Minggu, 22 Agustus 2010

Puisi dan Anak-anak Sejarah Zainal Arifin Thoha

Pengantar Antologi Puisi “Mazhab Kutub” terbitan PuJa (PUstaka puJAngga) 2010
Fahrudin Nasrulloh*
http://www.sastra-indonesia.com/

Suatu hari, sekisar pertengahan tahun 2007, saya berjumpa dengan Gus Zainal Arifin Thoha di Pesantren Tebuireng, Jombang. Hari itu diadakan pertemuan alumni. Beberapa teman dan kiai yang saya kenal juga tampak hadir. Salah satunya adalah penyair dari Jeruk Macan, Mojokerto, Kiai Khamim Khohari. Pondok semakin ramai. Dari pintu gerbang terlihat orang-orang hilir-mudik. Kebetulan saja saya menyambangi perpustakaan Wahid Hasyim. Mas Tamrin, penjaga perpus, memberitahu saya bahwa di ruangan tingkat atas barat makam pondok dilangsungkan semacam diskusi di mana salah pembicaranya adalah Gus Zainal. Saya pun menghikmati diskusi itu.

Usai diskusi, kami ngobrol-ngobrol bersama beberapa sejawat. Ia bercerita banyak hal. Tentang perkembangan dunia menulis dan penerbitan di Jogja. Tentang anak-anak asuhnya di Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari yang ia dirikan dan kegiatan apa saja yang bergeliat di sana. Tak luput ia menunjukkan karya terbitannya: Aku Menulis, Maka Aku Ada. Buku ini menarik, setidaknya mampu menggebuk gairah penulis pemula. ”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” saya teringat maqolah ini dari Sayidina Ali. Dan itulah kiranya yang dihisap penuh-seluruh oleh Gus Zainal. Lalu kami turun. Saya berjalan keluar menuju gerbang pondok. Tampak dua pemuda krempeng berwajah kusut menggelar jualan buku dengan beralaskan koran. Aroma ketiak gembel Jogja terasa. Lima kardus bertumpuk di sisi kanan-kiri mereka. Puluhan buku-buku itu rata-rata terbitan penerbit Jogja. Ada belasan judul dari penerbitan Gus Zainal. Sosok ini terbilang unik: kiai muda, punya pesantren, sastrawan, bos penerbit, dan tak jarang menjadi rujukan spiritual sejumlah penulis yang merasa rapuh hidupnya.

Sejak beberapa bulan sebelumnya, saya telah mendengar Pondok Mahasiswa Hasyim Asy’ari asuhan Gus Zainal itu. Sempat sekian kali saya mengunjungi kontrakannya bersama Aziz Sukarno. Lalu bertandang ke Mas Joni, dan darinya saya mendengar banyak hal tentang kiprah Gus Zainal dan pesantrennya. Ada Amrin, Alfian, Bernando, yang saat itu sempat saya kenal dan menjumpai tulisan-tulisannya di beberapa media. Mereka tampak getol berkarya dan mendiskusikan ihwal sastra dan pergaulan antar penulis. Semua punya mimpi. Harapan. Gemuruh untuk menggali potendi diri sebaik mungkin. Sangat jarang ada kiai yang juga penyair seperti Gus Zainal menyerahkan sebagian hajat hidupnya demi anak-anak muda yang rata-rata tujuan mereka mondok di sini adalah untuk belajar menulis, selebihnya ada yang berkuliah, bekerja serabutan, ngawulo, dan macam-macam itu kayaknya sebagai ritual kecil semata. Misalnya Alfian, saya mengenalnya hanya beberapa bulan, ketika ia sering dolan dan ngobrol-ngobrol di kontrakan kami, di penerbit Sadasiva (almarhum), di jalan Permadi, Tamsis. Terkadang ia jalan dari Krapyak malam-malam ke Tamsis. Lama-lama saya kasihan juga, saya bilang padanya bawalah pit onthel saya jika mau. Ia gembira mendengarnya. Dan beberapa bulan kemudian saat terjadi gempa Jogja 2006, saya tak lagi tahu kabarnya, juga dengan kawan-kawan lain di Komunitas Kutub hingga detik-detik terakhir kala Gus Zainal berpulang.

Ada hutang rasanya, yang tak bisa dibayar dan tak tergantikan, bagi mereka murid-muridnya, atau siapa pun yang mengenalnya, akan kebaikan Gus Zainal. Meski saya tidak punya ikatan apa-apa. Tapi saya merasakan itu. Berkarya, tak malas membaca, telaten ngaji dari yang dhahir sampai yang bathin, menyerap ajaran tasawuf dari beberapa guru yang didatangkan, mengongkosi kebutuhan sehari-hari dari menulis, dan Gus Zainal hanya menyediakan pondokan tanpa pungutan, bahkan rumah yang ditempati bersama keluarganya pun masih mengontrak saat itu: dan bagi saya, hal demikian merupakan ”amal kebudayaan” yang akan mendapatkan balasan tersendiri dari Allah dan kelak murid-muridnya diharapkan mampu menjadi penulis-penulis yang berbakat. Barangkali bagi Gus Zainal, ”Pesantren tanpa menghasilkan penulis: ibarat sarang ilmu tanpa laku, sejarah tanpa jejak, atau rumah kosong yang hendak roboh.”

Saya hanya berusaha menilasi jejak ingatan saya itu, dan betapa lamat-lamatnya rekaman itu, saya menyambut antusias rampai puisi Mazhab Kutub yang memuat 14 penyair jebolan dari anak-anak sejarah Gus Zainal ini. Mereka adalah: Matroni El-Moezany, Ahmad Muchlish Amrin, Jufri Zaituna, Mahwi Air Tawar, Ahmad Maltuf Syamsury, Alfian Harfi, Muhammad Ali Faqih, Imam S Arizal, Selendang Sulaiman, Ala Roa, Muhammad Alif Mahmudi, AF Denar Deniar, Bernando J.Sudjibto, dan Salman Rusydie Anwar. Terkait judul antologi, saya agak terusik tanya, kenapa kumpulan ini dinamai kumpulam puisi Mazhab Kutub? Barangkali ”kandang menulis” milik Gus Zainal ini diniatkan sebagai kawah yang munclak-munclak bagi penulis-penulis muda yang gagal, seperti sitiran pada puisi ”Percakapan” karya Salman. Mungkin juga tidak. Tapi bukankah juga pemberontakan yang bertubi-tubi gagal atas diri kepenyairan dan ke-nggletekan sehari-hari merupakan proses panjang yang tak bertuan. Apa itu ”kegagahan dalam kemiskinan” seperti yang diomongkan Rendra? Sekedar untuk membela para penyair yang kebanyakan hidupnya menggelandang? Mungkin tidak ada muluk-muluk yang tersembunyi di dalamnya, pun cita-cita di sana. Cita-cita hanya milik orang-orang malas dan penurut, dan pembangkangan atas apa pun dalam proses kreatif serta ketumpulan-ketumpulan di dalamnya adalah suatu keniscayaan. Keniscayaan sebagai kegelisahan berkarya yang jika itu mati, matilah jati dirinya. Ini negeri, yang juga disesaki penyair-penyair bak di panggung ludruk raksasa, penuh dagelan, sok serius, kebanci-bancian, besar kepala, hipokrit, naif, dan penuh adegan perang main-mainan. Tapi di benak masing-masing juga terselip segala ketawa juga gosip dan gerundelan yang menguar dengan sendirinya atas nama puisi yang cuma tak lebih dongeng keabadian atau pelarian atau pencarian yang adalah omong kosong tapi tak kapok terus dimaknai.

Teman-teman Kutub boleh bikin anekdot sendiri dari merek yang bisa menjengkelkan maupun mengerdilkan. Boleh yang serius boleh yang asal-asalan. Tapi puisi mungkin hanyalah dongeng, dan mereka ini telah membuka pintu ”dunia dongeng” itu dengan tolabul ilmi di ”sekolah rakyat”-nya Gus Zainal. Sekolah rakyat dari pletikan kemanusiaan Gus Zainal yang bagi Emha sekolah rakyat yang demikian itu fungsinya, “ikut berproses, diproses dan memproses kehidupan: tak perlu dilebihkan atau dimatikan. Ia mungkin bersahaja, tapi tetap sesuatu. Ia misteri, bukan karena ‘kekaburan’nya, tapi justru karena ia bukan sekadar kata, ia suatu gerak kehidupan.” (“Sastra Dewa, Sastra Macan, Sastra Tank”, dalam majalah Tempo, 28 Agustus 1982).

Saya kadang berpikir, membikin puisi itu mudah, dengan bekal gairah yang direjang di air yang dididihkan, dengan katakanlah enteng-entengan membaca 50 kumpulan puisi penyair kesohor, dan bla-bla-bla, atau lantaran ditusuk cinta yang tak ketahuan juntrungnya: jadilah puisi, untuk selanjutnya si puisi akan menentukan nasibnya sendiri. Memang lebih kompleks membuat cerpen, esai, atau novel, yang membutuhkan pola berpikir terstruktur, sistemik dalam arti kedisiplinan tertentu yang dilatih secara intensif, perlu strategi teks, pembacaan ”dekat” dan pembacaan ”jauh”, intertekstualitas, dan tuntutan gagasan-gagasan baru agar si karya tidak terjebak pada kopi-paste, pengulangan-pengulangan, dan plagiat. Semua penulis bertarung dan dituntut jeli dalam memilah dan membikin analisis macam itu.

