Rabu, 13 Oktober 2010

Tasawuf Nietzsche dan Al Ghazali

Kurtubi *
http://filsafat.kompasiana.com/

Seorang Atheis (tidak percaya tuhan) “mengenal” Tuhan dengan cara menolaknya. Di manapun dan kapanpun ia terus berpikir keras bagaimana berusaha menolak keberadaan Tuhan lewat ilmu pengetahuan. Sementara seorang agamis yang percaya Tuhan, adem ayem saja, jarang menyebut-nyebutnya atau bahkan mengejar-Nya.

Jadi kalau dipikir-pikir orang Atheis pada dasarnya lebih banyak “menyebut” Tuhan dalam penolakannya, ketimbang yang agamis dalam penerimaanya.

Seorang agamis yang merasa mengenal Tuhan, dalam kiprahnya kadang berbanding terbalik dengan para atheis yang berusaha menolak Tuhan dengan berbagai upaya. Dia berpikir habis-habisan untuk menolak konsep Tuhan. Satu-satunya pemikiran yang dikedepankan kebanyakan lewat ilmu pengetahuan. Tidak jarang dengan pengetahuan ini banyak sekali ilmu-ilmu dan teknologi tercipta.

Dalam contoh sehari-hari bisa dijumpai pada sepasang kekasih. Di mana wanita yang membenci anda sebagai pacarnya selalu menghindar dan terus-menerus meneyebut namamu dalam kebenciannya. Sementara wanita yang mencintai anda biasa-biasa saja tidak pernah cerita dan tidak pernah mengingatmu. Maka boleh jadi yang membenci itu adalah yang mencintai.

Tuhan dekat tapi jauh

Konsep “Tuhan sudah mati” dari Nietzsche ini saya mengandaikan bahwa konsep tentang Tuhan bagi dia adalah “jauh”, bahkan terus dijauhi karena tidak dipercayai. Tapi jangan lupa “jauh-dekat” bagi kaum agamis pun menemukan hal yang sama. Misalnya, kitab wahyu, bahwa Tuhan itu dekat bahkan sedekat dari urat nadi. Ini berarti seakan-akan Tuhan itu dimaknai dekat bagi kaum agamis, dan jauh bagi atheis

Tapi lihatlah kenyataanya misalnya dalam perjalanan bangsa di negeri yang mayoritas beragama ini. Kitab wahyu telah menyatakan Tuhan itu dekat, bahkan menjadi bahan perbincangan di mana-mana, tetapi silang sengkarut negeri ini juga tidak kalah hebatnya.

Dari sini, artinya dosa seorang agamis menanggung lebih besar daripada dosa Atheis… Sebab sang Atheis masih mendasarkan moralitas pada akal budi, sementara kaum agamis masih berkutat pada “buku” dan jarang dikunyah di akal budi. Agamis mempercayai Tuhan tetapi miskin aplikasi, sementara sang atheis action lebih diutamakan. Dampaknya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kaum atheis lebih dahulu ketimbang kaum agamis (islam).

Kalau atheisme benar-benar jujur tidak mengakui konsep ketuhanan, kemudian mengandalkan akal budi dan ilmu pengetahuan sebagai pijakannya. Namun bagi kaum agamis masih berkutat kepada “buku” pedoman dalam mengurai berbagai kerumitan hidupnya, urusan sosial kemasyrakatan bahkan cenderung akal dan ilmu pengetahuan dikesampingkan.

Inilah yang sangat disayangkan, kemajuan orang agamis cenderung ragu-ragu karena ketidak jujuran dalam konsep ketuhanan. Ketidak jujuran yang saya maksud semacam sifat munafik, dalam istilah agama. Merasa mahir menguasai isi buku, namun aplikasinya bertentangan. Bukankah ini sama saja dengan “jauh dari Tuhan?”

Namun giliran mendapatkan tekanan atau “serangan”, yang dipersalahkan adalah pihak di luar dirinya, Girilan mendapat semacam “kritikan” dan “ancaman” eksistensi, maka dengan serta merta mengutip tulisan di “buku” bahwa yang lain adalah sesat (kafir).

Nietzsche Tasawufnya orang Atheis

Dalam benak para pemerhati, Nietzsche itu dianggap sebagai “sufi”nya kaum atheis dalam pengembaraaanya. Sebab pemikirannya yang mendobrak filsafat dan agama membuat buah pikirnya dikaji ulang hingga kini.

Menurut analogi para pemerhati sastra, mirip dengan pengalaman Al Ghazali dalam pengembaraannya menemukan jati diri dalam tasawuf.

Imam Al Ghazali berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan terus-menerus mensucikan dirinya dan menyebut asmaNya. Ihya ‘Ulumuddin, salah satu dari puluhan karya tulisanya bisa mewakiliki corak tasawuf Al Gahzali. Sebelumnya, beliau menulis buku pergulatan tasawuf dan perdebatannya seperti Tahafutul falasifah, kerusakan filsafat. Beliau menghabiskan dan mengasingkan diri dari kehidupan “mewah” nya sebagai ilmuwan lalu mengasingkan diri hingga wafatnya. Dalam satu kesempatan beliau menulis, ada seekor lalat yang ingin meminum tinta, namun sang imam membiarkannya. Kemudian oleh muridnya menulis bahwa sang Imam masuk syurga karena nilai “ikhlas” sang Imam saat membiarkan lalat meminum tintanya.

Hal yang mirip pada Nietsche dalam kehidupannya adalah beliau penyendiri, suka mengasingkan diri paling tidak beliau. Dan filsafat yang dimiliki Nietzsche merupakan filsafat cara memandang ‘kebenaran’. Nietzsche juga dikenal sebagai “sang pembunuh Tuhan” (dalam Also sprach Zarathustra). Kalau Al Ghozali mengkritisi konsep filsafat yang ada, maka bagi Nietzsche, mengkritik serta memprovokasi kebudayaan Barat di zaman-nya, atas pengaruh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan. Apa yang dikritisinya adalah paradigma kehidupan setelah kematian. Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme [1] (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht). (sumber: wikipedia)

Selain itu, Nietzsche seorang filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis modern Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup. Hal yang mirip dimiliki sebagian besar sufi, adalah suka seni, baik musik dan lainnya.

Aku ngeri
Akan kedalaman malam
sang dosa
Dan enggan kuberpaling,
Tak sanggup abaikanMu,
Di dalam seram ngeri,
Dengan pilu
Aku menatapMu, harus merengkuhMu

(kutipan puisi Nietzsche, Engkau Memanggil, Tuhan, kuhampiri)

# Terinparasi dari hasil mengikuti diskusi pada acara Peluncuran Jilid VI “Seri Puisi Jerman”: Syahwat Keabadian, Kumpulan Puisi Friedrich Nietzsche. Dalam acara ini ada pembacaan puisi dan diskusi bersama Agus R. Sarjono dan Berthold Damshäuser. Malam kemarin, 21 September 2010

*) Lahir di Cirebon, tinggal di Jakarta, suka humor, menulis yg penting dan gak penting, Manusia hanya setitik kecil dari hamparan dunia ini. Tapi akal dan hati manusia memiliki kualitas yang besar seruang langit dan bumi. Mari besarkan hati dan fikir…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

A Khoirul Anam A. Khoirul Anam A. Mustofa Bisri A. Qorib Hidayatullah A.C. Andre Tanama A.D. Zubairi A.S. Laksana Abd. Basid Abdul Aziz Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Abdul Hadi W.M. Abdul Rauf Singkil Abdul Rosyid Abdul Salam HS Abdul Wachid B.S. Abdullah Alawi Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abu Nawas Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Ach. Tirmidzi Munahwan Achmad Faesol Adam Chiefni Adhitya Ramadhan Adi Mawardi Adian Husaini Aditya Ardi N Ady Amar Adzka Haniina Al Barri AF. Tuasikal Afrizal Malna Afrizal Qosim Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus Buchori Agus Fahri Husein Agus Fathuddin Yusuf Agus R. Sarjono Agus Sulton Agus Sunyoto AH J Khuzaini Ahmad Anshori Ahmad Badrus Sholihin Ahmad Baso Ahmad Fatoni Ahmad Hadidul Fahmi Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Maltup SA Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Muhli Junaidi Ahmad Syafii Maarif Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Tohari Ahmad Y. Samantho Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainur Rohim Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Sahal Akhmad Taufiq Akhudiat Alang Khoiruddin Alang Khoirudin Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Aliansyah Allamah Syaikh Dalhar Alvi Puspita AM Adhy Trisnanto Ami Herman Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aminullah HA Noor Amir Hamzah Ammar Machmud Andri Awan Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjar Nugroho Anjrah Lelono Broto Antari Setyowati Anwar Nuris Arafat Nur Ariany Isnamurti Arie MP Tamba Arie Yani Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arifin Hakim Arman AZ Arwan Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Juanda Asep S. Bahri Asep Sambodja Asep Yayat Asif Trisnani Aswab Mahasin Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Azizah Hefni Azwar Nazir B Kunto Wibisono Babe Derwan Badrut Tamam Gaffas Bale Aksara Bandung Mawardi Bastian Zulyeno Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Benke Berita Berita Duka Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hutasuhut Budiawan Dwi Santoso Buku Kritik Sastra Candra Adikara Irawan Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cawapres Jokowi Cerpen Chairil Anwar Chairul Abhsar Chairul Akhmad Chamim Kohari CNN Indonesia Cucuk Espe Cut Nanda A. D Zawawi Imron D. Dudu AR Dahta Gautama Damanhuri Zuhri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Danuji Ahmad Dati Wahyuni Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dede Kurniawan Dedik Priyanto Den Rasyidi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Detti Febrina Dewi Kartika Dian Sukarno Dian Wahyu Kusuma Didi Purwadi Dien Makmur Din Saja Djasepudin Djauharul Bar Djoko Pitono Djoko Saryono DM Ningsih Doddy Hidayatullah Donny Syofyan Dr Afif Muhammad MA Dr. Simuh Dr. Yunasril Ali Dudi Rustandi Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dyah Ratna Meta Novia E Tryar Dianto Ecep Heryadi Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Edy Susanto EH Ismail Eka Budianta Ekky Malaky Eko Israhayu Ellie R. Noer Emha Ainun Nadjib Esai Esha Tegar Putra Evi Melyati Fachry Ali Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faizal Af Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fazabinal Alim Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Festival Teater Religi Forum Santri Nasional Fuad Mardhatillah UY Tiba Furqon Lapoa Fuska Sani Evani Geger Riyanto Ghufron Gola Gong Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Dur Gus Muwaffiq Gusriyono Gusti Grehenson H Marjohan H. Usep Romli H.M. Habibullah Hadi Napster Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Hamzah Fansuri Hamzah Sahal Hamzah Tualeka Zn Hanibal W.Y. Wijayanta Hanum Fitriah Haris del Hakim Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B. Kori’un Hasan Basri Marwah Hasnan Bachtiar Hasyim Asy’ari Helmy Prasetya Hendra Makmur Hepi Andi Bastoni Heri Listianto Heri Ruslan Herry Lamongan Herry Nurdi Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hotnida Novita Sary Hudan Hidayat Husein Muhammad I Nyoman Suaka Ibn ‘Arabi (1165-1240) Ibn Rusyd Ibnu Sina Ibnu Wahyudi Idayati Ignas Kleden Ilham Khoiri Ilham Yusardi Imadi Daimah Ermasuri Imam Hamidi Antassalam Imam Khomeini Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Nasri Imron Tohari Indonesia O’Galelano Indra Kurniawan Indra Tjahyadi Inung As Irma Safitri Isbedy Stiawan Z.S. Istiyah Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar J Sumardianta Jadid Al Farisy Jalaluddin Jalaluddin Rakhmat Jamal Ma’mur Asmani Jamaluddin Mohammad Javed Paul Syatha Jaya Suprana Jember Gemar Membaca Jo Batara Surya Johan Wahyudi John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Ariadinata Jual Buku Paket Hemat Junaidi Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN K. Muhamad Hakiki K.H. A. Azis Masyhuri K.H. Anwar Manshur K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin Kabar Pesantren Kafiyatun Hasya Kanjeng Tok Kasnadi Kazzaini Ks KH Abdul Ghofur KH. Irfan Hielmy Khansa Arifah Adila Khoirul Anwar Khoirur Rizal Umami Khoshshol Fairuz Kiai Muzajjad Kiki Mikail Kitab Dalailul Khoirot Kodirun Komunitas Deo Gratias Koskow Kritik Sastra Kurniawan Kurtubi Kuswaidi Syafi’ie Kyai Maimun Zubair Lan Fang Larung Sastra Leila S. Chudori Linda S Priyatna Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari karya Rengga AP Lukman Asya Lukman Santoso Az M Arif Rohman Hakim M Hari Atmoko M Ismail M Thobroni M. Adnan Amal M. Al Mustafad M. Arwan Hamidi M. Bashori Muchsin M. Faizi M. Hadi Bashori M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Mustafied M. Nurdin M. Yoesoef M. Yunis M.D. Atmaja M.H. Abid M.Harir Muzakki M.S. Nugroho M.Si M’Shoe Mahamuda Mahdi Idris Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahrus eL-Mawa Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mansur Muhammad Marhalim Zaini Maria Hartiningsih Marjohan Marsudi Fitro Wibowo Martin van Bruinessen Marzuki Wahid Marzuzak SY Masduri Mashuri Masjid Kordoba Masuki M. Astro Matroni Matroni el-Moezany Matroni Muserang Mbah Dalhar Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Miftahul Ulum Mila Novita Mochtar Lubis Moh. Ghufron Cholid Mohamad Salim Aljufri Mohammad Kh. Azad Mohammad Yamin Muh. Khamdan Muhajir Arrosyid Muhammad Abdullah Muhammad Affan Adzim Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih AR Muhammad Amin Muhammad Anta Kusuma Muhammad Ghannoe Muhammad Idrus Djoge Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Kosim Muhammad Muhibbuddin Muhammad Mukhlisin Muhammad Quraish Shihab Muhammad Subhan Muhammad Wava Al-Hasani Muhammad Yasir Muhammad Yuanda Zara Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun AS Muhyiddin Mujtahid Muktamar Sastra Mulyadi SA Munawar A. Djalil Munawir Aziz Musa Ismail Musa Zainuddin Muslim Mustafa Ismail Mustami’ tanpa Nama Mustofa W Hasyim Musyafak Myrna Ratna N. Mursidi Nasaruddin Umar Nashih Nashrullah Naskah Teater Nasruli Chusna Nasrullah Thaleb Nelson Alwi Nevatuhella Ngarto Februana Nidia Zuraya Ninuk Mardiana Pambudy Nita Zakiyah Nizar Qabbani Nova Burhanuddin Noval Jubbek Nu’man ’Zeus’ Anggara Nur Fauzan Ahmad Nur Wahid Nurcholish Nurel Javissyarqi Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Orasi Budaya Pangeran Diponegoro Parimono V / 40 Plandi Jombang PC. Lesbumi NU Babat PDS H.B. Jassin Pesantren Tebuireng Pidato Politik Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang PonPes Ali bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pramoedya Ananta Toer Prof. Dr. Nur Syam Profil Ma'ruf Amin Prosa Puisi Puji Hartanto Puji Santosa Pungkit Wijaya Purwanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin PUstaka puJAngga Putera Maunaba Putu Fajar Arcana R. Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahmat Sudirman Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rakhmat Nur Hakim Ramadhan Alyafi Rameli Agam Rasanrasan Boengaketji Ratnaislamiati Raudal Tanjung Banua Reni Susanti Resensi Restoe Prawironegoro Ibrahim Retno HY Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Rinto Andriono Risa Umami Riyadhus Shalihin Riza Multazam Luthfy Robin Al Kautsar Rodli TL Rohman Abdullah S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifuddin Syadiri Saifudin Saiful Amin Ghofur Sainul Hermawan Sajak Salahuddin Wahid Salamet Wahedi Salman Faris Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Nuraini Sastra Pesantren Sastrawan Pujangga Baru Satmoko Budi Santoso Satriwan Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra Boenga Ketjil Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siswanto Siswoyo Sita Planasari A Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slavoj Zizek Snouck Hugronje Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana St Sularto Suci Ayu Latifah Sufyan al Jawi Sugiarta Sriwibawa Sulaiman Djaya Sundari Sungatno Sunu Wasono Surya Lesmana Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susringah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaiful Amin Syaifullah Amin Syarif Hidayat Santoso Syeikh Abdul Maalik Syeikh Muhammad Nawawi Syekh Abdurrahman Shiddiq Syekh Sulaiman al Jazuli Syi'ir Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Tiar Anwar Bachtiar Tjahjono Widijanto Tok Pulau Manis Toko Buku PUstaka puJAngga Tu-ngang Iskandar Turita Indah Setyani Umar Fauzi Ballah Uniawati Universitas Indonesia Universitas Jember Usep Romli H.M. Usman Arrumy UU Hamidy Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wa Ode Zainab Zilullah Toresano Wahyu Aji Walid Syaikhun Wan Mohd. Shaghir Abdullah Warung Boengaketjil Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Wiwik Hastuti Wiwik Hidayati Wong Fei Hung Y Alpriyanti Yanti Mulatsih Yanuar Widodo Yanuar Yachya Yayuk Widiati Yeni Ratnaningsih Yohanes Sehandi Yopi Setia Umbara Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudi Latif Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusuf Suharto Zaenal Abidin Riam Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zakki Amali Zehan Zareez