Memuat...

Senin, 27 September 2010

Sastra Islam versus Penyempitan Ilmu Islam

http://gusdurian.net/
Majalah Horison, 7/1984

Wawancara Abdurrahman Wahid, sang kiai dari Ciganjur, dengan Hardi, wartawan Majalah Horison. Tulisan ini masih sangat relevan bagi kita, untuk mengkaji gugus pemikiran Gus Dur. Terutama dalam hal dialektika antara Islam sebagai sebuah agama, dengan Islam sebagai sebuah hasil kebudaayaan. Dengan membaca ini, –meski dalam pandangan saya materi wawancara lebih bisa diperdalam,– setidaknya ada pintu masuk bagi kita untuk mempelajari setiap perca pemikiran sang cucu Hadlratusy-Syaikh Hasyim Asy’arie tersebut. (Saiful Amien Sholihin)

Kamis, 23 September 2010

Objek Wisata Kematian

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Hari ini, Lurah Desa Luruh Indon mengumpulkan para bawahannya. Pak Lurah, katanya sedang memikirkan rencana besar bagi seluruh warganya. Rencana yang akan menjadi monumental atas pernghargaan pahlawan di peringatan tujuh-belasan nanti. Untuk memperingati hari jadi Kelurahan Luruh Indon itu, pihak pemerintah sudah menyediakan dana 180 milyar. Menurut beberapa pengamat pemerintahan, dana itu terlalu besar untuk membuat monumental peringatan kebangsaan-desa. Sebab, menurut pengamat yang sering duduk-duduk di warung kopi itu, dana sebesar itu terlalu besar kalau hanya untuk membuat monumen. Apalagi, menurut mereka, dana yang 180 milyar itu akan digunakan untuk pemugaran makam seorang mantan Lurah di kelurahan Luruh Indon.

“Kalau mau mengenang jasa-jasa beliau, ya, caranya tidak dengan begitu.” Ucap seorang pengamat satu di sebuah warung kopi. “Ya, dengan melaksanakan apa yang pernah diajarkan beliau tentang kemanusiaan dan pemerintahan yang memanusiakan manusia.”

“Lha, kalau itu idealnya. Kalau menjalankan ajaran lebih menghargai beliau sebagai pahlawan.” Ungkap seorang pengamat nomor dua sambil memuntahkan asap yang mengepul tebal.

Dhimas Gathuk mengamati dua pengamat yang saling bercakap itu. Dia sebisa mungkin ikut menyimak obrolan ahli pemerintahan yang ketika itu kebetulan singgah di warung kopi sebelum ikut menyaksikan pemugaran makam sang Mantan Lurah.

“Secara simbolis, melakukan pemugaran makam, sebagai bentuk penghargaan juga tidak salah.” Ucap seorang pengamat nomor tiga, “180 Milyar itu kecil kalau digunakan untuk penghormatan seorang pahlawan. Jasa-jasa Pak Mantan Lurah juga patut kita pandang. Beliau itu juga Guru Kelurahan. Cendekiawan dari pesantren dan bercita luhur membangun bangsa.”

“Kalau misal Pak Mantan Lurah itu dulu hanya ada di pesantrennya saja, mungkin tidak akan dihadiahi makan semahal ini, ya.” Sahut pengamat nomor dua.

“Lalu siapa dia saat itu?” pengamat nomor tiga menyahuti dengan cepat. “Lha bisa menjadi Guru Kelurahan itu karena pengabdian beliau pada Kelurahan Luruh Indon ini.”

“Walau pun, Beliau sendiri sudah menjadi seorang guru sebelum menjabat Lurah waktu lalu. Kenapa ya, kalau kita pernah menjabat tapuk pimpinan atas lalu banyak orang yang mengelu-elukan. Membingkiskan makan semahal itu. Padahal, di bawah sana, ada banyak juga yang telah berjasa bagi Kelurahan dengan caranya.”

“Namanya juga seorang pemimpin!” sahut Pengamat nomor dua pada pengamat nomor satu dan tiga.

Mereka bertiga tidak menyadari, ada pengamat nomor empat yang tidak pernah disorot media. Berbekal kemampuan dalam melihat permasalahan seobjektif mungkin, pengamat nomor empat ini terus mengawasi. Meneliti dari setiap gerakan yang nampak dan tidak nampak. Dia adalah Dhimas Gathuk, saudara muda dari Kakang Gothak. Atau mungkin, karena hanya Gothak dan Gathuk itu sehingga hasil pengamatannya tidak pernah dipandang oleh mereka akademisi di pemerintahan.

“Cukup mendebarkan juga rencana Pemerintah kita ini. Melangkah dengan bangga, menawarkan uang yang tidak sedikit untuk memugar makan seorang Mantan Lurah. Apa Pak Mantan Lurah masih bisa tersenyum ya melihat rencana pemugaran ini?” ungkap pengamat nomor dua.

“Memang masih bisa bangga?” pengamat nomor satu menyahuti dengan alangkah lugunya.
Pengamat nomor dua pun akhirnya tertawa renyah sambil menggelengkan kepala. Dengan sudut mata yang tajam, dia melihat ke arah pengamat nomor tiga karena selama ini, pengamat yang satu ini memang terkenal dalam membela setiap keputusan Pak Lurah Bye.

“Untuk apa juga beliau menginginkan makam yang indah itu? Apa manfaatnya bagi yang sudah mati dan juga untuk yang masih hidup?” ungkap si pengamat nomor dua.

“Kalau ini terlaksana dengan baik,” pengamat nomor tiga mulai menjelaskan nilai positif dari pemugaran makam Pak Mantan Lurah, “banyak orang yang akan kadang. Mereka akan mendoakan Pak Mantan Lurah yang sudah berjasa besar untuk pembangunan Kelurahan Luruh Indon kita ini. Bisa juga menjadi tempat wisata, bagi setiap peziarah yang ingin ke sana. Yah, bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitar makam. Juga, makam akan lebih terawat karena menjadi monumen seorang Guru Kelurahan.”

“Ah, toh juga selama ini, sudah banyak peziarah yang berdatangan. Makan yang sederhana namun lebih memiliki nilai spiritual dan religi yang lebih agung.” Ungkap pengamat nomor dua yang mencoba menolak pendapat rekannya.

“Nah, ini juga menjadi keunggulan yang lebih menguntungkan semua pihak. Tempat ini, setelah dipugar dengan indah, pasti menyedot pelancong dari berbagai penjuru. Bersiwata religi. Memberikan hiburan dan tontonan.”

“Halah….!!” teriak Dhimas Gathuk dari meja seberang yang membuat kaget tiga pengamat yang tegah bergelut dengan pikiran masing-masing. “Mau apa? Lebih baik dana segitu besarnya buat hal lain yang lebih bermanfaat. Memberikan beasiswa masyarakat. Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Kelurahan Luruh Indon yang selama ini simpang siur nasib mereka. Atau untuk membantu para Korban Lapindo yang kehilangan rumah dan lahan pertanian mereka. Itu lebih bermanfaat. Ketimbang memugar makan orang makam orang mati. Dan Pak Mantan Lurah Luruh Indon pun akan lebih senang kalau dana segitu banyaknya untuk kemaslahatan umat. Toh, selama ini Beliau memperjuangkan itu.”

Pengamat nomor dua tersenyum. Dia merasa kalau anak muda kurus dengan kacamata minus itu lebih berpikir nalar dan religius ketimbang Pak Lurah Bye dan para pejabatnya.

“Mau berwisata apa di sana? Makam itu tempat beristirahatnya manusia mati. Terus, kalau ada banyak pelancong dari segala penjuru, apa Pak Mantan Lurah Luruh Indon lantas menjadi tidak kesepian apa? Makan itu tanah suci, mah mau dibuat tempat wisata. Tempatnya orang mati yang menghadap Gusti kok malah mau dijadikan tempat duniawi baru. Makam ya makam. Objek wisata ya objek wisata.”

Sang pengamat nomor tiga hendak berdiri namun Dhimas Gathuk berdiri lebih dahulu, “Masih banyak pagebluk yang membayangi Kelurahan kita! Ayak-ayak wae, makam kok jadi objek wisata. Ziarah ya ziarah, biarkan dengan dengan kesederhanaan dan laku dari peziarah. Pelancong ya pelancong yang ingin bersenang-senang. Kalau memang tujuannya penghormatan, gunakan uang untuk kemaslahatan umat banyak. Gitu saja kok repot. Mau jadi apa Kelurahan kita ini?”

Setelah puas mengumbar semua kata-katanya, Dhimas Gathuk meneteskan air mata. Dia berlari seperti perawan yang terluka hatinya. Berlari menuju ke rumah dan meringkuk di sana.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 16 Agustus 2010.

P u l a n g

S. Jai
Radar Surabaya, Minggu, 22 Agustus 2010

KETIKA aku datang kali pertama di dusun itu, rumahnya bobrok ditumbuhi kebun nanas yang sulit dijangkau manusia. Rimbun pohon bambu dengan ujung-ujungnya yang menyentuh tanah menggelikan aku. Bahwa ini bukan tempat yang cocok buatku. Bila malam hari lampu teplok berbinar melawan bintang atau bulan yang terhalang.

Dua puluh lima tahun lalu aku pendatang dan merasa diriku di tempat baru bukan sebagai saudara, kerabat atau orang baru. Ya, aku lebih pas berada di kampung itu sebagai hantu. Atau lebih tepatnya aku benar-benar tidak mengenali siapa sesungguhnya diriku. Apalagi bila harus menjawab pertanyaan, angan-angan bila kelak dewasa bagaimana nasibku, hendak jadi apa aku, pergi ke mana saja aku, lalu akankah juga dikuburkan jasadku di belakang kebun nanas itu?

Membayangkan diri menjadi hantu lebih gampang ketimbang merasa diri jadi manusia, meski hantu itu sendiri tak lain adalah kata-kata buatan manusia akibat kebuntuan mencari jawab suatu pertanyaan. Jadi ia adalah ciptaan manusia juga. Barangkali cuma hasil otak-atik dari kata Tuhan. Dua hal yang entah bagaimana mulanya begitu menakutkan sampai di telingaku.

Seperti juga Tuhan, Hantu itu tiba-tiba hadir di benakku seperti bayang-bayang hitam yang membesar. Ya, meski tak pernah berkata-kata, dongeng juga cerita dari mulut ke mulut lebih cepat menyebar dan hadir menyeramkan. Jadi sesungguhnya takut benar-benar menjadi manusia itulah yang menyebabkan diriku memilih bersahabat dengan hantu. Ketidaktahuan nasib sebagai manusia jadi penyebab diriku seperti itu.

Dan ternyata menjadi hantu itu cukup enak. Setidaknya sedikit mengurangi rasa takut sebagai manusia meski tentu saja terpikir olehku ada juga hantu yang kurangajar, suka menggoda. Ini sisa rasa takut itu yang berbenih. Tapi bersaing dengan Tuhan mulai terpikir sejak itu. Tidak ada beban, tak ada kewajiban karena keberadaannya juga diragukan tentu saja oleh manusia. Tetapi terhadap sesama kaum punya persoalan tersendiri. Pendek kata antara ada dan tiada.

Selama berpuluh-puluh tahun aku hidup seperti itu, aman dan tanpa ada yang mengusik. Bila ada yang mengusik bisa dipastikan itu akibat ulah manusia juga yang usil mencoba menempatkan dirinya separuh manusia dan separuh lagi bukan. Barangkali semacam dukun yang mencoba mempengaruhi makhluk halus yang jahat untuk menjahati diriku. Dan biasanya, uanglah pemicu paling dahsyat dalam hal begitu kacau-mengkacau.

Berikutnya, pendidikan, pekerjaan, menjadi kehidupan yang di kampung itu lebih ruwet. Jumlah orang yang separuh dirinya manusia dan separuh lagi bukan, menjadi bertambah dan berlipat. Segelintir saja yang bersitahan menjadi hantu saja atau manusia saja. Salah satunya, diriku. Sekolah agama, sekolah teknik, sekolah ekonomi, ah kenapa tidak tersedia pilihan sekolah penerbang yang menempatkan guru besarnya seekor elang, sehingga aku bisa jadi penerbang seperti burung lain lalu bebas menghilang kemana aku suka.

Di depan rumah bobrok yang kuhuni itu, ada surau kecil. Bila sore hari ramai sekali anak-anak mengaji di bawah asuhan ustadz Harjito dan guru ngaji Rokemah dan Rofiah, gadis kampung yang paling cantik selain rupawan juga lantaran ramah dan murah hati. Semuanya itu sudah terbukti. Termasuk karena itu santri-santrinya dari hari ke hari bertambah banyak. Tapi mulai tumbuh keanehan bagiku, karena sekalipun aku tak pernah masuk di surau itu. Alasannya, tentu sudah bisa diketahui: takut. Apalagi lantai yang hitam dingin tersebar hingga di depan pintu. Terlebih gelap yang mengurung melebihi bayang-bayang sendiri. Aku tahu tak ada hantu di situ, tapi takut itu tak pernah sudi beranjak.

Inilah keanehan yang kurasakan mulai menjangkiti tubuhku, perasaanku dan jiwaku-menjadi makhluk setengah manusia dan sisanya tidak jelas. Apalagi bila hanya seekor hantu. Bila menjelang bulan puasa, pemilik surau Haji Sinto mengajak ustadz, para santri Mendengarkan pengajian-pengajian di pesantren. Rokemah dan Rofiah hadir pula. Dibaan dan Yasinan tak pernah sepi. Aku sendiri hanya sebagai saksi dan tak pernah hadir di tengah-tengah itu semua. Bagiku menjadi pendatang dari tempat yang telah kulupa telah jadi siksaan. Akan tetapi hidup yang tak bisa menentukan diriku sendiri di tempat ini telah terasa menyiksa lagi.

Lalu siapa yang salah, tentu sebagai anak bau kencur, aku tidak tahu. Salah besar itu padaku bila aku tak melakukan apa-apa. Kenyataannya aku beberapa waktu lamanya mencoba nyantrik, mondok pada Haji Sinto, pemilik surau. Dari situ aku mulai bisa mengintip santri-santri yang mengaji atau menyalakan lampu teplok untuk anak angkatnya, Lukman bila sedang menyalin huruf-huruf Al-Quran mengerjakan tugasnya. Dia sekolah di pesantren dan seminggu sekali pulang. Tapi sebagian besar kesehariannya kuhabiskan bergumul dengan tahu ayam karena harus mengurus ayam-ayam peliharaan Haji Sinto yang jumlahnya ratusan itu. Aku harus mengeruk kotorannya dan membuangnya di ladang-ladang pisang atau kebun lombok miliknya. Lalu aku harus mencuci pakaian yang menggunung di sumur. Satu-satunya kenangan yang tak terhapus dalam hidupku adalah saat ustadz Harjito membelikanku sebuah pensil, kertas dan penghapus, dan ia tak berkata sepatah kata pun untuk itu.

Semenjak saat itu mulai tumbuh dalam diriku suatu pengetahuan bahwa aku bukan siapa-siapa. Aku lebih gampang mengerti bahwa diriku serupa dengan tahi ayam yang dikumpulkan untuk makan gedebok pisang atau vitamin tanaman lombok. Sebab itu semenjak itu pula aku tak punya keberanian untuk membentak sang majikan, dalam hal ini ayam. Aku selalu menyimpan seluruh rahasianya baik-baik. Karena itu di luar dugaan bila kelak di kemudian hari bagiku kehidupan seekor ayam tak kurang pentingnya dengan kehidupan seorang manusia. Biarpun manusia sempurna sepanjang zaman. Setidaknya seekor ayam adalah leluhurku atau ibu kandungku yang melahirkan aku. Meski ia melahirkan untuk kemudian membiarkan aku tumbuh berkembang sendiri secara liar. Sebelum akhirnya berujung di bawah pohon pisang.

Berbekal filosofi seekor ayam, sayap, cakar, tahi, aku meninggalkan kampung basah gelap oleh rerimbunan pohon bambu itu. Aku pergi mencangklong ransel mengembara tanpa tujuan-sesuatu yang telah diajarkan leluhurku. Persinggahan tak boleh terlampau jenak sebab hal itu justru akan membunuhku, apalagi bila sampai mengambil tempat untuk menetap. “Kau tak boleh membangun rumah lagi,” demikian tutur leluhurku itu. “Tapi peliharalah sungguh rumahmu sendiri, meski kamu memilih jadi pengembara.” Ya, sebuah pesan yang tak gampang dicerna karena bisa jadi memang tak kumengerti.

Rumah? Ah, rumahku yang sekarang adalah ransel dan sepotong ijazah lusuh di dalamnya agar aku bisa mendapatkan kerja. Bukan maksudku meremehkan nilai, bahan ajar, dan paraf atau cap jempol pada kantor keluaran Dinas Pendidikan negeri ini. Sebaliknya, justru dari situ kusimpan sejumlah gedung, bangunan, sekolah, kantor, pasar, pabrik, pemerintah, swasta, bahkan kebun dan hutan, laut dan pantai bisa tersimpan dalam ijazah itu. Lalu kupendam dalam ranselku.

Begitulah sebagai pengembara, berkat selembar kertas itu aku begitu gampang mencari kerja, gaji lumayan, meski makin susah mencari kawan. Aku keluar masuk kantor dengan leluasa. Aku bisa lakukan hal terburuk atau terbaik dari setiap perusahaan yang mempekerjakan aku. Semua tersedia dengan gratis. Itu tentu saja bila aku mau. Tapi apa boleh dikata bila itu semua pada akhirnya satu pun tak ada yang pernah kulakukan baik yang terburuk maupun terbaik bagi perusahaan. Jadi apa yang saya kerjakan hanyalah hal yang biasa-biasa saja-hal yang sama sekali tak ada dalam pesan leluhurku dan menjadi bagian hidupku. Apalagi, perihal kehidupan yang penuh dengan dunia basa-basi dan kompromi tak bisa kujalani. Jadi apa yang sebetulnya kucari tidak pernah berhasil kutemui dan tak pernah ada. Aku betul-betul merasa sendiri. Aku sungguh-sungguh jadi orang asing, lengkap dengan segala penderitaan sebagai makhluk hidup. Anehnya, itu bisa terjadi padaku selama bertahun-tahun.

Lalu apa yang kau cari, hei bung?

Di balik itu sebuah keajaiban diam-diam muncul pada diriku: aku kembali merasa sebagai manusia di atas banyak sekali timbunan kertas. Ya, meski seringkali aku merasa terjepit diantara kertas-kertas itu. Betapa tidak, dunia ini tiba-tiba dalam pandanganku bagitu banyak disesaki kertas-kertas-ijazah, sertifikat, surat keputusan, lamaran, koran, brosur, surat pajak, uang kertas, akta kelahiran, surat nikah, sim, ktp, rekening listrik. Ah, bahkan dunia ini bisa terlihat lantaran tersusun dari kertas koran. Hebatnya lagi, seperti dalam puisi Subagio Sastrowardoyo, Tuhan pun terselip di balik surat pajak.

Begitulah, untuk pertama kalinya aku kembali menjadi manusia dan sendiri. Aku cemas bukan karena mencemaskan diriku. Melainkan mencemaskan dunia yang kelihatannya cepat berputar makin cepat tapi sebetulnya sia-sia. Ya, kesia-siaan disana-sini banyak terjadi dan kekalahan seringkali terjadi pada diri manusia. Sudah menjadi rahasia umum dunia ini antara ada dan tiada, meski disana-sini juga kian dahsyat maknanya dikorup. Buktinya, antara ada dan tiada sering nongol di layar kaca dan bintang utamanya justru bukan manusia tapi hantu.

Lalu manusia sendiri malah terus berpacu mengeruk rezeki dari hantu-hantu bikinan stasiun televisi. Apalagi untuk meresapi kata-kata ‘sebagai makhluk yang serba merugi kecuali bagi yang tahu diri.’ Tidak.

***

KINI setelah puluhan tahun bersusah payah mengembara dan sia-sia, aku pulang ke kampung halaman. Aku tak membawa buah tangan yang menempel di badan kecuali sepotong sajak penyair Hamzah Fansuri . Di Barus ke Qudus terlalu payah. Akhirnya ditemukan di dalam rumah. Di kampung halaman surau yang dulu kotor dan beratap genteng yang bocor bila musim hujan, telah berganti bangunan yang kokoh dan megah, cantik dan menarik. Gentong-gentong tempat wudlu yang dulu kini telah diganti dinding berlapis porselin indah dengan kran-kran air berwarna keemasan. Juga lantai telah berwarna-warni lebih terang dan dingin.

Tapi mengapa surau itu kini telah berubah sepi, tiada lagi anak-anak yang rajin mengaji. Loudspeaker terlihat berdebu dan tak tersentuh tangan. Sesekali saja berkumandang bila adzan magrib.

“Begitulah, Nak. Zaman sudah berganti,” ungkap Haji Sinto. “Semenjak ustadz Harjito, Rokemah dan Rofiah pergi, tak ada lagi yang mengurus surau. Tak ada lagi yang mau jadi guru ngaji. Semula saya sendiri yang menggantikan, tapi lama-kelamaan anak-anak yang nyantrik telah habis dengan sendirinya. Barangkali karena saya sudah terlampau tua untuk mereka. Jadi tidak menarik lagi. Saya sendiri juga pilih mengurus sawah sampai petang hari. Maklum, tidak ada orang lagi. Lukman memilih hidup di kota. Jangankan untuk anak-anak mengaji, bila adzan magrib berkumandang, surau ini tetap sepi dari jamaah.”

“Terus, Rokemah dan Rofiah kemana lagi, Pak Haji?”

“Oh, dia jadi orang besar sekarang. Dia pilih bekerja di Hongkong dan Malaysia. Rumahnya bagus dan dua tahun sekali pulang bisa beli tanah. Orangtuanya dihormati orang. Apa yang mereka cari lagi di dunia ini kecuali itu? Ya, kampung ini sepi sekarang, Nak. Mereka banyak yang ke luar negeri jadi TKI dan TKW ke Hongkong, Malaysia, Arab, Korea, Kuwait. Mereka kaya dan rumahnya kau lihat sendiri, megah-megah tapi kosong ditinggal penghuninya,” ujar Haji Sinto.

“Lalu siapa yang menempati, Pak Haji?”

“Ya, yang punya orangtua dia yang mengurus. Tapi yang sudah nggak punya, siapa yang menghuni? Nggak tahu saya.” Seperti biasa Haji Sinto Sinis dengan giginya yang gemeretak karena gemetar. “Syukurlah kamu pulang. Kamu bisa Bantu saya mengurus surau.”

“Ah, Pak Haji. Saya belum cukup untuk tahu diri seperti Pak Haji,” takut mengecewakandia.
“Setidaknya, aku tahu kamu telah pulang. Itu artinya kamu tak membiarkan rumahmu itu kosong. Biarpun rumah itu tua dan terlihat tak terurus yang penting ada penghuninya. Seperti juga surau ini apa gunanya dibangun megah bila tak ada santrinya.”

Kata ‘kosong’ Pak Haji mengganggu pikiranku. Sebagai orang yang tahu agama tentu yang ia maksud bukan cuma kosong tanpa penghuni, melainkan jiwa yang kosong. Barangkali rumah-rumah megah itu juga dihuni banyak orang, tapi mereka tidak benar-benar ada. Di rumah itu malam-malam bagi mereka hanya untuk tempat tidur. Ketenangan, kenyamanan dan hidup serba cukup mengakhiri problem mereka sebagai manusia. Tidak ada lagi yang dipersoalkan, diperbincangkan. Ada atau tidak ada bagi mereka adalah sama saja. Jadi sebetulnya mereka ini tidak sedang benar-benar ada. Dunia pun berjalan seperti biasa, tapi sesungguhnya tidak ada sesuatu yang bergerak. Mereka makan juga dalam keadaan diam. Bekerja pun tak ada yang peduli. Manusia ataukah binatang ternak juga tak ada yang cukup punya keberanian untuk Menyimpulkan.

“Ceritakanlah padaku mengapa kamu pulang, Nak?”

“Saya tidak yakin benar, apakah saya sesungguhnya telah pulang Pak Haji. Karena saya tak punya rumah lagi di sini. Rumah itu bukan hak saya dan telah jadi milik saudara-saudara saya,” kataku.

“Baiklah, mengapa engkau kembali?” desak Haji Sinto.

“Karena ternyata yang saya cari tidak jauh dari tempat saya berdiri sekarang, Pak Haji.”

“Kamu belum jawab pertanyaanku, tentang kembali Nak.”

“Oh, soal itu. Saya sendiri tidak yakin apakah di sini adalah tempatku yang terakhir. Kapan saja, saya bisa tiba-tiba pergi kemana saja, Pak Haji.”

“Baiklah. Sekarang apa yang kamu cari ditempat ini. Setidaknya untuk hari ini?”

“Seperti juga apa yang Pak Haji cari selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun di tempat ini dengan mendirikan surau ini,” jawabku.

“Jadi sekarang kamu menyesal dengan kau tunjukkan kepulanganmu ini, Nak?”

“Tidak Pak Haji. Sama sekali tidak. Apalagi seperti yang saya katakan tadi, saya tidak yakin diri saya telah pulang.”

“Lalu apa artinya ini semua?”

“Selama mengembara saya telah banyak singgah di pelbagai kota, bangunan dan rumah, mencari kawan, sahabat atau saudara. Tapi semakin jauh pengembaraan saya, semakin aneh lantaran tak seorangpun saya temukan itu yang saya cari. Saya justru mengundang banyak lawan dan musuh. Saya seperti hidup sendiri di dunia ini. Saya seperti batu yang berguling-guling di dasar kali tapi tak mengenal dan tak dikenal satu sama lain di planet ini. Pekerjaan saya sehari-hari hanyalah membersihkan diri dari perbuatan dosa yang jumlahnya ternyata berlipat ganda. Baru kemudian saya menyadari dalam pengembaraan saya, bahwa persinggahan yang sesungguhnya, di tempat yang bersih tanpa noda, terang dengan cahaya dan sejuk serta nyaman untuk istirah justru ada dalam diri saya sendiri. Tak seorang pun yang boleh berlama-lama singgah di tempat saya ini yang jauh dari hiruk pikuk kemabukan zaman. Kecuali bagi yang sangat kucintai dan kukasihi. Karena itulah, jujur saja saya akui Pak Haji. Saya sendiri tak tahu mengapa pada akhirnya pengembaraanku sampai di tempat ini dan kembali bertemu Pak Haji,” kataku.

“Kalau boleh kutahu, apa rencanamu sekarang, Nak?”

“Saya tidak tahu Pak Haji. Tepatnya saya tidak punya keberanian untuk membuat Rencana-rencana, karena sesungguhnya dalam diriku telah ada kekuatan yang menggerakkan tubuh dan jiwaku dengan sendirinya. Aku sangat takut kepadanya dan aku takut mengecewakannya.”

“Katakan saja, aku yakin kamu tak akan mengecewakannya.”

“Betulkah? Maukah Pak Haji menjadi jaminanku untuknya?”

Haji Sinto mengangguk.

“Saya ingin membeli beberapa ekor kambing dan jadi penggembala untuknya.”

“Oh, semoga aku tak salah dengar. Itu keinginanku yang berpuluh-puluh tahun tak pernah terwujud, Nak.”[]

Kampung Istana Kediri, 2009-2010

Bukan Sebuah Mimpi Buruk

Lan Fang*
http://www.jawapos.co.id/

SELAMA pesantren-pesantren kecil di kampung dengan kiai-kiainya yang bersahaja itu masih ada dan terus berkiprah di tengah masyarakat, rasanya NU akan baik-baik saja. Rasanya tak akan terjadi apa-apa dengan NU. Menurut saya, merekalah yang selama ini mempertahankan dan menjaga kehormatan NU. Merekalah yang selama ini menjalankan peran NU sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang sebenarnya, justru ketika para petingginya sibuk menjadi selebritis, sibuk berebut jabatan dan proyek, sibuk menjajakan NU sebagai komoditas politik dan ekonomi, sibuk menjadi broker, jurkam, atau tim sukses.

Paragraf di atas adalah kutipan esai Acep Zamzam Noor, salah seorang di antara 15 penulis yang termaktub dalam buku Dari Kiai Kampung ke NU Miring. Selain Acep Zamzam Noor (putra Kiai Ilyas Ruchiyat (alm), salah seorang deklator PKB dari Pesantren Cipasung, Tasikmalaya), penulis lain adalah Mujtaba Hamdi, Riadi Ngasiran, Soffa Ihsan, Anggi Ahmad Haryono, Eyik Musta’in Romly, Sahlul Fuad, M. Arief Hidayat, M. Faizi, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Saprillah, Syaiful Arif, Mashuri, Surahno, dan Binhad Nurrohmat.

Keberadaan NU sebagai ormas keagamaan tentu tidak bisa lepas dari kiai dan santri yang jumlahnya kurang lebih 40 persen dari jumlah umat Islam di Indonesia atau sekitar 86 juta jiwa. Karena itu, NU tidak bisa dimungkiri adalah komoditas politik dan ekonomi (meminjam istilah Acep Zamzam Noor) yang menggiurkan. Saking menggiurkan, Sahlul Fuad dalam esainya, Rebutan NU, menuliskan perebutan kekuatan dan kekuasaan di tubuh NU terjadi dari level teratas sampai tingkat terbawah, baik dalam pilpres, pilkada, pileg, sampai pilkades. Bahkan, termasuk di dalam Muktamar NU sendiri.

Persoalan memperebutkan NU juga dipetakan Mashuri dalam tulisannya, Kiai-Santri Putus Hubungan? Dia mengutip trikotomi Geertz tentang pola kultur masyarakat Jawa dalam Religion of Java yang terdiri atas santri-priyayi-abangan. Trikotomi itu juga ditemukan dalam Politik Santri-nya Abdul Munir Mulkhan yang melukiskan pola budaya santri-priyayi-abangan bersilang di dalam tiga pusat budaya, yaitu kantor, pasar, dan pedesaan. Ketiganya membentuk struktur nilai sebagai referensi pelaku (politik) dari tiap komunitas yang tumbuh di dalamnya.

Sebagai sebuah referensi pelaku (politik), Eyik Musta’in Romly melemparkan otokritik kepada putra-putri kiai. Esainya, Mabuk Kepayang NU, dengan kritis menyikapi ketidaksiapan mental serta intelektual para penerus dinasti pesantren yang hanya sibuk membangun persaingan ekonomi dan politik di lingkungan internal pesantren sendiri.

Situasi itu oleh Acep Zamzam Noor melalui esainya, Kiai Kampung, diamsalkan seperti dunia sepak bola, kesebelasan NU terus berlatih tetapi kalah melulu jika bertanding. Hal itu disebabkan karakter nahdliyin yang sabar, ulet, tulus, lurus, tahan banting, dan menghargai proses, tidak tampak sama sekali. Yang muncul justru karakter-karakter umum seperti berebut jabatan, nepotisme tradisi atau bangga walau hanya menjadi tim sukses suatu perhelatan politik.

Kondisi itu diperparah oleh kerancuan relasi kiai dan santri pada saat para kiai terlibat dalam politik praktis. Hasilnya terlihat pada berbagai peristiwa politik nasional maupun lokal, NU menyajikan fenomena yang ironis. Jago-jago NU yang didukung para kiai tumbang bergelimpangan. Melalui esainya, Mashuri melemparkan pertanyaan, benarkah kini ”patronase” kiai-santri telah memasuki era senjakala?

Pada buku NU dan Ambisi Kekuasaan (2004), saya menemukan M.H. Rofiq membeberkan ”trik intrik” (meminjam istilah Sahlul Fuad dalam tulisannya, Rebutan NU) dalam perebutan hegemoni dan tarik-menarik dominasi antarkiai. Sebagai seorang praktisi politisi NU, Rofiq tidak kalah gamblang menggelar olah data dan fakta-fakta empiris yang terjadi dalam setiap peristiwa politik NU. Dengan detail dan runtut, Rofiq menyajikan hiruk-pikuk politik NU dalam bentuk reportase jurnalistik mulai bentuk politik uang, politik sarung, sampai politik simbol.

Fakta-fakta empiris yang disajikan Rofiq membuat saya bisa memahami kenapa Mashuri bertanya demikian satir, Sahlul Fuad demikian gelisah, Eyik Musta’in Romly demikian gundah, dan Acep Zamzam Noor demikian ”menggugat”?

Tetapi, buku ini tidak hanya menyajikan kekecewaan demi kekecewaan. Saya menyimpan senyum ketika membaca kisah KH Misbah Zainal Mustofa, adik kandung KH Bisri Mustofa (ayahanda KH Mustofa Bisri), yang diceritakan Soffa Ihsan dalam Nahdliyyin Anything Goes… Dia menilai Mbah Bah -begitu masyarakat sekitar Pesantren Al-Balagh, Bangilan, Tuban, menyapanya- adalah figur yang unik. Mbah Bah memajang tulisan di pintu rumahnya: ”Tamu Hanya 5 Menit”. Sedangkan kiai-kiai sekarang kalau tak ada tamu malah pusing. Ketika Soffa Ihsan serombongan dari Blora sowan kepada Mbah Bah, mereka langsung disemprot kata-kata menohok: ”Ini pasti orang NU, sukanya sowan-sowan.”

Penghormatan terhadap kiai sebagai guru adalah kultur yang dijunjung tinggi dalam komunitas pesantren. M. Faizi dalam NU Melampaui BlackBerry menuliskan bahwa dalam tradisi NU, hampir semua transfer ilmu pengetahuan selalu diisyaratkan melalui seorang guru. Hal itu yang mengakibatkan penghormatan kepada guru, kemudian gurunya guru (simbah guru), lalu kakek guru (guru dari gurunya guru), begitu seterusnya menjadi silsilah yang berjenjang.

Jejaring itu bekerja sangat baik, bukan saja dalam relasi vertikal antara kiai dan santri, melainkan juga membuat networking horizontal secara otomatis. Melalui koneksi ini, setiap peristiwa atau pesan bisa tersampaikan, bahkan sebelum bertemu atau berbicara dengan para pihak yang berkepentingan. Rahasia ”aneh” di kalangan NU yang disebut ”karomah” itu bagaikan frekuensi dan gelombang tingkat tinggi yang bisa dikatakan setara dengan kecepatan SMS maupun BlackBerry dalam bekerja. Walaupun tulisan M. Faizi lucu, unik, sedikit aneh, tidak masuk nalar, dan semi mustahil, saya mengakui adanya ”karomah” itu karena saya pun pernah mengalaminya.

Buku Dari Kiai Kampung ke NU Miring ini akan membuat pembaca trenyuh sekaligus tersenyum, getir sekaligus jatuh cinta pada NU. Ibarat kulit bawang, mengupas lapis demi lapis membuat mata perih berair tetapi tetap bisa menikmati kehangatannya. Sebab, tulisan ke-15 esais muda NU ini bertumpu pada kekuatan pemikiran, pengamatan, teori, jauh dari syahwat politik yang menggebu-ngebu, dan tentu merupakan olah rasa karena kecintaan mereka yang sangat besar kepada NU. (*)

*) Pengarang, tinggal di Surabaya
Judul buku : Dari Kiai Kampung ke NU Miring
Penulis: Acep Zamzam Noor dkk
Penerbit: Ar-ruzz Media, Jogjakarta
Cetakan: I, 2010
Tebal: 248 halaman

Spirit Nasionalisme untuk Kemerdekaan

Peresensi: Siti Muyassarotul Hafidzoh*
http://oase.kompas.com/
Judul buku : Al-Afghani and Ahmad Khan on Imprealism
Penulis : Yudian Wahyudi
Penerbit : Pesantren Nawesea Press Yogyakarta
Tahun : 1, 2010
Tebal : 44 halaman

Nasionalisme menjadi narasi besar bangsa Asia untuk keluar dari jebakan imprealisme. Spirit nasionalisme menggerakkan etos perjuangan merebut kedaualatan bangsa dari jerat penjajahan. Bukan saja bangsa Indonesia yang lahir sebagai bangsa merdeka lewat gemuruh nasionalisme, melainkan hampir semua bangsa Asia dan Afrika yang pernah terjajah oleh kolonialisasi Barat pada abad yang lampau. Kemerdekaan yang diraih Indonesia bersamaan dengan kemerdekaan yang diraih India dan Pakistan. Kedua negara ini menyegarkan perjuangannya lewat spirit nasionalisme yang tinggi. Sama dengan yang dijalani Indonesia, nasioalisme bergemuruh menjadi spirit perjuangan.

Negara-negara Islam bekas jajahan Barat mengobarkan semangat nasionalisme untuk meraih indepedensi (kemerdekaan). Spirit perjuangan yang melandasi gerak langkah negara-negara Islam bukan saja spirit nasionalisme apa adanya, tetapi nasionalisme yang diisi dengan semangat keagamaan. Ajaran agama menjadi media sangat strategis mengobarkan semangat perjuangan. Tidak sedikit resolusi jihad dikumandangkan untuk mendongkrak gerak perjuangan dalam melawan penjajah. Bukan saja Indonesia yang gelisah dengan jerat imprealisme, tetapi negara-negara lain juga mengabarkan kisah yang sama.

Buku bertajuk “Al-Afghani and Ahmad Khan on Imprealism” memberikan potret perjuangan dua pemikir Muslim asal Pakistan dan India yang begitu bersemangat menjadikan ruh keagamaan sebagai landasan perjuangan menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan. Al-Afghani dikenal sebagai pemikir asal Pakistan yang mempopulerkan gerakan Pan-Islamisme, yang mengimpikan seluruh negara Islam bersatu menegakkan panji-panji Islam yang tidak terkungkung oleh penjajah Barat. Ide-ide kreatif Al-Afghani ternyata bukan berkembnang di negaranya sendiri, melainkan menjadi buah pemikiran umat Islam sedunia lewat pintu Turki, negara Islam yang saat itu masih memegang kendali politik yang begitu besar di Timur Tengah. Lewat majalahnya “Urwatul Wutsqo” bersama pengikut-pengikutnya menggerakkan dinamisasi umat Islam menuju bangsa maju yang beradab, tidak terkekang oleh belenggu kolonial.

Demikian juga yang dilakukan Ahmad Khon, tokoh nasionalis asal India, yang tidak mau menggerakkan semangat perjuangan hanya dengan modal kebangsaan saja, tetapi juga menyulutkan nilai agama sebagai basis gerakan melawan ketidakadilan. Walaupun ide-idenya tidak semewah Al-Afgani, tetapi Ahmad Khon mampu membangkitkan semangat perjuangan bangsanya, khususnya umat Islam, untuk bengakit mengejar ketertinggalan dan melepaskan diri dari belenggu kolonialisasi. Ketertinggalan haruslah dikejar, karena ketertinggalan akan membuat umat Islam semakin mundur dan terbelakang. Dengan semangat membela kemajuan, Ahmad Khon selalu mengupayakan terwujudnya gerak ijtihad agar pemikiran umat Islam semakin maju dan beradab.

Semangat perjuangan melawan kolonial yang digagas kedua pemikir diatas ditelaah lebih kritis oleh Prof Yudian dengan analisis islamic legal philosopy. Bahwa perjuangan membela negara sebenarnya merupakan perjuangan membela agama (al-din), rasio-pemikiran (al-‘aql), harta kekayaan (al-mal), jiwa (al-nafs), dan keturunan (al-nasl). Kelima hal ini menjadi prioritas utama yang harus dijaga manusia dari apapun juga yang bisa merusaknya. Menjaga kelima hal tersebut hukumnya wajib. Dasar ini kemudian dijadikan landasan menggerakkan nasionalisme untuk berjuang membela kelima hal dasar tersebut, dan akhirnya umat Islam begitu bergemuruh memperjuangkan kemerdekaan negara. Berkat spirit kelima hal tersebut itulah, Al-Afghani dan Ahmad Khon menjadikan spirit agama sebagai basis gerakan nasionalisme. Walaupun keduanya memang berbeda area dalam peta perjuangan, tetapi titik temu perjuangan keduanya tidaklah jauh berbeda.

Spirit nilai agama dalam menggerakkan nasionalisme untuk meraih kemerdekaan menjadi pelajaran penting bangsa Asia dalam menggerakkan kembali perusahan sosial masyarakat pada awal abad ke-21 saat ini. Terjadinya berbagai perkembangan teknologi mutakhir menjadikan standar hidup semakin kabur, bahkan kawan dan lawan sudah tidak bisa ditebak lagi. Semua berjalan penuh kaitan yang sangat erat dan sinergis. Perjuangan yang didasarkan dengan keyakinan akan beragama menjadikan perjuangan tersebut terasa sebagai surga yang sedang dijalani dengan begitu nikmatnya.

Ijtihad pemikiran dan gerakan yang dicontohkan kedua pemikir ini menjadi kaca benggala buat bangsa Indonesia untuk menata kembali tatanan sosial kebangsaan di tengah pluralitas kehidupan yang terjadi. Bukan nilai agama saja yang bisa menggerakkan semangat nasionalisme, apapun bisa, yang penting tetap menegakkan prinsip yang sedang diperjuangkan. Prinsip itulah yang akan diterus dipegang sebagai amanat kehidupan yang akan dipertanggungjawabkan. Yudian memaparkan semua itu sebagai wujud membela nasionalisme lewat kekuatan pena. Pena yang diangkat Yudian dijadikan sebagai obor perjuangan menegakkan kemerdekaan.

*Peneliti Center for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Catatan Dari Festival Musikalisasi Puisi Indonesia

Furqon Lapoa
http://kendaripos.co.id/

Walaupun tidak sepopuler baca puisi, musikalisasi puisi sesungguhnya bukan “barang baru” di Indonesia, demikian juga Sulawesi Tenggara. Tahun silam misalnya, Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara menyelenggarakan pelatihan musikalisasi puisi bagi para siswa dari beberapa sekolah di Kota Kendari, mendatangkan instruktur dari Jakarta, AGS Arya Dipayana. Kegiatan pelatihan tersebut diakhiri dengan semacam lomba antarpeserta, yang dimenangi oleh siswa peserta pelatihan utusan dari Madrasah Aliyah Ummushabri, Kendari.

Olah kreatif anak-anak yang menjuarai musikalisasi itu tidak berhenti ketika pelatihan usai. Mereka kemudian membentuk kelompok musikalisasi puisi Khitari, dan melanjutkan proses kreatif melagukan puisi di bawah bimbingan Syaifuddin Gani, Arif Relano Oba, dan saya. Kelompok yang belum lama terbentuk ini antara lain pernah tampil pada Prosesi Seni Malam Jumat Teater Sendiri pada Oktober 2007. Bulan November, Khitari diundang tampil pada lomba musikalisasi puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa. Sayang sekali, kesempatan untuk tampil pada ajang nasional itu gagal diraih gara-gara kesibukan sebagian personilnya yang dalam waktu hampir bersamaan mengikuti pekan olah rada dan seni antar pesantren se-Indonesia di Kalimantan. Padahal, sebagian personil lain sudah berangkat ke Jakarta.

Pada bulan April 2008, penyair Syaifuddin Gani selaku Koordinator Musikalisasi Puisi Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara menerima undangan dari Komunitas Sanggar Matahari untuk mengikuti Festival Musikalisasi Puisi tingkat Nasional – dirangkaikan dengan rapat koordinasi Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) di Jakarta, akhir Mei lalu. Tak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan, pekerja seni musikalisasi puisi (yang masih terbatas jumlahnya) sepakat menunjuk Khitari untuk ikut berpartisipasi festival musikalisasi puisi nasional tersebut.

Penunjukan tersebut dimungkinkan mengingat Khitari bisa disebut sebagai satu-satunya kelompok seni yang mengkhususkan diri dalam musikalisasi puisi. Kelompok Khitari pulalah yang siap untuk berangkat dengan segala resiko. Kesiapan menanggung “resiko” (menguras saku untuk biaya transportasi pulang pergi, misalnya) adalah hal penting, mengingat kegiatan-kegiatan kesenian di provinsi ini masih dipandang sebelah mata – kecuali kegiatan-kegiatan kesenian dengan dana proyek. Dewan kesenian yang di daerah lain menjadi naungan dan pengayom bagi kreativitas para seniman, sudah lama tak terdengar aktivitasnya di sini.

Setelah melakukan proses latihan selama lebih kurang satu bulan, Khitari dengan personil Furqon Lapoa, Arif Relano Oba, Nur Khairah, Dilla, Irfan, memutuskan berangkat. Seperti sudah diduga sebelumnya, para personil Khitari harus merogoh “saku” sendiri karena hingga hari pemberangkatan, belum ada satu pun sponsor yang bersedia memberikan bantuan. Bantuan memang datang dari Kantor Bahasa Propinsi Sulawesi Tenggara dan Badan Pariwisata Sulawesi Tenggara, tetapi jumlahnya tidaklah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan biaya transportasi.

Akan tetapi, minimnya dana bukanlah sesuatu yang harus disikapi secara cengeng. Sebab, selain telah menerima undangan ikut berpartisipasi, juga kami terpacu untuk membuktikan kepada khalayak nasional bahwa Kendari bukan hanya bisa terkenal karena aksi demonstrasi-anarkhisnya (akhir Maret lalu), tetapi juga oleh geliat seninya, antara lain musikalisasi puisi. Dan, tanpa sikap ‘nekad’, kesenian memang tidak akan maju. Karena, sekali lagi, sudah jadi rahasia umum, dunia Kesenian (dengan huruf kapital!) masih kurang dilirik, baik pemerintah maupun perusahaan-perusahaan swasta yang biasa mensponsori kegiatan hiburan dan olahraga.

Akibat kekurangan dana pulalah, maka kami tidak bisa berangkat berombongan, tetapi ‘dicicil’. Nur Khairah dan Dilla berangkat pada 22 Mei 2008, Irfan dan saya berangkat pada 23 Mei 2008, sementara Arif Relano Oba menyusul pada 24 Mei 2008. Meski berangkat secara terpisah, peruntungan masih mempertemukan kami di Wisma Pemuda dan Olahraga Cibubur, Jakarta.

Pemberangkatan yang terpisah tersebut berimbas pada tidak maksimalnya mengikuti rangkaian Rapat Koordinasi, sebab acara berlangsung pada tanggal 22-26 Mei 2008. Meski begitu, tentu ada yang dapat diraih dalam acara tersebut. Di antaranya saja, latihan bersama (musikalisasi puisi) yang dihadiri oleh perwakilan dari Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Jambi, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara, yang didampingi oleh Deavies Sanggar Matahari.

Dalam sesi latihan bersama itu menentukan komunitas yang layak untuk tampil di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Dan terpilihlah Khitari sebagai penyaji pertama (24 Mei 2008, jam 20.00 WIB) dengan membawakan musikalisasi puisi “Rinduku Pulang” karya Abd. Razak Abadi, dan mendapat respon yang baik dari penonton. Acara itu antara lain dihadiri oleh Kepala Kantor Pusat Bahasa, di samping sejumlah seniman dari berbagai daerah. Sehabis pertunjukan musikalisasi puisi Khitari dari Kendari, di akhir acara salah seorang penonton berkomentar, “Penampilan Khitari memiliki warna sendiri, garapan musik berbeda dengan penyaji lain, dan kostumnya yang etnis banget.”

Adapun Rapat Koordinasi Nasional Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) antara lain memutuskan pembentukan Kompi di tingkat propinsi dan kabupaten/kota, sementara Kompi pusat berkedudukan di wilayah Jabotabek. Di samping itu, rakornas juga menghasilkah sejumlah program, di antaranya: (1) membentuk kantong-kantong/sanggar-sanggar musikalisasi puisi Indonesia, (2) mengadakan pelatihan, workshop, bengkel calon penyuluh dan juri musikalisai puisi, (3) mengadakan festival musikalisasi secara berjenjang mulai kabupaten/kota, provinsi, nasional, dan internasional, (4) mengadakan konser dan pentas keliling musikalisasi puisi, dan (5) mengadakan kerja sama lintas daerah.

Hasil Rakornas KOMPI ini dirumuskan pada 25 Mei 2008 bertempat di gedung Kementerian Pemuda dan Olah Raga, Cibubur, dengan susunan tim perumus: Agus R. Sarjono, Ratun Untoro, Suyadi San, Hasan Al Banna, Nukman, Ali Syamsuddin Arsi, dan Bucek Hijazie. Untuk mengisi kekosongan kepengurusan di Sulawesi Tenggara, Kompi Pusat menunjuk saya sebagai Ketua Kompi Provinsi Sulawesi Tenggara. Tentu saja, bagi saya, penunjukan ini menuntut tanggung jawab yang tidak mudah. Sebab musikalisasi puisi belumlah begitu memasyarakat dan masih dinikmati oleh kalangan tertentu. Tidak seperti musik komersial, misalnya Peter Pan, Kangen Band dan lain-lain.

Begitulah. Meski bisa mengikuti seluruh rangkaian acara dan saling berbagi ilmu dengan peserta dari daerah lain, tetapi sebagaimana keberangkatan, lagi-lagi kepulangan saya dan kawan-kawan mengalami masalah kurangnya dana. Hingga tulisan ini dikirimkan ke Kendari Pos, saya masih terkatung-katung di Yogyakarta, satu orang di Makasar, sedang tiga orang lagi alhamdulillah telah sampai di Kendari. Namun, mudah-mudahan peristiwa semacam ini tidaklah mengurangi spirit untuk memajukan dunia kesenian di Sulawesi Tenggara, khususnya musikalisasi puisi.
Tabik.

Yogyakarta, 5 Juni 2008

Furqon Lapoa, Guru Seni dan Budaya MAS At-Taqwa Lapoa, pembina kelompok musikalisasi puisi Khitari, baru-baru ini ditunjuk sebagai Ketua Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi) Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ketika Gus Mus Hijrah ke Cerpen

Satmoko Budi Santoso
http://www.suaramerdeka.com/

Sekarang ini peran pelawak sudah diambil-alih oleh para politikus, dan saya menulis karena memang ingin menulis, saya tak ingin dijajah oleh isme-isme apa pun

KUTIPAN itu adalah pernyataan salah seorang Rais Nahdlatul Ulama KH A Mustofa Bisri dalam acara pagelaran baca cerpen bertajuk ”Gus Mus Hijrah ke Cerpen”, 24 Oktober, pukul 20.00, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Di hadapan lebih dari 700 pengunjung, Gus Mus mengucapkan kalimat tersebut sebagai prolog pembacaan cerpen Gus Jakfar.

”Saya kira, saya juga harus bersyukur karena dianugerahi Tuhan dengan kemampuan menulis. Begitu pula saya bersyukur karena saya berteman dengan kawan-kawan seniman, kawan-kawan sastrawan, sehingga menambah semangat dalam berkarya,” ujar kiai yang sastrawan itu dalam situasi yang ingar-bingar.

Anehnya ketika sampai pada momen baca cerpen, khalayak jadi khidmat menikmati. Runtutan cerita dalam cerpen Gus Jakfar yang memaparkan perihal kelebihan yang dimiliki seseorang karena adanya ilmu kasyaf, ilmu yang berupa kemampuan ”membaca tanda-tanda tertentu” dari diri orang lain, disimak hadirin dengan penuh keseriusan.

Tentu, meski dalam beberapa potong adegan cerita tetap ada yang pantas membikin tertawa karena logika cerita yang dirasa lucu.

Hanya satu cerpen yang dibacakan Gus Mus. Itu pun sudah menyita waktu hampir setengah jam. Pembaca lain yang tampil adalah cerpenis Joni Ariadinata, dan aktor gaek Bambang Darto, yang track record-nya di dunia teater Yogya tak lagi diragukan.

Yang menarik sebagai suguhan format pertunjukan, tentu saja adalah penampilan Joni Ariadinata ketika membacakan cerpen Gus Mus, Amplop-amplop Abu-abu. Sebuah cerpen yang menceritakan sisi ironi seorang juru dakwah yang selalu dikasih amplop sebagai imbalan berdakwah, namun suatu ketika isi amplop yang ia terima bukan berisi uang melainkan sobekan kertas berupa kritik untuk mengoreksi diri sendiri sebelum menyampaikan nilai-nilai Islam kepada umat lain.

Imbangi Gus Mus

Didukung dengan kemampuan membaca dan melafalkan nukilan ayat-ayat Alquran secara benar, Joni mampu mengimbangi kharisma Gus Mus yang sekalipun dalam teknik pembacaan tak seteatrikal Joni, namun penguasaan cara bertutur Gus Mus tetap terjaga, lugas dan gamblang, sangat bisa dinikmati sebagai pertunjukan baca cerpen.

Penampilan Bambang Darto memang lebih kocak, mengundang decak tawa, pas dengan situasi cerpen yang dibacakan, Bidadari Itu Dibawa Jibril. Sebuah cerita yang menggambarkan keberadaan seorang perempuan yang pada suatu hari menghilang dan orang-orang yang mengenalnya menganggapnya telah dibawa malaikat Jibril.

Ditemui usai pertunjukan, penyair Joko Pinurbo menyampaikan kesan, sosok Gus Mus sungguh layak ditampilkan tak hanya sebagai figur kiai, tetapi juga figur estetik. Persepsi Joko cukup jelas, sebagai sebuah karya seni, apa yang dihasilkan Gus Mus tak boleh disepelekan.

Dalam cerpen-cerpennya yang dibacakan atau yang secara khusus terkumpul dalam antologi cerpen Lukisan Kaligrafi yang diterbitkan Penerbit Kompas ini, terasa bahwa kemampuan mengeksplorasi tema cerita pada wilayah pesantren adalah sesuatu yang ”lebih” karena jarang disentuh cerpenis lain.

”Secara estetik, pertaruhan yang utama adalah seberapa jauh penggarapan pola estetika itu betul-betul menukik pada problem-problem pesantren,” papar Joko.

Sebagai momen yang diharapkan menjadi alternatif siraman rohani melalui jalan sastra dalam menyongsong bulan Ramadan pun tercapai. Di samping maksud lain sebagai upaya promo atau launching atas buku baru Gus Mus tersebut.

Penyair Nur Zain Hae mengungkapkan, setidaknya acara itu akan menjadi masukan bagi kaum tradisionalis pesantren. ”Ingat, muatan kritik dalam cerpen-cerpen Gus Mus merambah wilayah feodalisme cara berpikir dan cara memandang persoalan.

Acara yang dipersembahkan Lembaga Kajian Kebudayaan ”Akar Indonesia”, Penerbit Kompas, Tratag Budaya Estetik, dan bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta serta Penerbit LKiS ini pastilah tak hanya pertunjukan baca cerpen saja.

Kelompok musik pengiring, Sampak Patrol, juga berhasil menghidupkan suasana dengan musikalisasi eksperimen yang berangkat dari spirit musik Hadrah maupun musik-musik padang pasiran yang lain.

SEJARAH SEPANJANG JALAN

Dian Sukarno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Pelajaran Sejarah pada hakekatnya adalah memperkenalkan manusia yang berjuang kepada manusia yang sedang berjuang (R.Moh.Ali,2005:352). Karena itu diperlukan strategi yang tepat agar generasi sekarang tidak gagab terhadap sejarah bangsanya. Peran guru sebagai pendidik sangat menentukan keberhasilan pencapaian hasil pelajaran sejarah. Dalam hal ini guru-guru sejarah harus memiliki kemampuan penceritaan sejarah yang diharapkan nilai-nilai kejuangan dapat ditransformasikan kepada peserta didik yang notabene sebagai generasi penerus.

Satu fakta ketika penulis menjadi salah satu narasumber bidang sejarah dan budaya pada pemilihan Duta Wisata kabupaten Jombang beberapa waktu yang lalu, ternyata dari puluhan peserta pemilihan Duta Wisata tersebut tidak satupun yang dapat menceritakan, meski sedikit sejarah daerahnya. Mereka beralasan pelajaran sejarah membuat mata mereka mengantuk. Nah! Itulah fakta yang dihadapi tidak hanya kabupaten Jombang dalam skup kecil, melainkan juga problem secara nasional, dan ini berbahaya sekali bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Sebagaimana diingatkan Bung Karno sebagai salah satu founding fathers atau pendiri negara, Jas Merah! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Memang banyak cara untuk mengenalkan dan mengingatkan warga masyarakat terutama pelajar tentang arti penting sejarah. Di antaranya melalui pemakaian nama-nama tokoh daerah maupun non daerah pada jalan-jalan, baik jalan utama maupun biasa. Sehingga paling tidak ketika kita melintas di salah satu jalan, aroma nilai kejuangan tokoh bersangkutan dapat mempengaruhi keseharian kita. Misalnya jalan KH Wahid Hasyim dan KH Hasyim Asy’ari, akan mengingatkan kita pada sosok pahlawan nasional asal Tebuireng. Jalan KH Wahab Chasbulloh, akan mengingatkan kita pejuang kemerdekaan pendiri pondok pesantren Tambakberas dan lain-lain.

Sayangnya upaya pemberian nama tokoh-tokoh maupun peristiwa yang berkait erat dengan sejarah pada ruas-ruas jalan yang ada di kabupaten Jombang sebagian besar terkesan tidak dilakukan secara serius. Artinya tidak disertai kajian historiografi atau metode penulisan sejarah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah untuk menguatkan nama jalan bersangkutan. Sebaliknya ada penamaan jalan yang sudah tepat, tetapi pada perkembangannya diubah secara membabibuta oleh perangkat birokrasi yang sangat gagab sejarah. Sebagai contoh misalnya Jalan Pahlawan di sebelah utara kantor PLN, nama jalan Pahlawan ada karena salah seorang pejuang kemerdekaan asal Jombang yang gugur pertama kali pada peristiwa 10 Nopember Surabaya adalah orang Wersah. Untuk memberi penghormatan kepada jasa pejuang tadi, maka jalan yang melintasi wilayah Wersah, kecamatan Jombang dinamakan Jalan Pahlawan. Kemudian tanpa alasan yang jelas nama itu diganti menjadi jalan Siliwangi. Waduh! Seandainya yang mengubah itu paham sejarah tidak akan terjadi hal demikian. Untungnya kemudian nama jalan Pahlawan dikembalikan lagi seperti semula.

Kesadaran untuk mengabadikan nama tokoh setempat sebagai nama jalan rupanya cukup disadari oleh warga desa Mojokrapak, kecamatan Tembelang, Jombang. Hal ini patut diacungi jempol mengingat kesadaran itu tumbuh justru dari kalangan masyarakat desa, sangat paradoksal dengan penggantian nama jalan Pahlawan yang saya sebutkan di atas. Nama-nama tokoh yang dianggab cukup berjasa bagi sejarah desa Mojokrapak diabadikan cukup manis tanpa mengurangi rasa hormat berlebihan yang mengarah pada kultus individu.

Ada empat nama tokoh yang sempat penulis catat, antara lain; pertama Jalan Abd. Kharim, nama ini adalah tokoh pejuang asal Sendang Duwur Gresik yang datang di Mojokrapak sebelum adanya sistem pemerintahan yang lengkap seperti sekarang.

Kedua Jalan Sumo Prawiro Dirjo, nama kepala desa II Mojokrapak.
Ketiga Jalan KH Tamjis pejuang sekaligus tokoh agama.
Keempat Jalan Paidin, sebagai tokoh kepala desa ketiga desa setempat.

Memang belum ada penelitian secara langsung korelasi penamaan jalan dengan tokoh atau peristiwa sejarah. Namun upaya pemerintah kabupaten Jombang untuk mengabadikan nama besar Gus Dur sebagai Bapak Bangsa pada salah satu ruas jalan di kabupaten Jombang ibarat oase di padang gersang. Meskipun belum diwujudkan paling tidak kesadaran menghormati tokoh besar dari daerah mulai bergeliat. Semoga upaya ini tidak berhenti hanya pada nama Gus Dur, karena banyak tokoh nasional maupun internasional asal kabupaten Jombang yang patut untuk diabadikan menjadi nama-nama jalan. Ke depan penulis berharap agar nama-nama yang sangat layak diabadikan sebagai nama jalan tidak sebatas pada tokoh politik ataupun kebangsaan, melainkan juga tokoh-tokoh seniman, ulama yang memberi kontribusi sangat besar pada keharuman nama Jombang, Jawa Timur, bahkan Indonesia.

Tokoh ulama misalnya KH Bisri S. dari Denanyar, Pangeran Benowo asal Jipang Panolan Demak yang diduga makamnya di Wonosalam. Tokoh seni seperti Sastro Bolet Amenan pencipta remo boletan asal Tawangsari, Gombloh musikus asal Tawangsari, Jombang, Markeso tokoh kidungan garingan kini dimakamkan di desa Tunggorono, dan Cak Durasim orang Kaliwungu yang membawa ludruk ke Surabaya. Tokoh-tokoh seperti Kanjeng Bupati Jombang juga sangat pantas untuk diabadikan. Sehingga kelak generasi muda Jombang tidak asing dengan nama-nama Kanjeng Suroadiningrat sebagai bupati Jombang pertama dan lain-lain.

Ada baiknya kita renungkan kata mutiara yang berbunyi,”Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pahlawannya.” Salah satu bentuk penghargaan dimaksud adalah mengabadikan nama-nama beliau pada ruas-ruas jalan yang kita miliki. Karena para pahlawan mempunyai semangat juang yang tetap abadi meskipun zaman terus berganti. Sehingga dengan langkah sederhana ini kita tidak lagi gagab akan sejarah kebesaran bangsa. Kita akan bangga karena Sejarah telah diabadikan di sepanjang jalan yang kita punya.

Puisi Goethe Mendarat di Pondok Pesantren

M Hari Atmoko
http://www.pos-kupang.com/

Dari tempat yang agak remang di beranda gedung itu, Najah mengacungkan tangannya, tanda dia ingin mengajukan pertanyaan kepada penyair berasal dari Jerman, Berthold Damshauser.

Dorothea Rosa Herliany, moderator “Dialog Karya-Karya Goethe: Perintis Dialog Islam-Barat” di kompleks Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu tampaknya tak melihat acungan tangan remaja itu.

Ia memberikan kesempatan kepada penanya lain yang duduk bersila di ujung karpet di halaman gedung itu. Pada sesi berikutnya kesempatan bertanya diberikan Rosa kepada Najah setelah kawan-kawan sederetnya memberitahu bahwa Najah ingin bertanya.

Malam itu, Berthold, atas sponsor Goethe Institut, mewartakan puisi-puisi karya pujangga besar Jerman itu ke Ponpes Tegalrejo, salah satu di antara empat tempat di Jateng, selama empat hari terakhir.

Tiga tempat lainnya adalah Universitas Sunan Muria Kudus, Universitas Diponegoro Semarang, dan Taman Budaya Surakarta Solo.

“Inspirasi apa yang membuat Goethe menghasilkan karya-karya puisinya,” tanya Najah.

Hingga menjelang tengah malam menuju hari “H” Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW itu Berthold ditemani Rosa yang juga penyair Magelang dan Sosiawan Leak, penyair Solo, membacakan sejumlah puisi karya Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832).

Berthold membacakan sejumlah puisi Goethe berbahasa Jerman sedangkan Rosa dan Leak membacakan puisi Goethe dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Berthold yang juga Dosen Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman sejak Tahun 1986 itu bersama penyair Agus R. Sarjono telah menerjemahkan puisi-puisi karya Goethe dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia.

Puisi-puisi Goethe dalam dua bahasa itu selanjutnya oleh Penerbit Horison Jakarta diterbitkan menjadi buku Seri Keempat Puisi Jerman berjudul “Johann Wolfgang von Goethe, Satu dan Segalanya” (2007).

Dari panggung kecil di halaman kompleks yang berproperti lampu listrik di atas karpet, deretan puluhan lentera, tatanan indah beberapa lembar “blarak” (daun kelapa), dan kain motif batik di belakangnya itu, puisi berjudul “Raja Mambang” dibaca pertama kali oleh Leak disusul pembacaan puisi itu dengan bahasa aslinya (Jerman), “Erlkonig”, oleh Berthold yang juga dikenal dengan sebutan “Pak Trum” itu.

Rosa pun menyusul dengan suguhan berturut-turut tiga puisi pendek Goethe bernada cinta, “Dari Gunung Ke Laut” (Vom Berge In die See), “Dari Gunung” (Vom Berge), dan “Dendang Malam Pengembara” (Wanderers Nachtlied).

Ratusan mereka yang hadir seperti budayawan Ahmad Tohari (Kang Tohari), Sutanto Mendut, Romo Kirdjito, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), penyair Magelang ES Wibowo, Haris Kertarajasa, dan Gepeng Nugroho, pelukis Dedy Paw, pematung Cipto Purnomo, serta para siswa dan santri salah satu ponpes kharismatis di Jateng itu, seakan tertegun dalam kenikmatan untaian kata-kata puitis Goethe.

Suara bersahutan puluhan jangkrik dari tempat persembunyiannya di balik rerumputan dan lantunan bunyi beberapa ekor katak di kolam halaman kompleks itu seakan mengiringi darasan puisi-puisi Goethe.

Terdengar di kejauhan, sayup-sayup suara merdu tanpa pengeras suara, sekumpulan warga setempat berpadu dalam takzim lantunan ayat suci Alquran pada malam menjelang Maulud Nabi itu.

Seorang santri mengenakan baju batik, bersarung, dan berkopiah warna hitam, berjalan maju perlahan sambil agak membungkukkan badannya sebagai tanda hormat, membawa nampan berisi beberapa gelas isi teh hangat untuk Berthold, Rosa, dan Leak yang duduk berderet di bangku panggung pendek berukuran sekitar delapan meter persegi itu.

“Ini puisi cinta Goethe, ketika dia jatuh cinta kepada gadis bernama Lili dan ketika dia putus cinta dengan Lili,” kata Rosa.

Sederet puisi lain Goethe seperti “Mukadimah Diwan” (Zum Diwan), nukilan “Kitab Parabel” (Buch Der Parabeln), “Sabda Sang Nabi” (Der Prophet Spricht), nukilan “Kitab Kedai Minuman” (Das Schenkenbuch), “Rindu Dendam” (Selige Sehnsucht), dan “Prarasa” (Vorschmack) yang disuguhkan tiga penyair dari bawah langit terang malam itu, serasa melesak relung benak, jiwa, dan raga mereka yang duduk bersila di atas karpet warna hijau itu.

Berthold adalah penerjemah puisi dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia dan sebaliknya. Hingga saat ini dia telah menerjemahkan ke bahasa Indonesia puisi karya Bertolt Brecht, Paul Celan, Hans Magnus Enzensberger, Rainer Maria Rilke, dan Goethe.

Sejumlah puisi Friedrich Nietzsche, generasi setelah Goethe, telah selesai diterjemahkannya dalam bahasa Indonesia dan rencananya terbit pada September 2010.

Berthold lahir di Wanne-Eickel, Jerman pada 8 Februari 1957, belajar sastra Jerman dan Indonesia di Universitas Koln Jerman dan menyelesaikan tesisnya tentang pengarang Indonesia, Trisno Sumardjo, pada 1983. Ia melanjutkan studi pascasarjana di Jurusan Sastra Indonesia dan Sastra Jawa di Universitas Indonesia Jakarta pada 1984.

Pada 1997, Berthold yang beristri perempuan Indonesia berasal dari Semarang itu ikut mendirikan Komisi Indonesia-Jerman untuk Bahasa dan Sastra yang diprakarsai Presiden RI dan Kanselir Jerman.

“Saya kenal baik dengan Pak Berthold, saya pernah menginap di rumahnya di Jerman,” kata Kang Tohari, penyair berasal dari Banyumas yang dikenal dengan novel karyanya “Ronggeng Dukuh Paruk” itu ketika sesi pembukaan pementasan puisi Goethe itu.

Ia, katanya, sangat paham tentang sastra Indonesia.

Ponpes Tegalrejo, katanya, beruntung karena kehadiran Berthold malam itu membawa karya Goethe, puisi-puisi sang pujangga besar dunia itu yang menjadi titik masuk dialog antara Islam-Barat sejak abad ke-18.

Berthold mengatakan, Goethe yang lahir 28 Agustus 1974 di Frankfurt Jerman mengenyam berbagai buku koleksi di rumahnya.

Perhatian orang tuanya yang juga ahli hukum, Johann Caspar Goethe, sedemikian besar terhadap pendidikan anaknya itu sehingga Goethe besar dalam dunia intelektual yang subur.

“Ia menemukan banyak buku dan informasi, kalau inspirasi, bagi saya sedikit gaib, mengarah ke wahyu. Kesenian juga puisi dari alam transendental, dan dia mengurusnya,” kata Berthold ketika menjawab pertayaan Najah.

Goethe adalah pujangga besar, hebat sebagai sastrawan, pelukis, budayawan, filsuf, saintis dan bahkan penemu, juga politikus dan negarawan.

Ia pernah menjabat sebagai perdana menteri dengan gelar “von” di negara kecil di Jerman, Weimar dan kelak menjadikan Weimar sebagai “Kota Goethe” dan pusat kebudayaan Eropa. Dan di Weimar lah dia menghembuskan akhir hayatnya.

Napoleon Bonaparte yang telah mengalahkan Eropa datang kepadanya pada Tahun 1808 dan meminta sang pujangga itu tinggal di Paris untuk menciptakan karya-karya drama yang menggambarkan kepahlawanannya.

“Tentu Goethe tidak bersedia seperti itu,” katanya.

Berthold mengatakan, sekitar 200 tahun lalu Goethe telah menaruh minat besar terhadap Islam melalui karya-karya sastranya dan bahkan dia tidak menolak dengan anggapan bahwa dirinya Islam karena Goethe tidak berpikir tentang hal formal.

“Agama Islam menurut Goethe sifatnya berserah diri kepada Tuhan,” katanya.

Kang Tohari malam itu mengutip pernyataan Goethe, “Kalau Islam dimaknai berserah diri kepada Tuhan, kita semua hidup dan mati dalam Islam.”Ini tataran sufi,” katanya.

Salah satu terjemahan kutipan puisi Goethe. “Kitab Kedai Minuman”, di halaman 109 buku Seri Keempat Puisi Jerman itu nampaknya amunisi diskusi menarik bagi Kang Tohari.

“Apakah Al Quran abadi? Itu tak kupertanyakan! Apakah Al Quran ciptaan? Itu tak kutahu! Bahwa ia kitab segala kitab, Sebagai muslim wajib kupercaya. Tapi, bahwa anggur sungguh abadi, Tiada lah ku sangsi; Bahwa ia dicipta sebelum malaikat, Mungkin juga bukan cuma puisi. Sang peminum, bagaimanapun juga, Memandang wajahNya lebih segar belia”.

Logika Goethe, katanya, anggur suatu keniscayaan yang bisa diukur oleh siapapun, tetapi Alquran tidak bisa ditafsirkan secara mutlak.

“Adik-adik silakan membaca yang tinggi-tinggi tetapi jangan lupa mencari pendamping yang bisa menerangkan tentang apa itu abadi,” katanya.

Gus Yusuf yang juga salah satu pengasuh Ponpes Tegalrejo itu mengatakan, kebenaran mutlak berujung surga. Tetapi surga bukan hanya milik salah satu pihak.

Goethe yang sastrawan Barat, katanya, telah mendalami sufistik Islam dan meninggalkan ruang material sehingga memberikan penghargaan yang tepat dan mengagumkan kepada orang lain.

Sejumlah orang yang terjebak formalitas, katanya, dia seolah pemilik surga sedangkan orang lain tidak memilikinya.

Ia mengatakan, Berthold yang mengusung puisi-puisi Goethe malam itu sebagai pengalaman baru bagi para santri Tegalrejo.

Suasana yang terbangun malam menjelang Maulud Nabi itu seakan mengambarkan Tegalrejo sedang mereguk nikmatnya puisi bertema dialog Barat-Islam Goethe.

Sang kiai itu pun dengan nada yang terlihat santun dan rendah hati mengharapkan banyak ruang dialog di Tegalrejo.

Ponpes Tegalrejo didirikan pada Tahun 1944 oleh KH Chudlori (Wafat Tahun 1977), kini memiliki sekitar lima ribu santri putra dan putri berasal dari berbagai daerah. Guru bangsa dan tokoh pluralisme yang juga mantan Presiden ke-4 RI, almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1957-1959 menjadi santri di ponpes itu.

Ia mengatakan, Tegalrejo memang mempunyai pakem yaitu keyakinan tentang suatu kebenaran.

Tetapi, katanya, ponpes itu juga memberi ruang penghargaan tentang kebenaran yang dipercaya orang lain sehingga Tegalrejo ingin selalu terlibat dalam dialog kemanusiaan.

“Karena agama untuk mentuhankan Tuhan dan memanusiakan manusia,” katanya.

Ia menyatakan kebanggaan Tegalrejo karena terlibat dalam dialog Islam-Barat yang dirintis Goethe sejak abad ke-18.

“Puisi-puisi Goethe memberikan pencerahan bagi kami untuk mengamalkan Islam yang `rahmatan lil alamin`, Islam yang mengayomi, Islam yang mengasihi sesama manusia,” kata Gus Yusuf.(ant)
(Dion DB Putra) Sumber dari: http://www.pos-kupang.com/getrss/viewrss.php?id=43751

Emha Ainun Nadjib: Masyarakat Harus Kritis

Surya Lesmana
http://www.suarapembaruan.com/

Maraknya pemberitaan media, khususnya infotainmen di televisi memberitakan kasus video porno mirip Ariel dan Luna Maya, rupa-rupanya mendapat perhatian budayawan Emha Ainun Nadjib. Pria yang akrab dipanggil Cak Nun ini agak heran dengan pemberitaan di stasiun-stasiun televisi yang berlomba-lomba mengupas kasus video mesum tersebut.

“TV justru malah mendukung (pemberitaan) Luna Maya, sedangkan ada kegiatan Istighotsah (doa bersama) yang dihadiri ribuan orang tidak masuk TV. Yang jelek justru menjadi perhatian, sedangkan yang baik-baik diabaikan,” ujar Cak Nun seperti dikutip Antara, di Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini.

Lelaki kelahiran Jombang itu meminta masyarakat untuk bersikap kritis tanpa bergantung sikap pemerintah. “Dalam kondisi karut-marut karena banyak pihak yang justru mementingkan kejelekan daripada kebaikan itu, masyarakat jangan bergantung pemerintah atau siapa pun,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Cak Nun, masyarakat hendaknya rajin membaca buku untuk menjadi “pintu” dalam berpikir kritis, sehingga mereka tidak mudah dibodohi siapa pun, termasuk pemerintah. “Misalnya, soal rokok, masyarakat harus jeli dan kritis. Kenapa soal rokok saja yang diributkan. Itu karena di situ ada banyak kepentingan, karena itu banyaklah membaca,” tegasnya.

Menurutnya, rokok itu tak cukup disikapi dengan fatwa haram atau argumentasi medis, sebab rokok lebih patut dipahami dengan kalbu (suara hati). Membawa masyarakat supaya mau bersikap kritis melalui pertemuan-pertemuan sosial, kerap dilakukan Cak Nun. Saat bertemu, ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metode hubu- ngan kultural, pendidikan cara berpikir serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensi rak- yat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang Bulan, ia juga berkeli- ling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng. Rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung.

Selain itu, ia juga menyelenggarakan acara Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas generasi.

Emha Ainun Nadjib (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 (57) adalah seorang tokoh intelektual yang mengusung napas Islami di Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Bersikap Kritis

Suami dari artis Novia Kolopaking ini pernah merasakan pendidikan di Pondok Pesantren Modern, Gontor, Ponorogo. Sejak muda ia juga sudah dikenal kritis. Karena sikap kritisnya itu, ia pernah dikeluarkan dari tempatnya mendalami pendidikan karena melakukan demonstrasi melawan pemerintah di era rezim pemerintahan Soeharto, pada pertengahan tahun ketiga studinya. Selain di Pondok Gontor, Cak Nun juga menamatkan bangku sekolah menengah atasnya di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta.

Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Sejumlah drama juga kerap dipentaskannya yang merepresentasikan masalah sosial dan kondisi Indonesia pada saat itu sebagai bentuk dari sikap kritisnya. Contohnya Mas Dukun (1982) mengenai gagalnya lembaga kepemimpinan modern. Patung Kekasih (1989) mengenai pengultusan terhadap seorang tokoh. Ada juga Geger Wong Ngoyak Macan (1989) tentang pemerintahan Soeharto.

Cak Nun juga menerbitkan puluhan buku puisi dari kurun waktu tahun 1976 hingga 2001. Sedangkan, buku-buku esainya sudah mencapai lebih dari 30 buah. Semasa muda di Yogyakarta, Cak Nun banyak berlajar sastra dari seorang sufi asal Banda yang di kalangan seniman punya julukan Presiden Malioboro, Umbu Landu Paranggi. Umbu Landu adalah seorang penyair Indonesia yang sering disebut sebagai tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia sejak 1960-an. Pada tahun 1970-an, ia membentuk komunitas penyair Malioboro.

Umbu Landu seperti menjauh dari popularitas dan publik. Ia konon sering “menggelandang” sambil membawa kantung plastik berisi kertas-kertas, yang tidak lain adalah naskah-naskah puisi koleksinya. Orang-orang menyebutnya “pohon rindang” yang menaungi bahkan telah membuahkan banyak sastrawan kelas atas, seperti Cak Nun, Linus Suryadi dan musisi Ebiet G Ade.
[Berbagai Sumber]

Emha Ainun Nadjib
Tempat Tanggal Lahir: Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953
Aktivitas: Tokoh Intelektual Muslim, membuat puisi dan buku, Jaringan Kesenian Sanggar Bambu, Teater Dinasti.

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ACHDIAT KARTA MIHARDJA

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Achdiat Karta Mihardja (AKM), lahir di Cibatu, Garut, 6 Maret 1911 dan meninggal di Canberra, Australia, 8 Juli 2010. Ia pergi meninggalkan kita, tetapi karyanya tetap hidup sebagai monumen bagi perjalanan kesusastraan Indonesia. Pada tahun 2005, ia menerbitkan novel Manifesto Khalifatullah (MK). Dengan begitu, AKM satu-satunya sastrawan di dunia yang masih berkarya dalam usia lebih 94 tahun. Dalam sastra dunia, Sophocles (496—406 sebelum Masehi, dramawan Yunani klasik) menerbitkan karyanya lima tahun setelah kematiannya, dan George Bernard Shaw (1856—1950, dramawan Inggris) menerbitkan karya terakhirnya dalam usia 93 tahun.

Secara tematik, MK mengingatkan kita pada gagasan Mohammad Iqbal dalam magnum opus-nya: Javid Namah. Namun, kita kehilangan tokoh Hasan yang peragu (Atheis) atau tokoh Rivai dalam Debu Cinta Bertebaran (DCB) yang diterjang godaan cinta. Dalam MK, sikapnya lebih tegas dan lugas. Itulah estetika yang diusung AKM. Itulah representasi perkembangan pemikirannya. Melihat tarikh penerbitan ketiga novel itu (1949, 1973, 2005), kita dapat menempatkannya dalam tiga fase perkembangan pemikiran AKM, yaitu Atheis (fase pertama), DCB (fase kedua), dan MK (fase ketiga). Dari sana, dapat pula terungkap pandangannya dalam menyikapi problem bangsa ini.
***
Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga Islam tradisional yang taat, AKM berhadapan dengan kebudayaan Barat melalui pendidikan Belanda. Ia menyerap suasana religius kehidupan pesantren dan menerima kebudayaan Barat lewat bahasa sumbernya. Jadi, ke belakang, ia tak dapat lepas dari dogma agama, ke depan terbentang harapan tentang manusia Indonesia yang tak dapat menghindar pengaruh Barat.

Tarik-menarik antara masa lalu yang religius—dogmatis dan masa depan yang profan—liberal lalu dianggap sebagai pergulatan Timur—Barat. Puncaknya terjadi zaman Pujangga Baru. Itulah Polemik Kebudayaan, meski AKM tak terlibat langsung. Sambil menyitir gagasan Sutan Sjahrir (Pengantar Polemik Kebudayaan, 1948) sikap AKM tegas: “… kini tak usah pilih-pilih antara Timur (yang feodalistik) dan Barat (yang kapitalistik), sebab kedua-duanya akan silam dan sekarang ini sedang tenggelam ke masa silam.” AKM diterjang kegelisahan. Ia harus bersikap. Atheis (1949) itulah saluran kegelisahannya.

Atheis laksana potret zaman ketika bangsa ini berada dalam masa transisi. Tokoh-tokohnya representasi berbagai golongan masyarakat dalam menyikapi problem Timur—Barat yang belum selesai diperdebatan Polemik Kebudayaan. AKM menolak feodalisme (kebudayaan Timur yang lapuk) dan menerima modernisme dengan catatan kritis. Sikap ini berbeda dengan Sutan Takdir Alisjahbana yang tegas menerima dan berorientasi ke Barat. Ada tiga hal yang menurut AKM perlu diselidiki: (1) pengaruh Barat, (2) kultur sendiri, (3) dogma agama. Bagaimanakah gagasan itu diselusupkan ke dalam Atheis.

Dengan kesadaran ideologinya, tokoh Rusli berhasil memanfaatkan pengaruh Barat untuk kepentingan perjuangan politik. Ia ateistik, tetapi menolak kapitalisme. Jadi, Rusli mewakili kelompok masyarakat yang menentukan pilihan atas dasar kesadaran. Rusli terpelajar, propagandis, dan konsekuen. Gambaran itu berbeda dengan tokoh Anwar yang anarkis, individualis, dan tak konsekuen. Anwar dicitrakan sebagai sok kebarat-baratan.

Mengapa kedua tokoh itu dibiarkan tetap hidup, tidak seperti diri Hasan –yang TBC, ditangkap Kempetai, dan mati—dan ayahnya, Raden Wiradikarta –yang kecewa atas perubahan sikap Hasan? Itulah bentuk “penghukuman” pada Hasan yang pembeo, peragu, dan taklid. Raden Wiradikarta juga mati sebagai korban keragu-raguan Hasan.

AKM menyoroti persoalan tahayul, dogma agama, dan kisah neraka yang menempatkan agama jadi menakutkan. Itulah yang terjadi di sebagian besar masyarakat Indonesia. Beribadat bukan lantaran kesadaran keimanan, melainkan karena ketakutan masuk neraka atau agar kelak bisa masuk surga. Tampak di sana, AKM menyikapi problem kemasyarakatan masa itu. Bukankah tahayul dan pengajaran agama yang kerap dihiasai kisah surga dan neraka sampai kini masih banyak kita jumpai.
***

Dalam DCB, AKM mengangkat konsep cinta yang sering dimaknai keliru. Jika perkara teisme—ateisme menyangkut keyakinan manusia tentang Tuhan, maka persoalan cinta menyangkut hubungan dua –atau lebih—manusia yang berbeda jenis atau sejenis. Dengan latar waktu tahun 1960-an sampai awal Orde Baru dan latar tempat Australia, AKM leluasa memasukkan pandangannya. Melalui tokoh Rivai, wartawan, pemikiran dan gagasannya lebih bebas dibandingkan penggunaan pencerita “Aku” seperti dalam Atheis.

Persoalan cinta tidaklah sederhana. Cinta Rivai pada istrinya, Fatimah, yang gila, berubah menjadi belas kasihan. Cinta Frieda pada suaminya, Ulf yang didera penyakit, memaksanya agar dilakukan euthanasia atau mercy killing –melepaskan derita pasien dengan menyegerakan kematiannya. Pasangan kumpul kebo Janet dan Peter Thomas lain lagi. Keduanya menghargai kebebasan individu, tak perlu ikatan perkawinan, dan bebas berhubungan seks dengan siapa pun. Sedangkan bagi Judy dan Hermanus, cinta berkaitan dengan kehadiran dan hubungan badani. Cinta dimaknai dari berbagai sudut kepentingan. Tidak ada sekat suku bangsa, agama, usia. Rivai akhirnya jatuh cinta kepada Deanne Jorgensen, dan pada saat tertentu, kalah oleh hasrat seksnya pada Janet atau Frieda.

AKM hendak menekankan ekses seks bebas. Banyak tokoh dalam novel ini cenderung memilih seks bebas. Tokoh Dr. Ingrid Fry, misalnya, tidak mementingkan makna kegadisan dan perlu memahami seks pranikah (sex premarital), seks di luar nikah (sex extramarital). Janet dan Peter Thomas, bisa seenaknya gonta-ganti pasangan, atau Christine yang akhirnya bunuh diri. Dalam konteks ini, AKM memotret fenomena sosial yang terjadi di Australia –yang juga banyak dilakukan orang-orang Indonesia di sana. Ia hendak mengingatkan bahaya kebebasan seks.
***

Dalam novel MK, AKM menegaskan sikap keseluruhan perjalanan hidupnya. Di bagian akhir Prolog, dikatakan, “… setelah banyak merenung … khayal kreatif saya berhasillah menciptakan sebuah kispan …” Pola yang mengingatkan pada tokoh “saya” yang menerima naskah otobiografi tokoh Hasan (Atheis) dan tokoh Rivai yang berniat menulis novel (DCB). Batas tipis antara fakta dan fiksi seperti sengaja dihadirkan di sana.

Berawal pada penentangan tokoh saya atas ideologi kapitalisme dan sekularisme. Ia bertemu pengusaha Amerika yang menganggap Tuhan tidaklah penting. Tokoh saya lalu jumpa Rosy Brisley yang menganggap: “Manusia ciptaan alam, … tidak ada yang Maha Pencipta, kecuali alam sendiri….” Dari sana cerita mulai menyinggung kapitalisme dan sekularisme. Tokoh-tokoh dunia pun bermunculan, mulai dari pemikir Indonesia, seperti STA, Chairil Anwar, Sjahrir, Bung Karno sampai ke Nietzshe, Goethe, Siddharta, Pastor Calvinus, ekonom Adam Smith, Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin. Muaranya: tokoh Abah Arifin, Manusia Biasa Saja. Tokoh inilah yang memproklamasikan manifestonya.

Kunjungan ekonom Adam Smith, Karl Marx, Engels, dan Lenin ke tempat Abah menciptakan dialog. Mereka kemudian dibekali amplop berisi cerita yang secara simbolik menunjukkan pentingnya kapitalisme dan komunisme diisi spiritualitas agama. “… agama dan ilmu pengetahuan harus bersatu berbimbingan tangan. Jika tidak, agama maupun ilmu pengetahuan bisa acak-acakan. … Agama kehilangan akal sehatnya, ketinggalan zaman, bahkan antikemajuan. Sebaliknya, ilmu pengetahuan tanpa iman kepada Yang Maha Esa lebih acak-acakan lagi…” (hlm. 144). Ujar Einstein: “science without religion is blind; religion without science is lame.” (Ilmu tanpa agama, buta; agama tanpa ilmu, pincang).

Kehadiran Pastor Calvinus dan Manifesto Khalifatullah tokoh Manusia Biasa Saja, Abah Arifin, menegaskan kembali pentingnya makna kerja. Slogan Ora et Labora (berdoalah dan bekerjalah) menunjukkan pentingnya kesadaran akan tugas dan kewajiban manusia di muka bumi, yaitu menjaga keseimbangan urusan dunia dan akhirat. Keduanya penting, saling melengkapi. Yang satu baru bermakna jika yang lainnya tidak diabaikan.

Demikianlah, sebagai novel gagasan, MK menegaskan keseluruhan sikap hidup AKM dalam memandang Indonesia dan hubungannya dengan berbagai ideologi dunia. Ia memberi begitu banyak “PR” kepada generasi bangsa ini, bahwa tantangan global tidak dapat dianggap enteng. Itu berkaitan dengan usaha berbagai pihak menyelusupkan ideloginya agar bangsa ini masuk ke dalam barisannya.

(Maman S Mahayana, Pengajar FIB-UI, kini menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea)

Senin, 13 September 2010

Mengkaji Gerakan Sastra ‘Horison’

Abdul Aziz Rasjid
http://www.lampungpost.com/

Taufiq Ismail pernah merasa bahwa dirinya bersama puluhan anak SMA lain seangkatannya di seluruh Tanah Air telah menjadi generasi nol buku yang rabun membaca dan pincang mengarang. Istilah nol buku menerangkan pada kala itu mereka tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah sehingga mereka menjadi rabun membaca. Sedangkan istilah pincang mengarang diakibatkan tidak adanya latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah.

Keadaan generasi yang rabun membaca dan pincang mengarang itu lalu diindikasikan Taufiq Ismail sebagai sebab mendasar amburadulnya Indonesia hari ini karena dimungkinkan generasi nol buku inilah yang kini menjadi warga Indonesia terpelajar dan memegang posisi menentukan arah Indonesia di seluruh strata, baik di pemerintahan maupun swasta.

Didorong oleh keresahan pada adanya generasi nol buku itulah, lalu Taufik Ismail menggagas gerakan sastra bersama majalah Horison–di mana Taufik Ismail pernah menjadi redaktur senior dan salah satu dewan redaksi–dengan tujuan menumbuhkan budaya membaca dan menulis bagi pelajar sekolah menengah, santri pesantren, maupun mahasiswa bagi kemajuan pendidikan sastra di Indonesia. Taufik Ismail dan Horison tak main-main memang, sasaran yang dituju meliputi SMA, madrasah aliah, pesantren, SMK, sampai mahasiswa se-Indonesia.

Gerakan sastra itu terdiri dari lima program, berupa 1). Sisipan Kaki Langit (SMA, madrasah aliah, pesantren, SMK) dalam majalah Horison, 2). Pelatihan membaca, menulis, dan apresiasi sastra untuk guru Bahasa dan Sastra di seluruh provinsi (Februari–Oktober 2002), 3). Program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB), dan 5). Program Sastrawan Bicara, dan Mahasiswa Membaca (SBMM).

Sisipan Kaki Langit (SMA, madrasah aliah, pesantren, SMK) dalam majalah Horison digunakan sebagai medium mengenalkan sosok dan karya sastrawan Indonesia pada siswa. Sosok, karya, proses kreatif sastrawan Indonesia lalu diulas oleh Horison dengan harapan dapat memberi influence bagi siswa untuk lebih kreatif menulis, mengambil referensi, dan lebih akrab pada karya-karya sastrawan Indonesia. Untuk mempermudah akses pengonsumsian pada siswa, majalah Horison lalu disebar secara gratis ke SMA, madrasah aliah, pesantren, dan SMK.

Di sisi lain, sisipan Kaki Langit dalam majalah Horison juga menjadi wadah bagi siswa dan guru bahasa dan sastra Indonesia untuk mengenalkan karyanya.

Siswa dapat menuliskan sajak, cerita mini, esai di mana karya siswa ini lalu ditelaah oleh Horison. Telaah yang dilakukan Horison dapat dikatakan sebagai edukasi sekaligus evaluasi agar teknik menulis siswa dapat lebih berkembang. Sedangkan guru bahasa dan sastra Indonesia sebagai eksekutor terpenting dalam lingkup pendidikan (sekolah menengah, pesantren) untuk membudayakan siswa membaca dan menulis, dalam sisipan Kaki Langit dapat berbagi pengalaman tentang metode pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah lewat kolom Pengalaman Guru.

Tiga Program lainnya, yaitu pelatihan membaca, menulis, dan apresiasi sastra untuk guru Bahasa dan Sastra di seluruh provinsi (Februari–Oktober 2002), Program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB), dan Program Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca (SBMM) adalah ajang promosi gagasan untuk membudayakan membaca dan menulis di instansi pendidikan, dan juga perjumpaan secara langsung antara beberapa sastrawan dengan sasaran gerakan sastra.

Program-program di atas setidaknya menjelaskan bahwa tradisi membaca dan menulis bagi siswa SMA, madrasah aliah, pesantren, SMK dan mahasiswa telah digalakkan. Hasil ideal juga telah didapati, yaitu adanya karya yang dihasilkan siswa SMA, madrasah aliyah, pesantren, SMK, dan mahasiswa yang kemudian dimuat dalam majalah Horison. Persoalan selanjutnya, tinggal bagaimana karya mereka selanjutnya (baik masih sebagai mahasiswa atau pelajar maupun setelah mentas sebagai mahasiswa atau pelajar) dapat diterbitkan lalu dikonsumsi masyarakat? Untuk dapat memprediksi sejauh apa peluang-peluang karya mereka dapat diterbitkan, tentu harus ditengok dahulu sistem penerbitan karya yang berjalan di Indonesia ini.

Menurut Yosi Ahmadun Herfanda dalam Kapitalisasi Sistem Produk Sastra Kota (Horison, edisi September 2004), secara umum keadaan sistem industri budaya di Indonesia terbagi menjadi dua kubu, kubu pertama adalah sistem industri market oriented yang secara jelas mengejar pengembangan modal. Sedang kubu kedua adalah sistem industri yang tidak mengejar pengembangan modal. Dua hal ini memili corak tersendiri, karena memang secara dasar memiliki watak yang berbeda.

Sistem industri market oriented dilihat dari wataknya yang melakukan kapitalisasi produksi untuk pengembangan modal membentuk konsekuensi logis bagi penulis, yaitu berkompromi dengan kepentingan kapitalis, dalam sistem ini karya sebagai hasil produksi pemikiran dan kekreatifan penulis memang diharuskan sesuai dengan keinginan pasar yang dipersepsikan oleh kapitalis. Dalam sistem ini, maka peluang penulis menjadi besar jika idealisasi konsep penciptaan karya yang diyakini benar untuk sementara dipinggirkan lalu tunduk pada keinginan pasar yang dipersepsikan oleh kapitalis. Dampak yang terjadi kemudian, penulis hanya akan menjadi tenaga kerja produktif, karena tujuan penulisan karya demi popularitas dan pendapatan financial reward yang relatif besar.

Pada sistem industri yang tidak mengejar pengembangan modal atau dapat dikatakan sebagai kegiatan penerbitan yang tidak dimaksudkan untuk pengembangan modal–dalam bidang sastra Ahmadun mencontohkan Horison, Komunitas Sastra Indonesia, Forum Lingkar Pena, dan Teater Utan Kayu, konsekuensi logis bagi penulis agar karyanya dapat tersosialisasi harus sesuai dengan standar yang dipatok oleh komunitas itu. Sistem ini, secara positif memberi peluang kebebasan pada penulis untuk menuliskan idealisasinya, asal idealisasi itu harus melebihi atau sesuai dengan standar yang dipatok oleh komunitas, sedang sisi negatifnya akan melahirkan penulis-penulis yang hanya akan menjadi tenaga kerja repetitif karena tujuan penulisan sekadar menyesuaikan selera komunitas.

Dalam sistem penerbitan inilah, pekerjaan rumah gerakan-gerakan yang bertujuan untuk menumbuhkan tradisi membaca dan menulis semacam yang dilakukan majalah Horison mendapat tantangan sebenarnya, yaitu memberitahu sejak dini pada siswa pentingnya menjadi tenaga ahli dalam bidang apa pun, lalu mewartakan tentang pentingnya cara menyiasati peluang-peluang pemasaran karya guna mempertahankan idealisasi pemikiran mereka.

*) Peneliti Beranda Budaya, tinggal di Purwokerto

Tri Ramidjo, “Api yang tetap menyala”

Chamim Kohari *)
http://www.facebook.com/


“Bangsa-bangsa lahir di hati para penyair, tetapi tumbuh dan mati di tangan politisi”
(Iqbal, Tulip dari Sinai)

“Bila Politik menyesaki kehidupan bangsa dan kotoran,
maka sastralah yang mampu membersihkannya”
(John F. Kennedy)

I
Tri Ramidjo, Lahir di Grabag Mutihan, Kutoardjo Jawa Tengah, 27 Pebruari 1926. Di Zaman pendudukan Jepang mengikuti Sekolah Latihan Perwira AD dan lulus terbaik. Pada tahun 1948-1949 pernah menjadi penarik becak sambil belajar sendiri hingga lulus SMP dan SMA. Pernah belajar tentang ekonomi di Jepang, lulusan Fakultas Ekonomi dari Universitas Waseda, Tokyo, angkatan 1962-1967. Pekerjaan yang terberat adalah bekerja di “Proyek Kemanusiaan” — Soeharto Orba — di pulau Buru sebagai petani paksa kalau tidak mau dikatakan sebagai “Tapol”, ia adalah “korban” dari perjuangan kemerdekaan orang tuanya, dan orang tuanya adalah “korban” dari perjuangan ideologisnya. Ia taat beragama, —sebagaimana masyarakat muslim Digul—, tetapi mereka tertarik berjuang menentang kolonialisme Belanda dengan cara-cara sosialis-komunis.

Tri Ramidjo adalah cucu dari Kiai Chatibanum, KH. Imam Rofi’i, Kiai Asnawi, Kiai Hasan Prawiro dan Kiai R. Abdul Rahman. Cucu dari keluarga kiai ini, telah menulis 30 judul Cerpen yang dikumpulkan dalam “Kisah-kisah dari Tanah Merah” yang semua itu ditulis sekitar tahun 2006, 2007, dan 2008 setelah usianya di ujung senja dan sakit-sakitan.

Luar biasa, dalam usianya yang sudah 83 tahun, Tri Ramidjo mampu membongkar memorinya yang telah terpendam dan menguraikannya ke dalam cerita-serita yang menarik dan rinci untuk yang sifatnya pengetahuan empiric, seperti tempat, rumah, jarak, teman, saudara dan lain sebagainya, tetapi untuk yang pengetahuan agama —meskipun ia keluarga kiai— ia tak mampu menguraikan alasan dengan baik, seperti kenapa harus memelihara anjing dan bagaimana cara menjaganya dari najis, ia cenderung menganggapnya memelihara anjing seperti memelihara binatang-binatang lain yang tanpa beban “najis mughaladhoh”, sehingga terkesan mencampur adukkan yang baik dan yang tidak baik, yang seharusnya hati-hati menjadi terkesan diremehkan, sampai-sampai ia “tidak mampu” memahami konsep “keadilan” dengan benar. Sebagaimana yang terdapat dalam penggalan cerpen “Anjing Kami namanya Tupon”, terdapat ungkapan: “tanah dan alam raya seisinya ini diciptakan oleh Tuhan yang Maha Kuasa untuk kita semua. Tuhan tidak mungkin membagikannya satu persatu kepada kita. Tetapi umat manusia dibekali otak agar kita berpikir. Nah, kitalah yang harus menggunakan akal pikiran kita membagi semuanya secara rata dan adil”.

Membaca kumpulan cerpen “Kisah-kisah dari Tanah Merah” karya Tri Ramidjo yang diterbitkan oleh Ultimus (2009) seperti melayari waktu di tengah suatu era atau zaman ketika hak asasi dan kebebasan manusia (rakyat) dengan sangat mudah diinjak dan disingkirkan oleh kekuasaan, di dalam dada Tri Ramidjo seolah ada gemertak api yang menyala-nyala yang tertahan oleh waktu. Maksud hati hendak berteriak lantang menggugat perilaku yang cenderung tidak memberi ruang bagi kesejahteraan (kemerdekaan) rakyat, tetapi apa daya kekuasaan secara sistemik telah merampas segalanya.

Itulah sebabnya, sebagai bentuk kepedulian terhadap situasi yang terjadi Tri Ramidjo mengungkapkan ceritanya dengan apa adanya, tetapi juga ada yang menggunakan simbol-simbol, misalnya “anjing” yang galak, serakah, mau menang sendiri dan menjilat kepada tuannya, tetapi kalau dididik bisa rukun dengan binatang piaraan yang lain, masak manusia dididik, serakahnya malah melebihi anjing. Juga simbol ‘monyet”, dan semacamnya.

Tri Ramidjo telah berjuang mengangkat realitas dengan caranya sendiri, ia telah berusaha memahami, menghayati dan mengekspresikan diri dan obyek di lingkungannya dengan cukup fenomenal dan monumental, tetapi barangkali masih bersifat —istilah Umar Kayam—“Reportase dari dalam” atau baru semacam jurnalisme saja.

II
Bila seorang sastrawan / pengarang hanya mampu melihat obyek luarnya saja, maka — kata Budi Darma—itu hanya akan menjadi dongeng. Dan begitu habis pengalaman pengarang, maka habis pulalah kemampuan pengarang untuk mendongeng.
Selanjutnya Budi Darma mengatakan “Tentu saja pengarang yang baik tidak tabu mengangkat realitas harafiah ke dalam novelnya –termasuk cerpen—selama yang menjadi tumpuan baginya bukan fakta semata-mata. Pengarang mempunyai imajinasi dan aspirasi. Dengan imajinasinya dia dapat menciptakan realitas yang bukan harafiah, meskipun yang diangkatnya adalah realitas harafiah. Setelah menjadi novel realitas harafiah ini sudah mengalami metamorphose melalui kekuatan imajinasi pengarangnya”. (Harmonium 1975 : 74).

Karya-karya sastra yang dianggap besar dan banyak dibaca oleh orang, adalah karya-karya yang bisa menawan rasa seni pembacanya, dapat menumbuhkan kesadaran, menimbulkan keberanian, mengangkat nilai-nilai harkat manusia dan bisa memberikan pemikiran-pemikiran penting yang menyangkut kebutuhan dasar manusia dalam hidupnya.

“Karya sastra yang baik tidak selamanya menyenangkan, tetapi penuh dengan ledakan yang menyebabkan dia resah terhadap dirinya sendiri, orang-orang sekitarnya dan alam tempatnya bernafas, Karya sastra yang baik dapat membawanya ke dunia yang sublim, dan hanya dapat dirasakan tanpa dapat banyak dipikirkan”, kata – Nirdawat– Budi Darma.

Berbeda dengan sastra hiburan. Sastra hiburan menjadikan masyarakat hidup penuh hayal, penuh yang enak-enak, penuh kemudahan, agar tidak sempat ngurus politik, agar tidak ngurus kepincangan, agar terus dikendalikan oleh nikmatnya angan-angan, dan seterusnya. Sastra yang demikian ini membawa pembacanya berjalan di tempat, kalau tidak mau dibilang mandeg jegreg.

Dalam proses kreatif, pengarang yang baik setidaknya ia memiliki:
1. Kepekaan, pandangan yang berbeda, dan konflik yang bisa membangun imajinasi;
2. Selalu akrab dan menghayati bahan / obyek. Sedang bahan tidak selalu berupa materi, akan tetapi bisa juga berupa gagasan atau obsesi;
3. Punya ciri identitas khusus, Orisinalitas;
4. Intelektual yang baik, selalu mencari, belajar dan berkembang, punya daya serap, daya seleksi dan daya susun yang tinggi.

III
Untuk mengukur eksistensi sastrawan, orang harus mengetahui latar belakang dan proses kreatifnya, serta memahami dulu bobot karya sastranya, sampai di mana karya-karyanya dapat berpengaruh terhadap dirinya dan masyarakatnya. Sebagaimana ucapan penyair Warga
Negara Inggris kelahiran Amerika, T.S. Eliot, yang dikutip oleh novelis Mochtar Lubis,
“Kesusasteraan diukur dengan kriteria estetis, sedang kebesaran karya sastra diukur dengan kriteria di luar estetika”.

Sekian, semoga barokah.

*) Pengasuh Pondok Pesantren, Kepala Madrasah Aliyah Unggulan Darul Falah Jerukmacan Sawo Jetis Mojokerto, Aktivis Komunitas Sastrawan Pesantren Jawa Timur. Tulisan ini disampaikan pada acara Geladak Sastra # 06, Bedah Buku Kumpulan Cerpen “Kisah-Kisah dari Tanah Merah” Cerita Digul Cerita Buru, Penerbit Ultimus, Bandung. Kerjasama Komunitas “Lembah Pring” dengan Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, pada hari Selasa, 3 Agustus 2010, pukul 19.00 BBWI di DISPORABUDPAR Jl. Jayanegara 4 Mojokerto.

Mojokerto, 1 Agustus 2010.

In Memoriam ”Gitu Aja Kok Repot…”

Agus Fathuddin Yusuf, Ainur Rohim
http://www.suaramerdeka.com/

BAGI Gus Dur urusan di dunia ini seolah-olah tidak ada masalah berat. Semuanya dianggap enteng dan simpel meski buat orang lain dirasa kiamat.

Kalimat ”gitu aja kok repot” yang sering kali dilontarkannya menegaskan hal itu. Begitu populernya ”gitu aja kok repot” menjadi trade mark seorang Abdurrahman Wahid. Lihatlah bagaimana Gus Pur (dr Handoyo) dalam Republik Mimpi menirukan kalimat itu sambil sekali-sekali tangan kanannya menepuk-nepuk sesuatu.

Ketika menjabat presiden, ”gitu aja kok repot” tetap menjadi ciri khas ketika menyampaikan pengarahan di berbagai acara, sekalipun acara resmi kenegaraan.

”Memang kalau di tangan Gus Dur, semua persoalan yang sulit dan rumit bisa menjadi cair,” tutur Drs H Slamet Effendy Yusuf MSi, mantan Ketua Umum PP Gerakan Pemuda Ansor. ”Jadi, gitu aja kok repot itu sudah biasa diucapkan sejak dulu,” katanya.

Ketika terjadi perbedaan pandangan antara Gus Dur dengan Mustasyar PBNU KH As’ad Syamsul Arifin. Hampir semua kiai dibuat bingung. Sampai pada puncaknya Kiai As’ad menjelang Munas dan Konbes NU di Pesantren Ihya Ulumuddin, Kesugihan Cilacap, menyatakan mufarraaqah dengan cucu Hadratussyaih KH Hasyim Asy’ari. Meski begitu, sebagai santri dia tetap rajin sowan ke Kiai As’ad di rumahnya kompleks Pesantren Salafiyah Safi’iyyah, Asembagus, Situbondo.

Menjelang Muktamar Ke-27 NU, 8-12 Desember 1984, di Jakarta muncul ”Kelompok G” yang antara lain anggotanya Gus Dur (GD), Said Budairi, Fahmi D Saefuddin, Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Slamet Effendy Yusuf (SEY). Dikenal ”Kelompok G” karena rapat-rapatnya lebih sering di Gang G Pasar Minggu, Jakarta, rumah Said Budairi yang akhirnya menjadi Bendahara PBNU. Mereka bertugas membantu merumuskan konsep Khittah 1926 yang akhirnya disepakati di Situbondo. ”Ya biasa, Gus Dur selalu mengatakan, gitu aja kok repot. Memang semua masalah akhirnya ya selesai,” kata Slamet.
Darah Biru Secara genetis KH Abdurrahman Wahid merupakan keturunan darah biru. Darah biru bukan dalam arti kebangsawanan, melainkan bekal dari Allah Subhanahu Wataala berupa kecerdasan luar biasa.

Dia anak seorang tokoh besar umat Islam, khususnya NU. Lahir di Denanyar, Jombang, 4 Agustus 1940. Ayahnya, KH Wahid Hasyim, anak pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, bernama Hasyim Asy’ari. Ibunya, Hajjah Sholehah, juga keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Sansuri.

Nama lengkapnya Abdurrahman Addakhil, artinya Abdurrahman “Sang Penakluk”. Nama yang diambil ayahnya dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang telah menancapkan tonggak kejayaan Islam di Spanyol (Andalusia). Belakangan kata Addakhil tidak cukup dikenal dan diganti nama Wahid, nama awal bapaknya, yang merupakan anak sulung KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU Ayahnya menjadi menteri agama pertama Indonesia. Dengan demikian, baik dari garis ayah maupun ibu, Gus Dur merupakan sosok yang menempati strata sosial tinggi dalam masyarakat Indonesia. Namun, sejarah kehidupannya tak mencerminkan kehidupan seorang ningrat. Dia berproses dan hidup sebagaimana layaknya masyarakat kebanyakan. Gus Dur kecil belajar di pesantren. Dia diajar mengaji dan membaca Alquran oleh kakeknya, Hasyim Asy’ari, di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim.

Panggilan “Gus” merupakan tradisi di kalangan pesantren untuk menyebut atau memanggil anak kiai. Di beberapa daerah Jawa Barat, sebutan Gus diganti “Kang” atau “Ning”. Karena namanya Abdurrahman Wahid, dia lebih populer dipanggil Gus Dur. Sama dengan orang memanggil Gus Munif, Gus Baqoh, Gus Kharis, Gus Ubed, Gus Mik, dan lain-lain.

Al-Zastrouw dalam buku Gus Dur Siapa Sih Sampeyan menulis, pada tahun 1949, ketika clash dengan Pemerintah Kolonial Belanda berakhir, dan ayahnya diangkat sebagai menteri agama,keluarga Wahid Hasyim pindah ke Jakarta. Gus Dur menyelesaikan sekolahnya di Jakarta. Untuk menambah pengetahuan dan melengkapi pendidikan formal, ia dikirim ayahnya mengikuti les privat bahasa Belanda. Dia menempuh pendidikan itu dengan naik sepeda.

Guru lesnya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang telah masuk Islam dan mengganti namanya dengan Iskandar. Untuk menambah pelajaran bahasa Belanda, Buhl selalu menyajikan musik klasik Barat yang biasa dinikmati orang dewasa. Itulah kali pertama persentuhan Gus Dur kecil dengan budaya Barat.

Menjelang lulus SD, dia memenangi lomba karya tulis dan menerima hadiah dari Pemerintah. Pada april 1953, beberapa bulan sebelum kelulusan, dia pergi bersama ayahnya mengendarai mobil ke daerah Jawa Barat untuk meresmikan madrasah baru. Di suatu tempat di sepanjang pegunungan antara Cimahi dan Bandung, mobil yang dikendarai mengalami kecelakaan. Gus Dur terselamatkan, tetapi ayahnya meninggal dunia. Kematian Wahid Hasyim merupakan pukulan berat bagi keluarganya. Ibu Gus Dur Dur, Ny Sholehah, saat itu mengandung tiga bulan dan menanggung lima anak.

Ingin Jadi ABRI Mungkin tak pernah dibayangkan Gus Dur saat kanak-kanak, remaja, bahkan setelah menjadi Ketua Umum PBNU selama tiga periode. Ketika kecil dia sebenarnya ingin menjadi ABRI. Namun, karena sejak umur 14 tahun dia harus mengenakan kacamata minus, cita-cita itu kandas. Kendati harus berkacamata, Gus Dur justru tekun membaca buku. Berbagai buku dibacanya. Selain itu, ia sangat menyukai sepakbola, seni, catur, bahkan nonton film. Ketika sekolah di SMEP di Yogyakarta, nilainya jeblok, bahkan tinggal kelas. Ini karena ia terlalu menggandrungi banyak hal, terutama buku dan bioskop.

Kesenangannya pada buku membuat kawan-kawannya sesama santri kaget. Sebab, Gus Dur telah melahap buku-buku seperti filsafat Plato, Das Kapital karya Karl Marx, karya Thalles, novel-novel William Bochner, dan masih banyak lagi. Tidak banyak anak sebayanya yang saat itu mempunyai kegemaran seperti Gus Dur.

Pertama di Yogyakarta dia tinggal di Pesantren Krapyak. Namun tidak betah dan merasa terkekang. Atas bantuan ibunya, dia memilih kos di rumah Haji Junaedi, seorang pemimpin lokal Muhammadiyah. Di tempat itu dia kerasan. Sebagai anak kiai, tentu saja ia sangat menekuni ilmu agama. Hal ini sangat cocok dengan cita-cita ibunya yang menginginkan sang anak mewarisi kakek dan ayahnya untuk mengembangkan pesantren dan ilmu agama secara luas.

Gus Dur muda adalah sosok yang sangat rajin belajar, apa saja. Saat menimba ilmu di pesantren, dia tidak mau terkungkung oleh budaya di sana, tetapi ingin lebih banyak lagi memperoleh ilmu. Hal itu terbukti saat tiga tahun menjadi santri di Pesantren Tegalrejo Magelang asuhan KH Chudlori, Gus Dur masih ingin menambah ilmu dari pesantren lain seperti Pesantren Denanyar Jombang asuhan kakeknya, KH Bisri Syanusi.

Selama di pesantren itu, ia banyak menghabiskan waktunya dengan menimba ilmu dari para gurunya. Waktunya benar-benar dimanfaatkan untuk memperoleh sebanyak mungkin ilmu di sana. Pagi-pagi buta telah mengaji tiga kitab dengan seorang kiai pengasuh pesantren, seperti KH Fatah. Siang gantian dia mengajari para santri. Sehabis salat zuhur melanjutkan kembali menimba ilmu kepada kiai lain, seperti KH Masduki, kemudian mengaji kitab lain lagi dengan ustad sang kakek, KH Bisri Syansuri.

Ketekunan dan kegigihan yang luar biasa membuatnya banyak berbeda dari santri lain. Bahkan pada usia yang masih relatif muda, Gus Dur telah fasih dalam penguasaaan gramatika bahasa Arab. Itu tentu sangat membantunya saat Kuliah di Mesir Tahun 1960 Gus Dur berkesempatan menimba ilmu di Mesir melalui sebuah beasiswa yang diperoleh dari Departemen Agama. Saat itu usianya 23 tahun. Di sana ia menimba ilmu dengan mengambil spesialisasi bidang syariah yang dilaluinya selama tujuh tahun. Namun karena terlalu aktif berorganisasi, ia tidak berhasil menyelesaikan kuliah.

Dari Kairo ia pindah ke Baghdad, Irak, dengan mengambil spesialisasi sastra dan ilmu humoris. Di sinilah Gus Dur berkenalan dengan pemikiran tokoh-tokoh seperti Emile Durkheim. Sebagai anak muda, Gus Dur yang penuh aktivitas belajar itu tidak melupakan urusan asmara. Hanya, model bercinta Gus Dur agak berbeda dari remaja saat itu. Hanya akibat tidak mau dilangkahi adiknya yang segera akan melangsungkan pernikahan, Gus Dur meminta tolong kakeknya, KH Bisri Syansuri, untuk melamar gadis pujaannya yang tak lain adalah bekas muridnya ketika Gus Dur mengajar di Pesantren Tambakberas.

Tidak hanya itu, Gus Dur meminta tolong sekaligus mewakili dirinya naik ke pelaminan. Gadis itu adalah Siti Nuriyah, putri H Abdulah Syukur, pedagang daging terkenal. Seorang gadis yang memang sebelum pergi ke Mesir telah “dipesan” melalui orang tua gadis itu. Ia kemudian tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Komunikasi hanya melalui surat. Dan ternyata Gus Dur langsung menikahinya dengan cara yang unik pula: nikah jarak jauh. Nikah jarak jauh yang cukup unik itu berlangsung di Tambakberas, 11 Juli 1968. Sebagaimana permintaan dia, wakil pengantin laki-laki adalah Kiai Bisri Syansuri. Perkawinan unik dan langka ini membuat suasana perkawinan betul-betul istimewa, bahkan sempat membuat geger tamu undangan. Bagaimana tidak, pengantin laki-laki sudah tua. Namun kesalahpahaman itu hilang setelah pada 11 September 1971, pasangan Gus Dur-Nuriyah melangsungkan pesta pernikahan. Pernikahan yang unik itu menghasilkan empat putri. Mereka adalah Alissa Munawwarah, Arifah, Chyatunnufus, dan Inayah.

Ilmu Laduni Di kalangan warga NU, Gus Dur dinilai memiliki ilmu laduni, yakni ilmu yang diberikan Yang Maha Kuasa hanya kepada umatnya yang dikehendaki. Tak hanya warga Nahdliyyin, umat Islam, warga Indonesia, komunitas internasional juga sangat mengagumi pemikiran-pemikiran cemerlang Gus Dur. Demokrasi, pluralisme, antidiskriminasi, antikekerasan, Islam moderat, humanisme, dan lainnya adalah di antara banyak tema besar yang diperjuangkan Gus Dur sejak kepulangannya dari belajar di Universitas Al Azhar Mesir dan Universitas Baghdad Irak.

Bukti konkret bagaimana Gus Dur sangat tak menyukai kekerasan bisa dilihat dari kejadian politik yang berujung pada turunnya Gus Dur dari kursi presiden RI pada tahun 2001 lalu. Kendati memiliki massa pendukung fanatik berjumlah puluhan juta, mengingat NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, Gus Dur melarang massa pendukungnya memakai cara-cara kekerasan ketika dia dijatuhkan dari kursi kepresidenan pada SI MPR 2001.

Begitu pun yang terjadi saat konflik PKB. Gus Dur bersama KH Ilyas Ruchiyat (Pondok Cipasung Tasikmalaya, Jabar), KH Moenasir Ali (Mojokerto, Jatim), KH Mustofa Bisri (Rembang, Jateng), dan KH Abdul Muchit Muzadi (Jember, Jatim) adalah pendiri dan deklarator PKB. Namun ketika konflik PKB memuncak dan terjadi dualisme kepemimpinan dan berujung terdepaknya Gus Dur dari kursi ketua umum dewan syuro, Gus Dur tak memakai cara-cara inkonstitusional, seperti kekerasan, untuk merebut kembali kepemimpinan puncak PKB.

Ya itulah Gus Dur, tak ada satu pihak pun yang meragukan komitmen dan kecintaan Gus Dur kepada bangsa dan negara yang berdasar Pancasila ini. Contohnya, ketika rezim Orde Baru (Orba) mulai mengharuskan semua parpol dan ormas menggunakan asas Pancasila, NU adalah organisasi nonparpol yang pertama kali menerapkan kebijakan itu.

Itu salah satu prestasi dan karya besar Gus Dur untuk bangsa ini terkait penanaman ideologi bangsa. Gus Dur berhasil mengegolkan itu berkat dukungan banyak kiai dan tokoh reformis di NU, seperti KH Achmad Siddiq (Jember), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), KHMA Sahal Mahfudh, Fahmi Syaifuddin Zuhri, Said Budairy, dan lainnya. Keputusan NU pada Muktamar ke-27 itu dinilai Menteri Agama waktu itu, Munawir Sjadzali, sebagai kompromi cemerlang. Banyak kalangan memberikan respek dan apresiasi atas keputusan itu. Langkah NU itu di kemudian hari diikuti ormas lain.

Gus Dur itulah pribadi dan tokoh tanpa dendam. Komunikasinya sangat cair. Pada Maret 1991 mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) bersama sekitar 45 intelektual terkemuka di Indonesia. Fordem dilatari kegelisahan dan banyak kalangan kritis di Indonesia atas kemungkinan menguatnya politik sektarian di Indonesia. Gus Dur ingin mengingatkan bahwa Indonesia itu plural kendati kalangan Islam merupakan kekuatan mayoritas.

Tentu saja, pendirian Fordem sangat mengejutkan dan mengundang perhatian khusus pemerintah Soeharto. Kegiatan Gus Dur terus diawasi ketat. Puncaknya pada Muktamar NU di Pondok Cipasung, Tasikmalaya, Jabar, tahun 1994 terjadi intervensi luar biasa di forum muktamar. Gus Dur menang atas pesaingnya Abu Hasan. Organisasi NU diobrak-abrik oleh kekuatan eksternal, misalnya dengan berdirinya KPPNU yang dipimpin Abu Hasan.

Tapi, kekuatan arus bawah NU masih merapat dan melingkari Gus Dur. Mantan Presiden RI Ke-4 ini tetap dikukuhkan dan didukung sebagai orang pertama NU, ormas Islam Tradisional yang didirikan dua kakeknya: KH Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syamsuri. Gus Dur tetap berjalan dan bergerak kekuatan demokratis yang diyakininya. Pada tahun 1996 di Pondok Genggong, Probolinggo, Presiden Soeharto bersalaman dengan Gus Dur. Momentum politik itu menandai meredanya hubungan antiklimaks antara NU dan pemerintahan Orde Baru. Kejadian itu dikenang dengan sebutan Salaman Genggong.

Dalam kaitan Islam dan demokrasi, Douglas E Ramage dalam buku Tradisionalisme Radikal (Persinggungan NU-Negara), antara lain melukiskan bagaimana konsistensi yang begitu kuat dari Gus Dur dalam memperjuangkan demokrasi.

Ia terpilih sebagai ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Pondok Salafiyah Syafi’iyah Asembagus, dengan dukungan kiai-kiai NU yang menghendaki NU kembali ke khittah 1926, seperti KH Achmad Siddiq, KH As’ad Syamsul Arifin, KHMA Sahal Mahfudh, dan lainnya. Munculnya Gus Dur di puncak kepemimpinan NU diawali dengan konflik cukup tajam antara kubu Cipete dengan tokoh utama KH Idham Chalid dan kubu Situbondo dengan tokoh puncak KH As’ad dan KH Achmad Siddiq.

Demikian pula pada Muktamar ke-28 NU di Pondok Krapyak Yogyakarta tahun 1989, Gus Dur terpilih secara aklamasi. Pondok Krapyak memiliki hubungan khusus dengan Gus Dur, karena yang bersangkutan pernah lama nyantri di pondok yang di bawah pimpinan KH Ali Maksum selain Pondok API Tegalrejo, Magelang di bawah pimpinan KH Chudlori. Adalah KH Ali Maksum yang menjadi Ketua Sementara PBNU dan Rais Am PBNU sekaligus ketika terjadi pertentangan di antara kubu Situbondo versus kubu Cipete menjelang Muktamar Situbondo dan pascapemilu 1992. Gus Dur menyerahkan tongkat kepemimpinan NU kepada KH Hasyim Muzadi pada Muktamar Lirboyo Kediri tahun 1999.

Pengikut