Penyair menghidupi puisi demi puisi itu sendiri. Dan penyair tak perlu menganggap penting apakah dirinya dihidupi atau tersungkur sebab puisi. Di sanalah penyair senantiasa diguyah tanya apalah yang berharga dari menulis puisi dan menulis puisi. Seperti tanpa sadar, segala yang disetiai di dalamnya menjelma ikhtiar meringkus diri untuk tujuan yang semua penyair harapkan demi menggodok proses kreatif itu hingga ke puncak. Bertahan, untuk seorang diri, untuk memilih jalan puisinya sendiri di balik sejarah panjang kesusastraan Indonesia. Seperti lukisan puisi berikut:

jalan-jalan setapak
menjadi jejak dan peta untuk keberangkatan seterusnya
aku kerap tersesat di sini, di pundak puisiku sendiri
(puisi “Malam Ketakutanku”, Bernando J.Sudjibto)

Penggalan puisi Bernando ini menyiratkan jalan panjang itu yang seolah diombang-ambingkan petualangan dalam meyakini puisi sebagai pilihan hidup. Barangkali di negeri inilah yang paling banyak melahirkan penulis puisi. Timbunan angka yang luar biasa kiranya dan itu menjadi pertanyaan besar bagi kita. Apakah mereka begitu menganggap penting memperjuangkan puisi di masa yang tidak berkepastian ini? Sungguh sebuah pilihan yang tak diminati banyak orang. Dan kini semua penyair, jika ingin dianggap dan dikenal, mau tak mau harus bertarung di media massa. Atau menerbitkan karyanya sendiri dengan berkorban menjual sapi atau apalah caranya. Demokratisasi sastra, misalnya wacana sastra koran, telah menjadi bagian sejarah kesusastraan kita yang tidak bisa lagi ditampik keberadaannya. Arus mengalir di sana. Anda bagaimana? Anda siapa dan berada di mana?

Maka, sejenak, lupakan yang tidak jelas, dan sekarang patutlah kita menyambut baik terbitnya kumpulan puisi Mazhab Kutub ini. Gaya puisi yang termuat di dalamnya memiliki daya ungkap masing-masing. Rata-rata bernuansa liris, sebagian deskriptif, dan ada pula yang kontemplatif dan romantis. Ada yang mengolah lokalitas, namun masih dalam upaya pencarian untuk menemukan kekuatan karakter kelokalitasannya. Bagi saya, individualitas dalam berkarya juga penting. Agar terhindar dari keseragaman tematik maupun pilihan estetik. Dan sebagai upaya rekam-jejak, beberapa puisi di kumpulan ini menyiratkan lanskap orang-orang Kutub, sebagai contoh pada beberapa penggalan puisi Muhammad Ali Faqih:

Perantau Di Jalur Bantul-Sleman
– untuk anak-anak kutub

mereka datang dari seberang yang jauh
dengan seribu bayang-bayang tentang kota tua

mereka datang dari masa silam
berbekal peluh dan impian

jalan ini senantiasa menjadi saksi
betapa hidup terasa asing

hari-hari mengalir begitu saja
bantul-sleman telah jadi halaman
atau catatan perjalanan
yang semoga tak hanya kekal dalam ingatan

Judul kumpulan puisi Mazhab Kutub ini tampak “keren” dan “wah” seperti ingin menggeber mencuatkan diri dalam percaturan perpuisian tanah air masa depan. Menyorong mazhab sendiri, gerombolan sendiri. Seakan-akan menyimpan semboyan dari pepatah suku Indian: “Berharaplah musuhmu bertambah kuat!” Lalu dengan siapa mereka mau berlawan bertanding mengacungkan parang dan senapan? Ah, lelucon apalagi ini. Mungkin saya salah-kaprah menyorotnya. Siapa nyana lelucon bisa menusuk mendobrak apa saja, bahwa kaum muda penyair masa kini sudah saatnnya membikin sejarah sendiri dan tidak terlimbur mengelap-elap kebesaran karya-karya masa lalu namun tetap menyelami renik-intinya. Mereka ini bisa saja memiliki “daya-dinaya” (istilah Nurel Javissyarqi) untuk melakukan sebuah “gerakan militan yang progresif” sebagaimana kaum muda-mudi Lekra dan kebaruan dalam berkarya.

Semoga sangkaan konyol saya ini hanyalah cas-cis-cus, bukan impen-impen Gus Zainal.
Salam.
Tabik!

—–
*Fahrudin Nasrulloh, bergiat di Komunitas Lembah Pring Jombang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez