan Stalin misalnya, cukup menjadi bukti bahwa dirinya sangat tertarik kepada aspek-aspek heroisme dan vitalisme sebagai inti tenaga kehidupan. Meskipun menjadi tenaga hidup yang memusnahkan kehidupan.
Konsep neo-platonisme tentang ”raja-pemikir” ini juga telah sepenuhnya dikembangkan oleh para pemikir muslim, seperti, al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Arabi, Rumi, al-Jilli dan lain-lain, yang menempatkan tema Insan Kamil sebagai tema utama dari eksistensi kemanusiaan yang seharusnya diperjuangkan oleh setiap manusia. Jadi, manusia semestinya tidak larut dalam nestapa, dan duka lara kegagalan yang hanya akan mengecewakan Tuhan setelah ia menciptakan manusia. Frederick Nietzsche dan Bergson, yang meyakini bahwa gerak adalah esensi hakiki dan intuisi yang menerangi sumber-sumber ilmu pengetahuan. Yang mereka ingin tunjukkan bahwa peran eksistensial manusia memang sangat tergantung dari hasil refleksi dan proyeksi kesadaran dirinya dalam bimbingan esensial entitas super-ego, yang mengejawantah dalam gerakan vitalis heroik.
V
Memungkas pengantar apresiatif terhadap karya din saja ini, kiranya kita harus setuju, bahwa dunia di sekeliling kita yang sedang kelabu, suram dan bau busuk dalam kebusukan sekarang ini. Ini mensyaratkan perlunya segera ditata-ulang, melalui pembenahan diri keakuan (egohood) kita yang masih merasa berminat. Secara kontekstual, tentu semestinya menyadarkan kita semua, agar rela kembali membina jati-diri dalam nuansa potensi yang setiap orang miliki, di mana keindahan, kebermaknaan dan kebermanfaatan diri bagi sebanyak mungkin orang-orang lain, merupakan obat mujarab untuk memperbaiki keadaan hari ini yang telah sangat rusak, di mana pengrusakan itu justru dilakukan oleh para pemimpinnya sendiri.
Maka, setiap orang yang masih tersisa hari ini, diharapkan masih berkenan membina keinginan mewujudkan vitalitas-heroisme yang melaju dalam sirathal mustaqim eksistensialisme insan kamil, yang sudah menjadi konsep kemanusiaan paripurna dalam Islam. Di mana kita tidak lagi mengukur keberhasilan seseorang pada ritual-ritual, seremoni-seremoni dan simbol-simbol yang sebenarnya semuanya hanya pembohongan publik. Tetapi ukurlah seseorang pada komitmen dan tanggungjawab memegang amanah, yang di dalamnya menyebarkan dan mengalirkan rahmat dan manfaat bagi sebanyak mungkin orang-orang lain. Itulah sebentuk metafisika insan kamil yang harus diperjuangkan setiap orang muslim hari ini, dalam rangka membangun sejarah masa depannya yang tercerahkan.
Tak berlebihan kiranya, jika substansi puisi-puisi yang coba merangsang tumbuhnya kembali semangat dan elan vitalitas heroisme insan kamil para pembaca dan penulisnya sendiri itulah, yang kiranya ingin dicapai dan dipersembahkan oleh sang penyair din saja, melalui goresan pena dan nalar renungan sastrawinya. Akhirnya, semoga Allah selalu memberi kita kekuatan, hidayah dan inayah bagi pencapaian prestasi kemanusiaan sebagaimana yang diharapkan dalam blue-print skenario penciptaan yang dikehendaki Tuhan, saat kita pertama kali diciptakan. Insya Allah.
Faiza ’azamta fatawakkal ’alallah...
La haula wa la quwwata illa billah...
Darussalam, 05 Agustus 2003
*) Kata Pengantar Hanya Melihat Hanya Mengagumi, Puisi-puisi Din Saja.
**) Dosen Filsafat IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.
http://sastra-indonesia.com/2020/06/rabaan-mistis-gelisah-penyair-membina-insan-kamil/
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Khoirul Anam
A. Khoirul Anam
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abd. Basid
Abdul Aziz
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar
Abdul Hadi W.M.
Abdul Rauf Singkil
Abdul Rosyid
Abdul Salam HS
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Alawi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abu Nawas
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Ach. Tirmidzi Munahwan
Achmad Faesol
Adam Chiefni
Adhitya Ramadhan
Adi Mawardi
Adian Husaini
Aditya Ardi N
Ady Amar
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afrizal Malna
Afrizal Qosim
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus Buchori
Agus Fahri Husein
Agus Fathuddin Yusuf
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahmad Anshori
Ahmad Badrus Sholihin
Ahmad Baso
Ahmad Fatoni
Ahmad Hadidul Fahmi
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rohim
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Sahal
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alang Khoiruddin
Alang Khoirudin
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Aliansyah
Allamah Syaikh Dalhar
Alvi Puspita
AM Adhy Trisnanto
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Amin Hasan
Aminullah HA Noor
Amir Hamzah
Ammar Machmud
Andri Awan
Anindita S Thayf
Aning Ayu Kusuma
Anjar Nugroho
Anjrah Lelono Broto
Antari Setyowati
Anwar Nuris
Arafat Nur
Ariany Isnamurti
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arif Hidayat
Arif Saifudin Yudistira
Arifin Hakim
Arman AZ
Arwan
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Juanda
Asep S. Bahri
Asep Sambodja
Asep Yayat
Asif Trisnani
Aswab Mahasin
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Azizah Hefni
Azwar Nazir
B Kunto Wibisono
Babe Derwan
Badrut Tamam Gaffas
Bale Aksara
Bandung Mawardi
Bastian Zulyeno
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benny Benke
Berita
Berita Duka
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budiawan Dwi Santoso
Buku Kritik Sastra
Candra Adikara Irawan
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cawapres Jokowi
Cerpen
Chairil Anwar
Chairul Abhsar
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
CNN Indonesia
Cucuk Espe
Cut Nanda A.
D Zawawi Imron
D. Dudu AR
Dahta Gautama
Damanhuri Zuhri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Danuji Ahmad
Dati Wahyuni
Dea Anugrah
Dea Ayu Ragilia
Dede Kurniawan
Dedik Priyanto
Den Rasyidi
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Detti Febrina
Dewi Kartika
Dian Sukarno
Dian Wahyu Kusuma
Didi Purwadi
Dien Makmur
Din Saja
Djasepudin
Djauharul Bar
Djoko Pitono
Djoko Saryono
DM Ningsih
Doddy Hidayatullah
Donny Syofyan
Dr Afif Muhammad MA
Dr. Simuh
Dr. Yunasril Ali
Dudi Rustandi
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dyah Ratna Meta Novia
E Tryar Dianto
Ecep Heryadi
Edeng Syamsul Ma’arif
Edy A Effendi
Edy Susanto
EH Ismail
Eka Budianta
Ekky Malaky
Eko Israhayu
Ellie R. Noer
Emha Ainun Nadjib
Esai
Esha Tegar Putra
Evi Melyati
Fachry Ali
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faizal Af
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fazabinal Alim
Festival Literasi Nusantara
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Fuad Mardhatillah UY Tiba
Furqon Lapoa
Fuska Sani Evani
Geger Riyanto
Ghufron
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
Gus Muwaffiq
Gusriyono
Gusti Grehenson
H Marjohan
H. Usep Romli H.M.
Habibullah
Hadi Napster
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hamka
Hammam Fathulloh
Hamzah Fansuri
Hamzah Sahal
Hamzah Tualeka Zn
Hanibal W.Y. Wijayanta
Hanum Fitriah
Haris del Hakim
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B. Kori’un
Hasan Basri Marwah
Hasnan Bachtiar
Hasyim Asy’ari
Helmy Prasetya
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Heri Listianto
Heri Ruslan
Herry Lamongan
Herry Nurdi
Heru Kurniawan
Hilmi Abedillah
Hotnida Novita Sary
Hudan Hidayat
Husein Muhammad
I Nyoman Suaka
Ibn ‘Arabi (1165-1240)
Ibn Rusyd
Ibnu Sina
Ibnu Wahyudi
Idayati
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Yusardi
Imadi Daimah Ermasuri
Imam Hamidi Antassalam
Imam Khomeini
Imam Nawawi
Imam Nur Suharno
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Nasri
Imron Tohari
Indonesia O’Galelano
Indra Kurniawan
Indra Tjahyadi
Inung As
Irma Safitri
Isbedy Stiawan Z.S.
Istiyah
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
J Sumardianta
Jadid Al Farisy
Jalaluddin
Jalaluddin Rakhmat
Jamal Ma’mur Asmani
Jamaluddin Mohammad
Javed Paul Syatha
Jaya Suprana
Jember Gemar Membaca
Jo Batara Surya
Johan Wahyudi
John Halmahera
Joko Pinurbo
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K. Muhamad Hakiki
K.H. A. Azis Masyhuri
K.H. Anwar Manshur
K.H. M. Najib Muhammad
K.H. Ma'ruf Amin
Kabar Pesantren
Kafiyatun Hasya
Kanjeng Tok
Kasnadi
Kazzaini Ks
KH Abdul Ghofur
KH. Irfan Hielmy
Khansa Arifah Adila
Khoirul Anwar
Khoirur Rizal Umami
Khoshshol Fairuz
Kiai Muzajjad
Kiki Mikail
Kitab Dalailul Khoirot
Kodirun
Komunitas Deo Gratias
Koskow
Kritik Sastra
Kurniawan
Kurtubi
Kuswaidi Syafi’ie
Kyai Maimun Zubair
Lan Fang
Larung Sastra
Leila S. Chudori
Linda S Priyatna
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP
Lukman Asya
Lukman Santoso Az
M Arif Rohman Hakim
M Hari Atmoko
M Ismail
M Thobroni
M. Adnan Amal
M. Al Mustafad
M. Arwan Hamidi
M. Bashori Muchsin
M. Faizi
M. Hadi Bashori
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Mustafied
M. Nurdin
M. Yoesoef
M. Yunis
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
M.S. Nugroho
M.Si
M’Shoe
Mahamuda
Mahdi Idris
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahrus eL-Mawa
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mansur Muhammad
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marjohan
Marsudi Fitro Wibowo
Martin van Bruinessen
Marzuki Wahid
Marzuzak SY
Masduri
Mashuri
Masjid Kordoba
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni el-Moezany
Matroni Muserang
Mbah Dalhar
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Miftahul Ulum
Mila Novita
Mochtar Lubis
Moh. Ghufron Cholid
Mohamad Salim Aljufri
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Yamin
Muh. Khamdan
Muhajir Arrosyid
Muhammad Abdullah
Muhammad Affan Adzim
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Ali Fakih AR
Muhammad Amin
Muhammad Anta Kusuma
Muhammad Ghannoe
Muhammad Idrus Djoge
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Kosim
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Mukhlisin
Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Subhan
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yasir
Muhammad Yuanda Zara
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyiddin
Mujtahid
Muktamar Sastra
Mulyadi SA
Munawar A. Djalil
Munawir Aziz
Musa Ismail
Musa Zainuddin
Muslim
Mustafa Ismail
Mustami’ tanpa Nama
Mustofa W Hasyim
Musyafak
Myrna Ratna
N. Mursidi
Nasaruddin Umar
Nashih Nashrullah
Naskah Teater
Nasruli Chusna
Nasrullah Thaleb
Nelson Alwi
Nevatuhella
Ngarto Februana
Nidia Zuraya
Ninuk Mardiana Pambudy
Nita Zakiyah
Nizar Qabbani
Nova Burhanuddin
Noval Jubbek
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nur Fauzan Ahmad
Nur Wahid
Nurcholish
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Orasi Budaya
Pangeran Diponegoro
Parimono V / 40 Plandi Jombang
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
Pesantren Tebuireng
Pidato
Politik
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang
PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pramoedya Ananta Toer
Prof. Dr. Nur Syam
Profil Ma'ruf Amin
Prosa
Puisi
Puji Hartanto
Puji Santosa
Pungkit Wijaya
Purwanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
PUstaka puJAngga
Putera Maunaba
Putu Fajar Arcana
R. Ng. Ronggowarsito
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rakhmat Nur Hakim
Ramadhan Alyafi
Rameli Agam
Rasanrasan Boengaketji
Ratnaislamiati
Raudal Tanjung Banua
Reni Susanti
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Retno HY
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar
Rinto Andriono
Risa Umami
Riyadhus Shalihin
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rohman Abdullah
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifuddin Syadiri
Saifudin
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Salahuddin Wahid
Salamet Wahedi
Salman Faris
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sandiaga Uno
Sanggar Pasir
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra Pesantren
Sastrawan Pujangga Baru
Satmoko Budi Santoso
Satriwan
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra Boenga Ketjil
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siswanto
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slavoj Zizek
Snouck Hugronje
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sufyan al Jawi
Sugiarta Sriwibawa
Sulaiman Djaya
Sundari
Sungatno
Sunu Wasono
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susringah
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardi
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaiful Amin
Syaifullah Amin
Syarif Hidayat Santoso
Syeikh Abdul Maalik
Syeikh Muhammad Nawawi
Syekh Abdurrahman Shiddiq
Syekh Sulaiman al Jazuli
Syi'ir
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Tiar Anwar Bachtiar
Tjahjono Widijanto
Tok Pulau Manis
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tu-ngang Iskandar
Turita Indah Setyani
Umar Fauzi Ballah
Uniawati
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usep Romli H.M.
Usman Arrumy
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W.S. Rendra
Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
Wahyu Aji
Walid Syaikhun
Wan Mohd. Shaghir Abdullah
Warung Boengaketjil
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Welly Adi Tirta
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Fei Hung
Y Alpriyanti
Yanti Mulatsih
Yanuar Widodo
Yanuar Yachya
Yayuk Widiati
Yeni Ratnaningsih
Yohanes Sehandi
Yopi Setia Umbara
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudi Latif
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Zaenal Abidin Riam
Zainal Arifin Thoha
Zainuddin Sugendal
Zakki Amali
Zehan Zareez
Tidak ada komentar:
Posting Komentar