Minggu, 22 Agustus 2010

Belajar Islam Kepada Pujangga

Ahmad Badrus Sholihin*
http://www.jawapos.com/

Jogjakarta, 30 Mei 2009, KH A. Mustofa Bisri menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Sebagaimana disebut dalam sambutan dekan Fakultas Adab, gelar ini adalah penghargaan atas jasa-jasa Gus Mus dalam mengembangkan ilmu kebudayaan Islam lewat kerja-kerja nyata. Karya-karyanya dinilai menyuarakan Islam yang menyejukkan, Islam yang mengentaskan, Islam yang mengayomi, Islam yang membebaskan, dan Islam yang mencerahkan.

Setiap orang yang mengenal Gus Mus, baik secara langsung maupun hanya melalui karya-karyanya, akan sepakat dengan pendapat di atas. Bahkan, seperti yang diutarakan Emha Ainun Nadjib, gelar itu terlalu kecil untuk memberi harga bagi jasa-jasa Gus Mus yang sedemikian besar, tidak hanya bagi umat Islam tapi juga bagi bangsa Indonesia.

Di tengah pusaran zaman yang mengantar para pemimpin berlomba-lomba berebut kekuasaan politik, Gus Mus masih tetap sabar dan setia berdiri di pinggir mengurus soal-soal kebudayaan. Sebagai kiai, penyair, seniman, dan budayawan, sampai sekarang Gus Mus masih tekun menulis esai, mencipta puisi dan cerpen, melukis, berceramah, dan mengasuh pondok pesantren. Sebagaimana dulu saat Orde Baru berjaya, dia berjuang bahu-membahu bersama para penegak demokrasi dan HAM membela nasib rakyat kecil yang selalu menjadi korban pembangunan.

Buku Gus Mus, Satu Rumah Seribu Pintu ini, dengan segala keterbatasannya, berusaha merekam jejak-jejak langkah itu. Sebagaimana tajuknya, buku ini adalah kumpulan tulisan dari 29 orang yang dianggap paling dekat dengan Gus Mus, secara biologis, pertemanan, maupun pemikiran. Masing-masing mengungkapkan kesan dan penilaian terhadap sosok pribadi dan karya-karya sang tokoh. Beberapa menuliskan kritik sastra terhadap puisi dan cerpennya. Yang lain berkisah tentang pengalaman-pengalaman intim bersamanya. Ada juga yang menelaah pemikiran-pemikirannya seputar soal keagamaan dan kebangsaan.

Perihal kepenyairan, dengan membaca beberapa puisi Gus Mus, Jamal D. Rahman menemukan pada diri Gus Mus sosok ulama dan penyair bersatu secara paripurna. Puisi-puisinya merefleksikan pertemuan kesadaran religius dan bangunan intuitif pada satu titik: dia bersifat sangat personal sekaligus sosial. Pada puisinya yang paling sunyi sekalipun, seperti Sajak Putih Buat Kekasih dan Seporsi Cinta, kita akan tetap merasakan dimensi sosial yang hendak diperjuangkan. Dengan kata lain, Gus Mus telah menghadirkan angin segar dalam blantika sastra Indonesia. Puisi-puisinya adalah suara kritis dari pedalaman pesantren, terdengar nyaring, keras, religius, namun juga jenaka (hlm. 30).

Sedangkan Maman S. Mahayana mencermati beberapa cerpen Gus Mus sebagai representasi dari realitas masyarakat (Islam-pesantren) yang hidup dengan segala sistem kepercayaannya. Menurut Maman, kehadiran cerpen-cerpen Gus Mus tidak sekadar memperkaya tema cerpen Indonesia, tetapi juga menawarkan pandangan baru tentang terjadinya pergeseran peran kiai. Hal ini bisa kita baca pada cerpen Lukisan Kaligrafi, Ngelmu Sigar Rasa, dan Gus Jakfar. Di dalamnya terdapat sebuah pertanyaan besar: di manakah peranan para kiai hendak ditempatkan ketika zaman telah berubah dan kehidupan politik ikut mempengaruhi perilaku masyarakat? (hlm. 41).

Tentang ke-ulama-an Gus Mus, mungkin tak ada satu orang pun yang hendak mempertanyakan. Dalam pandangan Acep Zamzam Noor, tak banyak tokoh NU yang unik dan lengkap seperti Gus Mus. Konfigurasi iman, akal, dan rasa menyatu dalam dirinya. Bahkan, Acep berani berkhayal seandainya tokoh-tokoh NU semuanya santai seperti Gus Mus, mungkin Indonesia akan aman. Mungkin jamiyah NU akan tenang dan damai. Mungkin politisi NU tidak akan kampungan dan kekanak-kanakan. Tapi sayangnya, masih menurut Acep, posisi seperti yang dipilih Gus Mus bukanlah posisi yang seksi di mata anak-anak muda NU. Mereka lebih tertarik terjun ke dunia politik praktis (hlm. 127).

Lebih jauh lagi, Goenawan Mohamad menilai Gus Mus sangat dekat dengan apa yang disebutnya sebagai ”etika kedlaifan”. Ini tercermin dari perkataan Gus Mus dalam sebuah wawancara: ”Saya khawatir terhadap orang yang merasa sudah sempurna, lalu menganggap yang lain jahanam semua. Ini malah berbahaya. Orang yang memutlakkan diri sendiri itu sudah syirik, minimal syirik samar, karena yang mutlak benar itu hanya Allah.”

Bagi Goenawan, Gus Mus berbicara tentang hubungan antara manusia dan kebenaran, tidak sebagai sesuatu yang mutlak. Dia selalu mengingatkan bahwa Kebenaran hanya datang dalam wahyu, sesuatu yang dahsyat, sesuatu yang menyebabkan pingsan, dan ketika bangun, si pingsan berubah, bersetia kepada apa yang ditinggalkan kebenaran itu. Tapi jejak adalah jejak: sesuatu yang dikonstruksikan oleh yang datang kemudian. Orang sering lupa bahwa ada jarak antara ”jejak kebenaran” dan ”kebenaran” itu sendiri (hlm. 182).

Di sinilah kita menjadi sadar, di balik kebesarannya, Gus Mus hanyalah manusia biasa. Buku ini menyuguhkan pengalaman-pengalaman unik yang hanya mungkin dikisahkan oleh orang-orang yang benar-benar dekat dengannya. Seperti puisi Taufiq Ismail yang bercerita tentang pengalamannya bersama Gus Mus menghadiri Festival Puisi Mirbid di Iraq pada 1989. Di dalam puisi ini kita bertemu dengan kehangatan persahabatan antara Gus Mus, Taufiq, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM., Leon Agusta, dan Hamid Jabbar, lengkap dengan berbagai kisah lucu dan kekonyolan masing-masing.

Ada juga kisah Zawawi Imron, yang pada pertengahan 2008 diajak Gus Mus berkeliling Timur Tengah tanpa membayar ongkos sepeser pun. Saat makan bersama di sebuah hotel di Madinah, Gus Mus yang datang belakangan mengambilkan air minum untuk Zawawi yang sudah duduk makan lebih awal tapi lupa air minum. Zawawi benar-benar terkesan karena dirinya sebagai murid diperlakukan dengan demikian terhormat oleh sang guru.

Yang paling menarik adalah apa yang diceritakan Ienas Tsuroiyya, putri sulung Gus Mus yang juga istri Ulil Absar Abdalla. Dalam kisah Ienas kita diperkenalkan akan sosok Gus Mus sebagai seorang ayah yang bisa menjadi sahabat bagi seluruh anggota keluarganya. Dalam hal perjodohan putra-putrinya, misalnya, Gus Mus sangat demokratis. Dia mempersilakan putrinya memilih dan memutuskan sendiri calon suaminya, suatu hal yang langka di dunia pesantren.

Akhirnya, buku ini memang tidak mungkin menghadirkan gambaran yang utuh tentang sosok Gus Mus. Bahkan, 99 persen hanya menggambarkan sisi baik Gus Mus, atau dengan kata lain hanya memuji. Meskipun demikian, di balik minimnya kritik, kita tetap mendapatkan banyak hal yang memang layak untuk kita pelajari dan teladani di tengah keterpurukan bangsa tercinta ini. Di tengah kecamuk politik yang semakin hari semakin memanas, bangsa ini membutuhkan oase untuk menyegarkan diri: pujangga yang konsisten menjaga jarak dengan politik demi memelihara keutuhan bangsa. Adakah yang lebih indah daripada sosok kiai yang mengisi ceramah keagamaannya dengan membaca cerpen dan puisi? Sedangkan di tempat lain kita masih sering bertemu orang-orang yang memekikkan ”Allahu Akbar” dengan penuh kebencian. (*)


Judul Buku : Gus Mus, Satu Rumah Seribu Pintu
Penulis : Goenawan Mohamad dkk.
Penyunting : Labibah Zain dan Lathiful Khuluq
Penerbit : LKIS, Jogjakarta
Cetakan I : Mei 2009
Tebal : xxii + 282 halaman

*) Mantan ketua Senat Mahasiswa Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta periode 2005-2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez