Minggu, 22 Agustus 2010

Meratapi Pesantren “Pincang”

Judul Buku : Mata Air Inspirasi; Mengenang Pemikiran dan Tindakan KH. Zainal Arifin Thoha - Pendiri dan Pelopor Pesantren Mandiri.
Penulis : Joni Aridinata dkk.
Penerbit : Kutub, Yogyakarta
Cetakan : I Maret 2009
Tebal : xiii + 110 halaman
Peresensi : Muhammad Ghannoe*)
http://cawanaksara.blogspot.com/

Jauh sebelum pesantren meniti sejarah panjang di bumi Nusantara, Imam Ghozali telah lahir dan masyhur di kalangan umat Islam, bahkan bangsa Arab. Salah satu penopang kemasyhurannya adalah keputusan untuk istiqamah dan tekun merakit daya spiritualitas, intelektualitas dan profesionalitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Triple power yang terintegrasi dan digerakkan secara seimbang (tawazun) oleh Al Ghozali itulah yang hingga kini membawanya terbang melintasi ruang dan waktu.

Meski jasad dan ruhnya telah berpulang kepada Tuhan, nama dan pemikiran Al Ghozali tetap menggelitik umat manusia, tidak terkecuali para santri.Meski demikian, seberapa banyaknya umat Islam maupun non-Islam yang mengenang dan meniru paradigma Al Ghozali, tidak lepas dari triple power-nya yang tertuang dalam sejumlah kitab. Dari kedalaman karya-karya itulah umat manusia mengais informasi dan pemikiran tokoh muslim fenomenal ini. Bahkan, ada juga beberapa karya Al Ghozali yang hingga kini seakan menjadi buku wajib bagi para santri di pesantren-pesantren ketika mengkaji disiplin ilmu tertentu. Hanya saja, tidak sedikit kyai dan santri yang balik mereduksi ajaran Al Ghozali. Saking asyik-masyuknya mempelajari tulisan-tulisannya, mereka lupa terhadap salah satu ajaran yang hingga kini masih banyak yang belum menerap-praktikkan.

Adapun ajaran itu, tampak jelas dalam wasiat Al Ghozali terhadap murid-muridnya. Yakni,”Jikalau Anda bukan putera penguasa (mulk) dan bukan pula putera ulama’ ternama (masyhur atau besar), jadilah penulis”. Meski teks ini tampak mengelak dari putera-puteri (Jawa Timur: gus-ning) para ulama’ dan para raja atau presiden, namun tidak dimaksudkan untuk mendikotomi mereka. Ini dapat dipahami ketika membaca konteks wasiat tadi. Dengan kata lain, ketika Al Ghozali menganjurkan murid-muridnya menjadi penulis (mushonif), diantara mereka tidak ada yang berstatus sebagai anak raja maupun ulama’ besar. Sehingga, ketika wasiat disampaikan dengan wujud bahasa yang ada, tidak lain hanya sebagai penguat untuk diindahkannya wasiat itu. Jadi, wasiat itu sama artinya ditujukan kepada semua umat Islam, termasuk para Kyai dan Santri.

Tak pelak, dari wasiat itu, Al Ghozali tidak menginginkan adanya kemandegan ilmu yang dicecap umat Islam. Ilmu akan mengalami kevakuman manakala para penikmatnya enggan menyalurkan ilmu yang telah didapatkan. Sementara, mereka hanya merealisasikan kepasifannya dengan cara membaca lantas –mungkin- mempraktikkannya. Apakah nantinya keberadaan ilmu yang orisinal dari kitab-kitab itu mampu diwarisi anak cucu atau tidak, mereka tampak tak berfikir jauh. Padahal, hingga kini hanya Al Qur’anlah yang mendapat jaminan terselamatkan dari tangan-tangan jahil.

Sehingga, wasiat Al Ghozali untuk melanjutkan budaya menulis yang selama ini ditekuni oleh umat Islam perlu segera realisasikan. Dengan munculnya penulis-penulis baru yang bernafas Islami, muslimin-muslimat tidak akan mudah rapuh dalam menghadapi gemerlap perubahan zaman. Selagi tulisan-tulisan itu menjadi wakaf pendidikan untuk generasi Islam, dialog ilmu dengan zaman tidak akan njomplang (berat sebelah). Umat Islam akan melangkah secara sinergis-strategis. Selain itu juga berupaya memperbaiki kekurangan-kekurangan masa lalu demi terciptanya hablum minallah dan hablum minalmakhluq yang lebih baik.

Spirit Al Ghozali mengajak umat Islam untuk mengantisipasi adanya kemandegan ilmu itulah yang pernah diaktualisasikan KH. Zainal Arifin Thoha semasa hidup. Selain mengabdikan diri sebagai penulis, putera yang lahir di Kediri dan menetap di Yogyakarta ini juga mendorong santri dan kawan-kawannya untuk tidak mengabaikan budaya baca-tulis. Meskipun memiliki profesi atau keahlian yang lain, budaya menulis sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap orang lain atau generasi masa depan (rijalul ghod) perlu digalakkan. Seorang pembaca tidak seharusnya mengedepankan egoisme terhadap apa yang diperoleh dari bacaan dan pengalaman. Sifat “picik” dan enggan mempedulikan orang lain itulah yang perlu kita gerus dari budaya umat Islam.

Dalam buku ini, sejumlah penulis tampak memberi kesaksian terhadap pemikiran dan tindakan Gus Zainal –sebutan akrab- selama hidup. Para penulis yang selama ini pernah mengaku sebagai guru, kawan, sekaligus murid dari Gus Zainal ini menyajikan kajiannya terhadap sosok pendiri PPM. Hasyim Asy’ari yang wafat pada 14 Maret 2007 ini. Menurut para penulis, Gus Zainal kadang terasa wajib untuk disebut guru atau kyai. Ini terasa betul ketika penulis ditunjukkan dan diajari cara untuk membaca, menulis, dan menyikapi kehidupan yang lebih baik. Namun, Gus Zainal kadang juga pantas untuk sebut sebagai kawan, ketika bersama-sama dengan para penulis terjadi guyonan, sharing, dialog, debat dan lainnya. Tidak kalah menarik, kadang juga pantas disebut sebagai murid ketika ia menyebut dirinya sendiri sebagai “murid” dari para penulis karena belajar hal-hal lain dari penulis. Jadi, hubungan antara para penulis dan Gus Zainal seakan sulit untuk disebutkan; apakah berstatus sebagai murid (santri), kawan, guru, atau lawan dalam tataran gagasan?.

Meski demikian, keharmonisan hubungan mereka dengan Gus Zainal tampak tidak mengurangi kualitas kesaksian mereka. Salah satu kenangan menonjol dari mereka terhadap sosok Kyai yang meninggalkan satu istri dan lima anak ini adalah kiprah Gus Zainal dalam dunia kepesantrenan. Menurut para penulis, Kyai yang salah satu karyanya tertuang dalam buku Runtuhnya Singgasana Kyai ini, merupakan sosok yang unik. Selain sebagai pendiri dan pelopor berdirinya pesantren mandiri (PPM. Hasyim Asy’ari) di Yogyakarta, Gus Zainal memiliki gerakan yang luar biasa. Ia memiliki impian untuk mengembalikan kejayaan Islam melalui gerakan seni, budaya, politik dan ekonomi yang dimanifestasikan melalui budaya baca, tulis, retorika, dan kerja. Meskipun terlahir dari keluarga yang tergolong kecukupan dalam hal ekonomi, menurut Ny. Maya Veri Oktavia –istri beliau, Gus Zainal sama sekali enggan untuk meminta-minta orang tua. Begitu juga ketika menerima santri untuk dididik di Pondok, menurut Jamal Ma’mur Asmani, kyai sekaligus budayawan dan penyair ini sama sekali tidak memungut biaya dari santri. Semua orang yang ingin nyantri di pondoknya bebas dari biaya pendaftaran dan semacamnya. Menurut Muhammadun AS, selain para santri diajari pendidikan agama dan kemandirian, Gus Zainal tidak jarang membantu biaya hidup santri dan pendidikan mereka di perguruan tinggi.

Kesaksian semacam itu, juga diakui para penulis yang lain. Budayawan D. Zawawi Imron, misalnya, menulis bahwa Zainal adalah seorang anak muda yang hidupnya tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia ingin bermanfaat bagi banyak orang. Sementara, cerpenis dan redaktur majalah Horison Joni Ariadinata menulis, kecintaan Gus Zainal untuk ziarah ke kuburan (maqam) dapat diwariskan dan dijelaskan kepada santri dan kawan-kawannya. Uniknya, dalam menjelaskan, Gus Zainal cukup sederhana namun mengena. Sering, ketika dalam ziarah, Gus Zainal melakukan refleksi terhadap kehidupan orang yang diziarahi. Lantas, ia menutup refleksi dengan peringatan bahwa orang yang menziarahi pasti akan mati. Untuk itu, masih menurut Joni, Gus Zainal selalu mengajak kita untuk peduli dan meninggalkan sejarah yang paling baik.

Pesan Gus Zainal untuk peduli terhadap orang lain dan meninggalkan nama baik itulah yang selama ini menjadi mata air inspirasi para kawan dan santrinya hingga sekarang. Generasi bangsa harus memiliki kepedulian terhadap sesama manusia dan alam. Salah satu jalan untuk mewujudkan hal itu dapat melalui jalur pendidikan yang bersinar dari tulisan-tulisan.

PPM. Hasyim Asy’ari adalah salah satu media Gus Zainal yang digunakan untuk berjuang. Metode pendidikan yang ditekankan dalam pesantren yang pernah dikunjungi Gus Solah (pengasuh Pesantren Tebuireng) ini, adalah budaya membaca sekaligus menulis baik di media massa maupun buku. Menurut Gus Zainal -semasa hidup, budaya belajar (melalui membaca) tidak akan seimbang jika mengabaikan budaya menulis. Sehinga, antara budaya membaca dan menulis dapat dianalogikan dengan dua buah kaki manusia. Jika yang kaki satu hilang atau patah, jalannya kaki yang lain akan pincang (tertatih-tatih). Padahal, tidak semestinya pesantren sebagai institusi yang bergerak dijalur pendidikan itu berjalan pincang. Pesantren harus berjalan normal demi masa depan generasi Islam yang lebih baik.

Berbagai gagasan-gagasan unik Gus Zainal untuk mempraktikkan wasiat Al Ghozali itulah yang banyak disoroti para penulis dalam buku ini. Meski demikian, tidak sedikit diantara penulis yang menyoroti dari sudut pandang yang lain. Semisal kiprah Gus Zainal dalam dunia kebudayaan, kepenyairan, musik, perbukuan dan kehidupan sehari-hari lainnya.

Selain tergolong jenis buku yang langka, gagasan-gagasan yang terdapat dalam buku ini terasa baru dan masih segar. Ini sangat cocok untuk menjadi wacana baru dalam dunia kepesantrenan, kepenulisan, perbukuan, kesusastraan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Terlebih, latar belakang para penulis yang berangkat dari berbagai profesi, daerah, dan negara, semakin memantapkan pembaca untuk mereguk ide-ide di dalamnya.

*) Peresensi adalah Santri dan Kawan Gus Zainal serta Pendiri Perpustakaan Cawan Aksara Daerah Pati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez