Memuat...

Minggu, 15 April 2012

JADZAB

Usman Arrumy
http://sastra-indonesia.com/

Jadzab, di dalam istilah tasawuf adalah suatu maqom atau keadaan di luar kesadaran seseorang, atau bahkan, sudah tidak tertaklif secara syariat? kali ini saya hendak mengawalinya dengan asal-usul lafadz JADZAB terlebih dahulu, bahwa di dalam kamus bahasa arab mula dari JADZAB adalah – Jadzaba-Yajdzibu-Jadzban – yang berarti mempunyai makna ”menarik”, sementara obyek atau maf’ulnya adalah majdzub yang berarti mengandung makna tertarik, di dalam istilah sufi, biasanya jadzab di gunakan terhadap situasi bagi seseorang yang sedang mengalami (khoriqul adat) atau jenis yang lain,
seperti nyleneh, keluar dari adat kebiasaan umum, atau mungkin bisa di kategorikan orang gila yang berkeramat, di katakan gila sebab munculnya pemahaman bahwa jadzab adalah hilangnya keumuman secara manusia, tentu beda dengan arti dari gila sendiri, sebab gila di dalam bahasa arabnya adalah Junna- Junuunan – gila- atau, Janna-Yajunnu-Jannan – yang artinya menutup- .Secara etimologis, jadzdzaab adalah bentuk superlatif ( mubalaghah) dari kata jadzaba, yang artinya “;menarik”;, dan dalam format superlatif dapat diartikan “;sangat menarik”;. Dalam terminologi pesantren, ia sering digunakan dalam konteks pengalaman batin dan pemahaman seseorang yang dimanifestasikan dalam perbuatan dan kata yang kurang dapat dipahami oleh publik.

namun di sini, saya tidak hendak memperpanjang pembahasan tentang jadzab versi sufi, sebab saya- secara pribadi – hendak membahas jadzab dengan melibatkan Antologi Puisi Lintas Pesantren yang baru terbit beberapa waktu yang lalu, tentang sebuah puisi yang di tulis oleh 17 santri di jawa, Antologi yang merangkum 128 puisi yang muncul dari telaga yang wujudnya adalah pesantren, sebuah perjalanan dari angan ke fikiran, dari lamun ke renungan, hingga menjadi satu titik, titik luruh jadi huruf, huruf menjelma kata, kata di kutuk menjadi bahasa, sampai tercipta sebagai puisi.

mekanisme yang terjadi selanjutnya adalah proses menuju suatu tikungan, tikungan yang menyimpan beragam karya sastra, justru muncul dari sekelompok orang yang lahir dari pesantren, atau yang lebih di kenal dengan santri, sebab pada kenyataanya, riwayat yang secara umum muncul dari pesantren adalah santri hanya bisa khotbah, tausyiah, dan sejenisnya yang intinya hanya bersentuhan dengan kitab kuning, pendek kata, santri ya hanya ngaji. padahal, jika mau me-replay sejenak bagaimana di dalam pesantren ternyata paling dasar yang di ajarkan adalah sastra, kita lihat, pertama jurumiyah, menerangkan tentang dasar pengenalan bahasa, apalagi jika sudah merambah ke wilayah imriti? bahkan alfiyah? atau uqudul juman bahkan mantiq?

tentu dari sini, pemahaman di atas bisa menjadi konklusi bahwa 17 santri tersebut diamdiam mematahkan beragam anggapan dari luar dengan cara membuat buku yang seluruhnya adalah puisi, mereka seakan ingin menampilkan kepada publik bahwa ternyata santri juga bisa berpuisi dan memuisi, kalau ternyata di dalam pesantren juga mengenal seni, lebih jelas lagi, santri juga bisa menjadi penyair.

kembali lagi kepada pembahasan awal, JADZAB, sebuah judul dari buku yang secara implisit mengambil dari salah satu judul puisi di dalam buku tersebut, barangkali menyimpan esensi dari seluruh puisi yang di suguhkan oleh 17 santri tersebut, jika di pertanyakan, mengapa musti di beri judul JADZAB? sebagaimana yang tertulis di atas, arti dari substansi kata JADZAB: gila! dalam pada itu, gila dengan artian ketidakwarasan menulis kata sehingga yang muncul adalah berbeda dari yang lainnya, keanehan yang bertubitubi melanda para santri itulah yang mendasari terciptanya puisi, oleh karenanya, buku JADZAB itu mengambil posisi strategis di atas panggung sastra sebagai puisi yang keberadaannya adalah nyleneh, memang, estetika yang di pergunakan di seluruh puisi tersebut hanya sebatas hurufhuruf biasa, bahkan terlihat norak, tapi dari situ keanehan muncul justru dengan makna yang terkandung di dalamnya, sebab pada dasarnya, keindahan kata macam bagaimana yang mampu memikat seseorang jika ternyata hanya sebuah susunan huruf tanpa ada makna, iya tentu, keindahan kata hanya hiasan dari makna yang tersimpan di dalamnya, tidak lebih!

penekanan kata dan makna dari buku jadzab itu sendiri sebetulnya terdapat pada nilai religiusnya, tidak mengedepankan estetika atau kaidah tertentu dari pengertian puisi, namun tidak rela jika hanya di katakan tulisan biasa, sebab pada kelayakan sebagai puisi, buku JADZAB muncul dari perasaan, lebih dari itu, sejujurnya buku ini memang endapan dari pemikiran para santri, oleh sebabnya, gramatikal yang di gunakan kebanyakan menjurus pada khas keklasikan santri, namun simetris.

secara kenyataan, puisi dan santri memiliki relasi estetis, di antara keduanya di temukan dimensi esoteris yang menjadi kekuatan ruh di berbagai keseluruhan aktivitas, Belum lagi secara geneologis, kalau kita telisik akar susastra santri yang terkonstruk melalui tradisi Diba’an, maka akan kentara betul kedekatan pesantern dengan kultur sastrawi. Pembacaan antologi puisi karya Abdurrahman Ad-Dayba’ie ini hampir menjadi ritual yang dilakukan seminggu sekali oleh masyarakat pesantren. Diba’, bahkan secara magis-mistis, dianggap sebagai doa untuk penyembuhan dan ritus formal untuk keselamatan. Deskripsi di atas, paling tidak telah memunculkan ”tesis” betapa eratnya kaitan tradisi keilmuan pesantren dengan secangkir puisi, lalu menjadi embrio positif apa yang kemudian dikenal dengan istilah sastra pesantren.

itulah barangkali substansi etis yang hendak di tampilkan 17 santri dengan buku JADZAB-nya, meski banyak bertebaran di antara puisi di dalamnya yang mengandung kesan paradoks dan ambigu, namun di situlah keunikannya, tanpa memainkan unsur metafora dan nilai hiperbola, puisi tak ubahnya obrolan ringan para santri saat mengadakan ritual tetapnya: ngopi.

di dalam sampul buku JADZAB tertulis (sekumpulan sajak pesantren), ini tentu setidaknya akan meruncingkan persoalan antara pengertian SAJAK dan PUISI, sebab di dalam kata pengantar yang di tulis Dr. Suwardi Endraswara ada kata yang menyebutkan puisi, berarti kontradiksi secara redaksional? bagiku tidak. kalau begitu, saya hendak membahas keduanya.

saya hendak mengawali definisi puisi terlebih dahulu, menurutku secara pribadi, puisi adalah pembebasan perasaan yang di gubah melalui ungkapan dan di serat menjadi tulisan, lebih banyak menggunakan kata imajinatif yang di padatkan dari cerita panjangnya, suatu pikiran yang memusat dari seluruh struktur batin, bersifat emosional dengan menggunakan bahasa yang artistik menurut keadaan, pendek kata, jika puisi itu harus di definisikan berarti definisi puisi sebanyak orang yang mendefinisikan puisi itu sendiri, oleh karena itu, barangkali anda mempunyai definisi puisi secara privacy tanpa mengikut sertakan kaidah yang ada, dan itu, sah-sah saja, sebab jika harus di lebarkan pengertian puisi itu maka puisi sangat mengejawantah, ada puisi lama yang gaya bahasanya itu statis dan klise, juga ada puisi baru yang gaya bahasanya itu dinamis, namun di dalam seluruh pengertian puisi menurutku keberadaannya tidak terikat oleh jumlah baris dan rima dan matra dan irama, sebab puisi secara gholib, adalah individualitas sikap dari seseorang, fragmen dari pengalaman atau tikaian dramatik yang tanpa batas, di dalam puisi sendiri ada estetika atau di mustikan mempunyai arti semantiknya, namun, ku sadarkan, buku JADZAB ini telah mengalami berbagai proses yang tidak wajar, itulah sebabnya jika wujudnya juga aneh, aneh dalam arti beda dari keumuman, jika di perluas lagi, puisi adalah penyampaian isi hati yang muncul sebab keadaan tertentu, berdasarkan itu, maka akan timbul ekspreksi yang berfungsi untuk memilih diksi, auditif, visual dan imaji taktil guna menampilkan di dalam kata.

puisi, sebagai wahana untuk mengungkap perasaan, di dalam majas atau metafora yang di bentuk menjadi kata, personifikasi atau eufemisme atau paradoks yang selanjutnya adalah sebagai gaya bahasa puisi bagi masingmasing orang, di luar pembahasan itu semua, di butuhkan suatu pemusatan pikiran untuk mencapai suatu keadaan yang di awali dengan sense lalu feliing, tone dan itention, mungkin kucukupkan sampai sini dulu, sebab jika di paksa untuk membahas masalah puisi saja, butuh kolom tertentu untuk merampungkannya, oleh sebabnya, meski penjabaran di atas mungkin belum sangat mewakili pengertian puisi secara kaffah, namun dari sini pula, paling tidak ada gambaran sedikit tentang pengertian puisi, padahal belum lagi membahas jenis puisi secara kaidah dan bahkan belum sempat mengisahkan asal dari kata ”puisi” itu sendiri, mungkin lain waktu kita bahas. insya allah…

yang kedua yaitu sajak, sebetulnya tidak jauh beda dengan puisi, sebab keduanya mempunyai unsur yang sama dari hukum awal: pembebasan perasaan. namun sajak lebih mengedepankan esensi perasaan itu sendiri, berarti lebih luas ketimbang puisi, biasanya sajak di sandarkan pada distikon, kuatren dan sekstet untuk mewujudkannya, dalam pada itu, ketiganya bisa lenyap jika ikatan emosioal seseorang melebihi standard umum, itulah yang terjadi dalam buku JADZAB ini, tanpa ada kaidah yang mengikatnya sehingga menjadi nyleneh.

berbicara tentang sajak, berarti mengacu terhadap perasaan, apapun bentuknya, tidak harus indah, sebab perasaanlah yang akan membahasakannya, sesuai pengalaman empirik seseorang dalam upaya mewujudkannya menjadi kata, di dalam sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir, lebih mengaitkan sintaksis dan akustis secara berbarengan, tegasnya, sajak adalah sebuah aktivitas yang bersifat sugestif dan asosiatif.

selanjutnya, buku JADZAB ini secara eksplisit, hendak mempersembahkan sebuah karya yang terbit dari pesantren, barangkali berangkat dari sini, buku JADZAB ini di harapkan menjadi tolak ukur kemampuan santri di wilayah sasta indonesia, meski di sadari, buku ini belum sepenuhnya mampu mewakili seluruh pesantren di jawa, namun setidaknya bisa menjadi oase bagi para santri khususnya untuk sejenak menyimak bahwa di dalam buku JADZAB ada benda yang berbentuk puisi yang lalu di jadikan sebagai renungan, ada santri yang mencoba tampil di depan publik, tanpa bermaksut mencari intregitas untuk menjadi penyair, sesuai dengan judulnya: JADZAB. apakah penulisnya se-JADZAB judulnya? apakah sajaknya sesuai dengan cover bukunya? atau bahkan JADZAB hanya sebagai judul belaka yang di ambil dari puisi yang ada di dalamnya? seluruh pertanyaan itu tidak akan terjawab dengan tuntas sampai kapanpun jika anda belum sempat membaca dan menyimak dan memahami seluruhnya puisi tersebut.

ini saya tampilkan puisi JADZAB di dalam Antologi JADZAB:

Jadzab

dia menyendiri dengan dzat yang maha sepi
dia menyatu dengan dzat yang maha satu
dia menepi dengan dzat yang maha sunyi
dia merindukan sang cinta
demikianlah…
ku lihat dia bertapa atas dunia
duniapun muak melihatnya
maka, dia meninggalkan dirinya sendiri
dari orang-orang menyendiri

demi bisa mendapat kebahagiaan haqiqi
rela dia dianggap tidak waras
demi bisa mencapai ridhonya
rela dia melepas kemewahan
demi bisa menggapai ihlas
rela dia menyembunyikan jubah kesufianya
kadang dia menyamar agar disangka sampah belukar
kadang dia berpakaian tak rapi agar tidak dikenali
kadang dia berpenampilan ngawur agar disangka amburadul
kadang dia pengayak padi juga penjual roti
agar sifat wali dan sufi tidak diketahui
demi apa dan siapa saja
rela dia merahasiakan segala apa dan siapa saja
pendek kata, kadang dia seperti wong edan

sesekali dia terbang meninggi menyendiri
dan menanggung segala resiko seorang diri
lalu khouf dan roja’ adalah dua sayap untuk berpasrah diri
agar terpisah dari nafsu dan perasaan hati
hingga dia mentalak dirinya sendiri
maka dia bukanlah muhrim bagi dunia
hingga diapun haram untuk menyentuhnya
baginya…semua yang tersaji di dunia
hanyalah bangkai-bangkai yang terserak di comberan

yang lain menganggapnya telah kufur
sebenarnya dia tenggelam dalam syukur
yang lain menduga mendengkur
sebenarnya dia terapung di laut tafakkur
yang lain mengira kafir
sebenarnya dia larut dalam sunyatnya dzikir
yang lain menduga murtad
sebenarnya dia mencuat dalam hakekat
yang lain mengira bejat
sebenarnya dia sedang munajat
yang lain mengira tersesat
sebenarnya dia menyelam dalam telaga kholwat
yang lain mengira hatinya goyah
sebenarnya dia sedang uzlah
yang lain menduga zina
sebenarnya dia lebur dalam fana
yang lain mengira gila
sebenarnya dia sedang bercinta
yang lain berprasangka hatinya redup tertutup kabut
hakekatnya dia qutub
dia khumul yang mengalami hulul sehingga menjadi wusul
mereka semua mengatakan dia terhijab
padahal dia sedang tengelam dalam jadzab
dia pun berbisik; aku tak peduli…

1 APRIL 2012. Jogoloyo Demak
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150643506901777

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut