Aguk Irawan Mn
http://langitan.net/
Tempo hari, saya menerima posting email dari Gus Acep (Acep Zamzam Noor) dan Kang Bunis (Sarabunis Mubarok) perihal acara “Silaturahmi Sastrawan Santri” yang diselanggarakan komunitas Azan dan Desantara di Tasikmalaya. Kendati saya bukanlah sastrawan-santri yang betulan, namun jujur, ketika membaca larik barisan sejumlah santri-sastrawan yang akan berkumpul pada tanggal itu, sambil membayangkan berjalannya acara, tiba-tiba saja ada sesuatu yang tertangkap oleh benak saya, sebuah kesan, yang cukup menggetarkan. Antara sedu, bahagia dan haru.
Betapa tidak?. Mendengar kabar ini, mungkin bagi siapapun pecinta sastra yang kebetulan lahir dari latar Pendidikan Pesantren akan menemukan perasaan sama, seperti yang saya alami. Kenapa? Paling tidak, menurut hemat saya dalam gejala kebudayaan dewasa ini yang sangat getir dengan berjubelnya penulis sastra seks perempuan yang melimpah, dan penulis fiksi islami yang hanya ‘kemasan’, mungkin kehadiran acara tersebut akan berusaha menjadi penyeimbang gejala yang kurang sedap ini. Selain kegiatan itu diharapkan bisa menawarkan interaksi pemikiran sekitar pemaknaan korelasi antara sastra religiusitas dan pluralisme budaya, yang saat ini sudah hampir menemui ajalnya, terkubur dalam perosok budaya yang busuk, dalam representasi perubahan yang terjadi di masyarakat saat ini, karena terpaan arus globalisasi.
Dan yang paling penting, mungkin acara tersebut sebagai salah satu usaha untuk melestarikan kekayaan dunia sastra Pesantren yang sudah lama membeku, dan sangat memerlukan penyegaran kembali. Dengan jalan ‘membuka diri’ dengan realitas di luar lingkungan Pesantren, sehingga mengarah pada kondisi bahwa eksistensi sastra Pesantren tidak sekadar untuk mendukung proses belajar-mengajar di lingkungan Pesantren, tetapi demi kebudayaan dalam arti yang cukup luas.
Sastra dalam Tradisi Pesantren dan Islam
Barangkali ada suatu pertanyaan yang ‘mengganjal’ dan perlu kita jawab bersama; kenapa sastrawan-santri yang lahir di Pesantren, hampir semuanya, bisa dipastikan, bukan berdiri dari hasil proses belajar mengajar di Pesantren, melainkan karena motif sastra, yang dikenalinya di luar dunia Pesantren? Padahal, bukankah Pesantren cukup mengajarkan apresiasi terhadap sastra, selain memang sudah menjadi tradisi para kiyai. Sejak dahulu, tradisi ilmu sastra di Pesantren diajarkan, untuk menyebut nama seperti kitab Siraj At-Talibin-nya Kyai Ihsan- Kediri, atau kitab Al-Miftah, Aroudl, Balagah, Ma’ani juga beberapa lainnya tersebut seperti bandongan, sorogan, dan wetonan, dan lain sebagainya. Bukankah ini sebagai bukti bahwa santri dan sastra cukup akrab bersahabat, tidak saja sekedar untuk memahami isi dan menangkap pesan di dalam kitabnya, melainkan untuk memproduksi sastra itu sendiri.
Mbah Hasyim Asy’ari mempunyai diwan dalam bahasa arab yang berhasil beritijalan (improvisasi) “Diwanu Asy’ari”. Mbah Hamid Pasuruan yang terkenal wali, juga seorang sastrawan yang aktif dengan menulis bahasa jawa-arab. Hadaratus Syaikh Imam Syafii “Dewan Asyafi’i” yang menceritakan banyak kisah petualangnya. Di kalangan ulama, selain Imam Syafi’i yang identik dengan ilmu fikih (hukum Islam), salah seorang Imam dari empat mazhab fikih, bersama Maliki, Hanafi, Hambali. Dari tangan Ibnu Hazm, ulama fiqh asal Spanyol, penulis buku fikih termashur Al Muhalla, tercipta puisi cinta yang luar biasa indah Tauqul Hamamah (Kalung Burung Merpati). Para penyair Islam non-ulama (fikih) antara lain Muizzi, Abu A’la Alma’ari, Hathim At Thai, Abu Nuwas Al Hani, Abu Faraj al Asfahani, hingga Syauqi Bey. Dari kalamgan sufi, orang tak akan melupakan Jalaludin Rumi, Hafiz, Attar, Al Hallaj, Rabiah al Adawiyah, Abu Yazid al Bustami, dan masa-masa subur para penyair sufi Islam pada abad ke 10-14.
Dalam tradisi Islam, khususnya pada masa perjuangan Nabi, sastrawan dan karyanya memiliki peran yang cukup penting. Saat perang Khandaq, Nabi Muhammad juga menyenandungkan berpuisi. Bahkan Nabi memberikan penghargaan kepada Ka’ab bin Zuhair yang membacakan puisi di depan Banat Su’ad. Tradisi berpuisi juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali. Lalu, tradisi ini berkembang sampai ke tangan kiyai dan Pesantren. Mungkin karena pentingnya sastra, sehingga dalam Alquran ada satu surat yang diberi nama Assyuara’ (Para Penyair).
Sastra Pesantren, Kemana Kini?
Namun, belakangan muncul stigma bahwa munculnya sastrawan-santri yang mumpuni, bukan akibat lurus dari wacana kesastraan di Pesantren, bukankah ini kondisi yang paradoks. Dan tentu kondisi demikian menyebabkan sastra di pesantren kurang berkembang, karena tidak mengarah pada apresiasi dan penciptaan seni bagi para santri itu, juga menyebabkan ‘kesulitan’ tersendiri bagi apresian di luar Pesantren untuk ikut ‘berkutat’ Ketika misalnya, kita menyebutkan nama-nama sastrawan yang berlatar pendidikan Pesantren seperti, Emha Ainun Najib, Jamaluddin Kafie, Hamid Jabbar, Acep Zamzam Noor, Ahmadun Yosie Herfanda, Abdul Hadi WM, Fudholi Zaini, Danarto, D Zawawi Imron, Kuntowijoyo, Ibrahim Sattah, Jamal D. Rahman, Mathori A Elwa, Ahmad Nurullah, Zainal Arifin Thoha, Syubbanuddin Alwy, Isbedy Stiawan ZS, Abidah El-Khalieqy, Hamdy Salad, dan tentu saja KH Mustofa Bisri, serta sederet nama-nama lain yang dalam banyak hal kita sepakati sebagai pengusung sastra bernafaskan spiritual, apakah benar mereka berproses kreatif, lahir dari hingar-bingar pendidikan Pesantren? Ternyata tidak. Mereka mampu berkembang pesat setelah mereka berinteraksi langsung dengan alam semesta, hiruk pikuk masyarakat, dan berbagai ketimpang-tindihan sosial. Prahara-prahara kehidupan yang realistis itulah yang mampu memberikan ide-ide kreatif dalam kepenulisan. Hal ini sulit ditemukan dalam lingkaran pesantren yang cenderung ‘adem-ayem’ dengan berbagai gejolak sosial.
Sementara fenomena lain menghentak khazanah sastra Nusantara, dan mengejutkan, fiksi Islami remaja, akhir-akhir ini, tidak dipelopori mereka yang secara formal berpendidikan Pesantren dan notabene “santri” tetapi pelopornya adalah remaja kota yang mengenyam pendidikan formal. Dan mereka ini, dalam jagad sastra dan tulis-menulis, telah mulai meninggalkan santri, jauh melesat sekali. Dan tentu saja fenomena ini telah membuat tak sedikit dari sekian juta masyarakat pesantren merasa “cemburu”.
Bagaimana bisa segelintir penulis remaja Muslim (yang kebetulan berdiam di wilayah) perkotaan itu telah mampu menebar hegemoni yang cukup kuat bagi tumbuh mekarnya sastra religius (Islam) di tengah horison buram kesusasteraan kita. Sehingga kita sah mengajukan sebuah soal; kemana sastra Pesantren kita? Bukankah, yang Pesantren seharusnya lebih ‘matang’ memahami seluk beluk Islam, ketimbang yang bukan? Bahkan seandainnya kita hubungkan dengan strategi kultural dalam berdakwah, bukankah santri lebih bisa dapat memanfaatkan karya sastra yang bernuansa spiritual dari pada mereka yang bukan?. Yaitu karya yang memancarkan kesadaran spiritual yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekarang ini yang cenderung terbius oleh nilai-nilai duniawi, kasat mata. Sehingga gerakan kultural dalam konteks ini dapat dijadikan sebagai upaya untuk mengimbangi gencarnya kampanye di berbagai lini media dan kehidupan yang mendewakan kehidupan duniawi itu. Dan hingga sekarangpun, rasanya Pesantren belum sepenuhnya dimanfaatkan dan memanfaatkan diri sebagai oase kesusasteraan yang mampu menebarkan rasa sejuk di tengah kegersangan dinamika sastra, khususnya– yang orang menamakan sastra Islami di Tanah Air, dengan ciri penyebutan beberapa metafor yang merujuk pada kekhasan Islam.
Barangkali dalam konteks demikian, serbuan pertanyaan yang bernada kegalauan seperti ini mampu dijawab oleh peserta “Silaturahmi Sastrawan Santri”. Selain memang, harus sebagai gugusan cahaya yang berusaha untuk senantiasa melesat menuju perubahan kebudayaan? Mengembalikan pesantren tidak hanya dalam disiplin wacana keagamaan, tetapi sebagai fasilitator proses kreatif sastra dan habitat budaya.
*) Pernah nyantri di Pesantren Langitan Tuban, dan belajar di al-Azhar Kairo, Mesir.http://langitan.net/?p=701
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Label
A Khoirul Anam
A. Khoirul Anam
A. Mustofa Bisri
A. Qorib Hidayatullah
A.C. Andre Tanama
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abd. Basid
Abdul Aziz
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar
Abdul Hadi W.M.
Abdul Rauf Singkil
Abdul Rosyid
Abdul Salam HS
Abdul Wachid B.S.
Abdullah Alawi
Abdurrahman Wahid
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abu Nawas
Acep Iwan Saidi
Acep Zamzam Noor
Ach. Tirmidzi Munahwan
Achmad Faesol
Adam Chiefni
Adhitya Ramadhan
Adi Mawardi
Adian Husaini
Aditya Ardi N
Ady Amar
Adzka Haniina Al Barri
AF. Tuasikal
Afrizal Malna
Afrizal Qosim
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus Buchori
Agus Fahri Husein
Agus Fathuddin Yusuf
Agus R. Sarjono
Agus Sulton
Agus Sunyoto
AH J Khuzaini
Ahmad Anshori
Ahmad Badrus Sholihin
Ahmad Baso
Ahmad Fatoni
Ahmad Hadidul Fahmi
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Khotim Muzakka
Ahmad Maltup SA
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Muhli Junaidi
Ahmad Syafii Maarif
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Tohari
Ahmad Y. Samantho
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ainur Rohim
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Sahal
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alang Khoiruddin
Alang Khoirudin
Ali Audah
Ali Mahmudi CH
Ali Rif’an
Aliansyah
Allamah Syaikh Dalhar
Alvi Puspita
AM Adhy Trisnanto
Ami Herman
Amien Wangsitalaja
Amin Hasan
Aminullah HA Noor
Amir Hamzah
Ammar Machmud
Andri Awan
Anindita S Thayf
Aning Ayu Kusuma
Anjar Nugroho
Anjrah Lelono Broto
Antari Setyowati
Anwar Nuris
Arafat Nur
Ariany Isnamurti
Arie MP Tamba
Arie Yani
Arif Hidayat
Arif Saifudin Yudistira
Arifin Hakim
Arman AZ
Arwan
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Juanda
Asep S. Bahri
Asep Sambodja
Asep Yayat
Asif Trisnani
Aswab Mahasin
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Azizah Hefni
Azwar Nazir
B Kunto Wibisono
Babe Derwan
Badrut Tamam Gaffas
Bale Aksara
Bandung Mawardi
Bastian Zulyeno
Bayu Agustari Adha
Beni Setia
Benny Benke
Berita
Berita Duka
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Brunel University London
Budaya
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budiawan Dwi Santoso
Buku Kritik Sastra
Candra Adikara Irawan
Capres dan Cawapres 2019
Catatan
Cawapres Jokowi
Cerpen
Chairil Anwar
Chairul Abhsar
Chairul Akhmad
Chamim Kohari
CNN Indonesia
Cucuk Espe
Cut Nanda A.
D Zawawi Imron
D. Dudu AR
Dahta Gautama
Damanhuri Zuhri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Danuji Ahmad
Dati Wahyuni
Dea Anugrah
Dea Ayu Ragilia
Dede Kurniawan
Dedik Priyanto
Den Rasyidi
Deni Jazuli
Denny JA
Denny Mizhar
Detti Febrina
Dewi Kartika
Dian Sukarno
Dian Wahyu Kusuma
Didi Purwadi
Dien Makmur
Din Saja
Djasepudin
Djauharul Bar
Djoko Pitono
Djoko Saryono
DM Ningsih
Doddy Hidayatullah
Donny Syofyan
Dr Afif Muhammad MA
Dr. Simuh
Dr. Yunasril Ali
Dudi Rustandi
Dwi Fitria
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dyah Ratna Meta Novia
E Tryar Dianto
Ecep Heryadi
Edeng Syamsul Ma’arif
Edy A Effendi
Edy Susanto
EH Ismail
Eka Budianta
Ekky Malaky
Eko Israhayu
Ellie R. Noer
Emha Ainun Nadjib
Esai
Esha Tegar Putra
Evi Melyati
Fachry Ali
Fahmi Faqih
Fahrudin Nasrulloh
Faisal Kamandobat
Faizal Af
Fajar Kurnianto
Fanani Rahman
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fazabinal Alim
Festival Literasi Nusantara
Festival Sastra Gresik
Festival Teater Religi
Forum Santri Nasional
Fuad Mardhatillah UY Tiba
Furqon Lapoa
Fuska Sani Evani
Geger Riyanto
Ghufron
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gugun El-Guyanie
Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin
Gus Dur
Gus Muwaffiq
Gusriyono
Gusti Grehenson
H Marjohan
H. Usep Romli H.M.
Habibullah
Hadi Napster
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hamka
Hammam Fathulloh
Hamzah Fansuri
Hamzah Sahal
Hamzah Tualeka Zn
Hanibal W.Y. Wijayanta
Hanum Fitriah
Haris del Hakim
Harri Ash Shiddiqie
Hartono Harimurti
Hary B. Kori’un
Hasan Basri Marwah
Hasnan Bachtiar
Hasyim Asy’ari
Helmy Prasetya
Hendra Makmur
Hepi Andi Bastoni
Heri Listianto
Heri Ruslan
Herry Lamongan
Herry Nurdi
Heru Kurniawan
Hilmi Abedillah
Hotnida Novita Sary
Hudan Hidayat
Husein Muhammad
I Nyoman Suaka
Ibn ‘Arabi (1165-1240)
Ibn Rusyd
Ibnu Sina
Ibnu Wahyudi
Idayati
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Ilham Yusardi
Imadi Daimah Ermasuri
Imam Hamidi Antassalam
Imam Khomeini
Imam Nawawi
Imam Nur Suharno
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Nasri
Imron Tohari
Indonesia O’Galelano
Indra Kurniawan
Indra Tjahyadi
Inung As
Irma Safitri
Isbedy Stiawan Z.S.
Istiyah
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
J Sumardianta
Jadid Al Farisy
Jalaluddin
Jalaluddin Rakhmat
Jamal Ma’mur Asmani
Jamaluddin Mohammad
Javed Paul Syatha
Jaya Suprana
Jember Gemar Membaca
Jo Batara Surya
Johan Wahyudi
John Halmahera
Joko Pinurbo
Joko Widodo
Joni Ariadinata
Jual Buku Paket Hemat
Junaidi
Jurnalisme Sastrawi
Jusuf AN
K. Muhamad Hakiki
K.H. A. Azis Masyhuri
K.H. Anwar Manshur
K.H. M. Najib Muhammad
K.H. Ma'ruf Amin
Kabar Pesantren
Kafiyatun Hasya
Kanjeng Tok
Kasnadi
Kazzaini Ks
KH Abdul Ghofur
KH. Irfan Hielmy
Khansa Arifah Adila
Khoirul Anwar
Khoirur Rizal Umami
Khoshshol Fairuz
Kiai Muzajjad
Kiki Mikail
Kitab Dalailul Khoirot
Kodirun
Komunitas Deo Gratias
Koskow
Kritik Sastra
Kurniawan
Kurtubi
Kuswaidi Syafi’ie
Kyai Maimun Zubair
Lan Fang
Larung Sastra
Leila S. Chudori
Linda S Priyatna
Linda Sarmili
Liza Wahyuninto
Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP
Lukman Asya
Lukman Santoso Az
M Arif Rohman Hakim
M Hari Atmoko
M Ismail
M Thobroni
M. Adnan Amal
M. Al Mustafad
M. Arwan Hamidi
M. Bashori Muchsin
M. Faizi
M. Hadi Bashori
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Mustafied
M. Nurdin
M. Yoesoef
M. Yunis
M.D. Atmaja
M.H. Abid
M.Harir Muzakki
M.S. Nugroho
M.Si
M’Shoe
Mahamuda
Mahdi Idris
Mahendra Cipta
Mahmud Jauhari Ali
Mahrus eL-Mawa
Mahwi Air Tawar
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mansur Muhammad
Marhalim Zaini
Maria Hartiningsih
Marjohan
Marsudi Fitro Wibowo
Martin van Bruinessen
Marzuki Wahid
Marzuzak SY
Masduri
Mashuri
Masjid Kordoba
Masuki M. Astro
Matroni
Matroni el-Moezany
Matroni Muserang
Mbah Dalhar
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Mh Zaelani Tammaka
Miftahul Ulum
Mila Novita
Mochtar Lubis
Moh. Ghufron Cholid
Mohamad Salim Aljufri
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Yamin
Muh. Khamdan
Muhajir Arrosyid
Muhammad Abdullah
Muhammad Affan Adzim
Muhammad Al-Fayyadl
Muhammad Ali Fakih AR
Muhammad Amin
Muhammad Anta Kusuma
Muhammad Ghannoe
Muhammad Idrus Djoge
Muhammad Itsbatun Najih
Muhammad Kosim
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Mukhlisin
Muhammad Quraish Shihab
Muhammad Subhan
Muhammad Wava Al-Hasani
Muhammad Yasir
Muhammad Yuanda Zara
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun AS
Muhyiddin
Mujtahid
Muktamar Sastra
Mulyadi SA
Munawar A. Djalil
Munawir Aziz
Musa Ismail
Musa Zainuddin
Muslim
Mustafa Ismail
Mustami’ tanpa Nama
Mustofa W Hasyim
Musyafak
Myrna Ratna
N. Mursidi
Nasaruddin Umar
Nashih Nashrullah
Naskah Teater
Nasruli Chusna
Nasrullah Thaleb
Nelson Alwi
Nevatuhella
Ngarto Februana
Nidia Zuraya
Ninuk Mardiana Pambudy
Nita Zakiyah
Nizar Qabbani
Nova Burhanuddin
Noval Jubbek
Nu’man ’Zeus’ Anggara
Nur Fauzan Ahmad
Nur Wahid
Nurcholish
Nurel Javissyarqi
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Orasi Budaya
Pangeran Diponegoro
Parimono V / 40 Plandi Jombang
PC. Lesbumi NU Babat
PDS H.B. Jassin
Pesantren Tebuireng
Pidato
Politik
Pondok Pesantren Al-Madienah
Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang
PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan
Pramoedya Ananta Toer
Prof. Dr. Nur Syam
Profil Ma'ruf Amin
Prosa
Puisi
Puji Hartanto
Puji Santosa
Pungkit Wijaya
Purwanto
Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
PUstaka puJAngga
Putera Maunaba
Putu Fajar Arcana
R. Ng. Ronggowarsito
Radhar Panca Dahana
Raedu Basha
Rahmat Sudirman
Rahmat Sularso Nh
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rakhmat Nur Hakim
Ramadhan Alyafi
Rameli Agam
Rasanrasan Boengaketji
Ratnaislamiati
Raudal Tanjung Banua
Reni Susanti
Resensi
Restoe Prawironegoro Ibrahim
Retno HY
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar
Rinto Andriono
Risa Umami
Riyadhus Shalihin
Riza Multazam Luthfy
Robin Al Kautsar
Rodli TL
Rohman Abdullah
S Yoga
S. Jai
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Saifuddin Syadiri
Saifudin
Saiful Amin Ghofur
Sainul Hermawan
Sajak
Salahuddin Wahid
Salamet Wahedi
Salman Faris
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sandiaga Uno
Sanggar Pasir
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian Nuraini
Sastra Pesantren
Sastrawan Pujangga Baru
Satmoko Budi Santoso
Satriwan
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
SelaSastra Boenga Ketjil
Sihar Ramses Simatupang
Sinopsis
Siswanto
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Muyassarotul Hafidzoh
Siti Sa’adah
Siwi Dwi Saputro
Slavoj Zizek
Snouck Hugronje
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
St Sularto
Suci Ayu Latifah
Sufyan al Jawi
Sugiarta Sriwibawa
Sulaiman Djaya
Sundari
Sungatno
Sunu Wasono
Surya Lesmana
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susringah
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardi
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyanto
Syaiful Amin
Syaifullah Amin
Syarif Hidayat Santoso
Syeikh Abdul Maalik
Syeikh Muhammad Nawawi
Syekh Abdurrahman Shiddiq
Syekh Sulaiman al Jazuli
Syi'ir
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Tiar Anwar Bachtiar
Tjahjono Widijanto
Tok Pulau Manis
Toko Buku PUstaka puJAngga
Tu-ngang Iskandar
Turita Indah Setyani
Umar Fauzi Ballah
Uniawati
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Usep Romli H.M.
Usman Arrumy
UU Hamidy
Viddy AD Daery
Virdika Rizky Utama
W.S. Rendra
Wa Ode Zainab Zilullah Toresano
Wahyu Aji
Walid Syaikhun
Wan Mohd. Shaghir Abdullah
Warung Boengaketjil
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Welly Adi Tirta
Wiwik Hastuti
Wiwik Hidayati
Wong Fei Hung
Y Alpriyanti
Yanti Mulatsih
Yanuar Widodo
Yanuar Yachya
Yayuk Widiati
Yeni Ratnaningsih
Yohanes Sehandi
Yopi Setia Umbara
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudi Latif
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Zaenal Abidin Riam
Zainal Arifin Thoha
Zainuddin Sugendal
Zakki Amali
Zehan Zareez
Tidak ada komentar:
Posting Komentar